Dibalik Secangkir Teh
Laras Rasa di Titilaras 2
Aku merenung. Kembali menyelami makna dari setiap narasi yang aku dengar saat ini. Tentang mempercayakan sesuatu. Secara alami, hubungan baik yang dipupuk dari dasar tanpa adanya salah satu pihak mencari untung sendiri membuat sebuah sistem saling percaya satu dengan yang lain. Keduanya bisa tumbuh layaknya pohon besar yang membantu menyediakan oksigen untuk kehidupan.
Begitu pun hubungan baik yang Titilaras pupuk dengan rencang nglaras, beberapa dari mereka sudah pernah singgah, beberapa lagi baru sekali atau beberapa sudah pernah bertemu sebelumnya di tempat lain, mereka saling percaya bercerita kepada Mas Aji tentang sebuah rencana ke depan atau kisah masa lalu.
Seperti apa yang terjadi sejak tadi sore sampai menjelang Isya ini. Para rencang nglaras yang datangnya berbeda jam, mempercayakan sebuah diskusi atas rancangan rencana yang akan dibangun. Walau rencana itu berangkat dari pemikiran sederhana serta adanya sebuah keresahan, selama itu untuk kepentingan ekosistem bersama pasti semua bisa ikut bangga serta mendukung.
Jendela Titilaras yang sederhana pun menjadi saksi bisu sebuah rencana mereka dan dengan nalar yang sadar. Baik Mas Aji maupun para tamu lainnya menerima serta mendoakan semoga alam semesta selayak tangan menerima dan telinga yang mendengar semua doa tersebut, bisa ikut serta menyampaikan kepada Sang Pencipta.
"Mas, boleh nggak aku tanya sesuatu ke Mas Aji? Apa tipsnya supaya Mas Aji bisa men-treatment dengan baik para tamu yang datang ke Titilaras?"
“Siapa pun yang singgah ke Jendela Titilaras adalah tamu dan saya tuan rumahnya. Pemaknaan kata ‘tamu’ di sini saya artikan dan terima sebagaimana kawan sejawat yang sedang berkunjung ke rumah pribadi saya dengan tetap memegang teguh pada unggah-ungguh bertamu. Kalau arah pertanyaannya mengacu pada istilah ‘tamu adalah raja’, ya maaf tidak berlaku di Jendela Titilaras. Takutnya nanti si raja malah jadi seenaknya."
Aku yang masih menyimak dengan baik, menangkap pola pemikirannya sederhana saja. Kalau kita menganggap siapa pun yang singgah sebagai kawan sejawat pasti apa yang kita sampaikan, apa yang kita olah, apa yang kita hidangkan itu selalu berangkat dari rasa bahagia dalam hati dan pasti akan diterima pula dengan hati.
Sedangkan kalau beranggapan bahwa tamu adalah raja, nanti takutnya malah menimbulkan raos kuasa atas kedudukan posisi dari tamu bahwa tamu inilah yang di atas segalanya. Mendengar Mas Aji menjelaskan konsep ini, aku mendapat pemahaman baru. Benar, selama ini aku selalu memperlakukan pembeli sebagai raja. Keinginan mereka adalah perintah bagiku.
Di sini, jauh dari sudut Laras Rasa, aku sadar bahwa emak tidak pernah mengajarkan atau memberi contoh seperti itu. Para pembeli Laras Rasa akan berakhir sebagai karib dan kerabat emak. Obrolan mereka bukan lagi sebatas harga dan rasa. Tapi, berlanjut kepada kabar anak-anak, suami dan keluarga.
Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku. Hampir jam sembilan malam. Narasi demi narasi di Jendela Titilaras tak pernah gagal membuatku lupa waktu. Tubuh dan pikiranku seakan menancap sempurna di depan jendela tempat Mas Aji melakukan interaksi dan kegiatan menyeduh.
Duduk di salah satu kursi yang menghadap ke Jendela Titilaras, aku bisa merasakan keselarasan rasa yang dibangun Mas Aji dan rencang nglaras yang datang. Bagaimana dengan rasaku? Jujur, tidak baik-baik saja. Aku pun merasakan keselarasan rasa yang lebih dari sekedar rencang nglaras. Aku jatuh cinta. Kepada tiap seduhan yang aku nikmati.
***
Hari keempat di Solo. Lagi-lagi hujan menyapa. Kali ini aku mencoba tetap bertahan di kamar penginapan. Sudah empat hari dan aku belum pernah mengunjungi tempat lain selain Pasar Gede. Sejak awal, aku memang terlalu fokus pada tujuanku, yaitu Titilaras. Tidak ada destinasi lain yang masuk ke dalam pikiranku.
Tadi pagi, Mbak Ani sibuk menghubungiku. Menanyakan kapan aku pulang dan kapan toko kue akan buka lagi. Aku belum bisa memberikan jawaban untuk dua pertanyaan tersebut. Otakku mulai berkelana, mengingat dan membayangkan kembali wajah Laras Rasa yang aku kenal. Aku ingin bisa mendeskripsikan Laras Rasa ke dalam sebuah karya seperti Mas Aji yang bisa menuangkan Pasar Gede dalam seduhan Wajah Pasar Gede.
Memoriku mulai memutar fragmen demi fragmen di Laras Rasa. Keriuhan yang terjadi di dalam Toko Kue Laras Rasa tidaklah selalu sama setiap harinya. Kadang Laras Rasa mulai ‘melambat’. Banyak waktu dan terasa sangat santai hingga bisa dimanfaatkan untuk ngobrol, baik antara emak dan para pelanggan maupun di antara sesama karyawan emak. Sebelumnya, aku tak pernah menyadari, obrolan demi obrolan itu sangat berguna untuk membangkitkan ruang interaksi yang emak tumbuhkan.
Aku menganggap obrolan di antara mereka adalah hal yang sia-sia. Hanya membuang-buang waktu saja. Aku tak pernah nimbrung dalam obrolan mereka. Sibuk dengan tugas sekolah atau tugas kuliah menjadi alasan andalanku untuk menghindar. Kalaupun aku membantu mereka, aku lebih memilih untuk diam. Namun, bukan berarti aku mendengarkan juga. Pembicaraan para karyawan Laras Rasa tak pernah aku simak dengan baik.
Ada kalanya juga Laras Rasa berada pada mode ‘cepat’. Bahkan, sangat cepat. Tapi, emak tak pernah meninggalkan sebuah rutinitas mereka untuk ngobrol dan menumbuhkan ruang interaksi walau terbatas sambil membuat pesanan kue atau memasak untuk pesanan katering. Aku melihat ekosistem ini di Jendela Titilaras. Meski dalam keadaan terbatas karena harus bergantian dengan yang sudah mengantri di belakang, para rencang nglaras tetap bisa berinteraksi dengan Mas Aji.
Di sini, ratusan kilometer jauhnya, aku menyadari kalau keriuhan Laras Rasa yang selama ini hanya aku lihat, ternyata bisa membuat orang-orang yang ada di dalamnya belajar untuk lebih dewasa dan bijak dalam mengolah perasaan serta emosi. Pun begitu dengan para pembeli yang bersedia mengantri dan menunggu gilirannya. Keriuhan tersebut sangatlah membantu emak, karyawan Laras Rasa, dan tamu yang datang untuk belajar bagaimana menciptakan ruang interaksi yang baik, walau dengan keadaan, waktu, dan kesempatan yang sangat minim.
Laras Rasa dan Jendela Titilaras adalah titik perjumpaan. Hal itu bisa aku saksikan sore kemarin. Jendela Titilaras kedatangan rencang nglaras yang sehari sebelumnya sudah menanyakan apakah Titilaras hari ini buka atau tidak. Dia datang membawa teman yang baru pertama singgah di Titilaras. Wajah Mas Aji tampak sumringah menyambut kedatangan mereka. Orang baru selalu melahirkan energi baru.
Dalam obrolan yang aku dengar setelah Mas Aji menyambut mereka, selain menanyakan kabar hari ini dan dari mana sebelum ke Titilaras adalah, “Maaf, kami tidak ada menu tertulis. Mari kita ngobrol dan menu utama kami ada kopi dan teh.”
Dari situlah tercipta banyak sekali obrolan dan senda gurau yang terjadi. Dan ternyata, selang beberapa waktu kemudian Titilaras menjadi titik pertemuan mereka dengan kawan-kawannya yang lain. Sepertinya ada reuni dan Mas Aji tampak tidak menyangka jika Titilaras menjadi tempat bersua untuk mereka melepas rasa rindu setelah lama tak berjumpa.
***