Dia yang Tertinggal
RASYID GRUP 1
Matahari sudah tampil sempurna, tidak lagi malu-malu ketika Badri mengeluarkan mobil Fauzan dari dalam garasi. Pagi ini Badri berencana menemui Hanafi. Badri ingin mengenal lebih detail tentang Rasyid Grup. Fauzan mengatakan untuk saat ini tidak ada seorang pun yang lebih paham bagaimana sejarah Rasyid Grup selain Hanafi. Pru yang memaksa ikut terpaksa gigit jari karena Badri tidak mengizinkannya. Keselamatan adiknya itu tentu menjadi prioritas utama Badri.
Mobil melaju pelan menyusuri Jalan Pangeran Antasari berlanjut ke Jalan Gajah Mada. Kantor Hanafi ada di Jalan Sudirman. Tidak terlalu jauh dari rumah Badri. Mengingat jarak yang dekat inilah maka Badri memutuskan berangkat dengan menyetir mobil sendiri. Dia tidak mau melibatkan banyak orang dalam urusannya.
Badri tidak begitu memperhatikan suasana jalan yang dilaluinya, pikirannya penuh dengan kejadian beberapa hari terakhir. Dia baru saja memarkir mobil di halaman kantor Hanafi, ketika dilihatnya Rasyid bersaudara keluar dari dalam kantor. Sebagai orang yang sering menemani Pru mengunjungi keluarga Rasyid, tentu Badri mengenali Rahmat, Andi, dan Intania. Mereka adalah om dan tante Pru yang sekarang menjadi om dan tantenya juga. Badri memilih tetap berada dalam mobil sampai ketiga orang itu pergi meninggalkan area parkir.
Setelah yakin tidak ada lagi orang yang dia kenal, Badri segera turun dan masuk ke dalam kantor pengacara paling kondang di Lampung itu. Dia menemui resepsionis dan mengatakan kalau sudah membuat janji dengan Hanafi. Tak lama Badri dibawa ke ruangan Hanafi dan dipersilakan untuk masuk.
“Assalamualaikum, Pak.” Badri mengucapkan salam sambil berjalan mendekati Hanafi. Badri mengulurkan tangan yang disambut hangat oleh Hanafi.
“Saya Badri, Pak. Putra Pak Fauzan.” Badri merasa lidahnya sedikit kelu mengatakan dia sebagai anak dari Fauzan. Bagaimanapun juga orang di depannya ini sudah mengetahui kalau Badri sejatinya adalah anak Tamri.
“Iya. Tadi Fauzan sudah kasih kabar. Duduk, Bad.” Hanafi menunjuk kursi di depannya. Ada meja yang menjadi penghalang mereka berdua.
“Jangan sungkan. Saya ini teman baik kedua papamu. Saya juga bisa dikatakan belahan jiwa datukmu. Hahaha,” goda Hanafi.
“Iya, Pak. Mohon maaf saya mengganggu jam kerja Bapak.”
“Nggak. Kamu sama sekali nggak ganggu. Orang tua macam saya ini sebetulnya sudah nggak ada kerjaan. Banyak anak-anak muda yang jauh lebih hebat dan mampu menangani berbagai masalah. Saya, sih, cuma duduk sambil menghabiskan waktu saja. ”
“Bapak bisa saja.” Tak ayal Badri tersenyum menanggapi ucapan Hanafi.
“Oh ya, ngomong-ngomong ada apa kamu ke sini? Saya juga sebetulnya memang mau hubungi kamu. Fauzan pasti sudah memberi tahu masalah yang dua hari lalu kami bicarakan.Tapi beginilah orang tua. Selalu kalah cepat sama yang muda,” keluh Hanafi setengah bercanda.
“Bapak saya memang sudah mengatakan semua informasi yang didapatnya dari Pak Hanafi. tetapi saya ke sini karena ingin tahu lebih banyak tentang Rasyid Grup. Bapak bilang, Pak Hanafi satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi yang saya butuhkan.”
“Fauzan terlalu berlebihan. Saya ini nggak ada apa-apanya dalam perusahaan sebesar Rasyid Grup. Saya cuma teman kecil Arkan.”
“Tapi saya sangat butuh semua informasi tentang Rasyid Grup. Kalau isi surat wasiat yang Pak Hanafi katakan kepada Bapak saya itu benar, otomatis dalam hitungan hari saya yang akan memimpin Rasyid Grup. Bagaimana saya bisa memegang peranan sebagai nakhoda kalau saya sendiri tidak mengenal kapal saya dengan baik.”
“Benar. Cepat atau lambat kamu harus masuk dalam lingkaran Rasyid. Kamu wajib mengenal sejarahnya dengan baik dan benar, karena kelak kamulah pelaku sejarah dalam Rasyid Grup. Cerita tentang Rasyid, akan membawamu melewati lorong waktu lebih dari satu abad.”
Hanafi berdiri, lalu mengambil sebuah binder yang sepertinya diisi dengan catatan tentang keluarga Rasyid.
“Bacalah. Kamu akan tahu bagaimana Rasyid Grup.”
***
Sekitar awal 1900-an, saat berlangsungnya masa Politik Etis dan beriringan dengan proses kolonisasi atau lebih mudahnya bisa disebut pemindahan penduduk yang dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda, para kolonis asal Jawa dan beberapa yang merupakan keturunan Tionghoa mulai membuka lahan lalu membudidayakan tanaman kopi. Sebagai pribumi yang mengenyam pendidikan cukup tinggi, kakek buyut Badri yang bernama Edward Rasyid ikut membudidayakan tanaman kopi di lahan yang dia peroleh secara turun menurun.
Kecemerlangan Edward terbukti ketika dia nekad bekerja sama dengan para pemilik lahan di sekitar Hanakau, Sekincau, dan Way Tenong. Tanah yang subur dan iklim yang sangat mendukung membuat biji kopi robusta yang dihasilkan memiliki cita rasa yang luar biasa. Edward mengolah biji kopi tersebut di rumahnya dengan cara yang masih sangat sederhana. Mulai dari mengeringkan, menyangrai, hingga menumbuknya jadi kopi bubuk semuanya dilakukan secara manual oleh Edward dibantu beberapa pekerja. Istrinya mengurusi pengemasan dan penjualan.
Edward memiliki tiga orang anak. Satu laki-laki dan dua orang perempuan. Anak pertamanya yang diberi nama Zulkifli Rasyid memang dipersiapkan untuk menggantikan dirinya.
Tidak heran sejak berumur dua puluhan, Zulkifli sudah dilibatkan secara penuh dalam usaha kopi yang dirintis ayahnya. Zulkifli membeli sebuah ruko di daerah Teluk Betung dan menyulapnya menjadi toko yang menjual kopi bubuk dengan berbagai kemasan. Zulkifli juga memindahkan proses pengemasan kopi dari rumah lama Edward ke toko yang dikelolanya. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian para pembeli. Orang-orang yang berlalu lalang akan tergoda dengan semerbak wangi kopi yang menyeruak manis di antara hiruk pikuk bau-bauan lainnya. Zulkifli memberi nama tokonya itu Roemah Kopi, sekaligus sebagai merek dagang kopi bubuknya.
Edward memang belum memberikan merek dagang kopi mereka. Selama ini orang-orang mengenal kopi yang dijual Edward dengan sebutan Kopi Teluk sesuai alamat rumah Edward. Sebelum Zulkifli membuka toko, Edward menjual kopi produksinya berkeliling dengan menggunakan sepeda. Kopi dikemas dengan plastik sederhana lalu disusun dan disimpan dalam sebuah kaleng yang dipasangkan sedemikian rupa di bagian belakang sepeda Edward.
Jika pada masanya, Edward menghadapi tantangan bagaimana mengolah dan memasarkan kopi, lain halnya dengan Zulkifli dan Arkan—anak Zulkifli—yang meneruskan usaha mereka. Sekitar tahun 1970-an atau masa-masa awal Arkan mengemban tanggung jawab besar itu, mereka dihadapkan pada persoalan harga kopi dunia yang menurun drastis. Arkan muda harus berpikir keras bagaimana caranya bisa menjual kopi yang sudah terlanjur mereka produksi.
Zulkifli baru saja melakukan ekspansi dengan membeli ribuan hektar lahan yang akan ditanami kopi. Lahan yang diharapkan nantinya bisa mencukupi bahan baku produksi mereka. Zulkifli memperluas area tanaman kopinya yang ada di Lampung Barat sampai ke Tanggamus. Tak kurang dari delapan puluh ribu hektar lahan kini sudah siap ditanami.
Di daerah Tanggamus, Zulkifli memusatkan area kebun kopinya lebih banyak di daerah Ulubelu. Perjalanan menuju perkebunan kopi ini sendiri tidak terlalu sulit. Hanya memakan waktu sekitar empat jam dari Bandar Lampung. Masyarakat Tanggamus memang sudah mengenal kopi sejak zaman Belanda. Tanggamus diambil dari nama Gunung Tanggamus yang menjulang setinggi 2.100 meteri. Ribuan hektar perkebunan kopi ada di sekitar lembah gunung ini. Tekstur tanah yang subur dan iklim yang memang cocok untuk ditanami kopi, menjadikan Tanggamus sebagai penghasil robusta terbaik.
Sedangkan di Lampung Barat, areal kopi milik Rasyid lebih luas lagi. Tersebar di beberapa kecamatan dengan kebun terluas berada di Liwa. Seperti halnya Tanggamus, Lampung Barat juga memiliki iklim pegunungan dan tanah yang subur sehingga bisa menghasilkan kopi robusta kualitas super.
Bagi Zulkifli, mengunjungi areal kebun kopi di Lampung Barat tak jauh beda dengan menikmati wisata alam yang luar biasa. Gugusan bukit yang membentang dengan kondisi jalan berkelok-kelok terasa sangat memanjakan mata. Jarak tempuh yang menghabiskan waktu hingga lima jam tidak pernah sekali pun membuat Zulkifli merasa jenuh.
Atas persetujuan Zulkifli, Arkan melirik pasar domestik sebagai sasaran penjualan kopi mereka. Arkan juga menjual biji kopi mentah kepada beberapa orang yang ingin membuka usaha kopi bubuk rumahan.
Setelah kondisi kembali stabil, Arkan langsung mendirikan pabrik pengolahan kopi dalam skala industri. Daerah Panjang menjadi pilihan utama Arkan dengan alasan agar dekat ke pelabuhan dan memudahkan pengiriman ke berbagai daerah maupun ekspor.
Pabrik Sinar Abadi berdiri megah di atas lahan seluas delapan hektar. Keberhasilan Zulkifli dan Arkan pulih dari keterpurukan membuat mereka sangat diperhitungkan sebagai pengusaha lokal yang berhasil. Apalagi setelah pabrik kopi milik keluarga Rasyid itu beroperasi. Sinar Abadi memberikan kesempatan kerja begitu luas hingga ribuan karyawan bergabung di dalamnya. Para pekerja di perkebunan dan para petani mitra kini ikut dilebur menjadi satu di bawah naungan Sinar Abadi.
***