Cinta Kuli dan Misteri

Malam yang Sunyi

”Kopinya satu Mang,” seperti biasa, Aku memesan kopi di Warung Krimo. Mang Krimo adalah penjual yang sudah sangat lama mangkal di Desa Pucuk Lebah di ujung desanya. Warungnya itu memang berada di ujung desa, rumahnya paling ujung dari desanya. Sebentar lagi akan menuju bulak atau lahan areal perkebunan sepanjang 2 kilo meter. Setelah areal bulak itu, barulah desa Bulan Indah yang merupakan desa tempat tinggalku berada.

Malam mulai menyergap, sudah pukul 10.00 WIB. Dan, aku baru saja pulang dari pabrik dari tempat kerjaku. Aku hari ini kena lembur karena di pabrik singkong dan sawit tempatku bekerja sedang ada pembagian gaji. Aku salah satu mandor yang dipercaya dengan divisi beberapa orang dan mengawasi kinerja dan membagi gaji mereka.

Rasa lelahku mulai sirna, keringat masih deras terlihat. Aku memakai motor maticku dan rasanya aku ingin mampir seperti biasa dulu di Mang Krimo. Biasanya memang aku begitu, makanan di Mang Krimo semuanya enak dan harganya pas dan murah menurutku.

”Ini Bos!” Mang Krimo datang dengan segelas kopi, hitam pekat dan di bawahnya diberi piring cangkir kecil. Mantap nih, segera kugeserkan dan kudekatkan tepat di depanku.

Aroma kopi bubuk asli ini, mantap betul. Aromanya mampu membuat lelahku hilang, padahal belum juga minum hehehe. Ada ada saja, ya itulah namanya juga seorang buruh. Kalau tak bercanda, wah semua  badan pasti rasanya capek dan lelah. Dengan bercanda, meskipun pada diri sendiri setidaknya mengobati sedikit lelah.

”Habis gajian ya Bos?” lagi-lagi Mang Krimo mengagetkanku, padahal aku baru mau menyeruput sedikit kopinya. Mengganggu saja, dan panggilan Bos nya itu lho, lha aku aja masih bujang dan juga hanya mandor beberapa orang saja di bawahku, ya sama aja saya buruh. Halah, dasar Mang Krimo ini sukanya memuji orang.

”Mang Krimo! Ojo panggil saja Bos lah, kayaknya aku ini juragan saja lho. Ora patut, gak pantes. Panggil saja Mas ya Mang.”

Aku langsung menyeruput perlahan kopinya. Perlahan saja, pasti nikmat betul setelah kelelahan melihat antrean dan membagi honor para buruh,  lha aku kan juga buruh? Ah! Biarlah, minum kopi saja, pasti nikmat.

”Lha kan memang mas Adnan adalah Bos!”

”Astaghfirullah, buset Mang Krim! Dari tadi ingin menikmati kopi saja susah banget, baru mau minum diajakin ngobrol. Ntar dululah Mang, biarin aku menyeruput kopiku dulu!”

”Iya... Iya! Maaf mas Adnan, soalnya udah malam begini, ini kenapa juga sepi jadi tambah serem. Biarin ngobrol kan biar kelihatan rame! Hehehe.”

Dasar Mang Krimo, memang dah. Udah biasa jualan sampai pagi juga, masih takut hal-hal serem begitu. Hantulah, setankah, semua orang memang masih banyak yang percaya dengan hal seperti itu. Memang, di desaku sendiri di Desa Bulan Indah terkenal angker juga sih. Masih marak budaya dukun, paranormal dan orang yang punya ilmu kebatinan.

Hingga, di kecamatan kami pun memang banyak bertebaran dukun dengan pendapatan yang menggiurkan tentunya.

Namaku Adnan Rahmat, biasa panggil saja aku Adnan. Lulusan sarjana Teknik yang malah bekerja di pabrik. Entah nyambung atau tidak, yang jelas itu bisa buat menyambung rezekiku, makan pun bisa memilih menu, tak perlu antre menunggu, waktu lapar tinggal pesan menu.

Ah, sok sokan juga lah, yang jelas aku masih bisa menjalani hari-hariku. Sebagai bujangan yang masih ikut orangtua sih, gaji masih bisa aku tabung tentunya. Mungkin, pas aku kepengen baju baru saja jadi kubeli baju itu.

Ngapain aku ngebahas dukun dan segela macam horor sih. Lagian kan aku lagi minum dan menikmati secangkir kopi. Kopi memang pas banget, kalau dinikmati dengan segenap rasa dan melupakan segala hal masalah dan segala pikiran. Tenangkan pikiran, refresh dan minumlah kopi hangat dengan nikmat. Hmm.... rasanya... benar-benar seperti sedang duduk di singgasana ditemani 4 orang selir.

Apa-apaan, malah mikirin selir? Empat lagi, satu saja untuk isteri sampai sekarang belum dapat. Hah..., aku meletakkan cangkir isi kopiku lagi di piring kecilku. Aku menghembuskan napasku pelan, fiuh! Rambutku yang sedikit panjang membentuk poni terlempar keatas sedikit karena dorongan angin yang kuhembuskan.

Memang, nasib bujangan tak laku-laku.

Tapi tak mengapa, bukannya gak laku sih. Cuma belum menemukan yang cocok, pinter ngeles kan saya. Ha.. ha.. ha..

Kopiku habis, seperti kenikmatanku melamun juga habis. Jadi.., saatnya untuk pulang, sudah pukul 11.00 WIB. Wah, sudah malam ternyata.

”Mang, aku habis berapa nih? Tolong dihitung ya,” Aku menunjukkan beberapa wadah krupuk yang aku makan.

”Siap Bos! Habis apa saja selain kopinya?”

Aku melirik beberapa wadah, ”Kopi hitam satu, gorengan tahu bunting 3, bakwan 3, pisang goreng 3, kerupuk 3, cabe ijonya juga 3.”

”Masyaallah! Kenapa semua serba tiga Bos! Memang tadi dihitung semua ya pas makan biar pas?”

Apa sih Mang Krimo, wong aku memang makannya tiga tiga, gak perlu alasan mau klenik kayak amalan untuk memanggil tuyul saja.

”Udah hitung aja Mang! Masak hitung-hitungan soal jumlahnya, memangnya dukun.”

Mang Krimo cekikikan dan akhirnya komat kamit, seperti biasa. Kalau kita sibuk menghitung pakai kalkulator, dia komat kamit kayak baca mantra. Tapi ujungnya hitungannya mantap.

”Oke 13.000 Bos!”

”Mantep, nih uangnya Mang!” Aku mengeluarkan uang dari saku kananku. Uangnya dua puluh ribuan. Aku memberikannya dan Mang Krimo memberikan kembalian tiga lembar, lima ribuan dan seribuan dua lembar.

”Tadi cabe kecil yang tiga dihitung juga gak Mang?”

”Aduh Bos! Masak cabai dihitung, itu mah gratis Bos!”

”Oke Mang, kalau begitu masukin semua cabai yang tersisa ke plastik, biar aku bawa semua. Kan gratis!”

”Aduh Bos! Bercandanya berlebihan banget. Masak ada Bos kok kere banget sih.”

Ha.. ha.. ha.. aku tertawa lepas. Seperti biasa, aku dan Mang Krimo sering bercanda. Kami sudah biasa kok. Jadi tidak ada yang tersinggung. Aku pamitan pada Mang Krimo.

”Mas Adnan,” suara lirih Mang Krimo membuatku menoleh sebelum naik motorku. Nah, dia sudah biasa nih memanggilku mas.

”Hati-hati ya lewat perdu bambu di perkebunan di perbatasan desa.”

Aku tak menanggapi hal itu, tiba-tiba saja bulu kudukku merinding sesaat. Kenapa Mang Krimo malah mengingatkan hal itu. Padahal itu hal yang paling aku lupakan saat pulang malam lembur begini. Bukankah tadi niatku minum kopi juga untuk melupakan hal horor di perdu bambu di perbatasan itu?

Sial! Kenapa Mang Krimo malah mengingatkan aku pas mau pamitan begini?

Sudahlah, lanjut saja. Kalau ada apa-apa tinggal kebut saja dan gas pol. Oke mantep, Bismillaah. Berangkat!

Aku menyalakan motor dan menghidupkan mesinnya, langsung gas dan jalan. Motor maticku menembus malam, sedikit terang karena sinar bulan mulai menyusup ke setiap celah. Bulan tampak semburat, namun kabut tipis melingkupi setiap celah. Malam ini berkabut.

Perbatasan desa Pucuk Lebah sudah terlihat. Bukan gerbang atau seperti lengkungan tanda nama desa, melainkan hanya patok di pinggir kiri jalan dari arah desa Pucuk Lebah. Itupun patok hanya cor-coran semen setengah meter. Ngerinya, patoknya kok seperti patok kuburan? Entah siapa yang membuatnya, gak model bangetlah.

Itulah yang membuat malamku kali ini semakin ngeri saja, bagaimana tidak sudah larut malam segini tambah ketemu patok tanda desa mirip kuburan, dicat putih juga. Aku pun berusaha biasa saja, aku baca basmallah dan juga sekalian ayat kursi. Yakin, lewat tanpa kendala seperti jalan tol.

Batas wilayah kulewati, kini aku sudah masuk ke desaku, Desa Bulan Indah. Semakin masuk kearah desa, perjalanan akan semakin dimulai kengeriannya karena akan melewati bulak yang cukup panjang.

Quek! Quek! Quek!

Suara burung hantu bernyanyi, tapi kalau malam sepi jari ngeri. Padahal, kalau siang hari pasti indah. Lha..., ini malam hari! Aku semakin masuk melewati bulak, aku harus pulang. Tak boleh takut, begini-begini saya adalah seorang sarjana lho, pernah menimba ilmu secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Malu kan kalau sarjana sampai takut soal setan yang tak terlihat dan tak ilmiah sama sekali.

Tenang, itu hanya obat biar aku tak merinding. Tibalah di antara kanan dan kiri rimbunnya pohon bambu. Di pohon bambu yang cukup luas itu, di sebelah kanan dari arah desanya Mang Krimo ada sebuah rumah tua. Itu adalah rumah milik Mbah Pati yang sudah meninggal dunia 10 tahun yang lalu.

Rumah itu aku pernah datang dan lewat, rumahnya sudah lama dan ada beberapa pohon liar yang tumbuh di sekitarnya. Rumah itu terkenal angker, tak ada yang berani macam-macam. Mbah Pati tinggal seorang diri, orangnya dulu sangat baik dengan keluargaku. Namun setelah meninggal, rumor beredar kalau dia sering mendatangi orang lain yang masih hidup.

Namun, aku masih tak percaya kisah itu. Mbah Pati adalah dulu orang yang baik dan rajin beribadah, bahkan sewaktu aku kecil aku pernah beberapa tahun diajarkannya mengaji Iqro.

Jika rumah bekas mbah Pati memang angker dan menakutkan orang lain, kenapa tidak dirobohkan saja oleh warga? Itupun dnegan musyawarah tentunya. Namun, tak ada yang berani.

Kabut malam temaram ditimpali sinar bulan. Bau aneh tiba-tiba menyengat, seperti bau sesuatu yang dibakar. Kabut itu berbau, tapi di tempat yang jauh dari penduduk ini, di bulak ini, kenapa ada bau seperti pembakaran?

Bulu kudukku tiba-tiba merinding.

Ah! Tak usah dihiraukan, tancap gas saja. Rumah bekas mbak Pati sekitar 40 meter dari jalanan masuk desa kami. Kalau kita lewat, maka bayangan rumah pun juga akan terlihat. Saat tepat di arah lurus dengan rumah itu, aku tak berani menoleh arah rumah tua itu. Mataku lurus saja kearah depan. Semakin hening, semakin kabut terlihat membayang mengerikan!

Dor!

Aku oleng, stang motor susah kukendalikan. Meliuk tak jelas, aku menarik rem kanan dan kiri bersamaan.

”Pecah ban lagi? Kenapa saat seperti ini?”

Aku turun, sudahlah tuntun dengan cepat saja pikirku dalam hati. Setan tak ada, kenapa harus takut? Aku mencoba memberanikan diri. Kuambil langkah perlahan sambil menuntun motorku, tanpa sadar mataku tepat ke kanan dan melihat rumah tua yang katanya angker itu. Cerita demi cerita sudah membuat rumah itu menjadikan tempat tepat di posisiku malam itu sebagai tempat menakutkan.

Tak ada yang berani lewat di larut malam di perbatasan itu, orang akan lewat disana sebelum isya’ atau bahkan menunggu paginya. Dan, aku tepat pada posisi larut malam. Saat mataku tiba-tiba mengarah kesana, kabut malam seolah bayangan-bayangan putih berseliweran.

Hanya bayanganku saja, aku menampar pipi kananku dengan tangan kanan. Dasar penakut! Aku seolah sedang memarahi diriku sendiri sambil menahan sakit karena tamparanku sendiri. Aku berjalan saja, pelan dan santai, seolah tak ada apa-apa. Jadi, kalau ada Setan yang melihatku mereka akan mengatakan orang itu tak bisa diganggu karena dia bukan penakut.

Setan kan hanya mengganggu mereka yang penakut bukan?

Tapi kenapa malam ini terasa mencekam bagiku? Sendirian, tak ada suara dan hanya keheningan, di tempat yang paling ditakuti warga desaku.

Angin dingin semilir tiba-tiba keras menamparku, tubuhku sedikit menggigil karena dingin. Dan karena angin tiba-tiba itu, Bulu kudukku tiba-tiba merinding!

Motor maticku juga kenapa harus pecah ban! Aku menuntun perlahan, melewati perdu bambu dan juga rumah tua itu yang kata orang angker. Aku tak percaya semua itu. Aku lanjut melangkah.

"Auuuuuuuuuuuu."

Suara serigala! Aku gemetaran dan langkahku semakin kupercepat, motor yang berat seolah tak terasa. Malam berkabut semakin terlihat dan pandanganku mulai membayang ditimpa sinar rembulan. Kabut malam itu tersinari sinar bulan. Aku terus mempercepat langkahku. Namun saat melihat ke arah kiri di barisan perdu, sekelebat bayangan putih tiba-tiba melompat-lompat dengan cepat. Kabut malam itu seolah bergoyang-goyang karena kelebatan itu.

"Poconggggg!"

Aku pontang-panting sambil menuntun motor, tak peduli lagi. Seolah motor itu seperti seringan ayam saja. Tanganku lengket pada pegangan stangnya, aku berlari dan sambil menuntun motor. Napasku memburu, lariku sangat cepat dan aku hanya ingin sampai di wilayah masuk desa, sambil berteriak kencang.

”Pocooonnng! Setan gak ada kerjaan!”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!