Dibalik Secangkir Teh
Hujan di Mimpi 1
Ratih baru saja pulang. Semua Jendela Titilaras sudah ditutup. Kumandang azan Magrib sayup terdengar. Tidak pernah terpikir oleh Aji untuk mengajak Ratih ngobrol di Jendela Titilaras secara pribadi. Ide itu tiba-tiba saja terlintas ketika kemarin dia menyeduh Hujan di Mimpi dan masih merasa kurang pas. Hujan di Mimpi bukan menu baru. Sudah beberapa kali Aji menyeduhnya namun belum menemukan keseimbangan dalam komposisi rasa.
Hujan di Mimpi adalah sebuah karya yang tercipta beberapa bulan lalu saat Aji akan berangkat ke Pasar Gede dan hujan deras mengguyur Solo. Aji ketiduran ketika sedang menunggu hujan reda.
Aji rebahan di sofa ruang tamu rumahnya. Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Aji sudah berencana akan mulai menyeduh pukul tiga sore. Harusnya saat ini dia sudah berangkat. Namun niat berangkat ke Pasar Gede urung dilakukan karena hujan yang terus mengguyur Solo sejak pagi. Ditemani suara Band Banda Neira yang mengalunkan Hujan di Mimpi, mata Aji perlahan mulai terpejam. Mengingat pertanyaan seorang pelanggan yang akhirnya membuat Aji membuka Jendela Titilaras dari sore hingga malam.
"Mas, kenapa akhir-akhir ini buka hanya sampai sore terus? Padahal di Pasar Gede lagi ada pesta rakyat. Kenapa tidak mencoba buka sampai malam? Kan mesti rame Mas yang bakal datang ke kedai."
Benar, saat itu Pasar Gede sedang sangat ramai. Sebagai rangkaian dari acara Imlek, Pasar Gede menggelar acara pesta rakyat. Aji akhirnya mencoba membuka kedai sampai malam. Sayangnya, di hari ketiga dia menyerah. Aji memilih kembali buka maksimal hanya sampai jam lima sore.
Aji harus menjaga kondisi badan yang dirasa sering drop. Alasan lainnya, Aji lebih belajar untuk bersyukur dengan apa yang dia terima. Belajar meredam ekspektasi tentang keriuhan ramainya acara dan belajar untuk bisa menerima apa yang telah menjadi porsi rezeki Aji saat membuka Jendela Titilaras di siang hari. Aji cukup merasa senang dan tenang walau cuma buka sampai sore, terlebih dia bisa menikmati waktu dengan keluarga.
Hampir dua jam Aji tertidur. Matanya terbuka karena mendengar suara ponselnya yang terus saja berbunyi. Aji duduk lalu mengambil ponsel itu. Ada empat panggilan salah seorang teman yang menjadi penyuplai bahan baku di Titilaras. Aji menepuk jidatnya. Dia lupa mengabari temannya ini. Padahal mereka sudah janjian ketemu di Pasar Gede jam tiga.
Di luar, hujan sudah mulai mereda. Tinggal rintik yang tersisa. Aji segera mengirim pesan. Mengabarkan kalau dia baru saja akan berangkat.
Aji menyusuri jalanan. Di kanan kiri masih terhampar sawah yang baru saja ditanami. Hidungnya meraup semua bau yang bisa dia kenali. Ada beberapa aroma yang menguar menyapa hidung Aji. Aroma lumpur sawah yang menyerap air hujan, aroma serasah dan tanah basah, ada juga aroma hujan itu sendiri.
Benak Aji terus memproses aroma yang mampu direkamnya. Sedangkan lidahnya memilah rasa demi rasa yang sekira pas untuk bisa menggambarkan perpaduan aroma dari dalam kepalanya.
Sampai di Pasar Gede, Aji menepikan motornya. Gegas dia mencari temannya yang sudah menunggu sejak tadi. Dua kilo teh hijau berpindah ke tangan Aji. Sesuai yang dia pesan tiga hari lalu. Teh hijau memang rutin Aji pesan, karena teh ini menjadi bahan dasar dari beberapa racikan yang Aji seduh.
Aji membawa pesanannya ke lantai dua. Jendela Titilaras sudah mulai dibuka. Ternyata sudah ada satu orang rencang nglaras yang menunggu di depan jendela. Aji tersenyum dan mempersilakan lelaki yang usianya ditaksir awal tiga puluhan tersebut duduk.
“Sudah lama menunggu, Mas?” Aji memulai obrolan.
“Hampir satu jam. Saya melihat di Instagram, Mas Aji buka tipis jam tiga. Jadi saya ke sini sejak setengah tiga. Takut nggak kebagian. Padahal sudah jauh-jauh ke sini.”
“Masnya dari mana?”
“Saya dari Jakarta.”
“Sedang liburan atau bagaimana?”
“Ada tugas dari kantor. Nanti malam saya pulang naik kereta. Tadi nggak sengaja liat Instagram, eh Titilaras buka tipis. Jadi, saya ke sini.”
“Berarti kita jodoh, Mas. Bisa bertemu di sini. Masnya sudah tahu kan kalau di sini tidak ada buku menu.”
“Iya, saya lihat Instagram Titilaras. Di sini tidak ada menu. Saya tidak paham urusan teh. Terserah Mas Aji aja mau membuatkan apa.”
Aji diam. Memejamkan mata sejenak, memanggil kembali aroma dan rasa yang tadi sempat disimpannya. Dalam lidah Aji, menari perpaduan kondimen teh hijau, Mint, Lavender, dan Cammomile.
“Mau mencoba racikan baru saya? Ini baru saja terpikirkan. Benar-benar original dan perdana untuk Mas sore ini.”
“Boleh boleh boleh...”
Tamu tersebut tampak antusias.
Dengan lincah Aji mulai menimbang kondimen demi kondimen yang tadi dia bayangkan. Setelah dirasa pas, Aji menyeduhnya. Sengaja dia membuat dua gelas. Untuk tamu di depannya dan untuk dirinya sendiri.
“Terima kasih, Mas. Apa nama minuman ini?” ucap si tamu saat Aji menyuguhkan secangkir teh di depannya.
“Hujan di Mimpi.”
Spontan Aji menyebutkan judul lagu milik Banda Neira yang tiba-tiba saja terlintas.
“Enak, Mas. Saya bukan penyuka teh, tetapi ini enak. Dibandingkan teh, saya jauh lebih menyukai kopi.”
Teh ini memang enak, tetapi tidak sempurna, batin Aji. Rasanya memang enak. Sangat enak. Namun, Aji merasa belum seimbang.
“Atau mungkin Masnya mau mencicipi kopi kami?” Aji menawarkan sambil tersenyum.
Sebagai jawaban, rencang nglaras itu hanya menganggukkan kepala sambil kembali menyeruput teh yang sudah tandas setengah.
Setelah mencicipi Tea Blend Hujan di Mimpi, Aji mengajak tamunya itu menikmati espresso base Titilaras yang displit dengan cappucino.
Sambil mempersiapkan bahan dan memanaskan alat stim susu, Aji mendengarkan tamunya bercerita tentang museum yang ada di Kota Solo. Ketertarikan tentang museum menjadi obrolan seru hingga bunyi ‘peluit’ alat stim susu terdengar.
Aji melanjutkan membuat espresso dan stim susunya.
"Monggo Mas cappucinonya, maaf lama dan gambarnya jelek mas, maklum enggak bisa nge-latte."
Aji menyajikan cappucino dan segelas espresso splitnya.
Aji merasa melihat senyum yang terukir di bibir si tamu setelah menikmati secangkir cappucino. Tanpa ada kata terucap, bagi Aji senyum itu sudah mewakili perasaan energi baik yang sama-sama melebur dalam secangkir sajian di Jendela Titilaras.
Semoga bertemu kembali dan semoga tetap terus menumbuhkan kebaikan di mana pun berada, gumam Aji dalam hati.
Beberapa minggu berlalu sejak Aji membidani kelahiran Hujan di Mimpi. Aji nyaris menyerah untuk menemukan satu komposisi yang kurang. Pertemuan dengan Ratih di Tugu Jam tiga hari lalu memaksa lidah Aji untuk kembali membayangkan Hujan di Mimpi. Cerita yang mengalir di antara mereka, senyum yang tak pergi, tawa yang hadir meski sesaat, sisa gerimis yang masih sangat kental, semuanya menimbulkan sensasi bagi Aji. Kesegaran.
***