Cinta Kuli dan Misteri

Hanya Salah Paham

”Jadi begitu?”

Aku bergumam pada mereka bertujuh yang duduk di ruangan L rumah tua bekas rumah mbah Pati itu. Aku baru menyadari setelah kami duduk bersama dan bercerita duduk persoalan sehingga mereka bersama menuju rumah ini.

Nyatanya  mereka tengah syuting tantangan realita horor, Tantangan Mental. Salah seorang berani menantang untuk duduk di tempat angker selama 2 jam saja dan hadiahnya Rp 5 juta rupiah. Itu juga merupakan tayangan tv terlaris horor saat ini.

Jadi, si lelaki yang bersila dan menunggu lilin adalah penantang yang sedang syuting dan tim syuting sudah menaruh kamera di depannya di dekat dinding. Penantang akan ditinggalkan di tempat lain dan merekam dirinya selama dua jam.

Saat itulah aku datang dan mengacaukan segalanya.

Aku baru mengerti sekarang. Dua orang yang aku temui saat di rumah makan Mang Krimo adalah salah satunya penantang dan satunya yang mengantarkannya.

Aku pun meminta maaf karena hal itu, aku menceritakan kalau aku lewat karena lembur kerja dan melihat ada yang mencurigakan di rumah tua milik almarhum mbah Pati makanya akau ingin melihatnya dan tersandung saat pintu itu.

Mereka semua memakluminya dan kesalahpahaman pun dapat diselesaikan. Aku kembali meminta maaf, apalagi memang syutingnya juga sudah meminta izin pada aparat desa dan kepala desa sekaligus datang.

Setelah itu, aku pun izin pulang. Ada – ada saja, cuma adegan tantangan horor? Aku mengendarai motorku kembali, memang dunia sudah aneh saja. Tantangan untuk betah berada di tempat angker dan itu disiarkan televisi.

Tentu saja nanti akan dipoles demikian mistis dan horor sehingga penonton ketakutan saat melihatnya. Apalagi ditambah adegan bumbu drama dan juga musik yang seram. Penonton saja sudah ketakutan duluan saat mendengar lagu yang horor.

Aku lanjut mengendarai motorku, mataku juga sudah sangat lelah dan mengantuk. Setan sekarang juga selain ditakuti menjadi promosi yang menarik untuk menjadi uang. Jadi, setan sebenarnya sedang dieksploitasi demi kepentingan segelintir orang untuk memanfaatkan orang – orang yang ketakutan dengan hantu dan setan.

Semakin banyak orang yang takut akan setan, semakin kuat pula bisnis untuk membuat uang. Semakin banyak yang membicarakan artinya semakin uang melimpah dalam mata segelintir orang.

Hmmm... memang seperti itulah. Sampai di rumah, aku pun langsung istirahat. Lelah sekali rasanya hari ini.

@ @ @

Bangun pagi seperti biasanya, Mamak membangunkanku. Shalat subuh di masjid, semalam benar – benar kelelahan aku dan meminta Mamak membangunkanku.

Segar rasanya meski badan masih pegal – pegal. Teringat kisah semalam dimana Andi tega melakukan hal kejahatan meskipun hanya sebagai penunjuk bagi penjahat. Dia dapat bagian dan seolah tak ingin terlibat kejahatan.

Mana bisa?

Orang yang ikutan merencanakan kejahatan ya jelas sama jahatnya bukan meskipun tidak melakukan kejahatan itu. Kita contohkan, menjual minuman keras sama saja dia juga berdosa meskipun tidak meminumnya.

Ah sudahlah! Aku bangun dan mengambil air wudhu, mengambil sarung dan peci hitamku. Bapak sudah berangkat, selalu begitu. Ha.. ha.. ha..

Aku melangkah pergi, ibu sedang memasak seperti biasanya. Saat keluar rumah, aku bergegas pergi, malam masih menyisa dan udara dingin pagi masih menyergap kulit.

Aku melangkah terus menuju masjid, di depan sana ada perempuan memakai mukena. Rumahnya hanya beberapa rumah sebelum masjid. Dia Nadia, anaknya pak Kusrin. Dia adalah bunga desa, agamanya bagus dan bapaknya adalah seorang kaum desa.

Nadia keluar dari pagarnya, sudah dekat. Seperti biasa, aku bergaya melangkah melintasinya dan duluan.

”Assalamu’alaikum Nadia...,” sapaku padanya.

”Wa’alaikumsalam mas Adnan.”

Suaranya benar – benar merontokkan jantungku, seperti tersetrum listrik tiba – tiba. Berharap bisa dengar suaranya yang lembut itu saja sudah merupakan anugerah. Apalagi berharap jadi isteriku, Ah! Kiamat kali kalau memang dia tertarik padaku. Ha.. ha.. ha..

”Mas Adnan, tunggu!”

Benar – benar kiamat!

Aku melambatkan langkahku, kudengar suara langkahnya mendekatiku agak tergesa – gesa. Suasananya begitu tenang dan sepi. Aku harap iqomatnya lama biar aku bisa berlama – lama bersama Nadia. Hmmm! Pucuk dicinta ulam pun tiba, artinya apa ya?

”Tadi malam mas Adnan di pabrik waktu ada kejadian perampokan di pabrik?”

Ooo jadi dia mau bertanya hal itu, cepat sekali beritanya menyebar ya. Terang saja, sekarang kan memang jamannya internet, sekejap mata saja bisa informasi menyebar bagaikan virus. Bahkan, bisa telponan dengan gambar, seperti video call, benar – benar canggih dengan teknologi seolah tidak ada jarak lagi di dunia ini.

”Iya dik Nadia,” penuh gaya, memanggil adik sok percaya diri banget aku. Tapi biarlah, meskipun tak bisa memilikinya cukup kan untuk sekedar merayunya saja. Aku pun tersenyum dengan manisnya pada Nadia.

Nadia nampak cemberut sedikit, ”Oya, apa benar kalau mereka memakai cara menakut – nakuti saat akan merampok?”

Sungguh tak biasanya nih Nadia bertanya padaku banyak hal. Biasanya dia pendiam dan pemarah, kenapa jadi dunia terasa begitu indah ya dengan ramahnya Nadia. Sungguh, Tuhan jangan iqomat dulu tahan sedikit lagi. Aku sedang bahagia bersama Naura ini ya Allah.

”Begitulah..., saat setan sudah ditakuti. Saat itu semuanya lari karena dua penjahat itu memakai baju pocong dan semua berlari karena ketakutan. Aku tentu saja tak ketakutan, aku bertahan disitu dan sembunyi sampai mereka menampakkan diri dan kami meringkus mereka.”

Aku menceritakan bangga dan mencoba mengambil hati Nadia.

”Yang benar saja, katanya yang melawan mereka kang Fahri dari desa Tanjung Indah.”

Ah! Iya juga ya. Aku kan yang meminta bos Tama dan Fahri agar yang bertarung memang Fahri. Ah! Jadinya aku tak bisa mengambil hati Nadia kali ini. Sial!

”Karena klenik, semua orang jadi seolah tak punya nalar lagi untuk berpikir. Bahkan tadi malam saja ada syuting di rumah tua bekas rumah Almarhum mbah Pati. Padahal mbah Pati dulu adalah guru ngaji...”

Nadia menatap ke arah jalan masuk desa. Seolah kecewa juga bahwa mbah Pati adalah merupakan arwah penasaran yang sering gentayangan.

Benar juga, dia sepemikiran denganku.

Iqomat berkumandang.

”Ayo ke masjid mas Adnan, sudah iqomat,” Nadia mengingatkan.

”Iya, oke,” aku mengiyakan.

Kami berjalan dan aku lebih dulu di depan.

”Dan mas Adnan, jangan berlagak berani kalau takut ya!”

Itu suara terakhir dari Nadia di belakangku. Benar juga, pahlawan tidak perlu untuk dikenal. Aku sendiri yang menyembunyikannya, jadi tak mengapa jika orang tak tahu. Aku tersenyum dan terus berjalan agak cepat.

Masjid sudah sampai dan aku masuk untuk shalat berjamaah.

@ @ @

Siang hari, katanya ada penyuluhan kesehatan di desa. Kepala desa, pak Norman memberi izin kepada dinas kesehatan untuk mengecek kesehatan gratis pada masyarakat yang mau mengikutinya.

Aku tugas malam sekalian nanti gajian, jadi sekarang aku menemani ibuku saja untuk mengecek kesehatannya.

Di posyandu, acaranya diadakan. Aku mengantar ibuku dan disana ada beberapa orang saja, mungkin 5 orang saja yang berada di depan posyandu itu. Ada Nadia juga bersama Ibunya. Wah, jodoh kali ya, bisa ketemu terus dimanapun berada.

Jodoh, jodoh, ijabah ya Allah, doakan juga ya temen – temen. Sayangnya, dia galak dan susah diambil hatinya. Itu yang sulit. Jadi..., jangan menyerah, sebelum janur kuning melengkung tak ada kata menyerah. Semangat, semangat! Aku meyakinkan diriku sendiri.

aku turun dari motor, Ibuku sudah duluan. Aku bergabung dan menyapa Nadia, seperti biasa dia datar tanpa ekspresi.

Tapi..., sudah pukul 09 pagi ini kenapa masih sepi ya. Petugas di dalam masih memeriksa satu orang ibu – ibu. Jadi..., yang datang tepat lima orang.

”Nadia..., kenapa sepi sekali ya?” aku mencoba memberanikan diri menanyakan hal itu pada wanita cantik berkerudung hijau itu. Masyaallah! Kecantikannya itu lho, kamu pasti tak akan percaya jika aku ceritakan padamu. Demi Tuhan, kamu tahu kan cantiknya Lisa Blackpink? Nadia itu tiga kali lipat cantiknya dengan Lisa Blackpink, bener sumpah samber geledek kalau aku bohong. He.. he..

Nadia celingukan seperti mencari sesuatu dalam pandangannya, kesana dan kemari.

”Benar mas Adnan, semua orang lebih percaya pada hal - hal mistis seperti dukun dan paranormal ketimbang percaya dengan medis. Desa kita ini benar – benar sudah terkena sihir.”

Penjelasan Nadia itu pelan dan penuh makna. Benar saja, setelah aku mengingat memang desaku seperti itu. Ketakutan pada hantu maupun setan seperti mengakar dan dilestarikan. Sesajen sering aku temui saat malam pulang dari tempat kerja.

Apakah memang sudah separah ini desaku? Bahkan untuk kesehatan gratis yang diadakan kepala desa saja tidak ada yang datang. Hanya sekitar 6 orang?

”Bagaimana kita menyadarkan penduduk desa agar tidak percaya hal – hal mistis ya mas Adnan?”

Sekali lagi, Nadia menatapku. Tatapan mata itu sungguh bagaikan sihir itu sendiri, tubuhku terasa langsung dingin. Seperti aku berada di pegunungan bersalju, tatapan mataku pun tertancap begitu dalam kepada Nadia.

”Bocah!”

Mamak menepuk pundakku agak keras.

”Apa Mak?” aku kaget dibuatnya.

”Kamu cepetan daftarin Emak, ini Emak mau ke sawah nganterin makanan buat orang yang panen sawit di tempat kita!”

”I... Iya Mak, sebentar!” aku menunduk pada Mamakku, gak tahu aja Mamak ini lagi Pede kate juga. Mengganggu saja, ”Sebentar ya dik Nadia, saya akan segera kembali.”

Aku tersenyum pada Nadia dan Nadia pun tersenyum sambil melihatku. Wah, degub jantungku terasa berdetak lebih cepat sepuluh kali dari biasanya. Ah! Memang bisa berdetak 10 kali lebih cepat! Kamu aja yang terpesona dengan kata – kataku, ha.. ha...

Aku masuk ke dalam, kutinggalkan Nadia yang tersenyum lucu kearahku. Memangnya aku lucu kali ya.

Sudahlah. Aku menuju petugas kesehatan dari kecamatan dan mendaftarkan nama Mamak. Fotokopi KK dan KTP aku serahkan dan mereka menulis beberapa tulisan, aku pun menulis juga dan aku berikan nomor antrian. Benar saja nomor 6, artinya kami nomor 6, sepi sekali.

Aku kembali kepada Mamak dan menyerahkan nomor antriannya, ”Mak, dapat nomor 6. Kalau mau lebih cepat lagi ya sogok saja petugasnya.”

Mamakku terlihat mendelik dan menepuk lagi pundakku keras, ”Bocah! Sudah disekolahin tinggi – tinggi malah ngajarin yang gak benar juga!”

”He.. he.. he..,” aku terkekeh, ”Bercanda Mak!”

Kulihat Nadia juga terkekeh lagi, ya Tuhan, sungguh baru kali ini aku melihat dia tersenyum dan tertawa begitu indah. Aku pikir dia bidadari yang tak tersentuh namun sekarang baru aku tahu kalau aku bisa bicara dan ngobrol dengannya.

Dia itu, Nadia. Sebentar lagi dia lulus kuliah, dia mengambil jurusan keguruan. Dan, karena anaknya pak Kusrin yang sering dipanggil pak Kyai itu, tak ada yang berani mendekatinya, mungkin. Ada sih, tapi karena mungkin tak pede saja.

Dia hanya menjadi seorang gadis idaman karena cantiknya dan akhlaknya yang baik serta orang yang rajin ibadah.

Saat giliran demi giliran dipanggil, aku dan Nadia ngobrol cukup akrab soal misteri desa, soal klenik di desa dan juga soal rumah tua almarhum mbah Pati. Kami sama – sama prihatin dan memikirkan bagaiman desa kami di Bulan Indah bisa menjauhi takhayul.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!