Dibalik Secangkir Teh
Rekah
“Kami di sini menyebutnya unggah-ungguh. Perihal tersebut sepertinya memang secara nyata tidak pernah tertulis baku pada sebuah buku. Semua hal menyangkut unggah-ungguh terletak pada pribadi, kebiasaan, dan lingkungan masing-masing.”
“Orang tua saya mengajarkan kepada saya tentang lunggah-lungguh. Sepertinya sama.”
“Iya, Mbak. Seringkali hanya berbeda bahasa saja.”
“Mas Aji menerapkan itu di Jendela Titilaras?”
“Nggih. Contohnya masalah foto. Walau konsep di tempat saya tidak seciamik dan sekeren coffee shop lainnya, saya selalu respek kepada semua yang meminta izin untuk mengabadikan sebuah moment lewat karya visual berupa foto atau video. Jika ada yang lewat depan kedai dan mengabadikan moment, walau tidak singgah juga tidak apa-apa, nggak apa difoto dulu, barangkali lain waktu bisa singgah."
“Dengan begitu, minimal mereka akan mengenal Titilaras ya Mas?”
“Betul. Perihal adanya tren di mana sebuah coffee shop yang mempunyai konsep ciamik dan keren dijadikan ‘studio foto’ itu sangatlah membantu branding tempat tersebut. Tapi, kembali lagi bahwa mereka yang menciptakan konsep itu seperti menciptakan mahakarya, sebaiknya ada obrolan dulu paling tidak kulonuwun kepada sang tuan rumah, apakah berkenan atau tidak untuk diabadikan dalam sebuah karya visual. Menurut saya, sebuah tempat yang mempunyai konsep menarik sudah seharusnya diapresiasi bersama. Bukan dieksploitasi demi kepentingan sepihak. Alangkah baiknya jika menganut sistem unggah-ungguh dalam bertamu di kediaman orang lain.”
“Semaju apa pun perkembangan zaman, unggah-ungguh harus tetap dipegang teguh ya, Mas.”
“Semalam ada obrolan menarik di Jendela Titilaras, ada rencang nglaras yang kuliah mengambil Jurusan Hubungan Internasional (HI). Dia juga menceritakan awal mula ketertarikannya dengan jurusan tersebut hingga rencananya nanti setelah lulus kuliah. Ada bagian cerita yang menarik dan membuat pamahaman saya tentang HI itu tidak melulu mengenai politik.”
“Oh ya? Bukannya HI memang tidak didominasi politik ya?”
“Saya pahamnya HI ya politik. Tamu semalam menceritakan tentang soft diplomacy, hal tersebut merupakan cara suatu negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui pendekatan sosial dan budaya. Contoh seperti Korea Selatan dengan budaya K-Pop, K-Drama, K-Food atau Jepang dengan budaya tradisional dan makanan, cosplay, dan anime. Ternyata contoh dua negara ini sudah sangat dikenal dan berkembang di beberapa negara, termasuk Indonesia.”
“Hmmm, dengan budaya kita yang beragam, seharusnya kita juga bisa memperkenalkan budaya kita ke kancah internasional.”
Aku mulai membayangkan bagaimana keragaman Indonesia akan mengguncang dunia.
“Setelah itu, ada beberapa rencang nglaras lain yang mampir bersamaan dan duduk di dua jendela yang berbeda. Walau hampir bersamaan datangnya, saya tetap secara urut menyambut siapa yang lebih dulu datang, yaitu yang di jendela Utara. Sedangkan yang di jendela Selatan, kami beritahu untuk menunggu sejenak ketika mereka menanyakan menu.”
“Tetap antre ya, Mas?”
“Karena ada yang datang lebih dulu, maka saya langsung membuatkan hidangan sesuai apa yang dipesan. Hingga akhirnya giliran saya ke jendela sisi selatan. Tapi, ternyata mereka memilih untuk pergi dan bilang ‘Maaf Mas, kami tidak jadi pesan’.”
“Pasti ada rasa kecewa ya, Mas?”
“Ada, Mbak. Tapi saya tetap berusaha tersenyum sambil menjawab, ‘Nggih Mas, tidak apa-apa. Maaf kalau harus menunggu dan antre dulu tadi’. Seperti itulah budaya bertamu di Titilaras, bila kurang berkenan atau tidak nyaman menunggu dan antre ya tidak apa-apa. Saya sedang memupuk kebiasaan sederhana di mana nantinya akan bertumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar dan membuahkan budaya tersendiri untuk menjadi sebuah ekosistem Titilaras di Pasar Gede.”
Aku diam. Hari kedua di Jendela Titilaras, ada rencang nglaras yang mengajukan pertanyaan, “Seberapa efisien menggunakan grinder manual?”. Aku terkejut dengan jawaban Mas Aji yang mengatakan bahwa tidak efisien sama sekali, malah merepotkan. Saat itu aku sempat melirik ada grinder listrik. Ternyata grinder listrik itu cuma buat bikin espresso base saja.
Melihat tatapanku yang intens ke arah grinder listrik, Mas Aji pun menjelaskan kalau di Titilaras asyiknya itu ya begini. Semua masih manual. Biar sama-sama kita menikmati prosesnya. Cukup sering pertanyaan seperti itu dilontarkan ketika ada yang pesan Manual Brew. Bagi saya, ini bukan sekadar efisiensi waktu cepat atau lambatnya membuat sebuah pesanan, melainkan secara sadar Titilaras ingin sekali mengajak para rencang nglaras ikut terlibat di dalam proses pembuatan minuman yang dipesan. Dari interaksi sederhana itulah sering muncul ide atau gagasan untuk sebuah narasi. Bahkan, bisa juga muncul obrolan menarik hingga minuman yang dipesan sudah siap untuk dinikmati.
Menciptakan ekosistem seperti itu di Titilaras bisa dibilang susah-susah gampang. Kadang butuh tenaga lebih untuk bisa merangkul para rencang nglaras agar bisa masuk dalam sistem tersebut. Apakah lelah? Sering lelah juga. Tapi saya menikmati semua proses itu dan bagaimanapun sebuah ekosistem yang dibangun secara berkala serta telili pasti akan mempunyai kesan tersendiri. Tujuan awalnya memang sederhana saja, yaitu mengajak serta untuk bisa menikmati dan menghargai sebuah proses panjang sebuah produk dari hulu hingga hilir dan bahkan bisa sampai dinikmati di depan Jendela Titilaras.
Begitulah Mas Aji memaparkan apa yang ada di benaknya saat obrolan kami berlanjut setelah Jendela Titilaras ditutup.
“Besok Jendela Titilaras akan buka tipis mulai jam sebelas siang. Saya ingin menyeduh racikan baru. Saya membayangkan perpaduan antara Red Rose Buds Flower, Forget Me Not Flower, Lavender, Chamomile dan Baby Chrysanthemum. Jika Mbak Ratih berkenan, Mbak Ratih bisa menjadi orang pertama yang menikmatinya.”
“Boleh,” aku menjawab tanpa berpikir.
“Tapi saya masih belum tahu, apa nama menu yang pas untuk seduhan itu.”
“Rekah. Ya, saya mengusulkan namanya Rekah. Racikan teh bunga yang mekar berbalut manis, tertumpah rasa dalam rekah.”
Kata itu muncul tiba-tiba dalam kepalaku. Rekah, menjadi satu kata untuk menjabarkan perjumpaan kami di salah satu sudut Kota Solo.
Lalu, kami saling menatap. Mata kami seakan mencoba menyelami lorong-lorong tak kasat mata.
***
Seperti yang sudah dijanjikan kemarin, aku sudah berada di Pasar Gede sebelum jam sebelas. Tepatnya sejak jam tujuh pagi. Mencari sarapan. Itu alasan utamaku.
Beranjak ke dalam Pasar Gede, aku menemukan beberapa penjual lenjongan. Aku memesan seporsi lenjongan kepada salah satu pedagang yang kemudian aku tahu kalau dia biasa dipanggil Yu Sum. Aku memperhatikan tangan cekatan Yu Sum menyiapkan lenjongan di pincuk daun pisang yang berisi ketan hitam, ketan putih, tiwul, cenil, sawut, gatot, dan grontol. Setelahnya, lenjongan itu ditaburi kelapa parut dan disiram gula merah cair.
Yu Sum menyodorkan lenjongan kepadaku. Tak lupa disertai senyum yang sangat ramah dan beberapa kalimat dalam bahasa Jawa. Sudah jelas aku tidak paham. Namun, dari renyahnya senyuman itu, aku bisa menyimpulkan Yu Sum pasti berkata yang baik-baik saja.
Tak jauh dari tempat Yu Sum berjualan, ada es dawet Hj. Sipon. Tentu saja aku berhenti untuk membelinya. Es dawet ini berisi selasih, dawet, bubur sumsum, dan ketan hitam. Disiram kuah santan tak lupa gula merah cair. Aku sering minum es dawet di Lampung. Tapi, saat menikmatinya di Solo, tetap saja ada sensasi berbeda di lidah.
***