Cinta Menyatukan Iman
Nongkrong Bareng Temen
"Sepertinya David sedang cair nih," tukas Alex dia senang melihat David yang bersikap royal kepada teman-temannya.
"Alhamdulillah gue ada rezeki jadi bisa traktir kalian lagian juga udah lama kan kita gak nongkrong bareng?" Ya David memang sangat merindukan moment di mana dia bisa duduk bersama teman-temannya.
"Alhamdulillah bro kalau gitu gue juga ikut senang dan sering-sering ya traktir kita kaya gini," ujar Hamdan dengan terkekeh ucapannya adalah candaan yang biasa dia lakukan.
Sesampainya mereka di tukang pecel lele David langsung memesannya sedangkan kedua temannya memilih bangku untuk duduk.
"Dav, bagaimana dengan kerjaannya?" seru Hamdan dia ingin tahu apakah David melakukannya dengan baik atau ada masalah yang diam-diam David sembunyikan namun melihat raut wajah David sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ditanya seperti itu David mengembuskan napasnya yang terasa berat dia tidak tahu bagian mana yang harus dia ceritakan kepada teman-temannya namun David sendiri tidak bisa menyembunyikan dari mereka karena bagaimanapun mereka tempatnya berkeluh kesah dan mereka juga yang selalu mendukung dan memberikannya motivasi.
"Ya begitulah, kadang kalau ada laporan dari karyawan kantor ya gue harus memeriksanya tadi pun gue habis rapat dengan perusahaan AHA alhamdulillah gue dapat pujian darinya dan dia senang bersahabat dengan perusahaan Helac official, gue baru tahu ternyata capek juga ya kerja di kantor," jelas David dengan sedikit mengeluh tentang pekerjaannya yang menumpuk.
Hamdan diam menyimak mendengarkan David bercerita. "Di mana-mana kerja itu capek Dav, tapi ya beda saja jika di kantor mah, apalagi lo kan bosnya jadi ya menurut gue seiring berjalannya waktu juga pasti bakal mudah dan ringan."
"Iya Dav, sabar aja nanti juga bakal mudah kok lo kerjanya dibawa ikhlas dan sabar saja insya Allah semuanya akan ringan," sahut Alex tangannya meraih es teh manis yang sudah datang.
Beginilah enaknya jika bercerita dengan Hamdan dan Alex pasti David akan mendapatkan motivasi serta saran-saran yang baik dari mereka.
"Iya gue akan sabar dan ikhlas menjalankannya ya mungkin ini karena gue masih butuh ilmunya kali ya jadi agak ribet juga," ungkap David lagi kepada ke dua temannya ini.
"Nah kalau begitu lo harus banyak-banyak belajar tentang bisnis dan bagaimana cara memasarkannya kita juga kan di kuliah sudah belajar lo tinggal kembangkan saja tuh di kantor," ujar Hamdan lagi dia memang satu kelas dengan David namun kadang suka ada perpindahan kelas gitu.
Dalam hati Alex merasa bangga bisa berteman dengan David, "Kapan-kapanlah Dav, ajak kita main ke kantor lo pengen lihat gue kayak gimana dalamnya," serunya.
"Iya Dav, sekali-kali ajak kita ke sana dong pengen tahu juga nih tapi bakal malu-maluin gak ya?" Hamdan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
David terkekeh, hari ini dia banyak tertawa bersama teman-temannya membuatnya lupa akan beban dalam dirinya. "Boleh nanti gue ajak kalian ke sana."
"Dan, kita kan cuma pengen lihat doang terkecuali mau maling itu pasti malu-maluin David, nanti ada pengumuman di kantornya 'ADA BARANG YANG HILANG HARAP SEGERA PERIKSA CCTV!' pas dicek ternyata muka Lo yang nongol hahaha," gelak tawa Alex terdengar puas mengejek Hamdan.
Tidak terima diejek Alex, refleks tangan Hamdan langsung menoyor kepala sahabat yang ada di sampingnya itu. "Kurang ajar ya lo."
"Dav, Matematika dipake gak di kantor soalnya gue gak pernah paham belajar matematika," pekik Alex mengakui dirinya memang paling bodoh diantara kedua sahabatnya ini.
"Pastilah, gue beruntung banget bisa matematika juga jadi kalau soal perhitungan gue paling cepat dan kadang ada rapat gitu ke luar kota antar perusahaan itu sih, untuk bulan yang akan datang gue harus hadir sedangkan gue masih kuliah agak ribetnya di situ sih."
"Oh iya ya kalau rapat ke luar kota memakan waktu berapa hari biasanya?" tanya Alex penasaran.
"Kurang tahu sih tapi kata sekretaris Papah bisa jadi semingguan di sana," sahut David dia masih ingat apa yang dikatakan oleh Pak Hartono waktu itu tentang rapat antar perusahaan.
"Wah lumayan lama juga ya kalau begitu." Hamdan tercengang mendengar penjelasan David, mana bisa izin tidak masuk kuliah selama satu minggu kaya gitu? Apalagi sudah semester akhir.
David pun meraih es teh manisnya dan meminumnya hingga tersisa setengah gelas.
Begitu pun dengan Alex yang memainkan sedotan di sana, "Kalau dua tiga hari sih mungkin bisa ya apalagi kadang Dosen juga jarang hadir kan?" tukas Alex sebagaimana yang dia ketahui tentang perizinan.
"Iya paling lama itu kata Pak Hartono satu minggu ya semoga saja nanti hanya tiga hari saja di sana," kata David dengan penuh harap.
Tak lama kemudian tukang pecel lele pun datang mengantarkan pesanan ke tiga anak muda ini.
"Terima kasih bang oh ya es teh manisnya tambah satu ya!"
"Okey," sahut si Abang tukang pecel lele tersebut sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Lo haus Dav?" pekik Alex dengan bingung karena David menambah satu gelas minuman lagi.
David hanya nyengir menunjukan gigi putihnya yang rata, oh ya David juga memiliki gigi gingsul di bagian kirinya, jika yang melihat cewek udah pasti pingsan lihat ketampanan David apalagi di saat David lagi makan pedes keringatnya bercucuran tambah kali lipat ketampanannya.
Mereka pun akhirnya mulai menikmati pecel lelenya masing-masing, mungkin karena rasa lapar jadi ketika makan mereka bertiga tidak bersuara sama sekali sibuk dengan dirinya sendiri.
"Thanks ya Dav, udah traktir kita," seru Hamdan setelah menyelesaikan kunyahnya.
"Iya thanks juga udah bantu kerjain tugas dan dengerin cerita gue." David senang bisa berbagi cerita dengan kedua temannya ini ada banyak hal yang dia dapat dari mereka. "Gays gue pergi duluan ya mau ada urusan sama Dinda nanti ke sini lagi lanjut aja makannya."
"Cie elah yang mau kangen-kangenan," canda Hamdan sambil terkekeh
“Hati-hati Dav," teriak Alex begitu kencang.
Setelah pulang David bergegas menyusul taksi yang Dinda tumpangi dia tidak takut rumah cewek itu udah ditutup jika malam-malam gak enak juga kan nyuruh anak cewek keluar malam-malam.
*David
"Din, jangan langsung masuk dulu ya gue mau ngomong sebentar."
"Mau ngomong apa ya sampe harus ketemu?" Dinda menatap layar ponselnya bingung mau balas apa pesan David.
"Neng belok kanan ya?" tanya supir taksinya saat sudah masuk gang perumahan.
"Iya pak," sahut Dinda di samping jendela Dinda melihat mobil milik David melewatinya cowok itu udah pulang, batin Dinda.
Dinda turun dari mobil taksi setelah membayarnya, dia melihat David yang sedang berdiri di depan rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Dinda lembut, jika udah halal nanti ingin sekali rasanya Dinda mencium tangan David, cuma dia laki-laki yang Dinda harapkan.
"Waalaikumsalam, maaf ya gak bisa ngajak pulang bareng padahal dari satu tempat," ujar David jujur saja dia begitu ingin mengajak Dinda pulang bersamanya.
Dinda tersenyum, "Tidak apa-apa, oh ya ada apa?" tanyanya penasaran.
"Bagaimana kabarmu Din?” tanya David mencoba menatap wanita di depannya, wanita yang begitu ia rindukan.
“Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri bagaimana?"
“Baik juga," kata David sambil tersenyum senang mendengar bahwa Dinda selama ini baik-baik saja.
Mereka sama-sama terdiam dalam pikirannya masing-masing, hubungan mereka belum jelas namun sangat terlihat jika keduanya memiliki perasaan yang sama, rindu yang tertahan akibat terpisah membuat jeda selama 5 detik, sebelum akhirnya David ingat sesuatu.
"Nih buat kamu!" David mengulurkan sebuah kotak cantik berwarna hijau dengan ada pita di atasnya.
"Maksudnya apa Dav?" Dinda bukan tipikal orang yang mudah menerima barang dari siapapun tanpa keterangan yang jelas.
"Hadiah mohon diterima ya Din, saya harus pergi lagi nih buru-buru." David akhirnya berpamitan kepada Dinda untuk kembali ke masjid bersama teman-temannya.
Tugasnya sudah selesai memastikan Dinda pulang dengan selamat sampai rumah dan memberikan cewek itu hadiah.