Dia yang Tertinggal

JANGAN PERCAYA SIAPA PUN 2

Ketiganya pulang dengan menumpang ambulans yang membawa Narti. Sementara mobil Badri dan Narti untuk sementara ditinggal di rumah sakit. Rencananya, nanti Badri akan menyuruh Mang Tata untuk mengambil kedua mobil itu. Fokus mereka saat ini adalah mengurus jenazah Narti. Karena hari sudah larut malam, Fauzan memutuskan untuk menyemayamkan dahulu jenazah Narti di rumahnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir ketiganya. Kejadian ini terasa seperti mimpi. Baik bagi Badri, Pru, maupun Fauzan. Narti meninggalkan rumah dalam kondisi baik-baik saja. Pru masih mengingat dengan jelas bagaimana Narti melindunginya saat mereka berdua di rumah Arkan. 

Suasana rumah Fauzan sudah ramai oleh tetangga yang melayat. Sesuai pesan Badri, Pru tetap berada di dalam kamar. Kalaupun terpaksa keluar, Pru harus menyelinap diam-diam agar orang-orang tidak tahu dia sudah tiba di Lampung. Hampir semuanya tidak percaya Narti meninggal. Beberapa karangan bunga sudah berjejer rapi di sepanjang jalan menuju rumah. Fauzan sempat geleng-geleng kepala karena takjub dengan cepatnya informasi menyebar. Padahal ini malam hari. Sepertinya ada toko bunga yang buka 24 jam.

Ketika para tamu sudah pulang, Badri meminta Fauzan untuk tidur. Bagaimanapun, mereka juga harus memikirkan kesehatan diri sendiri. Badri lalu menemui Pru di kamarnya. Banyak yang ingin dia tanyakan kepada adiknya itu.

“Sudah bisa bercerita?” Badri menatap Pru lembut.

Pru menarik nafas panjang seakan mencari sebuah kekuatan. Dia menghirup dalam-dalam aroma kopi yang menguar dalam kamar Badri. Setelah merasa paru-parunya cukup pasokan oksigen, Pru memulai ceritanya. Dengan pelan dia menuturkan bagaimana kejadian itu menimpa mereka. Sejak Narti menjemput di Bandara sampai meninggal di rumah sakit dijelaskannya tanpa ada yang terlewat atau ditutup-tutupi.

“Jadi kamu tidak ingat siapa yang memberikan minuman di rumah Datuk?” Badri memastikan.

“Sama sekali nggak, Bang.” Pru menjawab lirih.

“Pru, tolong jangan bilang ke Bapak masalah sianida ini. Abang takut kondisi Bapak drop lagi. Feeling Abang, ini belum berakhir, Pru. Kita, terutama kamu, masih dalam bahaya. Abang yakin kalau target mereka itu kamu. Kayaknya ada yang tahu atau curiga kalau Abang itu keturunan Tamri Rasyid juga. Untuk saat ini, Pru jangan pulang ke Yogya dulu, ya. Tetap di sini sama Abang.”

“Iya, Bang. Tadi juga Mama udah bilang, besok Mama terbang dengan pesawat paling pagi. Semoga siang sudah sampai. Mama minta tolong supaya bisa melihat jenazah Ibu untuk terakhir kalinya. Bisa, kan, Bang?’

“Bisa. Nanti Abang bilang ke Bapak. Satu lagi, Pru, tolong jangan percaya siapa pun. Kalau ada apa-apa langsung bicarakan sama Abang, ya. Sekarang lebih baik kamu tidur. Abang mau ngecek keadaan di luar sebentar.”

***

Linda memasuki kabin pesawat yang akan membawanya ke Jakarta. Setelah itu dia akan melanjutkan perjalanan ke Lampung dengan pesawat lain. Kacamata hitam sengaja dia pakai untuk menutupi matanya yang bengkak. Kabar yang diterimanya dari Pruistin menyebabkan Linda menangis dan tidak bisa tidur semalaman hingga matanya sembab dan kantung mata melingkar paripurna di kelopak bawah matanya.

Kepergian Narti menorehkan duka yang begitu nyata dalam hati Linda. Jika dahulu Narti berbagi peran sebagai ibu untuk Badri, sahabatnya itu kini malah meregang nyawa untuk Pru. Walau Pru tidak menjelaskan secara rinci penyebab kematian Narti, Linda bisa merasakan kalau ini ada hubungannya dengan Pru dan meninggalnya Arkan Rasyid. Dugaan yang tidak pernah ingin Linda percaya adalah si pembunuh itu mengincar nyawa Pru. Narti adalah sebuah kesalahan yang tidak pernah terpikirkan. Kematian Narti telah menyelamatkan hidup Pru, anak kedua Linda. Entah bagaimana Linda membalas semua pengorbanan Narti.

Linda tidak pernah membayangkan kalau kepergian Tamri masih saja menyisakan masalah yang menyeret dirinya dan juga Pru. Meski Linda tak sekali pun menyesali pernikahannya dengan Tamri, masalah yang kini dihadapinya membuat Linda merasa ketakutan.

Kadang Linda berpikir, andai dulu dia tidak melibatkan Narti dan Fauzan, mungkin kedua sahabatnya itu bisa hidup layaknya orang kebanyakan. Tanpa harus menyembunyikan identitas anak yang mereka besarkan.

Sepulangnya dari Bandung dua tahun lalu, Fauzan mengabarkan kalau Arkan sedang mencari Linda. Namun, Fauzan tidak pernah memberitahukan keberadaan Linda. Tak sampai sebulan, sosok Arkan yang sangat berwibawa sudah berdiri di pintu toko kue Linda. Menemukan Linda pastinya adalah hal yang sangat mudah bagi seorang Arkan Rasyid.

“Silahkan duduk, Pak.” Linda berkata agak canggung. Selama dia menjadi istri dari Tamri Rasyid, hanya Arkanlah yang tidak pernah menunjukan kebencian kepadanya. Sangat berbeda dengan keluarga Rasyid lainnya.

“Jadi, setelah Tamri meninggal, kamu pindah ke sini?” Arkan bertanya. Matanya tak lepas memandang sekeliling toko kue Linda.

“Iya, Pak.” Linda menjawab singkat. Kemudian diam, sibuk dengan pikiran yang berkecamuk, bertanya-tanya hal apa yang membawa Arkan sampai datang ke tempatnya.

“Di mana cucu laki-lakiku?” Arkan bertanya lugas.

Linda tersentak. “Maksud Bapak?” Linda balik bertanya, berharap Arkan tidak mengetahui identitas Badri.

“Aku hanya butuh nama. Siapa nama cucu laki-lakiku?” Kali ini suara Arkan terdengar sangat tegas.

“Anak kami perempuan. Pruistin. Bapak tahu sendiri kalau kami hanya punya Pruistin.”

“Kamu bisa membohongiku. Tapi kamu tidak bisa membodohiku. Aku tahu kalau Tamri dan kamu punya anak laki-laki. Aku juga tahu kalian sengaja menyembunyikannya. Tapi kalian lupa, kalian tidak bisa mengganti darah Rasyid yang mengalir di tubuhnya.”

“Saya tidak mengerti apa maksud Bapak.” Linda bersikukuh menutup mulut.

“Aku tidak pernah membencimu sedikit pun. Aku tahu kalau Tamri anakku sangat mencintaimu. Kamu pasti ingat, akulah satu-satunya keluarga yang datang di pernikahan kalian dan memberikan restu kepada anakku. Jangan lupa, aku tidak pernah menolak kehadiran Pruistin. Aku tahu, Pruistin punya kakak. Aku punya cucu laki-laki yang belum aku temukan. Asal kamu tahu, aku sudah mengatakan pada Tamri sejak dulu. Dia bisa menyembunyikan anaknya, tapi dia tidak bisa membodohiku. Selama ini, aku bukan tidak bisa menemukan cucuku, aku hanya membiarkannya bebas. Aku percaya, Tamri memahami kata-kataku. Anakku bisa lari dan menghindari takdirnya untuk memegang Rasyid Grup, tapi cucuku belum tentu bisa. Tamri dan kamu tidak bisa menghalanginya untuk mengemban tanggung jawab sebagai penerus Rasyid.” Suara Arkan terdengar sangat mengintimidasi.

“Tolong, jangan ganggu anak saya.” Linda memohon. tidak sadar kalau perkataannya sama saja mengakui bahwa dia memiliki anak laki-laki.

“Baiklah. Kamu sudah mengakuinya. Aku senang. Ternyata tidak sulit membuatmu mengaku. Semua ibu selalu sama. Selalu luluh jika sudah menyangkut anaknya. Sekarang katakan kepadaku, siapa dia.”

“Tidak. Tolong jangan paksa saya, Pak. Saya tidak mau melihat anak saya menderita. Saya mohon, biarkan kami menjalani hidup kami dengan tenang. Saya dan anak-anak saya tidak mau terlibat lebih jauh dengan keluarga Rasyid. Apalagi suami saya juga sudah meninggal. Saya rasa, kami sudah tidak punya kepentingan lagi dengan keluarga Rasyid.” Linda berkata lirih. Entah mendapat keberanian dari mana sampai dia membantah ucapan Arkan Rasyid.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!