Cinta Menyatukan Iman
Saling Merindu
Hari ini David dan teman-temannya pulang dari Bali, sejak jam 4 pagi David sudah bangun untuk sholat dan olahraga namun tiba-tiba dia jadi sangat merindukan sosok Dinda, senyum wanita itu melintas di pikirannya.
Karena kerinduannya David segera meraih ponselnya untuk melakukan video call dengan Dinda.
"Assalamualaikum," sapa David dengan suara khasnya terdengar menggoda di telinga Dinda yang baru saja selesai mengaji.
"Waalaikumsalam, tumben subuh-subuh nelpon ada apa?" Dinda meletakkan Al-Qur'an lalu pergi duduk di ranjang tempat tidurnya saat ini dia masih menggunakan mukenanya
David tersenyum, "Aku rindu kamu sayang," katanya pelan.
Mendengar itu Dinda ikut tersenyum apalagi kata 'sayang' yang menjadi panggilan baru David setelah mereka bertunangan.
"Hari ini aku, Hamdan dan Alex akan pulang nanti kita ketemu ya," ujar David memberitahu.
"Bawa oleh-oleh tak untukku?" canda Dinda sambil tersenyum.
"Kamu mau oleh-oleh apa sayang? Nanti aku belikan." David memang sosok laki-laki yang humoris dan humble.
Dinda terkekeh, "Aku hanya bercanda yang saat ini aku butuhkan kepulangan kamu, Dav."
"Hayo jujur kamu pasti rindu juga kan? Sabar ya nanti kita ketemu kok, oh ya Abi sama Umi udah pulang?"
Dinda memang cerita kepada David kalau dia di rumah sendirian karena umi dan Abinya sedang pergi ke luar kota.
"Udah semalam, Dav aku mau ngomong tapi gak mau via telepon." Dinda memasang wajah cemberut.
"Iya nanti aku pulang nih mau ketemu dimana? Di cafe indah, di rumah atau di kampus aja?" David ingat jika besok perkuliahan sudah masuk pastinya dengan banyak tugas yang belum diselesaikan.
"Terserah kamu, gimana liburannya menyenangkan gak? Pasti dong kan di Bali banyak pemandangan indah ya? Dan banyak bule-bule cantik."
David terkekeh dia merasa saat ini Dinda sedang cemburu, "Sangat menyenangkan."
"Din, David genit-genit sama Bule nih!" teriak Alex yang sudah ada di belakang David.
Suara Alex terdengar oleh Dinda membuat dia langsung cemberut dan menekuk wajahnya.
"Bohong sayang, aku mah gak genit cuma main mata doang hahaha," ujar David yang semakin menggoda Dinda.
"Gak ada yang lucu, ya udah kalau gitu gak usah pulang yang lama aja liburannya," gerutu Dinda yang mudah sekali percaya.
David melihat wajah Dinda yang begitu menggemaskan pipinya yang chubby membuatnya ingin menggigitnya saking gemasnya.
"Kok senyum-senyum sih?" Dinda malah heran bukannya David merayunya agar tidak marah eh malah diam sambil tersenyum gitu.
"Kamu lucu kalau lagi cemburu, aku senang banget kamu marah-marah kayak gini," ujar David pelan dan mendalam hingga menusuk jantung hati Dinda membuatnya berdebar tidak karuan.
"Ish nyebelin banget," kesal Dinda mendengar gombalan David.
Jujur jantung Dinda saat ini berdebar kencang, hatinya berteriak senang mendengar gombalan David meski wajah Dinda menunjukkan kalau dia sedang kesal.
"Dav, serius hari ini pulang kan?" teriak Hamdan membuat David menoleh.
"Iya parepare dah kalian berdua, jangan sampai ada yang ketinggalan!" pesan David kepada Alex dan Hamdan yang sudah bangun kembali.
"Mau pulang jam berapa?" tanya Dinda sambil menatap wajah David dari layar ponselnya.
"Gak tau aku belum dapat info dari Pak Salim mengenai jadwal terbangnya," sahut David dia pergi duduk di bangku sambil membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.
Baru kali ini Dinda melakukan video call bersama cowok begitu lama, yaitu hanya dengan David seorang, sebelumnya pernah panggilan telepon dengan Hakim, cowok yang pernah mengisi hati Dinda namun dia tidak menyukai sikap Hakim yang selalu mengaturnya.
*Hakim
"Din, kamu pakai cadar gih biar aurat kamu ketutup semua dan lebih cantik kelihatannya."
Dinda ingat betul perkataan Hakim yang menginginkannya untuk bercadar, sering kali cowok itu menyuruhnya untuk memakai cadar baik sih cuma Hakim bukan siapa-siapa Dinda tapi sudah mengatur hidupnya, kan aneh.
Bagaimana perasaan kalian diatur-atur sama cowok yang bukan siapa-siapa kita? Pasti bakal kesal kan? Sama Dinda juga mengalami gitu makanya dia milih David daripada Hakim.
"Sayang, kok melamun?" David melihat Dinda yang bengong seperti memikirkan sesuatu, "Ada masalah?"
"Hemm tidak ada kok, Dav kamu istirahat dulu aja kan masih pagi biar gak pusing di perjalanannya," pinta Dinda pelan dia tersadar dari lamunannya begitu mendengar teguran David.
"Yaudah aku istirahat dulu ya sampai ketemu nanti, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam love you Dav," seru Dinda pelan namun sayang David tidak mendengar ucapan Dinda yang terakhir panggilannya sudah terputus.
"Gila ya Lo Dav," ujar Hamdan melihat David yang senyum-senyum sendiri.
"Dimabuk Dinda dia Dan," sahut Alex yang sedang melipat pakaiannya. "Eh kok Lo tidur lagi sih Dav, gak prepare?" tanyanya melihat David yang pergi ke tempat tidur.
"Dinda nyuruh gue buat istirahat sebentar, gue udah pesan kopi sama makanan nanti ada yang nganterin ke sini ambil ya atas nama David, gue mau tidur sebentar dari semalam tidur gue gak nyenyak." David memejamkan matanya untuk mulai masuk ke dunia mimpi.
"Gue jadi tahu sisi bucin Dinda kalau lagi sama Lo Dav," ujar Alex dia merasa selama kenal dengan Dinda belum pernah mendengar cewek itu cemburu dan perhatian sama cowok tapi tadi dia mendengar Dinda yang begitu posesif dengan David.
"Gue juga sih Lex, wajar lah Dinda bucin orang sama calon suaminya sendiri kok, eh Dav lo beruntung banget dapetin Dinda udah cantik, pintar masak, sholehah lagi orangnya." Hamdan tanpa sadar telah memuji sosok Dinda yang selama ini menjadi partnernya di kepengurusan organisasi.
"Dan, Lo bawa oleh-oleh buat Najma?" tanya Alex yang sedang bimbang menatap Hamdan yang sedang memasukan barang-barangnya ke koper.
Seketika mata Hamdan langsung menyipit melihat Alex, "Kenapa nanya-nanya? Pengen tahu banget Lo?"
"Gue bingung mau ngasih oleh-oleh ke Renata atau ngasih Aisyah ya?" pikir Alex bimbang dengan dua cewek yang sedang dekat dengannya.
"Allahu Akbar Lex, pikirin oleh-oleh buat emak Lo tuh jangan cewek terus yang dipikirin," omel Hamdan mendengar kebimbangan Alex yang unfaedah.
Alex kembali bangkit, "Udah Dan, buat emak gue mah aman tapi gue juga pengen ngasih sesuatu ke salah satu dari mereka menurut Lo siapa Dan?"
"Pikir aja sendiri Lex, mana cewek yang Lo suka Aisyah apa Renata? Udah deh gak usah jadi cowok playboy gak cocok orang kayak Lo playboy kalau David playboy wajar tampan ganteng duit pun ada," celetuk Hamdan memberikan nasehat kepada Alex untuk stop mendekati wanita.
Akhirnya Alex pun memutuskan untuk memilih satu wanita yang penting untuknya.
****
Hari ini Dinda memutuskan untuk menonton ceramah ustad Hanan attaki di channel youtubenya.
Kali ini temanya tentang jodoh, ustad Hanan attaki menjelaskan bahwa sejauh apapun kita dengan jodoh kalau sudah waktunya dipertemukan pasti bakal bertemu, secinta apapun kita dengan orang bahkan ada yang sampai pacaran bertahun-tahun tapi kalau bukan jodoh pasti akan berpisah, begitu takdir jodoh yang tidak bisa ditebak.
Tidak ada hubungan yang diridhoi Allah kecuali pernikahan, banyak sekali pahala yang kita dapatkan di dalam pernikahan apalagi seorang istri sangat mudah mendapatkan surga setelah menikah cukup kita taat, patuh dan layani suami dengan baik insya Allah jaminannya adalah surga.
"Masya Allah, aku jadi tidak sabar untuk menikah dengan David semoga kau karuniai keberkahan dalam hubungan kami berdua aamiin." Dinda memanjatkan doa setelah mendengar ceramah tentang jodoh itu.
Setelah menonton Dinda langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena hari ini Umi akan mengajaknya pergi ke kajian jadi dia harus ikut apalagi Dinda sudah mau menikah jadi harus banyak-banyak memperdalam ilmu agar rumah tangganya kelak diberikan keselamatan dan dijauhkan dari pertengkaran.
Pintu kamar dibuka oleh Wilda namun kasur Dinda kosong terdengar bunyi air dari dalam kamar mandi membuat Wilda berpikir jika putrinya sedang mandi.
"Sayang, setelah mandi langsung turun ya kita sarapan bersama, Abi kamu juga udah nungguin."
"Iya Umi," teriak Dinda dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi Dinda langsung memilih pakaiannya yang pas untuknya pergi mengaji, gamis selalu menjadi pakaian terbaik yang dia miliki.