Cinta Kuli dan Misteri

Nisan Kayu

Benar saja, aku memanjat pohon beringin besar itu dan mencari dahan besar nomor dua dari bawah. Ada bekas lilitan tali yang kuat disana, bahkan talinya masih ada dan diputus begitu saja. Jika memang ini benar, maka ada orang yang memang membuat jeratan ini dan membuat orang – orang ketakutan.

Aku semakin yakin kalau memang ada orang di balik ini semua sehingga dia membuat jarak agar orang tidak masuk terlalu dalam di hutan bambu.

Tentu, ada sesuatu yang disembunyikan disana. Aku semakin penasaran dengan semua misteri dari rumah tua peninggalan almarhum mbah Pati. Setidaknya, aku ingin membersihkan nama baik dari almarhum mbah Pati yang sejak hidupnya orangnya baik, dan dia juga yang membantu membiayai sekolahku bahkan.

Jadi, aku harus membalas budi padanya.

Masih ada waktu sebelum aku bersiap berangkat kerja. Aku pun perlahan memasuki areal pohon bambu. Sedikit mengendap sebagai antisipasi, siapa tahu ada sesuatu disana. Karena rimbunnya barisan bambu itu, bahkan seperti berada di tengah hutan yang sangat lebat dan pandangan seolah tertutupi pohon bambu.

Ada jalan setapak memang, jadi memudahkan siapa saja untuk jalan kaki seperti ada setapak yang meliuk diantara pepohonan bambu itu.

Aku perlahan berjalan kaki, biar motorku di perbatasan tadi. Sudah kukunci dan aku amankan dengan baik di bawah pohon jati. Kini, karena rasa penasaranku. Aku pun terus melewati jalan setapak itu menuju rumah tua, siapa tahu ada sesuatu yang bisa aku temukan disana.

Selain itu, masyarakat lagi kumpul di balai desa dan semua tengah sibuk mengambil bagian bantuan dari pemerintah berupa pupuk. Karena aku sudah mendapatkan dan pulang, kini aku punya kesempatan untuk menyelidiki rumah tua itu.

Wussshh!

Angin semilir menerpaku, seperti angin lembut yang membelah. Tentu saja, angin yang kencang itu menabrak pohon – pohon bambu dan sisanya dapat melewati celah antar pohon bambu. Tapi angin ini sedikit aneh, seperti jarum kecil – kecil yang menusuk kulitku.

Kenapa bulu kudukku tiba – tiba berdiri? Ada perasaan seperti ada yang memperhatikanku meskipun aku sudah mencoba menghilangkannya. Aku pun memejamkan mataku sejenak dan membaca ayat kursi.

Entah  kenapa, aku merasa merinding tiba – tiba.

Siang hari lagi, kenapa bisa? Berada di antara pepohonan bambu yang menjulang tinggi memang serasa ada di kegelapan. Hanya sedikit sinar matahari yang masuk karena lebatnya pohon bambu. Suasana siang seperti sore hari mendekati maghrib.

Saat itulah, saat aku membuka mataku perlahan. Ada sekelebat bayangan putih yang melintas di depanku sekitar 10 meter. Karena tertutupi dengan bambu yang lebat, itu seperti orang lewat berbaju putih.

Aku gemetar dan menutupi mulutku sekuat tenaga agar tak ada suara. Hantukah itu? Aku terduduk gemetaran. Wajah orang itu tak terlihat, tapi dia seperti tenang berjalan.

Aku mengepalkan tanganku selanjutnya. Aku tak boleh takut, siapa tahu itu adalah mereka yang membuat isu misteri di desaku. Aku menguatkan kaki dan tubuhku, kelebatan putih itu terus melaju ke depan.

Ini kesempatanku! Hantu atau bukan, aku tak peduli lagi.

Aku kan Super Adnan, satu – satunya anak Mamak yang pemberani. Ha.. ha.. ha.. hatiku tertawa kecil, padahal itu untuk menutupi ketakutanku sebenarnya.

Tak peduli. Aku harus mengikuti orang berbaju putih itu. Aku mengendap agak cepat dan menunduk. Seperti orang yang rukuk, aku terus mengikuti bayangan putih itu. Dia belok, aku pun mengikutinya. Sambil menutupi diri diantara pepohonan bambu.

Srak! Aku berhenti tiba – tiba.

Bayangan putih itu berhenti. Orang itu seolah akan menengok ke belakang, aku pun langsung menunduk dan menyembunyikan diri. Sedetik kemudian aku mulai mengangkat kembali kepalaku, mataku langsung terbelalak karena orang itu hilang sekejap mata.

Aku mengedarkan pandanganku berkeliling kesana kemari, tak ada apapun. Atau, dia tahu ada yang mengikuti dan bersembunyi juga. Aku waspada sekarang dan bersiap siaga jika memang harus berhadapan dengan orang itu.

Aku perlahan mendekati tempat orang itu menghilang. Dan disana, tepat di ujung barisan pohon bambu. Sekitar 30 meter di depanku sana, rumah tua peninggalan almarhum mbah Pati. Rumah itu tampak dari belakang.

Hanya beberapa pohon bambu di depanku. Sekitar dua meter dan itu adalah batas pohon bambu. Aku jadi berpikir, apakah orang berbaju putih itu lari kearah rumah tua itu? Atau...

Tidak mungkin, jika dia lari maka aku akan bisa melihat arah larinya. Tapi, ini benar – benar menghilang.

Aku pun melangkah semakin mendekati rumah itu dan akan keluar dari pepohonan bambu itu.

Dug!

”Aduh!” Aku tersandung dan jatuh. Kenapa ada benda pendek yang menyandung langkahku, mungkin karena aku terlalu fokus melihat ke depan. Aku memperhatikan benda yang tersandung kakiku.

Ini... nisan kayu?

Aku membersihkan kayu itu, benar itu adalah sebuah nisan karena ada dua yang berjarak sekitar kurang lebih 2 meter. Aku mengusap tulisan di kayu itu. Dan aku terkejut, Pati Nugroho. Apakah ini makam mbah Pati?

Kenapa aku tak pernah tahu kalau mbah Pati dikuburkan disini? Aku akan menanyakannya pada Ibu nanti. Tapi lelaki berbaju putih tadi siapa. Aku kembali mengedarkan pandanganku kesana kemari mencari pembenaran. Jika memang orang itu masih di sekitar situ atau tidak.

Namun, mataku tertuju pada batas pohon bambu dua meter di depanku.

Pohon – pohon bambu itu seperti ada batasan dengan lahan di belakang rumah almarhum mbah Pati. Seolah, ini dibersihkan. Aku mengecek dengan baik. Benar saja, pohon – pohon bambu dibersihkan agar tidak melebar. Lalu..., siapa yang selama ini membersihkan tempat ini?

Ada batasan, bekas pohon bambu itu terlihat. Benar – benar ada orang yang membabat pohon – pohon bambu. Dengan kata lain, ada orang yang selalu datang kesini.

Saat aku tengah duduk memeriksa dan benar saja memang setelah sekian lama, meski orang desa takut masuk daerah ini. Ini adalah tempat yang beberapa kali dimasuki oleh orang lain dan mereka membersihkan dengan baik tempat ini. Meskipun dari luar tampak rimbun dan seolah angker, namun disini bersih dan dibersihkan dari pepohonan bambu.

Ada suara kecil. Aku kaget dan sampai aku tidur tengkurap agar tak kelihatan dan mundur diantara pepohonan bambu.

Aku merayap di dekat nisan makam tersebut. Aku benar – benar menyembunyikan diri dan benar saja, ada dua orang sedang memanggul dua sak putih melewati belakang rumah tua peninggalan almarhum mbah Pati.

Siapa mereka? Dan kandi wadah putih itu apa?

Mereka masuk melalui pintu belakang rumah tua itu dan cukup lama mereka disana. Lalu, mereka mengobrol pelan sambil pergi lagi dan kandi itu sudah ditaruh di dalam rumah tua.

Mereka pergi. Ini belum pernah diselidiki oleh orang lain. Jadi memang benar ada aktivitas mencurigakan di rumah tua itu.

Aku melihat nisan itu dan dekat dengan wajahku. Aku melihat tulisannya, dan aku mengangguk jika aku akan membantu membersihkan nama mbah Pati. Dia orang baik, aku meminta izin pergi dan beringsut kembali.

Aku akan menyelidikinya lain kali lagi. Kali sudah sangat siang dan aku harus kembali bekerja. Tidak boleh terburu – buru. Siapa mereka itu dan kenapa mereka masuk rumah tua. Atau, hanya sekedar menitipkan barang semata.

Bisa jadi itu pupuk bantuan karena wadahnya seperti sama. Mungkin mereka titip terlebih dahulu dan akan mengambilnya lagi nanti. Bisa jadi.

Tapi, bukankah semua orang takut tempat ini?

Aku masih penasaran, namun bergegas pergi dan mengambil motor lalu pulang. Penasaran dan masih penasaran. Namun, aku harus kerja dulu, aku tak boleh bolos kerja. Kapan – kapan lagi, penyelidikan akan aku lanjutkan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!