Cinta Kuli dan Misteri

Kehilangan Sapi

”Sarapan Le!” suara Bapak mengagetkanku. Aku lagi menghitung jumlah bon yang dibayarkan ke kelompokku kemarin. Balance gak, ternyata balance. Enaknya pas bagi uang itu kalau sudah kelar, ada bonus buatku sebagai mandor untuk 30 orang, lumayan bisa buat beli ikan asin.

Aku bangun dan membiarkan kertas masih berserakan di meja. Biarlah, nanti juga dibereskan. Aku ikut nimbrung Bapak yang sedang makan. Ibu masih mengambil nasi dari magic com, lalu menaruhnya di wadah dan ditaruh di meja makan. Aku mengambil piringku, dan mengambil nasi cukup banyak, terasa lapar banget nih.

”Oya,” aku menaruh piring berisi nasi ke meja makan mengambil uang dari kantongku, ”Ini Mak, ada bonus gajian semalam. Buat nambahin Mamak beli lauk.”

Mamak menerima uang itu, ”Sering-sering gajian aja Le, sebulan empat kali kan enak Le.”

Hmm... Mamak nih bercandanya kebangetan. Tidak seberapa sih, uang itu sekitar Rp 500 ribu, yang lain aku tabung buat masa depan. Masa depan yang mana? Yang penting masa depanlah gak usah banyak tanya.

”Masak gaji bisa sebulan empat kali? Mamak ini bisa saja!”

”Ya, kan kalau perusahaan kita sendiri,” Mamak menimpali lagi, ”Sudah-sudah buruan makan, itu Bapakmu hampir selesai.”

Iya juga, malah asyuk ngobrol padahal udah lapar banget. Aku pun segera mengambil lauk, sambal ikan asin, ada ikan emas goreng dan sayuran. Mantap bener! Mamak memang yang terbaik deh.

Aku berucap doa dan memulai makan, menikmati suap demi suap makanan yang begitu menggoda. Rasanya lezat, tak perlu mewah yang penting dari hasil yang halal, itu berkah. Benar gak? Bener lah. Lha, ngomong sendiri lagi.

Bapak sudah selesai makan dan aku masih menikmati makanku, Ibu juga baru mengambil makannya dan duduk di kursi yang ada.

”Bapak mau pergi dulu ke rumah Yanto, katanya semalam sapinya hilang dicuri orang!”

Aku merasa heran, lha kan si Roni semalam ronda?

”Lha, kok bisa ilang Pak? Bukannya banyak yang ronda semalam?”

Bapak menengok ke belakang saat mendekati pintu hendak pergi, ”Semalam katanya yang ronda pada pulang jam satu, katanya pada ketakuan karena ada hantu!”

Bapak pun pergi keluar. Aku berpikir lagi, kejadian demi kejadian hantu dan klenik selalu diceritakan dan dibuat masyarakat ketakutan. Bahkan, semalam dirinya juga bertemu dengan pocong dan langsung lari. Apakah memang hantu beneran atau ada orang yang memang menggunakannya untuk niat jahat? Benar juga. Pikiran melayang, daya imajinasi meningkat, otak detiktif terangkat.

”Buruan makan, makan kok melamun!” Ibu menepuk pundakku tiba-tiba.

”Astaghfirullah!” Aku kaget dan hampir saja makanan yang sedari tadi aku kunyah dan belum aku telan hampir saja keluar semua. Ada yang keluar sih tapi sedikit karena kaget, benar tadi aku melamun terus.

”Mamak, Pelan dong! Lha, Adnan lagi makan ini!”

”Makan sambil melamun sih. Usah dihabiskan lalu kembali kerja. Kamu hari ini shift jam berapa?” Mamak sudah selesai makan, lha cepet banget? Kulihat, Mamak langsung mencuci piringnya. Aku mempercepat makanku.

”Habis dhuhur Mak.”

Mamak kemudian manggut-manggut dan mengumpulkan piring hendak mencucinya, ”Ingat Le, hati-hati kalau sampai lembur. Kamu bawa teman saja, sekarang situasi malam mencekam. Banyak hantu dan banyak penjahat!”

Aku diam saja mendengarkan Mamak berbicara sambil menumpuk piring dan perkakas pasca memasak. Aku memikirkan hal itu, desaku dan beberapa di desa sebelahnya memang aneh. Hantu semua dipercaya, klenik dan dukun masih dipercaya dan juga paranormal masih sangat laku disini. Juga, ada Kyai yang ikut meramaikan bursa klenik, tapi pak Kyai tentu saja menggunakan bacaan ayat ayat Quran.

Yang jelas, kampung ini seperti sarangnya hantu saja. Beberapa kali juga pas ronda menggantikan Bapak, ada saja orang yang menaruh menyan di beberapa titik perempatan jalan. Ada buah dan kemenyan dan dupa yagn dibakar. Bahkan ada snack dalam wadah, memangnya setan makan snack kekinian; chiki, wafer, permen dan kerupuk?

Ada ada saja.

Baiklah, saya akan keluar dulu sebentar ke tempat lek Yanto. Kasihan sapinya hilang dicuri orang, gara-gara yang ronda ketakutan karena hantu. Beginilah kalau orang pada takut sama hantu, kita harus berani menghadapi hantu. Dimanfaatkan juga akhirnya sama penjahat sehingga mereka menyamar jadi hantu dan diambil tuh sapi punya orang. Ini tak bisa dibiarkan, harus membuat warga desa berani. Lha.., tapi tadi malam saja aku kabur ketakutan!

Atau jangan-jangan, hantu tadi malam adalah penjahatnya? Bisa jadi!

Baiklah, kita lihat situasi dulu. Setelah itu bertanya pada Roni yang ronda semalam. Aku bergegas mengganti bajuku dengan kaos santai dan keluar. Sekalian menambal motorku yang bocor semalam. Aku menuntun motor, kutitipkan pada tukang tambal dan aku berjalan lagi menuju rumah lek Yanto. Disana pun masih ada beberapa orang yang ramai saling berbincang dan bercerita.

Bapak juga masih disana mengobrol dengan pak Sartono yang merupakan Kaum desa. Aku mendengar desas desus beberapa orang yang masih asyik bicara kalau orang yang ronda yang malah pulang karena ketemu hantu. Saat itu mungkin sepi, sehingga penjahat tahu kalau tak ada yang ronda dan menggasak sapi milik Yanto.

Selain itu, di kandang sapi Yanto di belakang rumah itu ada dupa dan kemenyan yang ada di pinggir rumah. Kata orang itu adalah ajian sirep yaitu orang yang dituju akan tertidur pulas dan tak mengetahui apapun. Ajian sirep ini seperti ajian untuk membuat orang tidak bangun sama sekali. Kalau jaman sekarang mungkin obat tidur yang diminum, cespleng dan membuat kita tidur tanpa tahu apa yang terjadi. Pokoknya tidur nyenyak senyenyak-nyenyaknya.

Inilah desaku, semua dikaitkan dengan klenik. Bahkan penjahat saja menggunakan cara klenik, bahkan beberapa orang bercerita kalau banyak orang yang memelihara tuyul, babi ngepet dan lain sebagainya untuk pesugihan.

Untuk desa yang penuh dengan klenik, terkadang bicara ilmiah terlalu sulit. Kalau dibawa yang mitos langsung diterima begitu saja. Inilah yang terjadi, kalau kamu memang ingin melihat hantu seringlah datang ke desaku. Tapi entah, setan itu asli atau bukan, atau bahkan memang dipanggil jadi setan suka kalau merasa dikasih perhatian.

Aku mendekati Roni yang masih duduk di teras. Wajahnya masih sedikit pucat, aku duduk di sebelahnya.

”Ron, semalam kamu benar-benar melihat hantunya?”

”Ya iyalah Adnan, masak saya bohong! Semalam saya ronda bersama Wahyu dan Wanto. Nah, saat itulah kami berkeliling dan mendekati ujung desa sebelum kearah rumah tua. Saat itu, kami melihat kabut yang cukup tebal. Nah, saat itulah hantu itu muncul. Dan, kita langsung lari terbirit – birit.

Masih tak percaya, kisah mereka sama denganku sewaktu malam itu. Namun, aku tak begitu jelas melihat hantu itu. Cuma kelebatannya saja, karena saat itu bulu kudukku sudah merinding duluan dan aku tak berpikir banyak karena hawa gelap dan temaram membuatku memang langsung merasa itu hantu.

Namun, berbeda dengan kisah Roni yang diceritakan padaku barusan. Roni berkisah bahkan dirinya merasa tak takut awalnya karena dirinya bersama Wahyu dan Wanto. Kalau sendiri mungkin orang sudah ketakutan. Ini tiga orang yang sedang ronda masalahnya. Mereka pun hendak kembali ke kampung lagi karena dirasa sudah mencapai ujung desa. Namun, ada suara seperti lolongan serigala yang tiba – tiba terdengar oleh mereka.

Mereka pun saat itu saling bertanya dan benar mereka mendengar suara yang sama. Saat mereka menoleh bersamaan ke arah belakang itulah, muncul sosok putih dengan wajah putih dan wajahnya itu bercahaya. Mereka pun langsung berlarian tak tentu arah dan menabrak apa saja yang ditemuinya. Bahkan, Wahyu yang menabrak batang pohon pisang jatuh dan dia sempat melihat hantu itu masih berdiri dan memperhatikannya. Wahyu pun pontang – panting dan berlari.

Setelah kejadian itu tentu saja mereka tak meneruskan ronda mereka dan ternyata pagi sekali saat subuh. Yanto baru sadar kalau sapinya hilang dua ekor.

Hmmm... aku mendengarkan kisah seksama dari Roni. Memang ada yang ganjil sepertinya. Apakah memang kerjaannya mereka yang punya niat jahat. Aku yakin benar itu sekarang. Namun, masyarakat malah mengaitkan dengan hal klenik. Ada yang menyebut sapi Yanto untuk tumballah, atau memang maling dari jarak jauh dan memindahkannya dengan ilmu sihir.

Aku sendiri geleng – geleng kepala. Kalau memang bisa memindah suatu benda dengan sihir, kenapa harus sapi kenapa tidak di bank saja pindahkan uang banyak itu ke rumah mereka yang bisa melakukannya.

Semakin aneh dan semakin membuat penasaran.

Roni pun pamit, dia juga ada kerjaan. Dia bekerja menyetir mobil yang digunakan untuk sateran ke pabrik sawit atau pabrik karet. Dia bagian penyetoran jasa angkutan.

Baiklah, ini menjadi PR dan bahan pemikiran. Aku pun pamit, karena nanti siang harus bekerja lagi. Soal hantu, kita coba pikirkan bagaimana orang harus berani dan menyelesaikan kasus yang sering terjadi dan jangan jadikan serial hantu begitu menakutkan sehingga orang takut beraktivitas.

Bahkan, klenik juga semakin merajalela dan profesi sebagai dukun menjadi barang mewah dan untuk mencari pekerjaan. Kan lucu, jika ada akademi pencarian dukun berbakat. Ah! Memang aneh kan?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!