Cinta Menyatukan Iman
Nathan, Ayah David Pulang?
Tok, tok, tok
Terdengar suara bunyi pintu kamar David yang diketuk membuat cowok yang sedang asik bermain ponsel bangun.
"Masuk!!" seru David.
"Maaf Tuan muda kita akan berangkat kapan ya? Katanya pagi," terang Lala bingung saat tidak mendapat apapun dari David akan keberangkatannya.
"Iya nanti jam 09:15 saja ini masih sangat pagi nikmati dulu pemandangan Bandung yang indah ini," seru David jiwa mudanya menahannya untuk segera pulang.
"Oh baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Lala pun kembali pergi dengan perasaan senang.
Harus dia syukuri karena kini dia mempunyai bos muda yang jiwanya masih ingin bermain dan bersantai jadi dia tidak usah buru-buru untuk pulang.
Pagi hari ini David sedang menonton tausiyah dari ustad Hanan Attaqi tentang perempuan.
Walaupun ungkapan ini tentu saja seakan menafikan keberadaan istri Nabi lainnya yang secara keseluruhan adalah “ummahatul mu’minin” (ibu bagi para wanita mu'min).
Di sisi lain, ungkapan Hanan tak lebih sekadar candaan yang umumnya diselipkan dalam berbagai ceramah keagamaan, di mana para penikmat ceramahnya bisa diajak tertawa sejenak. Namun demikian, tidakkah menyadari bahwa candaan yang menyangkut fisik ini pasti akan menuai protes dari masyarakat?
Bukan apa-apa, jika ukuran gemuk dan kurus dikaitkan dengan kesalehan seseorang, ini jelas tidak adil. Barangkali, ungkapan Nabi yang terkenal menyatakan bahwa, “Innallaha laa yandzuru ilaa suwarikum wa ajsamikum, walakin yanzhuru ila quluubikum wa a’malikum” (Allah tidak melihat seseorang dari bentuk tubuh atau fisik lainnya, tetapi kepada hati dan amaliyah seseorang).
Bahkan, kitab suci Al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa manusia yang paling mulia dan sempurna di mata Allah adalah mereka yang bertakwa, tak pernah menyinggung soal fisik seseorang sama sekali.
Ini artinya, seluruh manusia sama dihadapan sang Pencipta, tak ada perbedaan fisik baik warna kulit, bentuk rambut, muka, tinggi-pendek, kurus-gemuk dari suku manapun, kelompok manapun atau bangsa manapun.
Bahkan, sejak awal, Nabi sering mengungkapkan tak ada perbedaan antara Arab dan bukan Arab, karena Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme dan fitrah kemanusiaan yang melekat sejak kelahirannya.
Saya kira, jika pun ada pesan yang hendak disampaikan dengan menganggap wanita solehah itu idealnya seperti Aisyah dengan bobot kurang lebih 55 kg walaupun tentu saja zaman itu mungkin belum ada timbangan secara presisi jelas tidak menunjukkan rasa simpatik terhadap seluruh wanita muslimah, kecuali hanya kepada para artis atau pesohor yang memang senantiasa menjaga bentuk tubuh idealnya demi kepentingan pribadinya sebagai publik figur.
"Hah sudah jam delapan," pekik David akhirnya dia mau bangun dari rebahannya untuk bergegas pulang.
Setelah semuanya siap David pun menghubungi Rangga bahwa hari ini dia akan transfer uang penginapannya.
"Thanks bro kapan-kapan main lagi ke Bandung," seru Rangga yang berada jauh di sana.
David pun akhirnya memutuskan sambungan ketika sudah memberitahu temannya itu.
"Biar saya yang bawa mobilnya nanti gantian." David pun menawarkan diri untuk mengendarai mobilnya.
"Tidak apa-apa memangnya Dav?" tanya Pak Hartono takut jika nanti David akan merasa kecapean.
David pun tidak menyahut dia merebut kunci mobilnya dan segera masuk ke dalam membuat dua orang itu saling pandang bertanya-tanya.
"Yuk buruan masuk!" ajak David dengan tangannya.
Selama perjalanan pulang mereka mengalami kemacetan di pertengahan jalan.
Pas melewati tempat di mana Dilan syuting David jadi teringat akan kisah pasangan remaja itu yang kata-kata Dilan juga banyak ditiru oleh teman-temannya di Eropa untuk menggoda cewek.
Setelah menepuk perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya mobil mereka pun sampai pada kantor David.
"Saya berhenti di sini nanti akan ada supir pribadi saya yang jemput kalian pulang saja pakai mobil ini, dan yang terakhir Pak Hartono besok bawa lagi mobilnya takut akan digunakan sama yang lain." David pun berseru mengatur semuanya.
Lala yang sudah terbangun kaget mendengar David berkata seperti itu, "Terima kasih Tuan muda," serunya kepalanya keluar dari jendela untuk melihat David.
"Kita pulang duluan ya Nak David," pamit Pak Hartono sembari membelokan mobilnya.
Ketika mobil mereka sudah pergi David segera menelpon Pak Bayu untuk menanyakan kabarnya, "Iya Den ada apa?" tanya Pak Bayu.
"Sudah sampai mana Pak saya sudah menunggu di depan kantor nih," ujar David berharap Pak Bayu sudah berada dekat dengan kantornya.
"Oh sebentar lagi saya sampai sana Den mohon tunggu sebentar saya sedang mengisi bensin dulu hehe," sahut Pak Bayu sembari terkekeh.
Mendengar penjelasan Pak Bayu David pun segera mematikan ponselnya dan duduk di sana, pandangannya kini beralih pada langit yang gelap gulita banyak bintang-bintang yang bersinar di atas sana menghiasi gelapnya malam.
Tidak sabar David untuk segera beristirahat akhirnya Pak Bayu pun datang juga.
"Hayuk Den masuk, biar saya saja yang angkat barangnya," kata Pak Bayu menyuruh David untuk naik ke mobil dia pun mengambil alis koper yang dibawa David untuk dimasukan ke belakang mobil.
"Ya sudah yuk berangkat!" seru David saat semuanya sudah siap.
"Siap Den." Pak Bayu pun membelokan mobilnya untuk luar dari parkiran kantor.
Mobil David telah membelah jalanan kota Jakarta yang kalau malam ramai banyak kendaraan yang entah akan pergi ke mana hingga terlihat ramai.
"Pak nanti bangunkan saya kalau sudah sampai saya mau tidur ngantuk banget tadi habis bawa mobil dari Bandung sampai sini," ungkap David lemah tak berdaya sambil memejamkan ke dua bola matanya yang sudah sudah terasa berat ingin segera dibawa tidur.
Sesampainya di rumah David langsung mandi membersihkan tubuhnya yang sudah lengket bekas keringat tidak lupa dia mandi dengan air hangat malam ini dan segera berwudhu untuk melaksanakan salat isya dan salat sunnah malam lainnya.
Ya meskipun David sangat lelah dan ngantuk namun ketika selesai mandi dia jadi tampak lebih segar.
Hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya malamnya yang panjang dengan sisa rasa kantuk yang menyerangnya saat salat membuat David langsung tertidur pulas.
"Besok Papah dan Mamah akan pulang Bi jadi tolong siapkan kamar mereka!" ujar David kepada ke dua pembantunya.
"Siap Den," sahut Bi Yuli sembari hormat kepada David saking semangatnya menyambut kedatangan bosnya.
"Serahkan semuanya kepada kita Den," timpal Bi Minah dengan tersenyum.
"Den David apakah orangtua Aden sudah tahu hubungan Den David dengan Neng Dinda?" pekik Bi Minah sambil terkekeh.
Seketika David kaget mendengar pertanyaan pembantunya ini, matanya melotot menatap Bi Minah membuat cewek itu mundur takut jika ucapannya salah.
"Maaf Den, kirain Bibi orangtua Den David sudah tahu mengenai hubungan Den David dan Neng Dinda," ralat Bi Minah dengan pandangan yang menunduk sedalam-dalamnya.
David kini tersenyum kepada Bi Minah, "Tidak apa-apa Bi, santai saja namun aku harap Bibi bisa jaga rahasia ini karena aku belum berani bilang dengan Papah dan Mamah," jelas David.