Cincin Bulan Persahabatan
Menjadi CEO?
Selesai shalat aku sejenak berdzikir di masjid, sudah terlihat jama’ah bubar. Seseorang mendekatiku. Pak Salim, mungkin beliau akan menyerahkan uang pesangonku? Dia memintaku untuk bicara di luar, tidak pas jika di Masjid untuk membicarakan masalah dunia. Aku mengikuti langkahnya ke depan masjid. Kami duduk di serambi masjid.
”Khutbahmu begitu menyentuh. Aku memang banyak belajar darimu Ali,” saat kedua matanya menatapku tulus, aku membalasnya senyumannya.
”Pak Salim ada keperluan apa dengan saya?” aku memerhatikannya yang belum langsung ke pokok permasalahan. Jadwalku harus segera ke Pasar Minggu.
”Kau tahu, ada perubahan apa setelah kau mengundurkan diri dari kerja?” Pak Salim melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di kantong kemejanya.
”Saya tidak tahu Pak,” aku memang tidak tahu ada apa setelah aku pamit sewaktu rapat itu. Mungkin telah terjadi perampingan personalian dengan memberhentikan karyawan atau mungkin terjadi sesuatu?
”Aku mengambil keputusan untuk melakukan apa yang kau sarankan saat itu, walau dari para mereka ada yang tidak sepakat. Kurasa pendapatmu pada saat itu ada benarnya. Dan kini, aku datang mengucapkan terima kasih padamu. Berkat ide-ide sederhanamu, yang kamipun tak sempat memikirkannya para karyawan tidak ada yang diberhentikan. Perusahaan terlepas dari resiko kerugian yang kata pengawas tidak bisa dihindari. Saya datang juga mewakili teman-teman di kantor minta maaf, karena mereka meremehkanmu dan mereka mengajakmu untuk kembali. Mereka optimis untuk bisa membesarkan usaha ini bersamamu. Bersama ide-idemu,” matanya yang jernih, sejernih embun itu begitu tulus.
”Mereka terlalu berlebihan Pak, saya hanyalah orang desa.”
”Kau tahu, ide sederhanamu itu telah membuat omzet perusahaan naik, bahkan hotel yang kemarin telah sepi kini begitu ramai. Seperti kata-katamu, kami membuang semua isi gudang dan kami hias menjadi tempat pemutaran film-film yang baik, kadang kami adakan konser dari para pencinta seni. Para pengunjung hotel merasa puas, dan akan menjadi langganan tetap. Rumah makan yang telah diedarkan surat resmi dari MUI, kemudian bukti keaslian bahan bebas dari bahan-bahan pengawet, kami iklankan di koran dan kami tempel di tempat pengumuman, ternyata mengembalikan para pengunjung. Mereka merasa terpuaskan dan akan kembali jika ingin makan.”
”Kau juga yang menyarankan untuk produk makanan, untuk dapat segera dipatenkan, lalu diperiksakan kebersihannya di dinas kesehatan dan untuk lebih menguatkan kami serahkan ke MUI untuk diperiksa. Kebetulan teman saya banyak disana. Setelah itu kami menempel copy-nya, di pengumuman dan kami iklankan juga di koran. Kamu harus tahu, respon dari masyarakat menyambut baik dan mereka merasa senang dengan perusahaan yang terbuka kepada publik. Tidak ada yang disembunyikan, atau tidak ada label resmi tentang kebersihannya dari bahan-bahan sejenis pengawet, dan bahan berbahaya lainnya. Dan satu hal lagi yang lebih patut kau tahu dari saranmu Ali.”
”Apa itu Pak?”
”Analisamu tentang keberkahan harta telah terjawab. Pak Rangga yang mengurusi bagian keuangan sekarang sedang menjalani proses hukum. Ternyata benar, laporan keuangan seluruh usaha diperkecilnya, dan dia bekerja sama dengan oknum pihak pajak untuk meraup keuntungan pribadi. Kau telah menyelamatkan banyak asset perusahaan Ali, aku bahagia pernah berkenalan denganmu. Banyak para karyawan, baik yang sudah mengenalmu atau belum, mereka ingin kau bekerja sama lagi bersama mereka. Aku mewakili yang lain untuk meminta maaf padamu. Mereka mengakui kalau mereka juga pada awalnya meremehkanmu.
”Dari awal sebenarnya aku sudah percaya pada kemampuanmu. Karena orang yamg mengirimmu, adalah orang yang hebat dan kau pasti telah melalui ujian-ujian darinya. Kini aku mempunyai tawaran untukmu Ali, aku akan menempatkanmu di bagian pengawasan sebagai CEO , aku berharap kau mau kembali bekerja bersama kami, dan akan kunaikkan gajimu menjadi sepuluh kali lipat. Itupun sebagai awal, jika kau bisa memberi ide-ide yang lebih baik, maka gajimu akan perusahaan naikkan. Bagaimana?”
Hatiku berdesir kembali, detak jantungku berdebar lebih cepat. Alangkah cepatnya Engkau memberi jawaban atas doa-doa hambaMu ya Allah. Kudengar lagi kata, ’Orang itu’ pasti itu Ustadz Umair. Seolah ini bagaikan mimpi yang nyata, ”Saya siap kembali bekerja sama, tapi ada satu syarat?”
”Jika bisa kita bicarakan mungkin bisa disepakati,” pak Salim mengangguk.
”Saya mau bergabung kembali, jika waktunya sesuai dengan kemauanku, maksud saya seperti ini. Ehm..., saya akan selalu berangkat kerja, jika waktu saya longgar di luar jam kuliah, karena saya sedang menyelesaikan skripsi. Lalu, jika saya ada kepentingan dakwah izin saya tidak dipersulit, walau begitu saya akan bekerja secara profesional. Saya akan berusaha mengoptimalkan tenaga dan pikiran, untuk kemajuan usaha. Dan satu hal lagi yang ingin kutanyakan. Apakah yang Bapak bilang dengan ’Orang itu’ adalah Ustadz Umair?”
Pak Salim menatapku dan mengangguk, ”Benar. Dia adalah Ustadz Umair, pemilik Pondok Pesantren Darussalam, dan seluruh syaratmu aku terima,” beliau menyalamiku. Ternyata Ustadz Umair adalah orang yang masih misterius, entah apa yang masih disembunyikannya. Biarlah waktu jua yang akan menjawabnya kelak.