Dia yang Tertinggal
BENARKAH INI HANYA KEBETULAN?
Pukul satu dini hari. Hanafi yang sedang lelap dalam tidurnya seketika bangun mendengar dering ponselnya yang terasa memekakkan telinga.
“Halo, siapa ini?” Dalam remang cahaya di kamarnya, Hanafi sudah tidak lagi melihat nama si penelepon.
“Saya Saimo, Pak. Kantor kebakaran, Pak.” Suara Saimo, satpam di kantornya itu terdengar putus-putus. Riuh bersahutan dengan bisingnya suara orang-orang yang berteriak panik dan berebut memberikan perintah untuk segera memadamkan api.
“Apa?” Kantuk yang tadi masih dirasakan Hanafi menghilang begitu saja.
“Saya sudah menghubungi pemadam kebakaran, Pak.Tapi ruangan arsip dan ruangan Bapak sepertinya tidak bisa diselamatkan.”
Hanafi memutus panggilan Saimo. Dengan kesadaran yang masih belum kembali sepenuhnya, Hanafi menyalakan lampu kamar lalu keluar mencari kunci mobil.
“Kamu mau kemana, Pah?” Sawitri, istri Hanafi yang terbangun, menatap heran ke arah Hanafi yang kini sudah menuju garasi.
“Aku ke kantor dulu. Ada yang harus diselesaikan segera.” Hanafi menjawab tanpa menyebutkan kalau kantornya terbakar. Bukan saat yang tepat mengatakan hal itu kepada sang istri. Bisa-bisa perempuan itu malah ikut panik.
Surat wasiat Arkan. Itulah satu-satunya yang terlintas dalam pikiran Hanafi. Dia memang menyimpan surat wasiat itu di ruangan arsip karena berpikir beberapa hari lagi akan segera dibacakan di depan seluruh keluarga Rasyid. Kenapa aku begitu ceroboh. Rutuk Hanafi dalam hati. tetapi dia masih berharap surat wasiat itu aman di ruangannya karena tersimpan rapi dalam brankas yang terbuat dari baja.
Tak sampai dua puluh menit Hanafi sudah tiba di kantornya bersamaan dengan dua unit mobil pemadam kebakaran. Api masih berkobar dahsyat melahap bangunan kantornya. Membuat Hanafi hanya bisa menatap nanar sambil menunggu api padam.
Hanafi tidak tahu berapa puluh menit yang harus dia habiskan hingga api benar-benar padam. Ketakutannya terjadi, brankas itu tidak ada di sana. Ruang kerja Hanafi dan ruang arsip nyaris rata dengan tanah. Dadanya tiba-tiba saja nyeri. Lalu semuanya menjadi gelap dalam pandangan Hanafi.
***
Pagi itu beberapa surat kabar di Bandar Lampung ramai memberitakan kejadian terbakarnya kantor pengacara terkenal, Hanafi. Sedangkan pengacara kondang itu sendiri kini terbaring lemah di ruang rawat inap VVIP RS Bumi Waras. Kebakaran semalam telah membuat darah tinggi yang sudah menjadi teman dekatnya selama sepuluh terakhir ini seketika menjadi naik drastis tensinya. Dokter mengatakan beliau masih beruntung karena tidak terkena serangan jantung atau stroke.
Hanafi masih tertidur pulas efek obat yang diberikan oleh dokter. Sementara Sawitri kini tengah sibuk memberikan instruksi kepada sekretaris Hanafi agar menyortir siapa saja yang boleh datang menjenguk. Bagaimanapun, yang dibutuhkan Hanafi untuk saat ini adalah istirahat total dan menenangkan pikirannya.
Keluarga Rasyid menjadi orang-orang yang pertama datang ke rumah sakit. Ada Riska, Saka, Aji, Henri, ketiga anak Arkan, tak luput lima keponakan Arkan yang merupakan anak Saka dan Aji. Mereka memang belum bisa berinteraksi langsung dengan Hanafi, tetapi wajah-wajah itu tidak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya terhadap kondisi yang saat ini menimpa Hanafi. Ada yang cemas karena mengharapkan kesembuhan, ada juga yang cemas karena memikirkan kenapa nyawa Hanafi masih bisa diselamatkan.
Riska tampak memeluk erat Sawitri yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Kedua perempuan senja itu seolah sedang saling berbagi kesedihan sekaligus kekuatan.
***
Berjarak ratusan kilometer dari tempat Hanafi dan keluarga Rasyid berada, sebuah prosesi pemakaman sedang dipersiapkan. Desa kecil itu mendadak mengalami hari yang cukup sibuk. Pagi mereka dibuka dengan ketegangan. Arif Fajri, orang yang baru beberapa bulan menjadi bagian dari penduduk Cipari, ditemukan tergeletak bersimbah darah persis di teras rumahnya. Sepertinya Arif meninggal karena kehabisan darah. Tidak ditemukan senjata apa pun yang mungkin menjadi penyebab kematiannya.
Atas perintah Pak Lurah, mereka tidak berani mendekat apalagi mengubah posisi Arif. Pak Lurah bilang, mereka tidak boleh merusak barang bukti dan mengacaukan TKP. Mereka harus menunggu bapak-bapak polisi yang lebih berwenang melakukan penyelidikan.
Alhasil, pagi itu banyak orang-orang yang membatalkan aktivitas mereka. Yang sudah pulang berdagang dari pasar, yang baru mau berangkat ke pasar, yang menuju sawah dan kebun, yang dalam perjalanan ke kantor, malah berbelok ke rumah Arif sambil sibuk kasak kusuk menduga apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki itu.
Pak Lurah kini tampak kebingungan. Dia tidak tahu harus bagaimana menghubungi keluarga Arif. Sejak tadi dia sudah bertanya ke RT dan beberapa tetangga dekat Arif, tetapi mereka semua mengatakan tidak mengenal istri maupun anak-anak Arif. Kehidupan lelaki itu sungguh sangat misterius bagi penduduk Cipari.
Tak lama berselang, AKBP Hermawan, Kapolres Kab. Kuningan datang bersama beberapa anak buahnya. Setelah beberapa menit AKBP Hermawan mengamati kondisi Arif lalu melanjutkan berkeliling ke dalam rumah.
Sampai saat ini, Hermawan masih belum bisa memastikan setinggi apa posisi Arif. Hermawan hanya diam dalam kebingungan ketika beberapa bulan lalu dia mendapat perintah untuk bisa mengawasi sekaligus menjaga Arif. Namun, dengan tragedi meninggalnya Arif, kini Hermawan merasa kalau dia telah gagal. Hermawan kemudian menghubungi orang yang baru saja beberapa jam lalu mengatakan kepadanya kalau akan terjadi sesuatu pada Arif.
“Sesuai dugaan Bapak, Pak Arif sudah meninggal.”
“...”
“Baik Pak, saya akan segera mengurus pemakamannya.”
***
Di pagi yang sama, dalam gempita kesibukan ibukota, terlihat Satria melajukan mobilnya menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Dia harus segera ke Minahasa Utara dan secepatnya tiba di Likupang. Berbekal uang yang memang sudah disiapkan bertahun lalu untuk kondisi darurat seperti ini, Satria memilih menyewa jet pribadi agar bisa segera tiba di Likupang.
Meski pikirannya agak terganggu dengan kabar dari Fajar yang mengatakan kalau kantor Hanafi telah terbakar, Satria memilih tetap fokus pergi ke Likupang sesuai perintah yang diterimanya dari Arif tadi malam.
Ya, sejak Satria gagal membantu Fajar dalam mencari informasi keberadaan Badri, Satria tidak pernah benar-benar pergi dari kungkungan keluarga Rasyid seperti Fajar. Dalam beberapa kesempatan, dia masih kerap berhubungan terutama dengan Arif yang menjadi tangan kanan Arkan.
Seperti tiga bulan lalu. Arif menghubungi Satria dan memintanya datang ke Cipari. Pertemuan mereka tidak lebih dari dua puluh menit. Saat itu, Arif mengatakan ada sebuah rahasia besar tentang wasiat Arkan yang dia titipkan kepada seseorang yang alamatnya sama sekali tidak disebutkan oleh Arif.
“Lelaki itu bernama Kuncoro,” ucap Arif.
“Di mana saya bisa menemuinya?”
“Kali ini aku tidak bisa memberitahumu. Kalau aku memberikan alamat Kuncoro kepadamu, artinya saat itu nyawaku sedang terancam,” pungkas Arif mengakhiri pembicaraan mereka.
Pesawat yang membawanya telah mendarat sempurna di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Satria pun menghidupkan ponselnya dan menghubungi Fajar. Memastikan rencana yang sudah mereka susun untuk Badri telah sesuai dengan keinginan mereka.
Sat, benarkah ini hanya sebuah kebetulan? tanya Fajar di seberang sana.
“Semoga saja benar, Mas.”
Sejatinya, Satria juga yakin kalau apa yang saat ini dia pikirkan, tidak ada bedanya dengan isi kepala Fajar. Tentu saja dua kejadian dalam semalam bukanlah sebuah kebetulan belaka.
***