Cinta Menyatukan Iman
Main ke Rumah Dinda
Sudah ada beberapa buku paket di depannya yang siap menemani malamnya, selama ini nilai IPK David selalu di atas rata-rata karena itu dia tidak ingin nilai yang sudah dia pertahankan harus turun di semester kali ini.
"Gila banyak banget ya ternyata," seru David ketika sudah membuka buku paketnya ternyata banyak yang harus dia pelajari.
David pun mulai mempelajari materi yang kemarin tidak mudah mengulang pelajaran yang lalu.
"Bismillahi rohmani rohim," ujar David memulai belajarnya.
Tidak henti-hentinya David terus menguap sehingga air matanya keluar menahan rasa kantuk.
Bi Minah pun masuk ke kamar David melihat lampu kamar yang masih menyala pintu kamar tidak tertutup sehingga Bi Minah bisa melihat David yang sedang duduk di depan meja belajarnya ditemani suara musik yang menyemangatinya.
"Duh si Aden David rajin pisan teu, kasihan menahan rasa kantuk ya sudah saya buatkan kopi aja deh biar tambah semangat belajarnya." Bi Minah pun kembali turun ke bawah untuk membuat kopi kesukaan David.
Sedangkan David beberapa kali mengusap wajahnya agar rasa kantuknya hilang dan sesekali dia melihat jam dinding yang sudah menunjukan jam dua belas lewat dua lima yang mana artinya sudah jam setengah satu.
Malam ini David berniat untuk belajar hingga jam dua tepat baru tidur, lagi pula di kantornya sudah tidak ada kerjaan lagi tinggal menunggu laporan revisi saja dari asistennya.
Tok, tok, tok
David menoleh saat mendengar suara pintu yang diketuk sebab mengagetkan dirinya yang sedang pokus belajar.
"Bi Minah ngagetin aku saja masuk Bi!" seru David sambil kembali mengalihkan pandangannya kepada kertas.
Bi Minah pun menghampiri David, "Nih Den Bibi buatkan kopi."
Dia pun meletakan gelas kopinya di atas meja belajar David.
"Bibi baik banget sih, makasih banyak ya Bi dari tadi ngantuk banget tapi harus belajar buat persiapan ujian besok," keluh David mengingat sejak kemarin dirinya selalu sibuk dengan urusan kantor sehingga lupa jika sudah mau ujian kampus.
"Iya sama-sama Den, yang semangat ujiannya biar sukses." Bi Minah pun tersenyum kepada David setelah memberikan dukungan kepada cowok itu.
Bi Minah pun keluar dari kamar David setelah memberikan kopinya lalu dia pun menutup pintu kamar David dengan rapat.
David langsung meminum kopinya untuk menghilangkan rasa kantuknya, "Huhf enak banget kaya gini," pekik David.
Sedari tadi David mencoba membuat soal dan memecahkannya sendiri dan saat dia berhasil mencocokan jawabannya ternyata benar.
"Akhirnya berhasil juga," pekik David dangan senang.
Waktu berjalan dengan sangat cepat di malam yang sudah larut malam ini ada satu sosok orang yang masih berjaga untuk mempersiapkan ujian kampusnya.
Belum sampai jam dua David sudah tertidur di atas lipatan tangannya di meja belajarnya kopinya pun sudah tersisa setengah gelas.
Hingga suara dering telepon membangunkan David dari tidurnya.
"Hallo Dav," ujar Hamdan dengan suaranya yang serak.
"Hem ada apa Dan?" David menyahut dengan nyawanya yang belum sepenuhnya sadar.
"Eh lo udah tidur ya?" Mendengar suara David membuat Hamdan menyerngit dan menduga bahwa temannya ini sudah tertidur.
"Iya gue ketiduran di meja belajar nih," sahut David sambil mengucek-ngucek matanya yang pandangannya terlihat buram.
"Ya Allah sampe ketiduran gitu belajarnya, oh ya gue mau nanya Dav, untuk materi perpajakan itu kan pernah dikasih esai gitu coba dong kirim sebagian catatan gue hilang soalnya," ungkap Hamdan sedari tadi dia mengecek buku catatannya yang membahas tentang perpajakan namun tidak ketemu.
"Ya sudah nanti gue kirim," pekik David singkat.
"Okey ya udah, thanks ya sudah lo tidur sana jangan dipaksain kalau matanya udah gak kuat mah," kata Hamdan dengan terkekeh.
Seketika panggilan pun terputus, David langsung mengirim file yang maksud Hamdan setelah mengirim dia pun merapikan buku pelajarannya dan pergi tidur di kasurnya dengan pulas.
Tanpa sadar file yang dikirim salah membuat Hamdan maklum karena pasti sahabatnya itu sedang mengantuk, akhirnya dia meminta kepada Dinda yang sudah bangun cewek itu pasti bangun di jam 1 an untuk melakukan shalat mungkin Hamdan tidak tahu yang pasti Dinda telah membantu mengirimnya catatan yang dimintanya.
Sore ini David berniat untuk berkunjung ke rumah Dinda untuk mengobrol dengan cewek itu.
"Den David mau ke mana rapih bener," tukas Bi Minah dengan menatap David penuh curiga yang dia ketahui biasanya David akan dandan rapih jika akan ke kantor saja namun hari ini bos mudanya ini sedang libur membuatnya curiga akan pergi ke mana David?
"Mau cari cewek Bi," sahut David dengan tersenyum.
'Hah Den David mau nyari cewek?' Bi Minah kaget mendengar jawaban David.
"Pasti si Aden teh bohong ya?" kata Bi Minah sembari menuding David. "Neng Dinda nya di kemanakan?" Dia tahu jika bosnya menyukai tetangganya.
David tertawa, "Hehe serius Bi ya sudah David berangkat dulu yah," pamit David dan berlalu pergi.
Pas di luar rumah David menyiapkan diri untuk bertemu dengan Dinda di rumahnya langsung bukannya itu tindakan yang baik namun David merasa takut.
"Assalamualaikum," ujar David sambil mengetuk pintu "Siapa Din?" teriak Wilda kepada anaknya yang berada di ruang televisi.
"Enggak tahu Mi," sahut Dinda dengan mengangkat kedua bahunya.
"Ya coba dong dilihat dulu Nak!" seru Wilda dengan sebal mana mungkin bisa tahu jika belum dilihat, ada-ada saja anaknya itu.
Dinda pun langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri knop pintu rumahnya, dia mengenal suara itu yang tidak asing lagi baginya namun dia tidak mau berharap tebakannya benar karena tidak mungkin cowok itu datang ke rumahnya.
"Assalamualaikum." David kembali berseru saat pintu belum dibuka oleh sang pemilik rumah.
"Waalaikumsalam tunggu sebentar," sahut Dinda yang sudah berada di dekat pintu, suaranya khas sekali bagi Dinda dia jadi buru-buru membuka pintu rumahnya.
"David?" Dinda terkejut tebakannya benar saat melihat sosok David yang berkunjung ke rumahnya untuk kedua kalinya.
David tersenyum saat melihat Dinda yang membuka pintunya, "Hmm boleh masuk?" tanyanya melihat Dinda yang diam saja.
Dinda sampai lupa untuk mempersilahkan tamunya masuk, "Ah ya silahkan masuk Dav, tapi tumben sekali kamu datang ke rumah ada perlu apa?"
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah, David memilih duduk di dekat pintu.
"Mau nemuin kamu gak boleh emang?" sahut David dengan santainya.
Perkataan David selalu berhasil membuat detak jantung Dinda bergemuruh, padahal cowok itu bisa saja berbicara bercanda dan lebih kesalnya lagi David memang suka menggodanya.
"Serius aku tanya," keluh Dinda sedikit kesal dengan candaan David.
"Iya aku serius masa bohong sih," kata David dengan gemas saat Dinda tidak mempercayai dirinya, "Ummi kamu mana?" ujarnya mulai mengganti subjek pembicaraannya menjadi ‘aku'.
"Ada apa mau nemuin aku?" tanya Dinda mungkin David kangen dengannya tapi dia ingin tau alasan dari David langsung. "Ummi ada di dalam mau aku panggilkan?"
David memandang wajah Dinda sebentar, "Aku kangen udah lama gak pernah ngobrol serius sama kamu," katanya, semenjak kepergian David ke Eropa dia belum pernah ngobrol berdua dengan Dinda dengan lama.