Cincin Bulan Persahabatan
Selamat Tinggal Zahra Corporation
Hari ini aku akan mengakhiri segalanya. Sudah kurencanakan semua. Dua bulan tepat aku bekerja di ’Zahra Corporation’, selama itu aku mengumpulkan serpihan-serpihan yang ada di semua bidang. Aku kembali teringat akan kepahlawanan Khalid bin Walid. Saat aku sedikit berbincang ba’da Dzuhur dengan Sugiarto sang Satpam. Kudengar darinya tadi pagi terdengar kabar bahwa ’Zahra Corporation’ akan mengurangi jumlah karyawan karena dinilai kurang produktif.
Aku sudah menduganya. Mungkin aku harus menemui mereka hari ini juga.
”Mungkin aku termasuk yang dikeluarkan Mas,” nadanya tampak sedih, ”Bagaimana nanti dengan isteriku yang sedang hamil tua. Terus terang saya tidak punya usaha selain ini Mas,” wajahnya menunduk.
”Pak Sugi tahu dari mana, jika akan ada pengurangan karyawan?”
”Tadi pagi mereka rapat, pak Arifin memberitahu kepada kami sebelum Dzuhur bahwa akan ada pengurangan karyawan, dan kami diminta siap-siap jika kami harus keluar. Tapi dia mengatakan pesangon tetap diberikan secara profesional. Setelah Dzuhur mereka rapat kembali,” nadanya sangat murung.
”Jangan khawatir Pak. Serahkan semua urusan kepada Allah jangan pernah berputus asa dari rahmatNya. Allah itu berdasarkan prasangka hambaNya. Aku akan coba untuk masuk dan memberi masukan pada mereka, agar membatalkan pemecatan ini.”
”Apa bisa Mas?”
”Kita lihat saja,” aku mengambil handphone, aku harus bertindak sesuai feelingku kini. Karena berbuat atau tidak berbuat sesuatu aku juga pasti akan diberhentikan, apalagi mengingat belum ada kontribusi terhadap kerjaku selama dua bulan ini. Sambungan terhubung, pak Salman. Dia adalah Staf TU di Pesantren, aku minta disambungkan pada Ustadz Umair.
”Ada apa Ali?” sapa Ustadz Umair ketika gagang telpon telah berpindah.
Aku menceritakan tentang program pemberhentian itu, dan jika Ustadz bisa mengusahakan aku masuk ke ruang rapat, dan ikut dalam rapat itu. Mungkin aku bisa merubah sedikit keadaan yang tampak buruk ini. Ada nada kesanggupan dalam kata-katanya. Aku menutup hubungan. Bukankah Ustadz teman baik pak Salim? Dengan mudah, dia dapat memasukkan aku dalam usaha besar ini. Berarti...
Beberapa menit, seorang berjilbab memanggilku dan memintaku masuk ke ruangan rapat. Aku tersenyum. Ada titik-titik terang. Wanita yang memanggilku juga tampak kusam mukanya tidak seperti pertama kali aku masuk kesini. Saatnya teladan Khalid bin Walid ra. aku praktekkan. Ridhai aku ya Allah.
Aku masuk dan duduk di samping para manajer bagian. Mereka meneruskan diskusi itu, aku mencoba menyelami. Mulai dari PHK yang mungkin akan memberhentikan sekitar ratusan, bahkan bisa ribuan orang. Pak Salim tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, keringat dingin mengucur deras dari wajahnya.
”Aku boleh bicara?” setelah sekitar sepuluh menit semua terdiam dalam pikiran masing-masing, aku memberanikan diri berbicara. Tampak pak Arifin, mengernyitkan dahinya ada nada meremehkan dari tatapannya, yang langsung berpaling dari wajahku. Beberapa yang lain juga melihatku dengan wajah putus asa.
”Aku tahu mungkin namaku ada dalam jajaran karyawan yang akan diberhentikan. Seperti para pejuang Islam dahulu, mereka akan berjihad atau tidak berjihad maka jika kematian datang, maka mereka tidak akan bisa memundurkan atau memajukannya,” Beberapa manajer kulihat melihatku lebih serius, dan pak Salim kini seolah memusatkan konsentrasinya padaku.
”Baiklah, misalnya begini. Seseorang yang sedang ditembak dan peluru meluncur kearahnya, maka hal yang paling membahagiakan baginya adalah saat peluru itu mengarah padanya, dan akhirnya meleset dan tidak mengenainya. Cara terbaik dari permasalahan yang berat adalah berpikir tenang dan sederhana. Sebenarnya penyelesaian masalah walau berat, dapat diselesaikan dengan hal-hal yang sederhana.”
”Maksudmu” empat orang manajer hampir bersamaan.
”Iya Ali, apakah engkau punya masukan?” pak Salim menatapku serius.
”Bismillahirrahmaanirrahiim,” aku memulai dengan Basmallah, karena Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, ’apabila amal tidak didahului mengucap basmalah, maka terputuslah amalnya’ aku meneruskan kata-kataku, ”Setelah aku mengatakan ini, mungkin aku juga akan berhenti dari kantor ini. Karena aku ingin membuka usaha sendiri walau kecil-kecilan. Aku ingin menjadi enterpreneur dengan kemandirian saya. Setelah aku mengatakan ini, silakan mau dipakai cara saya atau tidak.
”Pertama, begitu banyak usaha di Indonesia saat ini hanya mencari keuntungan semata. Mereka tidak lagi memperhitungkan nilai akan ketuhanan, ”Dalam keuangan, semua yang disetujui tidak sehat dan semua yang tidak sehat itu tidak disetujui ,” maksud saya, banyak usaha saat ini berlaku curang dengan menipu negara karena mengecilkan laba dalam laporan keuangan. Ada perusahaan yang membuat lebih dari satu laporan, atau empat laporan keuangan, satu untuk pemimpin perusahaan, satu untuk kantor pajak, satu untuk pemegang saham dan satu lagi untuk laporan yang sesungguhnya.
Dalam hal ini mungkin terasa lebih menguntungkan kalau dalam kacamata dunia, namun harta yang banyak, kalau Allah tidak memberi keberkahan maka usaha tersebut pada ujungnya juga tidak akan membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.
Laporan yang dibuat harus satu macam dan sama untuk semua bagian. Jangan ada lagi kerjasama dengan pihak pajak, bukankah itu sangat menyengsarakan rakyat. Dari PPN Indonesia, sebenarnya jika usaha-usaha di Indonesia mau jujur akan terkumpul sekitar1000 Trilyun setahunnya, tapi ternyata sekarang tiap tahun terkumpul 300 Trilyun karena perusahaan tidak benar dalam laporan keuangannya. Jika jujur, Insyaallah Allah akan membawa kelanggengan dan keberkahan dalam setiap usaha.
Yang kedua; usaha-usaha yang menyediakan makanan. Dua bulan saya berkeliling dengan pak Arifin. Bukannya saya menghilang dan bersantai, tapi saya mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, kenapa pelangan berkurang dan pembeli semakin hari semakin kurang. Saya meneliti hingga penduduk sekitar dan jama’ah masjid. Saya tahu ada rumor mengatakan bahwa makanannya tidak higienis, dan banyak ditambah pengawet. Maka saya sarankan agar setiap usaha yang menyediakan makanan segera membuat label halal dari MUI, lalu produksinya dipatenkan agar tidak ditiru dan dapat di franchise-kan, agar dapat berkembang ke seluruh penjuru Indonesia. Tempel semua bukti itu di tempat usaha dan di tempat pengumuman umum.
Ketiga; di beberapa hotel yang saya kunjungi ternyata membosankan walaupun disana fasilitas terasa lengkap. Cobalah buat agar kenyamanan lebih dibuat semarak. Saya sarankan, di hotel Salim misalnya, di tingkat tengah kulihat ada ruangan yang besar dijadikan gudang. Coba singkirkan dan bersihkan gudang itu, lalu jadikan ruangan itu sebagai ruang rehat untuk pengunjung hotel, jadikan ruangan itu bioskop untuk penayangan film-film yang bermanfaat dan bernilai agama, atau bisa juga untuk konser Nasyid, atau kebudayaan lainnya. Para pengunjung Insyaallah akan betah berada disana, karena merasa diperhatikan.
”Hal paling penting dalam usaha adalah meramalkan kemana pelanggan bergerak, dan berada di depan mereka karena merekalah perancang produk sesungguhnya.”
Sesekali setiap usaha baik pusat maupun cabangnya, cobalah untuk menarik karyawan berapa persen mengambil penduduk sekitar. Sering saya bertanya pada para masyarakat sekitar, mengeluh karena usaha itu telah mereka bantu waktu awal berdiri, lalu setelah besar mereka ditinggalkan. Minimal mereka meminta ada beberapa masyarakat sekitar yang dijadikan karyawan, dengan begitu masyarakat sekitar akan menjadi asset, apabila para konsumen bertanya maka mereka akan langsung membantu promosi perusahaan.
”Saya ingin pamit, semoga penjelasan sedikit tadi tidak mengurangi esensi rapat Pak Salim dan Bapak-Bapak sekalian. Terutama pak Arifin, terimakasih telah banyak memberi pelajaran berharga pada saya. Karena itulah sebenarnya yang kulakukan dua bulan menyertai Bapak, saya mengumpulkan serpihan-serpihan informasi tentang perusahaan secara keseluruhan. Saya pamit, assalamu’alaikum.” aku beranjak pergi tanpa ada yang mencegah, kecuali Allah yang terus menuntun langkahku hingga pergi dari ’Zahra Corporation’ dan kembali ke Pesantren saat Ashar tiba. Perasaanku teramat lega. Dan Allah lah yang membuat ketentraman hati sesungguhnya, ”(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat allah. Ingatlah, dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.”