Dia yang Tertinggal
SEBUAH RAHASIA
Dua tahun lalu, Fauzan dan Narti yang selama dua puluh tiga tahun ditengarai sebagai kedua orang tua kandungnya, memaksanya datang ke Bandung dan memberikan fakta yang mampu mengguncang dunia Badri. Meruntuhkan fondasi yang selama ini menjadi pijakannya untuk berdiri.
“Bagaimana ini, Pak? Ibu dapat kabar kalau kondisi Pak Arkan sudah sangat mengkhawatirkan.” Narti memandang Fauzan bingung. Wajahnya pias menggambarkan kekalutan yang coba diredamnya.
Fauzan baru saja selesai mandi. Penat di kantor masih belum usai sepenuhnya. Namun, kabar yang Narti sampaikan senja itu langsung mengalihkan semua perhatiannya. Rahasia yang tersimpan lebih dari dua puluh tahun lalu ini sepertinya memang harus segera ditunaikan.
“Sudah memberi kabar ke Linda?” Fauzan balik bertanya.
“Belum. Ibu belum melakukan apa-apa. Otak ini nggak bisa berpikir waras. Ah, iya, mungkin kita harus ngobrol sama Linda dulu, ya?” Narti meminta persetujuan Fauzan.
“Hubungi Linda. Kita harus ketemu langsung. Masalah ini nggak bisa dibicarakan lewat telepon. Atur pertemuan di Bandung saja, Bu. Jakarta terlalu riskan. Bapak lebih nyaman kita bertemu Linda di Bandung.”
“Iya. Ibu hubungi Linda dulu. Mudah-mudahkan dia bisa tenang dapat kabar ini. Ah, kenapa semuanya jadi begini?” Narti mengusap wajahnya.
Fauzan hanya diam. Dia sudah tahu kalau situasinya akan seperti ini. Dua puluh lima tahun lalu saat Tamri, sahabatnya sejak bangku SMP menyerahkan Badri kepadanya, Fauzan seolah sedang menggadaikan hidupnya dan juga Narti.
“Tolong jaga anakku.” Tamri memohon kepada Fauzan.
Awalnya Fauzan menolak permintaan Tamri. Bayi mungil dan lucu yang baru berusia kurang dari empat puluh delapan jam itu terlihat membawa dua sisi yang melekat sempurna. Keagungan dan kehancuran.
Lalu, tiba-tiba saja Narti datang dan mengambil alih bayi dalam gendongan Tamri. Narti menepuk-nepuk punggung bayi itu penuh cinta. Fauzan dan Tamri bisa melihat binar bahagia yang selama ini redup di mata Narti.
“Aku bersedia merawatnya. Ini jawaban dari Tuhan terhadap semua doa dan tangisanku.” Narti berkata mantap.
Tiga tahun sebelumnya, dokter mengangkat rahim Narti. Tumor yang mulai bersarang membuat Fauzan tidak punya pilihan selain menyetujui pengangkatan rahim itu. Jerit tangis Narti tak bisa menggoyahkan keputusan Fauzan. Bagi Fauzan, dia menikahi Narti bukan hanya untuk memiliki keturunan.
Fauzan kembali memandang lekat bola mata hitam milik Narti. Dicarinya masa depan seperti apa yang akan mereka hadapi setelah menerima bayi yang kini tengah tertidur pulas. Tatapan Fauzan yang menembus kedalaman jendela jiwa Narti hanya mampu melihat binar bahagia dan ratusan percik harapan yang datang silih berganti.
Mampukah Fauzan memadamkannya? Jelas tidak. Setengah putus asa, Fauzan kembali melempar pandang pada Tamri yang juga sedang menatapnya. Mata mereka bertemu. Meski Tamri tidak mengeluarkan sepatah kata pun, Fauzan tahu sahabatnya itu tidak akan mundur. Fauzan mengangguk sebagai jawaban. Tamri mengembuskan nafas lega. Tanpa kata, mereka membuat takdir baru untuk bayi yang akhirnya diberi nama Badri Abadi.
***
Setelah Narti menghubungi Linda, mereka sepakat untuk bertemu di Bandung seperti yang disarankan Fauzan. Tak lupa, Narti juga menghubungi Badri dan Pru agar menyusul ke Bandung di hari yang sudah ditentukan.
Hari itu pun tiba. Fauzan, Narti, Linda, Badri, dan Pruistin duduk mengelilingi meja makan di sebuah restoran. Mereka memilih private room agar tidak terganggu atau dikenali oleh orang lain. Bukan tidak mungkin ada yang melaporkan kepada keluarga Rasyid.
Pandangan Linda tidak bisa lepas dari Badri. Matanya mewarisi mata Tamri dengan sempurna. Beruntung, wajah Badri merupakan perpaduan Linda dan Tamri. Tidak ada salah satu yang dominan. Dengan begitu, Badri tidak mudah untuk dikenali sebagai bagian dari keluarga Rasyid. Ingatan Linda melayang kepada kenangan yang tidak bisa dihapusnya. Kenangan menyeret Linda kembali ke masa lalu.
Linda memandang nanar ke arah Tamri yang kini tengah tertidur pulas di sebelahnya. Perasaan bersalah kerapkali menyusup di dalam hatinya. Andai Tamri tidak pernah menikahinya, mungkin laki-laki itu kini masih berkumpul bersama keluarganya dan mengelola bisnis keluarga mereka yang sudah sangat besar.
“Yang, kenapa menatapku seperti itu?” Tamri membuka mata tanpa mengubah posisinya yang berhadapan dengan Linda.
“Maaf.” Linda menjawab pendek.
“Yang, kamu kenapa, sih, senang banget minta maaf. Kamu, tuh, nggak salah apa-apa.” Tamri menggerutu.
“Hon, Kamu menyesal nggak nikah sama aku?”
Tamri seketika melonjak saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Linda. Ditatapnya Linda dengan seksama. Berharap ada gurat bercanda di wajah istrinya itu. Sayang, Linda sepertinya tidak sedang bercanda.
“Yang, kamu, kok, nanya gitu, sih? Aku sama sekali nggak pernah menyesal nikah sama kamu. Apalagi sebentar lagi bakalan ada tangis bayi di rumah kita.”
“Andai kamu mau nurut sama keluarga kamu, mungkin sekarang kamu nggak akan pergi dari rumah kayak begini, Hon.”
“Ssssttt, udah, nggak usah dibahas lagi. Keputusanku nikah sama kamu itu udah yang paling benar. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Aku bahagia bisa hidup sama kamu.”
“Tapi, anak ini bagaimana, Hon? Kata dokter, dia laki-laki. Kamu tahu, kan, bagaimana keluarga kamu kalau tahu anak yang akan aku lahirkan ini laki-laki?” Linda mengusap wajah Tamri perlahan.
“Aku tahu. Anakku tidak boleh tersentuh oleh siapa pun dari keluarga Rasyid. Anakku berhak hidup bahagia tanpa embel-embel Rasyid.” Tamri menjawab mantap.
“Maksud kamu apa?”
“Sudahlah, kamu nggak usah mikir terlalu jauh. Nanti kamu stres dan mengganggu kondisi janin di perut kamu. Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja.”
Baik-baik saja yang diucapkan Tamri jelas sangat tidak dimengerti oleh Linda. Namun, Linda diam saja. Tak ingin mendesak Tamri dengan berbagai pertanyaan yang kini menari-nari di pikirannya.
“Lin, kamu tidak apa-apa?” Suara Narti membuyarkan lamunan Linda.
“Oh, eh, iya, nggak aku nggak apa-apa, kok.” Linda menjawab gugup.
“Bang, sebelumnya Bapak minta maaf sama Abang kalau apa yang Abang dengar hari ini akan mengubah hati Abang. Jujur, kalau boleh memilih, Bapak ingin menyusul Papa Tamri secepatnya supaya Bapak tidak harus mengalami kejadian hari ini.” Fauzan berkata lirih sambil memijit pelipisnya pelan.
“Sebenarnya ini ada apa, Pak?” Badri bertanya dengan nada khawatir.
Meskipun sejak bayi dia sudah mengenal Linda, tetapi kalau Linda harus jauh-jauh terbang dari Lombok ke Bandung hanya untuk pertemuan ini, pastinya ada hal besar yang tidak diketahuinya. Badri melirik Pru. Wajah gadis itu terlihat bingung.
“Ini tentang sebuah rahasia yang sudah kami simpan selama dua puluh tiga tahun. Gimana, Lin? Kita mau mulai dari mana cerita ini?” Fauzan bertanya ke Linda.
“Biar aku saja yang menceritakan semuanya, Mas. Badri dan Pru sudah waktunya untuk tahu.”
***