Dia yang Tertinggal
PRAHARA
Hanafi duduk gelisah di kursi kerjanya sambil memandang foto dirinya bersama Arkan saat mereka masih muda. Arkan adalah sahabatnya sejak bangku SMA. Lulus SMA, mereka sama-sama menimba ilmu di Universitas Indonesia. Di sinilah Arkan bertemu dengan Anik, gadis Yogya teman sekampus yang dicintainya. Jika Arkan mengambil jurusan ekonomi, Hanafi lebih memilih jurusan hukum karena memang cita-citanya ingin jadi pengacara.
Begitu Hanafi menyelesaikan kuliah dan syarat-syarat lainnya untuk menjadi pengacara, Arkan menjadi orang pertama yang meminta Hanafi pulang dan membantu Arkan menangani masalah-masalah hukum yang dihadapi Rasyid Grup.
Hanafi menerima tawaran atau lebih tepatnya perintah Arkan itu dengan syarat dia tidak terikat sebagai pegawai Rasyid Grup. Hanafi ingin membangun kantor pengacara sendiri sesuai mimpinya. Meski begitu, dia tetap akan menjadi pengacara Rasyid Grup secara profesional. Arkan menyetujuinya. Sampai sekarang Hanafi sudah lebih dari empat puluh tahun mendampingi Rasyid Grup.
Memandang foto mereka berdua membuat Hanafi masih saja tidak percaya sahabatnya itu akan pergi lebih dahulu meninggalkan dirinya. Arkan termasuk orang yang nyaris tidak pernah mengeluh sakit. Dia selalu terlihat sangat bugar. Namun, dua tahun lalu, Arkan tiba-tiba saja tidak sadarkan diri di ruangannya. Dokter menemukan pembuluh darah di kepala Arkan pecah.
Setelah hampir sebulan di rumah sakit dan Arkan diperbolehkan pulang, Hanafi sering mengatakan kepada Arkan sahabatnya itu bisa hidup karena dapat bonus umur dari Tuhan. Sedangkan Arkan malah menjawab, dia hidup kedua kalinya bertujuan untuk mengubah surat wasiat yang sudah dia siapkan sepuluh tahun lalu.
Kabar itu tentu saja membuat Hanafi kaget. Arkan sudah menulis wasiat yang menyatakan kalau seluruh kekuasaan atas Rasyid Grup akan jatuh ke tangan Tamri Akmal Rasyid. Jika sesuatu terjadi dengan Tamri, maka anak sulung Tamri yang akan menjadi pewarisnya. Hanafi pikir semuanya sudah jelas. Adik dan anak Arkan yang lain juga sudah mendapatkan bagiannya masing-masing secara proporsional dan sesuai hukum yang berlaku. Hanafi tidak melihat ada yang dirugikan dengan keputusan Arkan tersebut.
Jika Arkan ingin mengubah surat wasiatnya, apa yang akan dia ubah? Apakah ada pewaris pengganti selain Tamri dan anak sulungnya? Lima tahun setelah wasiat itu ditulis dan disahkan, Tamri meninggal. Namun, Hanafi tahu hal itu tidak berpengaruh apa pun kepada wasiat Arkan karena di situ sudah jelas tertulis anak sulung Tamri yang akan menjadi pengganti jika sesuatu terjadi kepada Tamri. Arkan juga sudah menerima kalau anak sulung Tamri itu adalah Pruistin, seorang perempuan.
“Aku tahu kalau aku tidak pernah salah.” Arkan berkata tegas. Saat itu dia sudah bekerja seperti biasa dan memanggil Hanafi untuk membicarakan tentang wasiat baru yang akan dibuatnya.
“Tentang apa?” Hanafi bertanya bingung.
“Semuanya. Termasuk cucu laki-laki pertamaku.”
“Maksudmu apa?”
“Sejak dulu aku yakin Tamri punya anak laki-laki. Harus aku akui anak itu pintar sekali menyembunyikan cucuku. Aku tidak pernah menyangka, kematiannya malah membuka tabir yang selama ini menutupi mataku.”
“Tamri punya anak laki-laki? Kamu serius?”
“Aku tidak pernah bercanda dengan masalah apa pun.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Di hari pemakaman Tamri, aku melihat ada seorang perempuan yang sebelumnya tidak pernah aku lihat sama sekali. Perempuan itu akrab sekali dengan Linda. Saat aku tanya siapa perempuan itu, Linda mengatakan dia adalah Riona, temannya yang jadi dokter kandungan. Kamu tahu, kan, bagaimana cara kerja otakku? Aku berpikir, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Aku menyuruh seseorang menyelidiki siapa Riona. Ternyata dia adalah dokter yang membantu persalinan Linda saat melahirkan anak pertamanya. Waktu kelahirannya persis seperti hitunganku dulu. Karena itulah, aku kembali menyuruh orang bertanya ke Riona tentang anak pertama Tamri. Aku mendapatkan jawaban kalau Linda melahirkan anak laki-laki.”
“Siapa anak itu?”
“Itulah yang aku belum yakin. Tamri sudah berhasil menyembunyikan anaknya dengan sangat baik. Bahkan aku sendiri tidak bisa menemukannya. Aku berencana mau ke Lombok menemui Linda. Tolong kamu ubah wasiatku. Tuliskan dengan jelas bahwa aku menyerahkan Rasyid Grup kepada cucu laki-laki pertamaku atau anak laki-laki dari Tamri Akmal Rasyid.”
“Kenapa nggak kita cari tahu dulu siapa anak laki-laki itu?”
“Aku takut tidak punya banyak waktu, Han. Kalau kemarin aku langsung meninggal, aku tidak bisa mengganti isi wasiatku. Mumpung sekarang aku masih punya waktu, aku ingin meluruskan semuanya.”
“Ar, apa kamu pernah berpikir kalau Tamri memang tidak menginginkan Rasyid Grup sama sekali?”
“Tidak mungkin.”
“Sangat mungkin. Kamu bayangkan, Tamri pergi dari rumahmu dan memilih untuk menikahi Linda. Alih-alih dia mengejar Rasyid Grup, anak itu malah membuka usaha sendiri dalam senyap. Dia berada di balik kesuksesan Fauzan. Kalau tidak menyelidikinya secara khusus, aku yakin kita tidak akan pernah menemukan jejak Tamri di dunia bisnis. Anak itu jauh lebih kuat dan lebih hebat dari yang kita kira. Dia seolah mengatakan kalau dia sama sekali tidak ingin berhubungan dengan bisnis keluarga Rasyid.”
“Justru karena itulah aku makin yakin kalau Rasyid Grup ini sudah tepat berada di bawah kendali Tamri atau anaknya. Mereka tidak silau oleh harta atau kekuasaan. Pastinya mereka bisa bekerja dengan hati seperti yang aku harapkan selama ini.”
“Kenapa tidak kamu serahkan kepada anakmu yang lain atau adik-adikmu?”
“Aku tahu kemampuan anak-anakku. Dua orang anak laki-lakiku tidak ada yang bisa menandingi Tamri. Apalagi adik-adikku. Otak mereka isinya hanya bagaimana meraup keuntungan untuk kepentingan pribadi. Kamu masih ingat bagaimana Rasyid Grup hampir hancur karena ulah Aji?” Arkan mengingatkan bagaimana dia harus kehilangan uang miliaran untuk menutupi kasus yang menimpa adik bungsunya itu.
Hanafi diam. Bagaimana mungkin dia lupa. Dana yang harus mereka keluarkan untuk menyelamatkan Aji Rasyid bukan jumlah yang kecil. Hampir sepuluh miliar. Saat itu, untuk pertama kalinya juga Hanafi melihat kemarahan Arkan yang di luar batas.
“Aku minta tolong supaya kamu segera mengganti surat wasiatku. Tulis dengan jelas kalau seluruh aset Rasyid Grup itu aku serahkan ke tangan anak laki-laki dari anak lali-lakiku, Tamri. Aku juga mau kamu mulai menyelidiki Fauzan. Sejak dulu aku sudah curiga dengan kedekatan Tamri dan Fauzan. Mereka bukan sekedar teman baik.”
Hanafi mengangguk sebagai jawaban. Jujur, dia belum bisa mencerna semua ucapan Arkan. Cucu laki-laki? Anak sulung Tamri Akmal? Penerus tongkat estafet Rasyid Grup yang baru? Mengapa semuanya jadi rumit? Semua masalah itu berkelindan dalam kepalanya. Hanafi meremas pelan rambutnya yang sudah memutih semua.
Untuk mencegah adanya masalah di kemudian hari, Hanafi sengaja merekam pembicaraannya dengan Arkan hari itu. Hanafi juga mencatat beberapa poin penting dan meminta Arkan untuk menandatanganinya. Sejak awal menerima tawaran Arkan, Hanafi sudah tahu kalau urusan dengan bisnis keluarga Rasyid bukanlah hal yang mudah dan bisa dianggap sepele. Untuk itu, dia memutuskan lebih baik berdiri sebagai orang luar yang tidak berada dalam cengkeraman manajemen Rasyid Grup daripada menjadi pegawai Rasyid Grup.
Setelah obrolan itu, Hanafi mulai mendekati Fauzan untuk menyelidikinya. Nama besar dan kredibilitasnya sebagai pengacara termasyhur di Lampung membuat Hanafi dengan mudah bisa mendapatkan kepercayaan Fauzan. Hanafi memberikan klien kakap dari Palembang kepada kantor pengacara yang selama ini menjadi kuasa hukum perusahaan Fauzan. Tentu saja tidak gratis. Sebagai imbalan, Hanafi meminta kantor pengacara itu mundur sebagai penasihat hukum Fauzan. Celah itu yang digunakan Hanafi untuk masuk menjadi kuasa hukum Fauzan.
“Umurku sudah tidak lagi muda. Aku sudah malas ngurusin orang-orang besar. Aku ingin lebih banyak menikmati hari tuaku, tetapi masih bisa beraktivitas.” Jawaban Hanafi bisa diterima oleh Fauzan. Sejak itulah Hanafi masuk dalam pusaran kehidupan Fauzan.
Setahun kemudian, Hanafi mengetahui kalau Badri Abadi adalah anak adopsi Fauzan. Bukan anak kandung. Fakta ini membuat Hanafi dan Arkan makin semangat menemukan kepingan-kepingan puzzle lainnya. Sayangnya, kesehatan Arkan makin menurun. Dokter malah sudah menyuruh Arkan untuk berhenti bekerja.
Empat bulan sebelum kematiannya, Arkan kembali meminta Hanafi mengganti surat wasiatnya. Kali ini Arkan mau di dalam surat itu tertulis jelas nama Badri Abadi sebagai pewaris tunggal aset Rasyid Grup. Arkan juga menambah jumlah warisan yang akan diterima oleh Pruistin.
“Sudah kamu pikirkan matang-matang? Kita belum pernah sekali pun bertemu dengan Badri. Kita juga nggak tahu bagaimana Badri tumbuh selama ini. Aku yakin, keputusanmu kali ini akan jadi prahara dalam keluarga Rasyid.” Hanafi keberatan.
“Aku sudah memikirkannya. Aku juga tahu Badri. Waktu dia kecil aku sering bermain dengan Badri kalau dia ke sini sama Pru. Dulu, aku tidak pernah menemukan alasan kenapa aku begitu menyayangi Badri. Sorot mata anak itu mengingatkanku kepada Tamri. Sekarang aku paham, darahku mengalir dalam tubuhnya. Walaupun Fauzan secara hukum telah mengadopsinya, anak itu tetaplah seorang Rasyid. Aku tidak akan meragukan bagaimana Tamri mendidik Badri. Dia pasti memberikan apa yang Badri butuhkan.”
Keyakinan Arkan tidak bisa digoyahkan sama sekali. Puluhan alasan yang Hanafi kemukanan tidak bisa membuat Arkan goyah. Dia tetap bergeming dengan apa yang sudah diputuskannya.
***