Cincin Bulan Persahabatan
Beri Nasehat Padaku
Ustadz Umair mengakhiri ceritanya. Embun di matanya sembab, aku ikut pula merasakan, betapa pedih dan beratnya perjalanan Ustadz Umair.
”Isteriku tahu kalau aku belum bisa mencintainya hingga kini, kau tahu Ali. Setiap hari aku selalu di Pesantren ini, kecuali hari minggu aku pulang untuk menemui isteri dan anak-anakku, itupun jika aku tak ada agenda kajian tambahan atau undangan. Aku merasa berbuat dzolim padanya, pada bidadari yang dipilihkan adikku. Pada anak-anakku, darah dagingku. Aku tidak ingin menyakiti bidadari yang begitu tegar hidup membina anak-anakku, hingga mereka semua menjadi soleh dan solehah,” isaknya terdengar bagaikan ratapan.
”Aku ingin saran darimu Ali, karena kumerasa sebenarnya kau juga mengalami hal yang mirip denganku. Tapi kau dapat mengatasinya?”
Aku kaget, degup jantungku seolah hampir berhenti. Ustadz Umair tahu? Padahal hanya aku dan Allahlah yang tahu. Apakah kekuatan perasaan yang sama, bisa mendapatkan gelombang resonansi yang terkait bisa terasakan.
Aku diam beberapa saat.
”Ustadz, aku sebenarnya tak pantas memberi masukan untuk Ustadz. Tapi Ustadz sepertinya sedang membutuhkan nasehat, bukankah Allah menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? Yang harus Ustadz Umair lakukan adalah mengupayakan cinta kepada isteri Ustadz. Tidak ada yang terlambat Tadz. Bukankah baginda Rasulullah saw bersabda, ”Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya,” berbuat baik disini bukanlah hanya tidak menyakitinya, atau melayaninya dengan baik, melainkan mencintainya dengan sepenuh hati, karena baginda Rasul amat sangat mencintai isteri-isterinya hingga jika beliau saw diundang selalu mencantumkan perhatian, ”Apakah isteriku juga diundang?” jika isterinya diundang juga maka Rasulullah akan datang pula.
Ustadz haruslah mencandainya, agar tumbuh rasa cinta diantara suami isteri, ”Rasulullah saw membolehkan dusta dalam tiga perkara ; peperangan, mendamaikan dua orang yang berselisih, dan pembicaraan suami kepada isterinya. Ustadz harus terus berdoa kepada Allah agar cinta itu ditumbuhkan. Sarah yang telah meninggal, bukankah dia telah diambil oleh Pemiliknya. Ustadz harus memberikan cinta kepada orang-orang yang masih Ustadz miliki. Penyesalan akan terjadi, jika Ustadz mengecewakan karunia Allah berupa isteri yang shalihah.”
”Jazakallah Ali, hayyakallah ya bunayya . Aku akan mencoba mengikuti saranmu,” matanya masih berkaca-kaca, ”Seolah hadits yang baru kau baca itu baru kedengar sama sekali. Padahal dulu aku mempelajarinya, tapi kini aku langsung mendapat pengajaran darimu anakku.”
Aku sejenak terlelap dalam buaian angin sepoi kota Depok. Baru kutahu, aku sedang berhadapan dengan orang yang sebenarnya seorang sukses dalam berdagang, mungkin dia menyamakanku, karena kami sama-sama berusaha bekerja dan berwirausaha.
”Ali...,” Ustadz Umair menatapku, ”Aku ingin minta bantuan padamu,”
”Apa itu Ustadz?”
”Aku mempunyai empat orang anak,” beliau menatap langit bertabur gemintang gemerlap, ”Mereka semua telah besar dan mandiri. Anakku yang pertama laki-laki telah berusaha dan menikah dengan seorang muslimah lulusan UIN Yogyakarta. Dia seorang aktivis yang berkarakter, anakku yang perempuan dia telah menikah dengan seorang lelaki sholih lulusan University of Sudan dan akhirnya menetap di sana, karena sang suami menjadi duta besar disana. Dia pun mengabdikan dirinya menjadi Dokter di Sudan. Anakku yang ketiga dia menikah dengan seorang lulusan Al-Azhar Mesir S2 Hadits. Saat ini puteriku itu menemani suaminya menyelesaikan S3 nya, dan dia menyelesaikan S1 yang dilanjutkan dari UI ini.”
”Ketiga anakku yang telah menikah itu semuanya memercayakan jodohnya pada adikku yang telah banyak menunjukkan jalan padaku. Aku merelakan di setiap pernikahan anak-anakku, dialah yang menggantikanku sebagai walinya. Aku tak kuat mengikrarkan aqad nikah, karena aku merasa tak memberikan cintaku pada isteri dan anak-anakku. Aku memang lelaki yang kehilangan cintanya, aku orang yang menderita karena cinta tak ada dalam hatiku,” beliau mengusap bening di kedua sudut matanya.
”Kini, setelah kau berkata padaku tadi dan baru saja anakku datang menjengukku kesini, dia adalah anakku yang keempat. Seorang wanita, dia ingin aku yang menikahkannya, bukan adikku lagi seperti ketiga kakaknya. Aku tak bisa menolaknya Ali..., dia memintaku untuk mencarikan calon suami yang sholeh. Aku tak kuasa menolak tatapan matanya yang penuh cinta. Dia akan patuh pada calon yang akan kuberikan.
Lihatlah anakku itu, alangkah percaya dan cintanya padaku. Padahal, cintaku belum juga bisa tumbuh untuk isteriku. Aku ingin kau membantu meringankan bebanku ini Ali. Aku ingin kau membantuku mencarikan pasangan untuknya.”
”Tadz, insyaallah lelaki sholeh itu banyak. Disini juga banyak, insyaallah saya akan membantu sekuat tenaga. Saya juga kenal beberapa santri atau aktivis atau orang yang hanif saat bertemu di kala itikaf, juga saya kadang ke tempat pesantren lain untuk mengisi kajian ataupun mengikuti kajian. Ustadz tidak perlu pusing.”
”Anakku...,” dia menatap mataku, seolah menusuk tajam, ”Kaulah orangnya Ali, dia memintaku mencarikan orang yang benar-benar aku kenal, dan kaulah yang kukenal. Seandainya kau tidak mencintainya kau tidak akan pernah menyakitinya karena ilmumu anakku. Itulah masalahnya kenapa aku pusing. Saat kusebutkan namamu dia tampak memerah wajahnya. Dia mengenalmu, tapi kau mungkin belum tahu dia.”
Dadaku benar-benar sesak. Kupegangi dadaku agar jantung tidak jatuh. Dan bulan menyapaku merdu. Dia kenal denganku? Anak Ustadz Umair?