Dia yang Tertinggal
KEBENARAN 2
Akhirnya Tamri tetap menikah dengan Linda, meski tanpa persetujuan keluarga besarnya. Arkan pun hanya diam. Tidak menentang, tetapi juga tidak memberikan pembelaan. Arkan tahu bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak pernah dicintainya. Jauh di lubuk hatinya, Arkan berharap Tamri bisa menikahi orang yang memang dicintainya, tidak seperti dirinya yang hanya bisa pasrah menerima perjodohan dari kedua orang tua mereka. Sepertinya, takdir yang sama terulang lagi kepada Tamri. Mereka sama-sama menyukai gadis dari Yogya. Namun, Tamri memilih memperjuangkan cintanya.
Tamri pergi meninggalkan rumah keluarga besar Rasyid tepat di saat dia membawa Linda untuk mengenal keluarganya. Tatapan mencemooh dan ucapan-ucapan sinis yang ditujukan kepada Linda secara terang-terangan membuat Tamri yakin dia harus pergi.
Enam bulan setelah peristiwa yang membuat Linda sempat ingin mengakhiri hubungannya dengan Tamri, akhirnya Tamri berhasil meminang Linda. Pernikahan mereka di Yogya dilangsungkan sangat sederhana. Arkan datang meski hanya sebentar. Namun, Tamri sungguh senang melihat papanya memberikan restu.
Setelah menikah, Tamri memboyong Linda ke Lampung. Tamri beruntung karena setelah kuliahnya selesai, dia tidak menggantungkan seluruh hidupnya kepada orang tuanya. Tamri sudah merintis coffee shop sebagai bisnisnya sendiri dengan dibantu Fauzan, sahabat masa kecilnya. Perlahan tetapi pasti, Tamri bisa membuka hingga tujuh cabang. Omzet yang diterimanya lebih dari cukup untuk membiayai hidup keluarga kecil yang sedang Tamri bangun.
Keduanya tinggal di rumah yang posisinya bersebelahan dengan Fauzan. Selain memudahkan koordinasi tentang bisnis, Tamri juga berharap bisa tetap berada di belakang layar. Ia lebih suka Fauzan saja yang muncul ke publik mewakili bisnis mereka.
Kemudian, kabar mengenai kehamilan Linda pun sampai ke telinga Arkan. Secara khusus, Arkan menemui Tamri.
“Bang, Papa yakin kamu paham kalau calon anakmu ini bisa menjadi bumerang bagimu.”
“Dari mana Papa tahu aku akan punya anak?” Tamri tidak menyangka secepat itu berita kehamilan Linda sampai kepada Arkan.
“Tidak perlu kamu tahu, Papa dapat kabar dari siapa. Yang harus kamu tahu, kalau anakmu itu nantinya laki-laki, tentu dia akan menjadi pewaris Rasyid Grup sama seperti kamu.”
“Aku tidak mau anakku berhubungan dengan keluarga Rasyid selama kalian belum bisa menerima Linda sebagai istriku.”
“Papa paham apa yang kamu pikirkan. Kalau begitu, kamu harus mencari cara agar anakmu selamat dari cengkeraman kami.”
Ucapan Arkan membuat Tamri sadar kalau status anaknya itu tidak bisa dianggap main-main. Jika anaknya lelaki, cepat atau lambat anak itu akan diambil oleh keluarga Rasyid dan dipisahkan dari dia dan Linda.
Bukan mustahil, beberapa saudara Tamri yang telah dibutakan oleh harta malah akan menyingkirkan anaknya agar mereka bisa leluasa menguasai harta kekayaan Rasyid.
Kepergian Tamri dari rumahnya membuat posisi penerus Arkan kosong. Hal itu bisa memicu perpecahan dalam keluarga Rasyid. Selama ini, Tamri dididik dengan sangat luar biasa agar kelak siap memikul tanggung jawab yang akan diwarisinya.
Saat Tamri pergi, masing-masing keluarga merasa mampu menggantikan Tamri. Mereka menyalahkan Arkan dan Riska yang dianggap membiarkan Tamri pergi. Di sisi lain, mereka malah bersyukur karena Tamri bukan lagi putra mahkota keluarga Rasyid.
Tamri memutuskan untuk membawa Linda ke Bandung ketika usia kandungan Linda memasuki bulan ketujuh. Menjelang kelahiran anak pertamanya, yang diketahui berjenis kelamin laki-laki, Tamri menyusun rencana bagaimana menjauhkan anak mereka dari jangkauan keluarga Rasyid.
“Aku akan menitipkan anak kita kepada Fauzan.” Tamri mengatakan idenya ke Linda.
Fauzan adalah sahabat karib Tamri sejak SD sampai SMA. Mereka berpisah ketika kuliah karena Fauzan meneruskan kuliahnya di Bandung sementara Tamri di Yogya. Bahkan rumah yang mereka tempati selama di Bandung adalah rumah orang tua Narti, istri Fauzan. Rumah itu kebetulan sudah kosong selama dua tahun setelah kedua orang tua Narti meninggal. Daripada tidak terawat, Fauzan menawarkan rumah itu kepada Tamri.
Sejak awal Tamri merintis usaha coffee shop, Fauzan membantunya di depan layar. Kepemilikan BA Coffee Shop yang mengatasnamakan Fauzan sebagai pemilik sekaligus direktur utama, membuat hanya segelintir orang yang tahu kalau Tamri ada di belakang Fauzan.
“Maksudmu, anak kita ini mau kamu berikan ke Fauzan sama Narti?” Linda terbelalak kaget dengan keputusan Tamri.
“Hanya itu satu-satunya cara menghilangkan jejak nama Rasyid dari anak kita. Aku yakin Fauzan dan Narti akan menjadi orang tua terbaik untuk anak kita.”
Setelah perdebatan panjang diselingi tangis Linda yang tiada henti, akhirnya mereka sepakat untuk memberikan bayi mereka nantinya kepada Fauzan dan Narti.
Mendekati hari perkiraan lahirnya si bayi, Fauzan dan Narti berangkat ke Bandung. Mereka akan menemani Tamri dan Linda hingga si bayi lahir. Sampai saat itu Tamri masih belum membicarakan perihal rencanya yang akan menyerahkan bayi mereka kepada Fauzan.
Tepat sehari setelah Linda melahirkan, Tamri mendatangi Fauzan dan menyerahkan bayi itu.
“Tolong jaga anakku.” Tamri memohon kepada Fauzan.
Sejak itu, bayi yang dinamakan Badri Abadi oleh Tamri, resmi menjadi anak Fauzan dan Narti.
Pulang dari Bandung, semua terlihat seperti biasa. Tamri dan Linda kembali menempati rumah mereka yang bersebelahan dengan Fauzan. Dahulu, alasan Tamri dan Fauzan membeli rumah itu adalah untuk memudahkan mereka berkoordinasi dan agar Linda tidak kesepian karena ada Narti. Kini, posisi rumah mereka memberikan kemudahan akses untuk bisa mengurus Badri. Mereka berempat bahu membahu membesarkan Badri. Si kecil Badri merasa memiliki dua ayah dan dua ibu.
Tiga tahun setelahnya, lahirlah Pruistin Akmal Rasyid. Kelahiran anak kedua Tamri dan Linda ini diketahui dengan jelas oleh keluarga Rasyid. Bahkan Arkan sempat berpikir informasi kehamilan Linda yang pertama adalah kesalahan dari orang kepercayaannya. Arkan bersyukur karena cucunya berjenis kelamin perempuan. Setidaknya, untuk saat ini dia aman dari jangkauan keluarga besar Rasyid karena dinilai bukan sebuah ancaman.
Kehadiran Pruistin disambut suka cita oleh Badri. Dia menganggap bayi mungil itu adalah adiknya. Darah memang selalu lebih kental dari apa pun. Tak bisa dibohongi kalau darah itu yang menyambungkan kasih antara Badri dan Pruistin.
Semua berjalan sesuai harapan. Tamri dan Fauzan berpikir badai itu telah benar-benar sirna. Tamri tak peduli bagaimana Rasyid bersaudara memperebutkan posisi yang ditinggalkannya. Dia lebih fokus mengembangkan bisnisnya bersama Fauzan. Coffee shop mereka semakin merajalela dan memiliki cabang di beberapa kota.
Hingga di suatu sore, kabar mengejutkan itu datang. Linda menerima telepon dari kepolisian, suaminya mengalami kecelakaan. Seketika Linda pingsan. Pruistin yang baru saja pulang dari les tambahan terkejut melihat ibunya pingsan dan layar telepon genggam itu masih menyala. Pru mengambil alih telepon di tangan Linda dan berbicara dengan orang dari kepolisian.
Meski gemetar, Pru segera berlari ke rumah Fauzan dan mengabarkan kondisi kedua orang tuanya. Fauzan bergegas ke rumah sakit sementara Narti mengurus Linda di rumahnya.
Kecelakaan tunggal. Begitulah kesimpulan polisi mengenai kecelakaan yang terjadi pada Tamri. Fauzan hanya diam meski jauh di dalam hatinya dia sama sekali tidak percaya pada keterangan polisi. Tamri adalah pengemudi yang terampil dan sangat taat peraturan lalu lintas. Sebelum kecelakaan, Tamri dan Fauzan masih membicarakan perkembangan coffee shop mereka di kantor. Setelah itu, Tamri dan Fauzan pulang dengan mobil masing-masing.
Jenazah Tamri dibawa oleh Arkan, yang langsung mengambil alih proses pemakaman tanpa mengindahkan kehadiran Linda dan Pruistin. Kedua perempuan yang sangat dicintai Tamri itu dianggap orang asing yang tidak punya kepentingan di mata keluarga besar Rasyid.
Hampir sebulan setelah kepergian Tamri, Fauzan menyarankan agar Linda membawa Pruistin pergi meninggalkan Lampung. Fauzan khawatir keluarga Rasyid akan mengganggu hidup Linda beserta putrinya, sementara Fauzan tidak bisa melindungi mereka.
Dengan berat hati, Linda menerima usulan Fauzan. Berulangkali Linda menitipkan Badri kepada sahabatnya itu. Segera setelah Pruistin lulus SMA, Linda memilih Lombok sebagai tempat tinggalnya. Setahun sekali Fauzan dan Narti menyempatkan datang ke Lombok menjenguk Linda bersama Badri. Bagaimanapun, mereka tidak bisa benar-benar menjauhkan Badri dari Linda sebagai ibu kandungnya.
“Begitulah kejadian yang sebenarnya. Maafkan Mama. Maafkan kami para orang tua yang sudah menyembunyikan kebenaran ini selama puluhan tahun. Keputusan kami menyebabkan Abang tidak tahu kalau Papa Tamri itu papa kandung Abang.” Linda terisak mengakhiri ceritanya.
Badri dan Pru hanya bisa diam. Keduanya masih belum bisa mencerna semua kebenaran yang terbuka secara tiba-tiba. Kenyataan kalau mereka berdua adalah saudara kandung benar-benar menggucang dunia mereka.
***