Dia yang Tertinggal
BUKAN ANCAMAN BIASA 2
Tak lama, Ibu Narti menepikan mobilnya, mengeluh pusing lalu tiba-tiba saja muntah-muntah mengeluarkan seluruh isi perutnya. Pru segera keluar dan pindah ke samping Bu Narti yang terlihat kesulitan bernafas, lalu tidak sadarkan diri. Pru terkesiap melihat kondisi Ibu Narti yang sangat mengkhawatirkan.
“Bu, bangun, Bu. Ibu, ayo bangun.” Pru menggoyang-goyangkan tubuh yang masih duduk di sampingnya itu. Ketika Ibu Narti masih saja tidak bergerak, sigap Pru keluar dan berusaha memindahkan Ibu Narti ke kursi belakang. Tidak mudah bagi Pru mengangkat tubuh perempuan paruh baya yang berat badannya melebihi berat badan Pru. Peluh membanjiri pelipis Pru, bagian punggung kemejanya pun mulai basah. Wajah Ibu Narti yang sudah seputih kapas membuat Pru seakan mendapat kekuatan tambahan. Pru mengambil alih kemudi. Mencari rumah sakit terdekat di Google Map.
“Bagaimana, Dok?” Pru bertanya cemas pada dokter UGD yang memeriksa Bu Narti.
“Mohon maaf, nyawa Bu Narti tidak dapat diselamatkan. Sepertinya ada makanan atau minuman beracun yang tadi beliau konsumsi. Kami masih menunggu hasil laboratorium. Coba diingat lagi apa saja yang tadi beliau makan atau minum.” Dokter berkata tenang, tetapi Pru merasa seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi.
Pru terkulai lemas di kursi tunggu. Ingatannya melayang kepada minuman yang tadi dia berikan ke Ibu Narti. Pru baru menyadari, minuman itu diberikan kepadanya oleh seseorang di rumah Datuk. Pru pun menghubungkannya dengan ancaman yang tadi pagi dia terima.
Nanti kamu jangan jauh-jauh dari Ibu, ya. Biar mereka berpikir kalau kamu anak Ibu. Kamu harus hati-hati karena sepertinya kamu sedang dalam bahaya. Masker kamu jangan dibuka. Walaupun sekarang kamu pakai jilbab, tetap saja wajah kamu sangat mirip sama papamu. Ucapan Ibu Narti di tengah perjalanan menuju rumah Datuk, yang tadi hanya dianggap angin lalu oleh Pru, kini mampu membuat dirinya menggigil ketakutan.
Bahkan, Ibu Narti sempat mengatakan kalau sebenarnya Badri dan Pru bisa meubah keadaan dan membuat gempar keluarga besar itu.
Warisan. Ya, kini Pru menduga semuanya tentang warisan. Sebagai orang yang sangat dekat dengan kedua orang tuanya, Ibu Narti mengetahui pasti bagaimana sistem warisan di keluarga Datuk. Harta keluarga itu akan diturunkan kepada anak laki-laki pertama. Papa Pru sudah meninggal, jadi harta itu tetap di tangan Datuk. Namun, bagaimanapun Pru masih hidup. Meski Pru tahu, dia bukan cucu pertama, sampai saat ini di mata pihak keluarga besar dan orang luar dialah cucu pertama dalam keluarga besar itu. Pru akhirnya menyadari mengapa keberadaannya dianggap ancaman.
***
Badri menggulung kasar kemeja yang dikenakannya. Dering suara ponsel yang tidak kunjung berhenti telah merusak mimpi yang baru dia mulai selepas salat Subuh. Pekerjaan yang menumpuk membuat Badri baru bisa memejamkan mata setelah jam tiga dini hari. Bahkan dia tidak sempat lagi untuk mengganti baju yang sudah dipakainya sejak semalam.
Seperti hari-hari biasa, Bi Atikah akan membangunkannya tepat saat azan Subuh berkumandang. Tidak peduli Badri sudah cukup tidur atau belum, perempuan berusia 56 tahun yang sudah bersamanya sejak dia berusia dua tahun itu, tetap akan menyeretnya sampai melihat Badri melakukan salat Subuh.
Di rumah Badri ini, Bi Atikah memang pemegang tahta tertinggi. Kedudukannya dalam mengurus rumah dan juga Badri hanya bisa digeser oleh Bu Narti, ibunda Badri. Sejak tujuh tahun lalu, tepatnya ketika Badri memutuskan kuliah di Bogor dan melanjutkan kerja di Jakarta, Bi Atikah sudah mengikuti Badri tinggal di Bogor. Bu Narti membeli rumah di Bogor agar Badri tidak perlu indekos.
Kabar di pagi buta itu memaksa Badri untuk segera pulang ke Bandar Lampung.
Pak Arkan meninggal, Bang.
Suara ibunya terdengar jelas meski saat itu kesadaran Badri belum pulih seutuhnya. Sontak Badri membuka mata berharap apa yang didengarnya tadi adalah mimpi. Namun, saat pandangannya jatuh ke tangan kanan yang sedang memegang ponsel, dia sadar kalau kabar itu sama nyatanya dengan sepiring nasi goreng yang kini terhidang di meja makan.
“Maaf, Bang, Bibi belum masak buat sarapan. Habis tadi Abang ngomongnya mau tidur lagi.” Setengah menggerutu Bi Atikah tetap menyajikan nasi goreng buatannya.
“Nggak apa-apa, Bi. Eh, iya, Bi, aku mau pulang ke Lampung, ya, Bi.” Badri mulai sibuk mengunyah nasi gorengnya.
“Loh, emang ada apa, Bang? Kok, mendadak begini? Ibu sakit? Atau Bapak sakit?” Kini Bi Atikah duduk di kursi yang terletak di seberang Badri.
“Ibu sama Bapak sehat, Bi. Tadi Ibu telepon, katanya Pak Arkan meninggal. Nggak tahu kenapa aku malah harus pulang. Padahal kerjaanku banyak banget. Ibu malah nyuruh aku cuti.” Badri makan sambil setengah menggerutu.
“Kenapa Abang nggak bilang ke Ibu kalau Abang sibuk?”
“Yaahhh, Bibi kayak nggak tahu Ibu aja. Ibu suri ini mana bisa dibantah, Bi. Bisa dikutuk aku nanti.”
“Hehehehe. Abang ada-ada aja. Emangnya Abang Malin Kundang.” Bi Atikah terkekeh. Tangannya sibuk merapikan bekas makan Badri.
“Bi, aku berangkat dulu, ya.”
“Abang bawa mobil? Hati-hati, Bang. Kan, Abang belum tidur.”
“Iya, Bi. Gampang nanti aku bisa tidur di kapal. Bibi hati-hati di rumah, ya.”
Setelah memastikan semua barang-barang bawaannya siap, pemuda berambut sedikit gondrong itu pun segera memanaskan mobilnya.
Badri memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung dia keluar dari rumahnya di Sindangbarang sebelum pukul tujuh pagi. Agak siang sedikit, sudah pasti dia akan suntuk karena dihadang macet di mana-mana. Kemacetan di Bogor sudah bersaing dengan Jakarta. Namun, entah mengapa Bogor selalu punya daya tarik sendiri hingga membuat orang yang pernah tinggal di sana selalu ingin kembali.
Tidak sampai setengah jam, Badri sudah menyusuri jalan tol Jagorawi. Dari sekian banyak jalan tol yang pernah dilewatinya, Badri justru sangat menikmati jalan tol pertama di Indonesia ini. Baginya, masuk pintu tol dari Kota Bogor seperti menuju ke dunia lain. Perasaan yang tidak pernah bisa dipahami tetapi sangat mudah untuk dinikmati. Apalagi saat dia merasakan hangat sinar matahari mulai menyapa wajah dan kulitnya yang sedikit legam karena sering terjemur matahari. Badri jatuh cinta kepada suasana itu.
Tapi saat dia menikmati suasana tersebut bersama Vano, sahabatnya itu memiliki pendapat lain. Hawa yang sejuk dan hamparan hijau di kanan kiri jalan memang membuat siapa pun merasa nyaman.
“Mungkin karena banyak pohon di kanan kiri jalan.” Vano, temannya pernah memberikan alasan. Sebuah perasaan memiliki sesuatu yang tak bisa dikatakan kepada dunia. Memiliki namun tak dapat merengkuh dan menikmatinya.
Tapi rasanya bagi Badri bukan hanya karena itu. Ada semacam aroma magis yang membuatnya terasa sangat nyaman.
Sejujurnya, rasa yang hadir di hati Badri itu belum lama bisa dia pahami. Badri ingat, semua dimulai dua tahun lalu. Persis ketika dia sedang dalam perjalanan kembali dari Bandung ke Bogor.
Pikiran Badri berkecamuk. Tiba-tiba terlintas di benaknya tentang Pru. Apakah gadis itu sudah tahu kabar ini? Ah, pastinya sudah. Badri bisa menebak kalau ibunya sudah menyampaikan kabar itu kepada Mama Linda.
Mama. Ada kelu di bibir Badri ketika mengeja kata itu. Hatinya serasa diiris sembilu. Begitu perih hingga Badri tak mampu melakukan apa pun pada lukanya itu. Butuh waktu teramat panjang untuk memulihkan luka, meski tak lagi berdarah
Sedikit pun dia tidak pernah berpikir kalau dia memiliki ibu yang lain selain Bu Narti. Kedekatannya dengan Pru juga tak pernah dia pahami kalau memang sudah semestinya hati mereka terpaut. Kentalnya darah tak pernah terkalahkan oleh air atau apa pun di dunia ini.
***