Cinta Kuli dan Misteri

Hantu di Pabrik

Byar!

Listrik hidup kembali, lampu menyala dan sangat terang kini. Alhamdulillah. Aku pun bersiap menyelesaikan rekapan lagi sehingga malam ini harus tuntas dan disodorkan pada bos Tama. Tidak ada waktu lagi, harus cepat agar bisa cepat pulang.

Tiba – tiba aku mau buang air kecil, mendadak sekali. Aku tinggalkan kerjaan untuk mendata rekap. Aku izin dengan mereka yaitu para mandor yang masih menghitung – hitung. Aku izin ke kamar mandi dulu. Mereka pun mengangguk dan mempersilakan aku untuk pergi ke kamar mandi.

Aku bergegas, menelusuri tempat koridor dan pabrik yang besar itu. Saat aku memasuki kamar mandi, aku segera masuk salah satu kamar mandi dan menutupnya perlahan. Aku pun membuang air kecil dan rasanya memang sudah tak tahan dan ingin segera keluar saja.

Sambil buang air, terdengar obrolan dari dua orang yang tengah berada di ruang longar sebelum memilih kamar mandi yang mau digunakan. Ruangan lebar itu memang sering digunakan setelah buang air kecil dan untuk cuci tangan serta wajah.

”Tidak biasanya mati lampu segala,” sapa salah satunya dan aku mendengarnya dengan jelas karena bagian atas kamar mandi terbuka lebar sehingga percakapan mereka terdengar.

”Memang benar. Tidak biasanya sakelar sekreng bisa mati dan menurun sendiri. Kalau bukan industri sih bisa saja karena kelebihan beban akhirnya listrik down dan mati sendiri. Tapi kalau di pabrik kita ini, sudah dipasang beberapa komponen canggih sehingga sekela sekreng tidak mungkin bisa turun down.”

Penjelasan salah satunya lagi. Mereka yang paham segala hal yang berkaitan dengan pengelolaan sarana dan prasarana termasuk pembenahan listrik jika terjadi kerusakan ringan. Jika sudah besar kerusakannya maka akan langsung menghubungi petugas PLN agar segera diselesaikan. Kali ini, listrik yang tiba – tiba padam harus dicari penyebabnya. Jangan sampai hal itu terulang karena pasti bos Tama bisa marah karena jika sudah teledor mati listrik maka usahanya akan mengalami kemuncuran meskipun beberapa detik saja.

”Ah! Mungkin karena malam hari arusnya tak stabil dan listerik di pabrik otomatis mati. Hal itu bisa saja terjadi tentunya.”

Aku masih mendengarkan percakapan mereka, hingga suara mereka berdua tak terdengar lagi. Dan, saatnya kembali karena kondisi sudah baikan tentunya. Namun, saat aku sudah selesai dan hendak keluar. Beberapa orang terlihat akan masuk, aku pun diam dulu di kamar mandi itu. Mereka sepertinya hendak masuk ke kamar mandi juga. Di ruangan besar kamar mandi pria ini ada sekitar 12 kamar mandi berjejer. Aku tertahan sejenak karena sepertinya mereka ramai masuk.

Aku diam, suara mereka sangat lirih, ada yang aneh. Seperti kumpulan penjahat saja, aku jadi mikir kayak detektif akhirnya. Aku pun tertawa dalam hati, he... he... he...

”Sudah pergi semua!” Salah seorang diantara mereka berbisik namun aku masih mendengarnya. Sepertinya ini benar – benar ada sesuatu. Aku pun perlahan menaikkan kakiku ke undakan kamar mandi. Aku perlahan naik agar kakiku tak terlihat jika ada yang melihat dari bawah.

Benar saja, aku lihat ada yang bergerak untuk melihat memantau setiap kamar mandi. Mereka mungkin sudah merasa ada yang keluar yaitu satpam tadi. Aku semakin membungkam mulutku. Siapa mereka dan mau apa? Adakah niat jahat?

”Persiapkan segalanya, kita putuskan saja kabel pusatnya!” Nadanya tegas namun lirih.

Aku masih diam dan berusaha tidak bersuara, bahkan napasku aku tahan agar tidak terdengar ada desahan napas meskipun kecil.

”Rinto! Kamu siapkan kainnya ya!”

”Siap Bos!” jawab salah satu dari mereka.

Aku semakin yakin, ada yang tidak beres ini.

”Saat waktunya tepat, kamu lakukan apa yang kita rencanakan!”

”Baik Bos!”

Ada apa ini? Benarkah aku berada pada diskusi soal kejahatan yang sedang mereka rencanakan. Aku hanya diam, tak berani bergerak dan bersuara bahkan aku duduk di pinggir bak mandi agar aku tak terlihat dari bawah karena di bawah pintu memang ada lubang sehingga jika ada orang yang kencing pasti ketahuan dari kakinya.

Mereka pun sepertinya bersiap dan meninggalkan kamar mandi itu perlahan dan hati – hati, aku dapat merasakannya. Setelah beberapa menit, aman dan tak ada siapapun. Suara senyap, aku keluar perlahan dan mengendap keluar dari kamar mandi. Aman.

Aku berjalan pelan dan seolah tak terjadi apa – apa, aku melewati koridor panjang dan aman tak ada kendala. Aku pun menuju ruang depan dimana yang lain berkumpul juga disana. Mereka menanyakan kepadaku kenapa cukup lama, aku bilang kalau perutku sakit.

”Aku kira kamu ketemu hantu dan lari mas Adnan, he.. he...,” itu suara Andi, aku pun tersenyum saja atas ejekannya itu.

”Mana ada hantu mau nakutin saya mas Andi, lha mereka lihat wajah hitamku saja pasti mereka yang kabur duluan.”

Kami pun tertawa dan mengerjakan tugas kami kembali. Katanya malam ini bos Tama akan membagikan uang kepada para mandor untuk dibagikan pada pegawai di bawah pengawasan kami masing – masing. Setidaknya, besok mereka akan langsung dibagikan. Jadi, tanggungjawabnya akan diberikan kepada masing – masing mandor.

Hal ini, karena bos Tama akan pergi besok pagi dan ada urusan mendadak di kota dalam rangka perjanjian bisnis baru yang akan menerima karnel. Katanya, ada yang menawarkan harga tinggi untuk karnel dengan kualitas satu tersebut. Bos Tama tertarik makanya hari ini lembur dan akan dihitung langsung. Hal itu disampaikan Fahri barusan, dia dapat kabar itu dari bos Tama langsung.

Tapi..., kemudian aku jadi berpikir. Soal orang – orang di kamar mandi tadi, apakah ini semua berhubungan dengan apa yang mereka rencanakan? Jika ia, maka apakah orang – orang itu ingin merampok kami? Jika itu benar, maka bisa kacau semau uang pekerja tidak akan dibagi, ini bahaya!

Tapi... itu jika benar. Jika mereka punya rencana lain, aku pun belum tahu. Siap – siap saja, apa pun bisa terjadi. Tapi, bukankah tadi mereka mengatakan kalau mereka akan memutus kabel, apa mungkin mati lampu yang tadi adalah ulah mereka? Bisa saja begitu, aku harus bicara pada siapa ini? Ya, kalau mereka percaya kalau tidak bagaimana juga.

Aku segera menyelesaikan rekap bagianku, aku percepat saja dan semoga tak terjadi apa – apa. Aku menyelesaikan jadwal harian karyawan dengan cepat, tiap orang aku conteng dengan benar, aku cek lagi. Harian mereka juga sudah aku lihat kecocokannya masing – masing, jika sudh terlihat tak berangkat maka harian hari itu akan terlihat rata – rata pendapatannya.

Aku percepat dan selesai. Aku menunggu yang lain, apakah mereka juga sudah. Ternyata belum, aku pun mendata jatah gaji tiap orang di bawah pengawasanku, mereka semua berbeda sesuai keberangkatan hari itu dan juga target hari itu. Kemudian bonus karena target terpenuhi, masing – masing orang.

Beres, semua sudah kutotal satu – persatu, total jumlah juga sudah kubulatkan semuanya. Totalnya tujuh puluh lima juta Enam ratus dua puluh tiga ribu rupiah atau Rp 75.623.000. beres, aku  menengok yang lain, mereka semua masih saja berkutat. Aku sendiri yang gelisah ternyata, mereka semua santai dan masih menjumlah – jumlah dan melihat pegawai yang berangkat dan tidak. Kenapa aku jadi gelisah begini?

Detik jam di atas dinding seperti terlalu dekat denganku.

Tik! Tok! Tik! Tok!

Begitu terus, sampai aku melihat satu dua orang mandor itu menggeliat dan senang, tanda mereka sudah selesai.

”Kamu sudah selesai Mas Adnan?” mas Fahri melihat kearahku.

”Iya, sudah dari tadi Mas,” aku menjawab seperlunya.

Semuanya selesai total, tak ada yang terjadi. Andi berdiri dan berkata akan mengatakan pada Bos Tama kalau semua sudah selesai. Kami dimintanya mengumpulkan jumlah catatan yang harus dipersiapkan. 11 catatan pun terkumpul. Andi membawa catatan itu semua memperhatikan sekilas dan kemudian ke ruang bos dan mengetuk pintu, sedetik kemudian dia masuk.

Aku gelisah, sepertinya pak Jarwo melihatku.

”Kenapa mas Adnan, sepertinya kamu gelisah dan ingin segera pulang saja. Gak biasanya kamu begitu?”

”Eh... Eh gak pak Jarwo, gak ada apa – apa. Cuma rasanya kok lama banget malam ini ya.”

”Wah...., jangan – jangan kamu takut hantu nih mas Adnan,” canda pak Jarwo dan diteruskan yang lain ikut tertawa.

Selang beberapa lama, akhirnya bos Tama dan Andi keluar dari ruangan. Ada beberapa bungkus yang sudah disiapkan bos tama yang dimasukkan dalam kardus. Seperti biasanya, Andi yang membawa kardus itu dan memanggulnya. Andi itu memang tangan kanan terbaik bos Tama. Isi kardus itu seperti biasanya uang bertumpuk, kalau sudah begini rasanya seperti mau lebaran saja.

Bagi – bagi uang. Ha... ha... ha..

Kekhawatiran dan kegelisahanku hilang sudah karena melihat tumpukan uang yang di panggul Andi itu. Andi menaruhnya di meja dan dia menatap kami semua sambil tersenyum, senyum khas seperti biasanya, artinya semua beres!

”Jadi..., kalian semua. Ini uang untuk masing – masing kelompok kalian, sudah saya hitung dengan Andi seperti biasanya dan sudah kusesuaikan dengan catatan kalian. Andi, bagikan!”

Perintah bos Tama, seperti biasa nanti setiap bungkus itu sudah ada nama dari masing – masing mandor dan kamilah yang akan membagikan pada mereka, pegawai yang berada dalam pengawasan kami.

”Siap Bos!”

Saat kedua tangan Andi hampir menyentuh kardus. Tiba – tiba saja.

Klap!

Mati listrik lagi. Suasana jadi gelap dan mencekam.

Pikiranku langsung membayangkan kejadian tadi di kamar mandi, inikah yang akan terjadi?

”Kemana para Satpam! Panggil satpam cepat!”

Suara teriakan bos Tama terdengar. Suasana tengah malam yang mencekam di pabrik, tapi aku tahu satu hal kini. Ini bisa jadi rencana para penjahat tadi. Mas Fahri di sebelahku, aku menepuk pundaknya, meski gelap suaranya masih terdengar dan aku hapal suara itu.

”Mas Fahri.”

Aku berbisik pelan pada Fahri. Fahri malah menjingkat dan hampir berteriak, sepertinya dia kaget.

”Mas Adnan, jangan ngagetin kenapa. Saya kira hantu berbisik tadi.”

”Stttt!” aku memintanya untuk diam.

”Ada apa Mas?” Fahri berbisik pelan di dekatku.

”Kalau ada apa – apa, kita harus siap Mas,” Aku memelankan suaraku, mungkin hanya aku dan Fahri yang mendengarnya.

”Jangan menakutiku mas Adnan, aku sudah gemetaran ini.”

Aku menepuk agak kuat pundak Fahri, ”Ingat ya mas Fahri, kalau ada apapun jangan lari. Aku takut ada yang berniat jahat!”

Mas Fahri diam sejenak. Dia berpikir juga, apalagi ini tadi uang baru saja di taruh di depan mereka.

”Kalau ada apa – apa, bantu aku Mas.”

”Oke siap mas Adnan.”

Kami memang agak berbisik. Tidak ingin membuat orang lain takut. Semua masih berisik sendiri – sendiri. Yang lain masih komplain dengan PLN dan semacamnya, soal mati lampu memang membuat susah!

Saat itulah, ada suara deruman yang cukup membuat bulu kuduk merinding. Suara itu dari luar, dari arah pintu dalam terlihat ada sorot lampu yang bergerak dan mendekat.

Andi langsung berteriak, suaranya aku hapal, ”Apa itu Hantu!” yang lainnya mulai berdesakan dan saling menempel. Apakah ini mereka? Pikiranku masih melayang pada kejadian tadi di kamar mandi. Apalagi soal kain yang aku dengar tadi.

Dan benar saja, suara tawa cekikikan seperti suara seram hantu wanita dalam film horor terdengar amat menakutkan dan langsung membuat bulu roma berdiri. Semua orang semakin berdesakan dan ada yang pontang panting terdengar berlari keluar. Dari pintu dalam itu, ada kepulan asap seperti kabut dan muncul dua sosok putih yang keluar kepalanya dari masing – masing sisi pintu.

Putih dan ada pengikat di ujung kepalanya.

”Pocooonggg!”

”Pocooonnnggg!”

Semua berhamburan lari tak tentu arah, namun suasana masih gelap dan Mas Fahri aku pegang tangannya. Kami berkelebat bukan keluar, aku menarik tangan mas Fahri ke sisi lain dan bersembunyi di balik kursi jok besar di dekat sana dan aku membungkam mulut Fahri karena dia bernapas tak karuan karena menahan rasa takutnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!