Cincin Bulan Persahabatan
Kisah Cinta yang Hilang
”Ketika itu, aku baru saja lulus Madrasah Aliyah. Aku adalah orang dari desa yang kedua orangtuaku telah meninggal dunia. Ibuku meninggal ketika melahirkan adikku, yang umurnya berjarak sepuluh tahun denganku. Setelah itu, setahun kemudian ayahku meninggalkan kami dan menyusul ibuku. Ayahku meninggal karena dituduh mencuri kardus di depan sebuah toko, karena ayahku adalah seorang pemulung. Ayahku hanya ingin menyambung hidup kami, tapi zaman memang telah gila. Dia dihakimi massa hanya karena mengambil kardus bekas, yang dibuang di tempat sampah.
Aku lalu dibesarkan oleh bibiku di Klaten. Setiap hari, sepulang sekolah, aku bekerja membantunya berdagang buah-buahan di pasar. Setiap pagi sebelum sekolah, aku harus mengantarkan koran-koran yang berlangganan. Aku sadar jika aku tak bekerja keras, aku tak akan bisa sekolah. Aku juga harus menunaikan amanah ayahku yang meminta adikku untuk dapat menjadi Hafidz Qur’an, aku memasukkannya di pesantren Fatahillah Jombang. Dia belajar disana, gratis dengan membantu pekerjaan Kyai Amarullah. Adikku menjadi Khadim di Pesantren itu, dan aku melepasnya saat usianya 6 tahun.
Lulus Madrasah Aliyah, betapa aku bersyukur padaNya yang memberi kemudahan padaku, aku mendapatkan nilai terbaik. Saat itu, aku mencintai seorang wanita yang sangat cantik. Kecantikannya begitu jernih, lebih jernih dari mutiara, terangnya lebih terang dari terangnya siang hari, dan tingkah lakunya yang lembut, benar-benar membuatku tak kuasa mendebarkan melodi cinta dalam hatiku, yang selalu berdebar-debar kala mendengar namanya. Apalagi ketika aku bertemu dengannya, seolah kakiku gemetar. Dia adalah teman sekelasku ketika Madrasah Aliyah.
Aku datang ke rumahnya, aku membawa suatu kekuatan yang membuat pikiranku tak tenang. Aku selalu gelisah jika tak bertemu dengannya, gejolak itu benar-benar terasa menyiksaku. Wanita itu bernama Sarah, jika aku mengingatnya maka wajahnya seperti rembulan yang tak memiliki cela. Kau tahu, dia adalah anak tunggal dari Kyai Husain, pemilik pesantren kecil di sebuah desa. Aku datang kepada beliau dan melamar puterinya untukku. Saat itu, aku di mintanya membaca Al-Quran dengan tartil. Aku membacanya, tapi hasilnya hanya sekedar membaca. Aku tak lulus ujiannya.
Kyai Husain berkata padaku, ”Pergilah menuntut ilmu, kau akan mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Jika kau mau sungguh-sungguh belajar, mungkin aku bisa mempertimbangkan tentang lamaranmu ini,” Setelah itu Kyai Husain mengurus keperluan surat-suratku, ternyata dia bekerja di KUA dan aku ketika masuk test ternyata lulus untuk kuliah di Al-Azhar Mesir. Sebelum berangkat kuminta pada beliau untuk menyalamkan rinduku pada Sarah, dan aku pasti kembali untuk melamarnya. Aku juga pamitan dengan Bibi. Aku berangkat ke Mesir dengan harapan besar.
Ketika baru menginjak satu tahun usia belajarku di Al-Azhar, kudengar kabar bahwa bibiku telah meninggal dunia. Kini, aku tak punya siapa-siapa lagi. Di Mesir, aku harus berjuang keras untuk meneruskan kuliahku, dan menyiapkan segalanya. Kulakukan karena cintaku yang besar pada Sarah, sebagaimana cinta Adam as kepada Hawa, sebagaimana cinta Majnun kepada Laila. Ketika libur tiba, aku bekerja bersama para buruh bangunan, di saat panas terik ku panggang tubuhku di tingkat-tingkat bangunan, hingga kulit terasa terbakar. Semua luka dan kelelahan pun sirna jika teringat Sarah, hanya ingat saja membuatku menatap dunia dengan keindahan. Saat pulang kuliah, kuhabiskan untuk belajar ilmu, tapi semuanya kumuarakan pada Sarah. Gadis yang membuatku terpukau karena pesonanya.
Aku semakin mencintai ilmu, aku dapat belajar dengan cepat dan akhirnya lulus S1 dengan nilai tertinggi, Jayyid Jiddan. Aku mendapatkan tawaran beasiswa kembali untuk melanjutkan S2. Aku tak ingin mengecewakan Sarah ketika telah melihatku nanti pulang ke Indonesia, dan menemuinya. Akhirnya aku nekad, mengambil S2 di Universitas yang sama itu, Universitas tertua di dunia. Nama Umair terkenal di kalangan mahasiswa Indonesia. Apa saja yang bisa kulakukan disana, pasti kulakukan untuk mencari uang, selain itu aku bisnis catering untuk pesanan. Di sana aku membangun link, untuk semakin menambah wawasan dan perkembangan usaha. Aku berpikir belajar sekaligus mengumpulkan uang untuk Sarah dan Adikku kelak.
Saat akhir-akhirku studiku menyelesaikan Tesis, barulah kusadari semuanya bahwa ilmu itu bukanlah untuk mendapatkan dunia, apalagi wanita. Aku bertobat kepada Allah, aku sadar bahwa ilmu itu hanya bisa didapat dengan menjernihkan niat untuk Allah. Tetapi, hatiku begitu berat melupakan Sarah. Wanita yang begitu anggun dan memikat hatiku, aku merasa bahwa aku diciptakan sebagai bayangannya, untuk selalu menemaninya.
Hatiku yang resah, hanya bisa diobati dengan melamarnya atau melupakannya sama sekali. Tapi, aku tak bisa. Hatiku telah dipenuhi oleh wajahnya, senyumnya, jernih matanya. Aku tak kuasa, satu jalan yang akan menenangkan hatiku adalah ketika Tesisku selesai, aku akan langsung terbang dan menjemput Bidadari itu.
Hari yang begitu kurindu untuk segera menyapaku itu, akhirnya datang juga. Aku teramat bahagia, aku akan bertemu dengan Sarah dan adikku. Setelah itu aku pulang ke Indonesia, kutemui adikku dulu di Jombang. Umurnya telah mencapai 16 tahun, dia kelas 2 SMA. Adikku telah hafal Al-Quran 21 Juz, aku teramat bahagia. Kuajak dia mengantarkanku ke tempat Sarah untuk melamar. Saat disanalah petir seolah menyambar kepalaku, bagaikan godam besar memukul keningku, bagaikan beliung yang menerbangkan rumput-rumputan, setelah mendengar kabar dari Kyai Husain.
Sarah telah menikah. Sarah menungguku terlalu lama, padahal dia juga menantiku, sebagaimana yang diceritakan kyai Husein. Tapi, apalah daya dan kekuatan kecuali Allah-lah yang telah menggariskan segalanya. Aku pulang dengan langkah yang berat, mataku berair sepanjang jalan menaiki Bus itu. Aku kembali pulang ke Klaten, di rumah bibiku yang telah meninggal, dan adikku ingin menemaniku karena kebetulan dia juga sedang liburan.
Hal yang tak kuduga adalah, aku seorang lulusan S2 Al-Azhar Mesir yang menempa generasi Rabbani. Menjadi pemurung, aku telah kalah dengan keadaan. Hidupku serasa jasad tanpa ruh.