Dia yang Tertinggal

FAJAR RIYANTO

Fajar membuka laci meja kerjanya dan mengambil dokumen yang terletak paling bawah, di antara tumpukan puluhan dokumen lainnya. Kedatangan Badri menguak cerita berpuluh tahun lalu yang nyaris saja membuat Fajar berhenti dari dunia intelijen. Saat itu, Fajar merasa gagal karena salah memberikan laporan. Meski Arkan bersikeras mengatakan informasi yang Fajar sampaikan itu benar, tetapi Fajar berpikir itu hanya cara Arkan untuk menghiburnya saja.

Dua puluh lima tahun lalu, Fajar muda baru saja memulai karirnya sebagai penyelidik di Badan Intelijen Negara. Fajar sangat bangga dengan kemampuannya. Usianya belum genap tiga puluh tahun. Namun dia sudah berhasil mengungkap berbagai kasus berat. Hingga satu hari, seniornya memanggil Fajar dan mengatakan kalau Arkan Rasyid ingin bertemu dengannya. Tentu saja Fajar terkejut. Walaupun Fajar berasal dari Lampung, nama Arkan Rasyid selama ini hanya bisa dia dengar dari cerita orang tuanya saja.

“Bagaimana Bapak bisa tahu tentang saya?” Fajar memberanikan diri bertanya kepada Arkan.

“Tidak sulit. Anak muda hebat seperti kamu ini tentunya sangat terkenal di sini. Saya sering mendengar cerita tentangmu dari beberapa orang di sini,jawab Arkan sambil tersenyum. Tentu saja Fajar tidak bodoh untuk menyimpulkan bahwa orang-orang yang dimaksud Arkan ini pasti para petinggi di Lampung.

“Saya membutuhkan bantuan kamu, anak muda.” Arkan menepuk bahu Fajar pelan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk Bapak?” tanya Fajar takzim.

“Tolong selidiki tentang kehidupan anak saya, Tamri dan istrinya. Kamu cari tahu apakah istrinya Tamri itu hamil atau tidak. Kalau hamil, selidiki jenis kelamin calon anaknya.”

Fajar sempat mengerjap tak percaya. Bagi Fajar, tidak sulit menyelidiki kehidupan seseorang, hingga dia bertanya-tanya kenapa Arkan sampai khusus menyuruhnya dan membayar dengan nominal yang sulit dipercaya. Namun, tak urung Fajar tetap menyatakan kesediaannya. Fajar menganggap Arkan sedang ingin membuang-buang uang.

Benar saja, Fajar hanya butuh waktu kurang dari seminggu untuk mendapatkan informasi tentang kehamilan Linda. Selanjutnya Fajar melaporkan kepada Arkan kalau Linda memang sedang hamil dan calon anaknya berjenis kelamin laki-laki. Usia kandungan Linda sudah masuk enam bulan ketika itu.

Fajar senang karena merasa dia melakukan tugas yang begitu mudah dengan bayaran yang cukup untuk membeli sebuah rumah.

Lima bulan kemudian Arkan kembali menghubungi Fajar. Kali ini konglomerat itu mengatakan kalau Linda anak yang dilahirkan Linda meninggal. Fajar diminta untuk mencari informasi tentang hal tersebut.

Dari sebuah klinik bersalin di Bandung, Fajar mendapatkan informasi kalau Linda benar kehilangan bayinya. Insting Fajar mengatakan, masalah besar baru saja dimulai. Perlahan tetapi pasti, Fajar mulai menggali banyak informasi tentang keluarga Rasyid. Terutama motif di balik kegigihan Arkan mencari cucu laki-lakinya dari Tamri. Arkan bersikukuh kalau Linda tidak kehilangan bayinya. Namun, Fajar tidak bisa menemukan jejak keberadaan bayi itu. Apalagi pihak klinik sudah menjelaskan kalau bayi Linda memang meninggal.

Pekerjaan yang menumpuk telah menyita seluruh perhatian Fajar hingga dia melupakan Arkan Rasyid. Sampai lima tahun lalu, setelah Tamri meninggal dunia, Arkan kembali menghubungi Fajar.

Fajar telah pensiun. Dia pulang ke Bandar Lampung dan membeli franchise sebuah minimarket untuk mengisi hari-hari tuanya bersama sang istri dan kedua anaknya.

Arkan mengabarkan kalau ia yakin anak laki-laki Tamri Rasyid masih hidup. Fajar sulit sekali untuk mempercayainya. Diam-diam Fajar melakukan investigasi ulang di mana tepatnya Linda melahirkan.

Hasilnya sungguh di luar perkiraan Fajar. Linda berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat di klinik milik Dokter Riona. Saat itu Tamri harus membayar mahal pihak klinik dan seluruh petugas yang terlibat untuk tutup mulut serta memberikan keterangan kalau bayi Linda meninggal.

Kabar ini membuat Fajar menolak permintaan Arkan untuk kembali menyelidiki keberadaan cucunya itu. Fajar merasa telah gagal karena tidak mampu membongkar fakta yang sebenarnya. Fajar meremehkan tugas yang dahulu diberikan Arkan dan menganggap Tamri tidak memiliki kemampuan untuk lolos dari pengawasannya.

Tidak pernah sekali pun Fajar bayangkan, anak yang dicarinya itu kini datang sendiri ke hadapannya. Ketika Safuan bercerita tentang seorang temannya yang sedang dalam bahaya, Fajar hanya berpikir ini kasus biasa sebuah keluarga.

Nyatanya, Fajar dibuat terkejut bukan main saat Badri menceritakan semuanya. Mulai dari dia yang adalah anak Tamri Rasyid hingga keselamatan adiknya yang kini sedang terancam oleh keluarga Rasyid. Takdir seolah sedang mempermainkannya. Kenapa di saat Arkan sudah meninggal dunia, kebenaran itu malah terpampang nyata keluar dari cangkang yang selama ini membungkusnya.

Fajar sadar, sepertinya dia tidak bisa lari lagi dari takdirnya yang sudah terhubung dengan keluarga Rasyid. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah membantu dan melindungi kedua anak Tamri.

Tangan Fajar mulai membuka kembali dokumen-dokumen tentang keluarga Rasyid yang dia pelajari bertahun-tahun. Fajar mulai menganalisa dan mencari benang merah dari semuanya. Sudah waktunya dia turun gunung. Kembali ke jalanan untuk melengkapi informasi yang belum utuh.

***

Di sisi lain, Safuan kini sedang mengantar Badri dan Pru kembali ke hotel Novotel tempat Badri memarkir mobilnya. Safuan mengatur rencana. Dia hanya akan menurunkan Badri di lobi hotel. Sedangkan Pru akan diantar pulang oleh Safuan. Badri dan Pru tidak boleh terlihat bersama. Itu pesan dari Fajar.

Badri turun di depan lobi setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Dia lalu masuk ke hotel dan terus berjalan menuju lift yang akan membawanya ke basement tempat mobilnya diparkir.

Saat sudah sampai di samping mobilnya, ekor mata Badri melihat keberadaan Avanza hitam yang tadi mengikutinya sejak dari bandara. Badri semakin meningkatkan kewaspadaannya. Seketika terlintas di benaknya untuk menghubungi Fajar dan melaporkan kondisinya saat ini.

Fajar langsung menyuruh Badri memesan taksi online. Mobil Badri akan diurus oleh orang suruhan Fajar. Badri hanya perlu menitipkan kunci mobilnya ke resepsionis hotel sambil berpesan kalau nanti ada orang yang akan mengambil mobilnya itu.

Setelah memahami instruksi dari Fajar, Badri kembali masuk ke dalam lift yang akan membawanya naik ke lobi hotel. Badri segera menitipkan kunci mobilnya ke resepsionis lalu memesan taksi online dari sebuah aplikasi di ponselnya.

Tak sampai lima belas menit, taksi yang dipesannya pun datang. Badri segera naik dan meninggalkan hotel Novotel.

***

Dua orang yang berada dalam mobil Avanza di area parkir Hotel Novotel itu sedang sibuk kasak kusuk. Tadi mereka sempat senang saat melihat Badri berjalan menuju mobilnya. Namun, mereka kembali memberengut begitu Badri kembali masuk ke dalam hotel setelah menerima telepon.

“Lapor ke Bos.” Salah seorang dari mereka yang berkepala plontos memberikan perintah kepada temannya.

Temannya yang bertubuh gempal segera menghubungi bos mereka. Dia mengatakan sampai saat ini Badri masih berada di dalam hotel.

Orang yang mereka panggil bos menanyakan keberadaan Pru. Si gempal menjawab kalau tadi Badri hanya sendirian. Tidak ada Pru yang mengikutinya.

“Bodoh! Ini sudah hampir lima jam. Mereka nggak mungkin check in di hotel itu. Otak lo orang disimpan di mana? Harusnya lo berdua ngecek, mereka ada di dalam hotel apa nggak. Masa begitu saja harus gua ajari. Dasar goblok!” Si Bos memaki anak buahnya.

Setelah menutup telepon, kedua orang tersebut segera masuk ke dalam hotel dan menanyakan keberadaan Badri atau Pru. Si plontos menunjukan foto Badri serta Pru ke resepsionis hotel.

“Kalau yang laki-laki, sih, tadi sempat ke sini sebentar. Malah dia nitipin kunci mobilnya di sini. Terus dia pergi pakai mobil lain. Kalau yang perempuan kayaknya dari tadi nggak ada, deh.” Resepsionis memberi penjelasan.

“Sialan. Kita sudah dibohongi.” Si plontos mengumpat sambil mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Mereka pergi ke tempat parkir lagi.

Karena merasa sudah kehilangan jejak Badri dan Pru, kedua orang itu memutuskan untuk meninggalkan hotel. Namun, sebelum pergi, si gempal masih sempat memasang sebuah alat pelacak di mobil Badri.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!