Dia yang Tertinggal

BERTEMU KUNCORO

“Bukankah karena Pru seorang perempuan, bisa saja Pak Arkan tidak memilihnya?” Fauzan sempat mengemukakan pendapatnya.

“Papa sudah memikirkan semuanya. Kami sempat protes tentang hal itu, tapi Papa bilang kalau perlu dia akan menikahkan Pru dengan Badri. Dengan demikian Badri bisa mendampingi Pru memegang Rasyid Grup. Perjodohan memang bukan sesuatu yang aneh dalam keluarga kami. Bang Fauzan tahu sendiri, kan? Ya sudah, karena Papa sudah memutuskan demikian, kami juga hanya bisa mengikuti saja sambil berharap semoga Pru bisa menikah dengan Badri secepatnya. Tapi semua tidak berjalan sesuai rencana.”

Saat hari-hari terakhirnya, Arkan sempat memanggil Rahmat. Setelah Tamri meninggal, mau tidak mau, suka tidak suka, Rahmat harus menjadi pengganti Arkan dalam keluarganya. Dengan kondisi kesehatan yang sudah benar-benar drop, Arkan malah mengatakan kalau Pru tidak perlu menikah dengan Badri. Alasannya, akan ada seseorang yang menggantikan posisi Pru sebagai pewaris utama. Dia lebih berhak dari siapa pun.

Rahmat terus menunggu, tetapi sampai Arkan meninggal, Rahmat tidak mendapatkan jawaban atas siapa orang yang dimaksud oleh Arkan.

“Aku mengatakan ini ke Abang, karena aku mau minta bantuan Abang untuk menjaga Pru. Dia keponakanku, tapi aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku malah khawatir akan terjadi sesuatu kepadanya kalau dia tinggal di sini. Untunglah, sampai saat ini Pru belum datang melayat. Aku berharap semoga dia tidak datang. Sekaligus aku ingin bertanya ke Abang, mungkin Abang tahu siapa orang yang dimaksud Papa?”

“Meski aku sahabat baik Tamri, tapi terus terang aja, aku nggak tahu sama sekali tentang masalah ini.”

“Sejujurnya, aku sangat berharap Pru bisa menikah dengan Badri. Tapi Papa bersikeras melarangnya.”

Fauzan diam tanpa berani memberikan komentar apa pun. Jauh di lubuk hatinya, Fauzan sangat berharap Arkan belum mengubah surat wasiatnya dengan mencantumkan nama Badri.

Obrolan hari itu berakhir tanpa ada keputusan apa pun. Sampai kemudian Rahmat kembali menemui Fauzan setelah mendengar keterangan Hanafi bahwa Badrilah anak kandung Tamri yang namanya akan menggantikan nama Pruistin dalam surat wasiat Arkan.

Rencana itu pun disusun. Fauzan dan Rahmat berpikir, kalau surat wasiat Arkan yang baru hilang, maka segalanya akan jauh lebih mudah. Secara otomatis, Pruistin yang tetap akan menggantikan Arkan. Menyingkirkan Pruistin dari daftar pewaris utama jauh lebih mudah dibandingkan Badri. Pruistin perempuan. Kuliah di bidang hukum dan sama sekali tidak pernah berurusan dengan bisnis.

Badri berbeda. Badri sudah disiapkan oleh Tamri meski secara tidak langsung. Badri mendalami ilmu bisnis. Sejak anak-anak terbiasa ikut Tamri dan Fauzan dalam pengelolaan BA Coffee Shop. Sebagai cucu laki-laki pertama dalam keluarga Rasyid, Badri sudah memenuhi semua syarat sebagai pengganti Arkan maupun Tamri. Alasan apa pun yang menjadi keberatan berbagai pihak, tidak bisa semudah itu mencoret seorang Badri Abadi. Kecuali jika wasiat itu tidak pernah ada.

***

Jet pribadi yang disewanya mendarat sempurna di Bandara Sam Ratulangi. Sudah beberapa kali Satria menjejakan kakinya di sini. Namun hanya sebatas di Manado. Tak pernah mencapai Minahasa Utara apalagi Likupang. Satria menyalakan ponselnya dan segera menghubungi Hermawan untuk mengecek perkembangan proses pemakaman Arif. Tak lupa Satria meminta agar Hermawan segera menyelidiki kasus pembunuhan Arif. Namun, harus menyembunyikannya dari kejaran media. Biarlah nanti Satria yang akan bertanggung jawab kepada keluarga Arif. Meski sudah bisa memastikan nama yang akan menjadi tersangka, tetap saja Satria memerlukan bukti dari pihak Hermawan.

Siang sudah mendekati paripurna ketika Satria menyusuri jalan utama yang akan membawanya ke Minahasa Utara. Tidak ada waktu untuk sekedar berduka atas kematian Arif. Dia yakin, Arif dan keluarganya sudah sangat terlatih menghadapi kemungkinan ini.

Casabaio Paradise Hotel. Likupang. Kuncoro. Sekaranglah saatnya. AF.

Itulah sebaris pesan yang diterima Satria dari sebuah nomor tak dikenal. Hanya butuh waktu tujuh detik, otak Satria dengan cepat memproses kalau pesan itu datang dari Arif. Satu-satunya orang yang menciptakan hubungan antara dirinya dengan Likupang. Walaupun sejak tiga bulan lalu, dirinya dan Arif sudah membahas hal ini, tetap saja tubuh Satria bergetar menerima kenyataan Arif sudah meninggal. Ya, seperti yang dikatakan Arif kepadanya, alamat Kuncoro hanya akan diberikan ketika Arif berada dalam bahaya dan tidak mungkin bisa selamat.

“Maaf, Pak. Apa kita akan langsung ke hotel?” tanya sopir yang mengantarnya.

“Iya.” Satria menjawab singkat sambil membayangkan apa yang sebenarnya dititipkan oleh Arif kepada Kuncoro dan siapa sebenarnya Kuncoro. Bertahun-tahun memantau keluarga Rasyid, Satria merasa belum pernah berurusan dengan nama Kuncoro.

Mobil mulai memasuki halaman parkir Casabaio Paradise. Satria segera merapikan mengecek kembali tas punggung yang dibawanya. Memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal di mobil. Satria turun setelah mengucapkan terima kasih berikut ongkos dan fee untuk si sopir. Satria sengaja tidak menghubungi anak buahnya karena ini bukan tugas negara. Alasan utama Satria menyelesaikan semua ini adalah rasa penasarannya sendiri, selain hutang budinya kepada Arkan.

Dengan langkah yang lebih cepat dari orang kebanyakan, Satria menanyakan keberadaan Kuncoro kepada resepsionis. Tak lupa dia juga mengatakan nama dan asalnya. Satria yakin, Arif sudah menyebutkan namanya kepada Kuncoro. Sama seperti Arif menyerahkan nama Kuncoro kepadanya. Untuk beberapa saat, Satria hanya bisa diam menunggu si resepsionis yang sedang menghubungi seseoang. Sepertinya resepsionis ini menanyakan keberadaan Kuncoro. Kemudian Satria diarahkan ke bagian dapur yang terletak di sudut kanan belakang hotel.

Satria sampai di depan pintu ruangan dapur ketika seorang pria tua keluar dari ruangan tersebut dan langsung mendekatinya. Satria yakin pria dengan rambut beruban yang langkahnya masih tampak gesit itu adalah Kuncoro.

“Sebaiknya kita bicara di ruangan saya,ucap Kuncoro tanpa basa basi terlebih dulu. Satria mengekor di belakangnya dalam diam.

Ruangan Kuncoro hanya berjarak 50 meter dari dapur utama hotel. Kini kedua lelaki beda generasi tersebut sudah duduk saling berhadapan.

“Saya Kuncoro. Kamu pasti Satria yang pernah disebutkan Arif kepada saya.”

“Betul, Pak, saya dapat alamat Pak Kuncoro dari Pak Arif.”

“Saya tidak pernah berharap bisa bertemu kamu atas perintah Arif. Karena saya tahu, kalau sampai hal itu terjadi, bisa dipastikan Arif sudah tinggal nama akibat dibunuh oleh seseorang. Kapan Arif mengirim pesan kepada kamu?”

“Tadi malam sekitar pukul tujuh.”

“Kenapa lama sekali kamu baru datang? Apa kamu tidak bisa menyelamatkan Arif?”

“Posisi saya sedang di Lampung. Semalam saya memang berniat ingin ke Kuningan, tapi saat itu saya nggak tahu berapa banyak waktu yang saya punya. Pergerakan mereka begitu cepat. Dalam waktu bersamaan, mereka juga berhasil membuat kantor pengacara Hanafi terbakar. Walaupun saya masih ragu apakah ini perbuatan orang yang sama. Bagi saya, jauh lebih penting segera menemui Pak Kuncoro. Sesuai amanat yang pernah disampaikan Pak Arif.”

“Ya ya ya. Saya bisa mengerti. Sepertinya ini memang sudah takdir Arif. Dia memenuhi janjinya mengabdi kepada Arkan sampai mati.”

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!