Cinta Menyatukan Iman
Kecemasan Dinda
Setelah selesai salat Dinda kembali membuka ponselnya untuk melanjutkan ceritanya lagi.
"Sayang kamu tidak makan dulu?" tanya Wilda tiba-tiba masuk ke dalam kamar Dinda.
"Tidak Mi, nanti saja aku masih kenyang." Dinda menyahut dengan tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu nanti jangan lupa turun ke bawah ya Abi mau bicara sama kamu," kata Wilda sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar Dinda.
Seketika itu juga Dinda penasaran akan apa yang dikatakan oleh Abinya nanti tangannya sudah gemetaran.
"Duh kira-kita Abi mau ngomong apa ya?" batin Dinda bertanya saking penasarannya.
Semenjak kepulangan Abi nya dari luar kota Dinda jadi merasa harus bicara dengan Abinya mengenai David karena pasti Umi tidak mau cerita kejadian sebenarnya tentang yang alami David selama ini.
Karena Abinya sedang makan Dinda memilih untuk kembali membaca cerita yang hampir saja selesai agar dia tidak penasaran dengan endingnya.
****
Tiba-tiba angin melandai ruangan itu sehingga kertas-kertas yang di lantai hilang seketika dan mereka semua kaget serta ketakutan tubuh mereka gemetar ternyata dibalik kertas tersebut ada simbol yang menyala. Simbol itu berputar-putar dan berubah menjadi kolam dengan pusaran yang kencang.
Semuanya tertarik hingga jatuh ke dalam kolam tersebut mereka semua mencari jalan keluar dan naik ke atas namun hanya Linda dan Jessica yang tidak kembali mereka berdua berada di alam yang berbeda yaitu alam gaib.
Sedangkan yang lain, Eric, Alex, Beni dan Dian kembali lagi ke ruangan itu.
"Lah jessica dan Linda ke mana?" tanya Eric dengan wajah panik.
Tanpa berpikir lagi cowok itu langsung melompat ke dalam pusaran tersebut untuk mencari Linda dan Jessica namun hasilnya sia-sia Eric tidak menemukan ke dua temannya itu di dalam kolam ini dia pun kembali ke ruangan.
"Ah lu gimana sih, nyari saja tidak benar," gerutu Alex melihat Eric tidak bersama dengan Linda dan Jessica.
"Sini gue yang nyebur!" kata Alex yang langsung menyebur.
Byyuuurr ....
Kini giliran Alex yang akan mencari Linda dan Jessica yang ternyata hasilnya sama saja dia tidak menemukan kedua temannya itu di kolam sana.
Sedangkan kini Linda dan Jessica saja yang berada di alam gaib itu.
Linda segera naik ke alam gaib itu dengan pakaian yang kotor dan basah serta dipenuhi banyak lumut di tubuhnya, Linda ketakutan melihat sekelilingnya. Ia bingung tempat apa ini. Penuh kabut dan banyak makam-makam. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari salah satu makam tersebut berupa tangan mayat, kaki Linda pun dipegang sehingga ia merasa sulit untuk berdiri, Linda semakin takut dan gemetar.
"Tolong, tolong," seru nya lirih.
Akhirnya Linda melarikan diri, ia menemukan sebuah rumah adat didalam sana, ia pun memasukinya.
"Assalamualaikum." Tidak ada satu orang pun yang menjawab. Akhirnya ia menerobos masuk kedalam rumah tersebut dengan rasa cemas dan takut. Jessica mengamati seluruh ruangan banyak barang-barang kuno dan terdapat beberapa tulang tengkorak dan tak disangka disana sudah terdapat Jessica yang sedang digantung di sebuah ruangan dengan berpakaian kebaya merah, ada sosok makhluk yang membuatnya seperti itu, ia berwajah sangat putih pucat dan seram.
Linda mengintip, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba sosok makhluk yang pucat itu langsung memalingkan wajahnya ke arah Linda, Linda pun langsung bersembunyi dibalik pintu ruangan itu. Dan Linda pun dicekik dan digantungkan oleh makhluk pucat itu.
"Siapa kamu? Sudah memasuki alam saya, apa kamu ingin seperti dia?" ucap kebaya merah itu sambil menunjuk kearah Jessica yang tidak sadarkan diri.
Tak sengaja ia menekan blitz, handphone nya ke arah wanita pucat itu. Tak dikira wanita pucat itu terbakar karena sengatan dari blitz handphone nya Linda, dan Linda pun terus melakukan hingga wanita itu menjauh darinya. Linda bergegas menyelamatkan Jessica dari ketidak sadarannya.
"Jess, Jes. Ayo bangun kita harus pergi dari sini!" Jessica pun terbangun.
"Linda, dimana kita? Kok gue makai kebaya, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini."
"Gue gak tau Jess, udah intinya kita harus pergi dari sini." Mereka pun melarikan diri dari rumah itu. Dengan tergesah-gesah mereka berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.
"Ayo Jess, ikutin gue cepetan." Linda dan Jessica lari sekencang-kencangnya mereka kembali menyebur kedalam kolam hitam itu lagi, yang bisa dibilang pintu gerbang alam gaib itu.
Mereka, Erik, Beni, Alex, dan Dian gelisah, khawatir dengan keadaan Linda dan Jessica. Linda dan Jessica pun muncul dari kolam hitam itu, mereka serentak kaget, akhirnya Linda dan Jessica selamat, namun Jessica disitu berpakaian seperti tadi di alam ghoib dengan kebaya merah dan tidak sadarkan diri (kerasukan) oleh sebab wanita pucat tadi.
Mereka semua mundur karena ketakutan dengan kondisi Jessica yang seperti itu, Cuma Linda yang menghampiri Jessica dan tiba-tiba Jessica langsung muntah-muntah dan mengeluarkan darah, yang akhirnya Jessica pun benar-benar kerasukan oleh kebaya merah itu.
Jessica mulai mengerikan, ia membawa kapak untuk membunuh teman-temannya itu, semua menjadi histeris, pak Bambang pun yang menghadapi Jessica dan dengan ketidak sadar diri Jessica langsung memotong tangan pak Bambang.
"Tidakkk..." Suara kampak itu, pak Bambang diam sejenak, melihat tangannya sudah putus pak Bambang menangis histeris. Semua orang menjadi panik ketakutan.
"Ayo kita pergi dari sini!" ucap Diam panik.
"Gimana mau keluar sedangkan kunci Gedung itu ada ditangan pak Bambang yang sudah putus," jelas Erik panik.
Linda pun menekan-nekan blitz handphone nya Jessica pun terbakar oleh sengatan cahaya dari blitz itu, Linda berhasil menyadarkan Jessica kembali. Semuanya diam melihat aksi yang dilakukan Linda. Linda dengan berani mengambil potongan tangan pak Bambang untuk mengambil kunci Gedung ini yang tercantol dijarinya. Yang dipenuhi lumuran darah, semua nya keluar dari ruangan itu secepat-cepatnya dan langsung menaiki mobil Erik yang ditumpanginya. Namun hanya Beni yang tidak selamat karena ia menyimpan keris Si Kebaya merah saat menyelamatkan Linda dan Jessica. Karena Beni juga masa lalu ayahnya. Apa yang ayahnya lakukan pada si Kebaya merah itu.
****
"Yah tuh kan ceritanya sudah selesai," keluh Dinda ketika melihat tulisan tamat pada akhirnya.
Dinda jadi tidak sabar menunggu filmnya yang katanya akan tayang bulan ini di bioskop, setelah David pulang dia ingin mengajak cowok itu nonton bersama yang jelas bukan berdua saja tapi bersama Najma dan yang lainnya juga.
Dering ponsel Dinda pun berbunyi terdapat pesan dari David sang tunangannya yang sedang liburan bersama teman-temannya.
"Sayang jangan lupa makan siang ya!" Pesan singkat dari David kini sangat Dinda tunggu-tunggu jika pertemuan dilarang oleh agama mereka memilih chattan untuk menjadi perantaranya.
"Kamu juga jangan lupa sarapan dan cepat pulang." Dinda mengirim balasan untuk David.
Sebutan David pun kini berbeda setelah mereka bertunangan kata David untuk percobaan agar nantinya terbiasa membuatnya tersenyum baru kali ini merasakan panggilan 'sayang' dari seorang laki-laki.
Dan setelah membaca pun Dinda akhirnya turun ke bawa untuk menemui Abinya yang katanya akan berbicara dengannya, dia tidak biasa bercanda dengan Abinya yang selalu serius dan tegas dalam bersikap.
"Bismillah semoga Abi tidak ngomong macam-macam dan semoga Abi tidak marah dengan hubunganku dan David," lirih Dinda dia berdoa dalam hati dengan matanya yang terpejam.