Dia yang Tertinggal
SIAPA PELAKU SEBENARNYA? 2
Selepas salat Subuh, Fauzan mondar-mandir di depan kamar Badri. Semalaman dia tidak bisa tidur mengingat percakaannya dengan Pru. Fauzan sadar, dia telah salah langkah. Bagaimanapun, bukan dia yang bisa menentukan jalan hidup apalagi takdir Badri. Dua tahun lalu, dia sudah membuka tabir identitas Badri, harusnya dia juga sudah siap dengan kenyataan suatu hari nanti Badri akan kembali ke keluarganya.
Sejak kemarin Fauzan tak henti menyesali semua tindakannya yang menyetujui usul Rahmat untuk membakar kantor Hanafi. Entah setan mana yang bisa membuat otaknya tidak mampu bekerja dengan baik.
“Bapak? Ngapain di sini?”
Fauzan hampir saja terjengkang karena terkejut mendengar suara Badri yang sudah berdiri di belakangnya. “Pak, bisa kita bicara sebentar? Kayaknya di kamar Abang aja, deh.” Badri mencoba meredam emosinya. Untunglah semalam dia bisa tidur dengan sangat nyenyak. Setidaknya saat ini tubuhnya sudah dalam kondisi prima. Setelah Fauzan masuk, Badri pun menutup pintu kamarnya.
“Kenapa semalam Abang nggak bangunin Bapak?”
“Abang takut Bapak udah tidur. Pak, semalam Pru udah cerita semuanya tentang Bapak sama Om Rahmat.”
“Maafkan Bapak, Bang. Bapak betul-betul menyesal. Bapak nggak berpikir panjang waktu Om Rahmat mengajukan rencana itu. Isi kepala Bapak hanya bagaimana kamu dan Pru bisa bebas. Apalagi Bapak juga baru aja kehilangan ibu kamu. Abang boleh marah, tapi tolong jangan benci Bapak.”
Dada Badri langsung terasa sesak begitu mendengar pengakuan Fauzan. Bagaimana mungkin orang yang selama ini selalu mengajarkan tentang kekuatan dan ketangguhan, tiba-tiba saja bisa berbuat sesuatu yang sangat ceroboh dan membahayakan orang lain. Bagaimana kalau Hanafi mengalami serangan jantung lalu meninggal?
“Pak, jujur aja Abang nggak tahu harus bersikap gimana sama Bapak. Sejak Ibu meninggal, Abang dan Pru hanya bisa percaya sama Mama dan Bapak. Kami berdua nggak berani cerita ke Mama karena takut semua ini jadi beban pikiran Mama. Abang ingin menyelesaikan semuanya tanpa ada keributan. Bapak udah menghancurkan kepercayaan Abang dengan tindakan Bapak yang bisa berakibat sangat fatal.”
“Bapak sangat menyesal, Bang. Bapak pikir, kalau surat wasiat itu hilang dan tidak bisa dibacakan oleh Pak Hanafi, maka Pru yang akan menjadi pengganti kakekmu. Setelah itu, Om kamu yang akan menyelesaikan semuanya agar Pru bisa terbebas dari kewajibannya untuk memegang Rasyid Grup.”
“Kenapa Bapak tidak bertanya ke Om Rahmat, cara apa yang akan dia tempuh untuk membebaskan Pru dari tanggung jawab itu?”
Fauzan seketika diam. Ucapan Badri seolah menamparnya. Ya, bagaimana Pru bisa melepas tanggung jawabnya? Langkah apa yang akan ditempuh Rahmat? Tubuh Fauzan tiba-tiba bergetar membayangkan Rahmat akan melakukan sesuatu yang buruk kepada Pru.
“Astagfirullah, Bang. Bapak nggak berpikir sejauh itu. Ya Allah, kenapa Bapak bisa lalai begini?” Fauzan menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
“Abang juga nggak berani mikir macam-macam, Pak. Tapi rasanya semua bisa jadi mungkin. Bahkan semalam Abang sempat berpikir kalau Bapak juga terlibat dalam semua rencana keluarga Rasyid termasuk melenyapkan Pak Arif yang akan Abang temui.”
“Demi Allah, Bang, Bapak nggak tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa Pak Arif. Bapak hanya membantu rencana Rahmat. Dan karena itu juga Bapak sangat menyesal udah mengecewakan Abang dan Pru.”
“Baiklah Pak. Abang percaya sama Bapak. Abang jadi mikir, jangan-jangan ini hanya cara untuk mengadu domba kita. Bapak nggak bilang ke Om Rahmat kalau Pru ada di sini sama kita, kan?”
“Nggak. Rahmat menyangka Pru masih di Yogya dan nggak datang ke sini.”
“Alhamdulillah. Setidaknya Pru aman.”
“Bang, apa jangan-jangan Rahmat itu dalang di balik semua ini?”
“Bisa jadi iya, bisa juga nggak. Semuanya masih kayak benang kusut. Abang mau nengok Pak Hanafi dulu. Bapak mau ikut?”
“Boleh.”
***
Kondisi Hanafi sudah jauh lebih baik. Meski begitu, pihak keluarga masih sangat membatasi siapa-siapa saja yang bisa menjenguknya. Badri menjadi salah satu orang yang sedang ditunggu oleh Hanafi.
“Maaf, Pak. Saya baru bisa menjenguk Pak Hanafi. Gimana sekarang, Pak? Apa masih ada keluhan?” tanya Badri begitu dia berdiri di sisi kanan Hanafi. Sedangkan Fauzan terpaksa harus menunggu di luar karena tidak diizinkan masuk oleh Sawitri.
“Aku baik-baik saja. Sepertinya malaikat maut pun masih enggan mencabut nyawaku karena urusanku dengan Arkan masih belum selesai. Sialan emang si Arkan. Pergi seenaknya, bikin aku repot saja. Kamu kapan pulang dari Kuningan?”
“Loh, Pak Hanafi tahu?”
“Fajar yang bilang. Karena Arif sudah meninggal.”
“Itulah yang jadi beban pikiran saya, Pak. Surat wasiat yang ada di Pak Hanafi hilang, sedangkan tanpa wasiat itu, semua rencana Datuk bisa jadi berantakan.”
“Aku juga saat ini belum tahu apa yang harus dilakukan. Tapi aku yakin, si tua Arkan pasti sudah punya rencana lain untuk menyelamatkan semuanya.”
“Pak, saya mau mengatakan sesuatu. Tapi saya mohon Pak Hanafi tidak marah atau membenci Bapak saya.”
“Katakan. Walaupun aku punya darah tinggi, tapi aku yakin saat ini tensiku nggak akan naik seperti kemarin.”
Badri pun memutuskan untuk menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Fauzan dan Rahmat. Tidak ada detail yang terlewat. Hanafi berhak tahu. Kalau tidak, bisa saja Hanafi melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib dan mereka mengusutnya. Kalau sampai itu terjadi, semuanya bisa makin runyam. Setelah selesai bercerita, Badri mengamati wajah Hanafi. Tidak ada raut terkejut sama sekali.
“Sekali lagi, saya mohon maaf atas nama Bapak saya.”
“Lupakan. Sedikit banyaknya aku sudah menduga akan ada hal buruk yang entah esok atau lusa menimpaku. Masalah kantor, kamu nggak perlu pusing. Aku sudah mengasuransikannya. Dokumen-dokumen yang terbakar juga masih ada salinannya dan tidak sepenting surat wasiat Arkan. Aku juga sudah memaafkan Fauzan. Aku tahu, dia masih belum bisa menerima kepergian Narti. Lalu dihadapkan kepada kejadian yang menimpamu, pasti dia sedikit kehilangan kewarasannya.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?”
“Mungkin kita harus menunggu perkembangan dari Fajar dulu. Selama itu, tolong jangan berinteraksi dengan siapa pun dari pihak keluarga Rasyid. Kamu juga harus merahasiakan tentang kondisiku. Termasuk kepada Fauzan. Aku yakin si tua Arkan pasti udah punya rencana lain.”
“Tapi, bagaimana dengan pembacaan wasiat itu?”
“Aku masih bisa menahannya untuk tiga atau empat hari ke depan.”
Tanpa banyak tanya lagi, Badri pun menuruti ucapan Hanafi. Memang untuk saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan. Sebenarnya dia ingin menemui Fajar, tapi sejak semalam ponsel lelaki selalu tidak aktif. Safuan juga tidak bisa dihubungi. Akhirnya Badri mengajak Fauzan meninggalkan rumah sakit dan memilih pulang ke rumahnya.
Melihat muka Badri yang jauh dari kata baik-baik saja, membuat Fauzan mengurungkan niatnya untuk bertanya apa saja yang dibicarakan oleh Badri dan Hanafi. Meski dalam hatinya Fauzan terus saja memikirkan siapa sebenarnya pelaku di balik semua ini? Fauzan tersenyum miris begitu mengingat Tamri. Pantas saja Tamri lebih memilih pergi dari keluarganya dan menikah dengan Linda. Karena pada kenyataannya, menjadi Tamri yang akan menggantikan Arkan itu sangat tidak mudah.
Mereka sampai di rumah dan terkejut mendapati sudah ada Fajar yang duduk di ruang tamu bersama Pruistin.
***