Cinta Menyatukan Iman
Back to Kampus
"Hay Dav!" sapa Gio dan Fikri yang langsung memeluk David karena rasa rindu mereka akhirnya terobati.
"Gimana kabar Lo Dav?" tanya Fikri sebagai teman bangku David di kelas.
"Baik bro, oh ya nanti gue mau ngasih kalian sesuatu tapi gue mau kantin dulu ketemu Hamdan dan Alex nanti ke kelas," kata David sambil menepuk bahu Gio.
"Oke siap, kita duluan ya Dav." Gio dan Fikri pun berlalu pergi menuju kelasnya.
Sedangkan David bergegas ke kantin karena Hamdan dan Alex sudah menunggu, Bi Siti penjaga kantin berteriak heboh melihat kehadiran David kembali.
"Ya ampun nak David Alhamdulillah akhirnya kembali juga ke Jakarta kirain Bibi mah gak bakal balik lagi," kata Bi Siti yang baru melihat David lagi setelah kepergian cowok itu ke Eropa.
Alex menatap Bi Siti dengan raut wajah konyol, "Bi Siti lihat David sampe segitunya tadi giliran saya datang gak begitu dahh jadi cemburu nih adek," katanya.
"Hahaha si Alex mah emang suka cemburuan Bi," timpal Hamdan tertawa melihat tingkah konyol temannya.
David pun duduk di bangku samping Hamdan, pagi ini dia memang belum sarapan dia kesiangan bangun karena semalam main game.
"Bi, buatkan David Mie seperti biasa ya campur telor kasih cabai rawit yang banyak," kata David dengan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Duh nak David cabainya lagi naik nih jadi Bibi kasih dua aja ya soalnya gak ada lagi," kata Bi Siti dengan wajahnya yang memelas.
"Kasihannya Bi Siti pasti susah ya Bi jualan dengan harga pokok yang semakin naik," kata Alex memandang Bi Siti yang sedang merebus mie.
"Tenang Bi, tahun 2025 David mau nyalon jadi menteri perekonomian nanti dukung ya Bi biar harga bahan pokok bisa turun," timpal Hamdan sambil terkekeh.
David yang mengerutkan keningnya, "Kok gue Dan? Lo aja lah gue bakal sibuk jagain istri gue ngurus Dinda aja gue susah apalagi ngurus rakyat? Gak deh." David mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Hahaha…." Terdengar gelak tawa Alex begitu mendengar ucapan David.
"Bisa aja Lo Dav," pekik Hamdan mendengar alasan David yang begitu lucu.
"Orang kaya gue masih belajar jadi pemimpin tapi buat calon imam yang baik bukan untuk negara yang umatnya begitu banyak, gue nyerah deh." David memang tidak pernah punya mimpi untuk menjadi dewan atau menteri yang mengabdi kepada Negara dia takut sekali ikut campur urusan negara.
"Mending ngurus kantor apa jadi dewan Dav?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Alex.
"Ya jelas mending ngurus kantor sendiri lah kita yang jadi bos kalau Menteri kan masih ada presiden yang memimpin," kata David yang kurang suka dengan urusan politik.
Hamdan pun menyeruput es nya hingga sisa setengah dia haus harus ketawa terus mendengar celotehan teman-temannya. Bi Siti pun menghampiri ketiga anak muda itu lalu memberikan mie pesanan David.
"Silahkan dimakan nak David kalau kurang pedas nih makai sambal aja ya," kataBi Siti sambil menyodorkan mangkok sambal.
David pun mengangguk, "Iya Bi, makasih banyak, eh kalian mau makan gak?" tanyanya seraya menoleh menatap satu persatu temannya.
Alex menggeleng, "Gak deh Dav gue kenyang makan nasgor masakan mamak gue sebelum ke sini," sahutnya.
"Iya gue juga masih kenyang Dav, makan aja!"
Alex memperhatikan mata Hamdan yang seperti sedang mencari seseorang. Wajahnya terlihat gelisah, sesekali dia melirik ke arah ponselnya .
"Lo nyari Najma, Dan?" Akhirnya Alex bertanya karena penasaran.
Hamdan menoleh dan menganggukkan kepalanya, "Dia sudah datang belum ya? Pesan gue gak dibalas-balas soalnya," sahutnya.
Seketika David menoleh mendengar nama Najma. "Astaga Dan, tadi Najma udah masuk sama Dinda kebetulan tadi dia bareng naik mobil gue," jelasnya.
Hamdan dan Alex menoleh menatap David secara bersamaan, mereka kaget karena David naik mobil ke kampus? Sekaligus berangkat bareng Dinda dan Najma?
"Iya mulai hari ini tuh gue mau antar jemput Dinda dia kan future my wife jadi harus dijagain dan Uminya juga udah ngasih izin," jelas David dengan tersenyum senang.
"Gila bahagia banget Lo ya, akhirnya sudah bertunangan sama Dinda jadi gak usah takut dia bakal pergi," kata Hamdan mengingat cerita dulu tentang ketakutan David akan kehilangan Dinda.
"Yoi gue bahagia dan gak sabar pengen nikah makanya gue mau ngerjain skripsi nih biar cepet lulus," kata David salah satu yang membuatnya semangat dalam mengerjakan tugas skripsi adalah pernikahan.
"Ayo kita ke perpustakaan habis pulang nyari referensi," ajak Alex yang ikut semangat.
David pun telah menghabiskan mienya saking pedasnya dia meneguk air es milik Alex yang baru saja dipesan membuat pemiliknya melotot.
"Sorry gue kepedesan nih, Bi buatkan es lagi ya buat Alex nih nanti dia nangis!" teriak David dengan cengengesan menatap Alex.
Si Alex pun hanya garuk-garuk kepalanya, "Gue nangis kalau Renata diambil orang," ujarnya pelan.
Tiba-tiba Hamdan pindah duduk di samping Alex dia merangkul sahabatnya itu, "Nah Lex Lo gimana sama Renata ada kejelasan gak? Sikat dong jangan diem-diem terus," bisiknya.
"Iya Lex bukannya Lo playboy ya kok jadi gak tahu caranya buat ngambil hati seorang Renata?" timpal David dia mendengar jika Alex sedang mengincar cewek bercadar yang sudah mengambil hatinya.
Alex terlihat lusuh, "Masalahnya Dav, Dan gue belum dapat kerjaan pasti buat nikahin anak orang. Udahlah gue ke kelas dulu pusing gue mikirin nikah," gusarnya berlalu pergi.
"Sebenarnya Renata juga suka sama Alex cuma ya gitu cewek sekarang kenapa ya gak mau diajak pacaran maunya langsung nikah aja emang dikira nikah gampang apa? Kan harus butuh modal," gerutu Hamdan mengingat circle pertemanan yang mendapatkan perlakuan yang sama dari cewek-ceweknya.
David terkekeh, "Kampus ini kan umum tapi mayoritas Islam semua Dan, dan cewek-cewek Masya Allah ukhti semua, sebelum Lo tau alasan cewek kenapa ngajak nikah Lo tanya dulu ke diri Lo kenapa gak mau pacaran?" Skakmat.
Hamdan merasa terintimidasi dengan pertanyaan David yang menyudutkan dirinya, dulu dia pernah ceramahin David mengenai larangan berpacaran tapi kini dia malah menanyakan hal yang sudah dia ketahui alasannya.
"Bukan gitu maksudnya Dav, selain nikah kan ada proses ta'aruf nah kalau gue gitu ya mending ke tahap itu dulu deh, jangan bahas soal tunangan atau pernikahan," jelas Hamdan yang ingin pasangannya tetap setia hingga dia siap untuk menikahinya.
"Ternyata bukan gue doang yang takut kehilangan cewek yang disukai, Lo dan Alex juga mengalaminya." David tersenyum mengetahui hal itu.
"Sudah masuk ke kelas yuk! Gue ada mata kuliah nih." David menepuk bahu David seraya bangkit dari duduknya menuju ke Bi Siti untuk membayar makanannya.
"Eh Dav, lo kan ngerokok ya kok sekarang gue jarang lihat Lo ngisap rokok lagi?" tanya Hamdan ketika mereka berjalan menuju ruangan kelasnya.
David tersenyum, "Nanti gue ceritain sekarang gue buru-buru mau masuk kelas dulu dah!" Dia menghilang dibalik tangga menuju lantai tiga di gedung B.21
Hari ini mata kuliah akuntansi bisnis dosen pengampu Bu Rini beliau salah satu dosen yang disiplin waktu kalau telat bisa di Alfa kecuali izin terlebih dahulu dengan alasan yang masuk akal.
"Selamat siang semuanya!" sapa Bu Rini yang masih sibuk dengan layar laptopnya.
"Siang Bu," jawab para mahasiswa dengan kompak.
"Hari ini Ibu mau dengar presentasi dari kelompok yang mau dapat nilai tambahan," ujar Bu Rini dengan sarkastis.
Semua mahasiswa/i jadi berbisik-bisik menanyakan giliran kelompok siapa yang belum presentasi, David terdiam dia sudah maju ke depan bersama teman kelompoknya sebelum UTS kemarin.
"Ya udah yuk maju," ajak Raka si paling pede yang aktif bertanya bangun dari tempat duduknya.
"Gue yang baca ya Lo yang jelasin," ujar salah satu teman kelompoknya yang belum memiliki persiapan untuk presentasi hari ini.
****
*Dinda
"Aku udah di taman nih."
Mendapat pesan dari Dinda membuat senyum David terbit dia tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya.
"Apa ada yang mau bertanya?" tanya Bu Rini kepada para mahasiswanya.
"Cukup Bu, tidak ada." David menyahut mewakili para teman-temannya.
Gio menyenggol lengan David, "Tumben biasanya bertanya Lo."
"Gue buru-buru mau ketemu Dinda," kata David berterus terang.
Setelah perkuliahan berakhir David langsung beranjak pergi menuju taman dan benar saja di saja sudah ada Dinda yang sedang bermain dengan ponselnya.
"Assalamualaikum ukhti, boleh duduk," ujar David dengan suara khasnya.
Dinda kaget mendengar candaan David, "Waalaikumsalam akhi, silahkan duduk." Dia mempersilahkan.
"Tumben mau datang sendiri biasanya ke mana-mana mau ditemenin Najma." David menatap heran karena tidak melihat Najma di dekat Dinda.
"Najma lagi ikut seminar di gedung A, aku lagi belajar untuk terbiasa berdua dengan calon suami," kata Dinda dengan tersipu malu.
Menggemaskan Dinda selalu bisa membuat David tersenyum dan tertawa.
"Oh ya nih buat tuan putri." David mengeluarkan kotak dari dalam tasnya dan mengulurkannya ke arah Dinda.
Kotak merah dengan pita pink yang menghiasinya, "Apa ini?" tanya Dinda ragu untuk mengambilnya.
"Buka dong! Semoga kamu suka ya," pekik David ketika Dinda mau mengambil pemberiannya.
"Aku buka sekarang atau nanti?" tanya Dinda meminta izin.
"Terserah kamu yang penting nanti kamu buka kalau gak suka buang aja." Dengan mudahnya David berkata seperti itu.
"Ish kebiasaan main buang terus, apapun pemberian dari orang kita harus terima untuk menghargai gak boleh dibuang," tukas Dinda menasehati.
"Oke siap ustadz ti." David terkekeh karena sejak dulu Dinda selalu menjadi motivasinya.
"Ah tuh kan," gerutu Dinda menyadari bahwa dia tidak perlu berkata itu kepada David toh cowok itu juga paham.
"Tidak apa-apa kok, kan kita harus saling mengingatkan aku gak tahu hal apa yang kamu suka jadi semoga kamu suka dengan pemberianku itu."
"Apapun yang diberikan calon suami pasti aku suka kok," sahut Dinda.
Semakin dekat dengan Dinda membuat David tahu tingkah laku dan kebiasaan cewek itu begitu pun sebaliknya.
"Dav, hari ini Abi ada di rumah loh dia mau nanti malam kamu ke rumah ikut pengajian sekalian Abi mau dekat sama calon mantu katanya, kamu mau?" seru Dinda yang mengingat permintaan Abinya kemarin.
Hal ini pasti akan terjadi, ya David memang pasti akan berhadapan dengan Azmi Abinya Dinda seorang tokoh masyarakat sekaligus pebisnis yang sukses. Itulah mengapa David butuh waktu untuk mempersiapkan diri belajar ilmu agama dia takut jika sewaktu-waktu Abinya Dinda akan mengetesnya menjadi imam atau memimpin tahlil.
"Kalau kamu gak bisa gak usah dipaksa nanti aku sampaikan sama Abi," kata Dinda begitu melihat David yang terdiam tanpa suara.
"Insya Allah aku akan datang," kata David sambil tersenyum.
"Seriusan?"
"Iya serius, bagaimanapun aku harus bisa mengambil hati kedua orang tuaku Din," ujar David sambil membetulkan duduknya.
Salah satu hal yang Dinda suka dari David adalah keberanian serta kesungguhan cowok itu yang tidak ada lawan. Dinda berharap semoga pertemuan David dan Abinya nanti berjalan baik.