Cinta Menyatukan Iman

Takut Kehilanganmu

"Gak ada yang perlu aku ceritain kamu pasti sudah tahu semuanya," sahut Dinda.

 

Najma pun tersenyum sudah dia duga jika ini semua menyangkut David.

 

"Terakhir aku dapat kabar dari Alex akhir-akhir ini David memang sibuk dia pulang ke Jakarta selain untuk kuliah juga untuk menggantikan Papahnya di kantor konon sih katanya Papahnya David lagi sakit jadi dia yang menggantikan posisi Papahnya di kantor udah coba kamu chat dia emang?" terang Najma dia akan selalu mencari tahu kabar David demi sahabat satunya ini.

 

Huhf Dinda menghela napasnya pelan mana mungkin seorang dirinya mengirim pesan duluan kepada cowok? sepertinya mustahil saja kalau kaya gitu.

 

"Oh ya lupa kamu kan gak berani ngirim pesan duluan tapi cobalah Din sekali-kali kwmu kirim pesan duluan sekadar nanyain kabar saja apa salahnya sih lagipula kita kan teman tidak ada apa-apa ya kan?" lanjut Najma sambil menggangkat ke dua alisnya.

 

Mendengar ucapan Najma sedikit membuat Dinda sadar, akan siapa dirinya yang berhak marah dengan David hanya karena cowok itu tidak memberikan kabar? atas berhak apa dirinya bersikap egois ingin selalu dimengerti sedangkan dirinya saja tidak tahu kondisi David saat ini yang mungkin saja cowok itu sedang berada di titik terendah butuh orang untuk menyemangatinya.

 

"Iya Naj aku cukup malu untuk bertanya duluan kepada David entahlah gengsi mungkin ya?" sahut Dinda dengan melipat bibir bawahnya.

 

"Kita boleh jual mahal di depan laki-laki tapi ingat sesama teman tidak boleh bersikap acuh atau tidak peduli aku yakin pasti David juga tidak ingin mengganggu kamu kan kata kamu terakhir chattan itu waktu kamu sedang sibuk buat soal untuk anak-anak TPA mungkin David mengira kamu masih sibuk jadi tidak berani chat duluan. Jadi cobalah kamu chat dia duluan," kata Najma memberikan pengertian.

 

Seketika air mata Dinda kembali menetes entah kenapa hatinya sangat perasa sekali akhir-akhir ini.

 

"Tuh kan malah nangis pasti ada sesuatu yang sedang kamu rasakan dan sembunyikan dariku," gerutu Najma jujur saja dia sangat tidak suka jika Dinda merahasiakan sesuatu darinya.

 

"Hiks ... hiks aku gak tahu Naj sejak tadi air mataku mudah sekali menetes aku teringat akan kata-kata David dulu jika dia ingin datang kepadaku jika waktunya sudah tepat entah apa maksudnya tapi aku mempercayai perkataan cowok itu dan kini aku malah takut disakiti oleh dia aku takut tiba-tiba David pergi Naj," ungkap Dinda dengan isak tangisnya.

 

Ternyata rasa takut akan kehilangan yang membuat Dinda menangis, seandainya Najma sedang berada di dekat Dinda sudah pasti dia akan memeluk sahabatnya itu.

 

"Uhh sudah dong jangan sedih David tidak akan pergi gitu saja kok lagi pula tidak ada yang berani ninggalin cewek kaya kamu Din mungkin memang karena sibuk positif thingking saja okey!" Sekali lagi Najma memberikan pengertian kepada Dinda.

 

Perkataan Najma memang sudah membuat hati Dinda merasa tenang dan lega sebab dia bisa mengungkapkannya terlebih dia sudah berbagi cerita dengan sahabat yang sudah dia percayai.

 

"Iya Naj aku akui jika aku egois padahal aku bukan siapa-siapa David dan terlalu memikirkan diri sendiri ya sudah aku akan bertanya saja kepada Hamdan tentang David untuk mengechat cowok itu duluan aku agak malu dengan diriku sendiri jadi aku akan bertanya kepada Hamdan saja deh," terang Dinda sambil tersenyum simpul.

 

Cuma Hamdan teman cowok yang Dinda percayai untuk menjaga rahasia dirinya.

 

"Ya itu sih terserah kamu Din aku mah hanya bilangin saja, jadi sudahlah tidak usah salah paham lagi sama David kasihan," kata Najma dia awalnya tidak tahu seperti apa David tapi semenjak cowok itu suka menitip salam untuk Dinda dia jadi tahu sedikit tentang cowok itu.

 

"Iya makasih ya Naj kamu emang the best banget pokoknya buat aku," sahut Dinda kali ini ada raut senang yang tergambar di wajahnya.

 

Najma pun ikut senang, "Oh ya untuk besok ada agenda apa di rohis Din?" tanya Najma mengubah topik pembicaraan.

 

Dinda pun terdiam dia sendiri tidak tahu, "Kok nanyanya ke aku sih Naj kan ketuanya si Hakim."

 

"Iya kali dia cerita sama kamu gitu kan biasanya juga gitu," kata Najma mengingat kerap kali Hakim berkonsultasi tentang agenda rohis kepada Dinda.

 

"Tahu ah si Hakim nyebelin sekarang apa-apa dia selalu meledekin aku dengan David tadi aja nelepon ngomongnya gitu kesel banget deh," gerutu Dinda wajahnya nampak cemberut membahas tentang Hakim.

 

Najma tertawa saat melihat ekspresi Dinda yang terkesan lucu di matanya, "Wkwkw cemburu kali dia Din kamu gimana sih."

 

Mendengar kata 'cemburu' meninggalkan tanda tanya pada pikiran Dinda.

 

"Kenapa bisa cemburu? Kan aku tidak ada apa-apa dengan David jadi gak jelas gitu astagfirullah sudahlah aku capek bahas dia." Kali ini Dinda sedang kesal dengan Hakim yang akhir-akhir ini sangat menyebalkan di matanya.

 

"Ish gimana sih kamu Din kan aku udah bilang Hakim itu punya rasa sama kamu kelihatan banget tahu dari cara dia bicara sama kamu juga kamunya saja yang tidak sadar," sahut Najma dengan kesal bagaimana tidak? Sahabatnya ini memang selalu kurang peka terhadap orang.

 

"Makanya kamu peka dikit apa Din," lanjutnya.

 

"Duh kok dia bisa suka sama aku sih padahal kan aku biasa saja kamu juga sih gak bilang dari kemarin kan kalau gitu aku tidak usah meladeni dia lagi kasihan yang ada dia ngiranya aku juga punya rasa sama dia lagi," omel Dinda dia ingat betul kemarin dia mau saat Hakim mengajaknya makan pecel lele di pinggir jalan dan dia juga ingat saat Hakim berbagai cerita tentang cewek dengannya hal itu dia tanggapi dengan santai tanpa tahu ternyata cowok itu sedang mencurahkan hatinya kepada dirinya sendiri.

 

"Ya aku kira kamu tahu dan bisa merasakan sesuatu yang beda dari sikap Hakim tapi nyata kamu benar-benar kurang peka Din." Najma jadi bingung sendiri siapa yang patut dia salahkan atas semuanya.

 

"Ya sudah makasih deh udah kasih tahu aku Naj coba kalau kamu gak bilang gitu pasti aku tidak akan tahu, kalau begini kan enak aku bisa jaga perasaan Hakim dan lebih jaga diri lagi," seru Dinda dia beruntung karena sahabatnya itu telah memberitahunya untuk lebih waspada dan jaga diri lagi agar tidak terjerumus terhadap masalah hati.

 

"Ya sudah kamu tidur gih sudah malam tahu Din, udah tidak usah mikirin David lagi okey!" Najma melihat jam pada dinding kamarnya sudah jam 22: 23 WIB sedangkan Dinda masih berada di luar.

 

Dinda pun melihat jam pada layar ponselnya membuat dirinya kaget menyadari sudah dua jam dia duduk di luar.

 

"Iya aku ke masuk ke dalam dulu oh ya Naj jangan lupa bawa buku paket yang kemarin aku titipin ke kamu ya, soalnya besok aku ada pelajarannya," kata Dinda mengingat besok ada pelajaran akutansi di kelasnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!