Cincin Bulan Persahabatan
Belajar dari Khalid bin Walid ra
Di bagian Pengawasan, Aku tak menyesal sama sekali mengambil bagian ini, aku sering keluar ternyata. Berkeliling menggunakan mobil xenia biru muda, pak Arifin selalu mengajakku memantau ke setiap usaha center maupun cabang-cabangnya. Ada yang di Semarang untuk usaha konveksi, dan ternyata usaha ini mencapai angka sepuluh besar di kota itu, lalu di di Solo ada toko buku yang begitu besar, menjual buku-buku agama dan buku-buku umum. Saat pak Arifin berbincang dengan pengelola disana. Aku membaca buku, pak Arifin tahu aku tertarik dengan buku itu. Dia membelikannya untukku dua buku. Satu tentang motivasi dan satunya novel berjudul Kudus Gelombang Cinta, karena dari prolog di depan terdapat kata, ’Perjuangan Cinta Seorang Ayah.” Kami pulang kembali, aku membaca buku itu di mobil, ‘Panduan CEO.’ Kelihatannya buku yang bagus.
Ketika pergi keluar kota pun, aku tidak selalu bisa ikut menyertai Pak Arifin, kecuali pada saat libur Sabtu dan Minggu bertepatan dengan liburnya belajar di Pesantren juga kuliah, karena hari sabtu kosong. Kugunakan waktu itu untuk menemani pak Arifin pergi ke usaha-usaha di luar kota sekalipun.
Saat di Pesantren, kuatur waktuku yang semakin rapat. Kajian di pondok jangan tertinggal, ujian sebentar lagi tak boleh diabaikan sama sekali, privat dengan Fadli pun tak boleh kutinggalkan, karena aku ingin melihatnya mandiri dan berhasil. Hanya kerjaku di Pasar Minggu yang aku tinggalkan. Aku banyak melahap buku-buku tentang bisnis dan usaha, dan itu sesuai dengan jurusanku. Aku ingat motivasi dalam buku Panduan CEO ‘Pandangan yang luas selalu mengalahkan ide yang sederhana.’
Aku bertekad untuk memberikan andil besar dalam usaha pak Salim. Aku jadi teringat kembali dengan ide Sir Winston Leonard Spencer Churchil, ‘Semakin jauh anda melihat ke belakang, semakin jauh anda dapat melihat ke depan. Saya tidak pernah khawatir akan tindakan, tetapi saya sangat khawatir akan ketiadaan tindakan. Dan cara terbaik menghadapi segala situasi adalah tindakan yang sederhana.” Aku akan berjuang keras selama sebulan ini.
Malam itu, mataku belum bisa terpejam. Aku ingin mencontoh salah satu semangat motivasi sahabat Nabi saw. Aku menemukan satu nama yang kurasa cocok untuk melejitkan semangat kesuksesanku. Dialah Khalid bin Walid ra yang bergelar Saifullah, ‘Pedang Allah yang selalu terhunus’
Khalid pada masa kekhalifahan pernah mencapai puncak prestasi, titik kulminasi, nilai tertinggi yaitu pada saat perang Yarmuk berkobar. Khalid bin Walid ra. Memimpin 36.000 pasukan kaum Muslimin dengan heroiknya, mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah 240.000, hingga pasukan Romawi terkocar-kacir dan bersembunyi bagai tikus yang dikejar kucing. Hingga Khalid berteriak, ‘Seandainya kalian lari ke langit kami akan naik dengan kuda-kuda kami dan kupancung kepala kalian!’ begitulah geramnya Khalid bin Walid ra. dan umat Muslim, karena sewenang-wenangnya Romawi dan zalimnya mereka yang selalu membantai manusia seenaknya dan mempertuhankan manusia.
Sebuah rahasia Khalid bin Walid dapat kubaca dalam salah satu riwayat. Dia mengabarkan kaum Muslimin yang ingin meraih kesempatan untuk menang di jalan Allah. Beliau berpesan, “Seluruh lembah, gunung-gunung, dan gurun yang pernah kulewati, pasti akan selalu kuingat (kupelajari). Sekaligus kubayangkan segenap strategi dan rencana yang akan kugunakan jika suatu saat aku berperang di tempat tersebut.”
Setelah Khalid bin Walid ra. memenangkan perang Yarmuk, beliau dipecat khalifah Umar bin Khattab ra. karena rasa cinta Umar yang mendalam pada saudaranya, karena Umar khawatir setelah umat muslim mengelu-ngelukan nama Khalid, bisa jadi Khalid menjadi sombong akan keberhasilan-keberhasilannya. Hingga Khalid membayar sangat mahal kepada seorang penyair yang menyanjung-nyanjung kehebatannya. Rasa cinta Umar bin Khatab membuatnya harus mengambil langkah, agar Khalid tidak merasa dirinyalah yang berjasa pada kemenangan Islam, sebagaimana Iblis yang congkak karena dirinya merasa lebih baik, dalam hal penciptaan ketimbang Adam as.
Inilah nilai kepahlawanan yang murni dari Khalid bin Walid ra. harus ditunjukkan pada Allah, RasulNya dan segenap kaum muslimin. Khalid bin Walid tak mau namanya dicantumkan dalam sejarah, sebagai orang yang memimpin kemenangan perang Yarmuk, inilah kekuatan lapang dadanya yang membuat Umar bin Khatab ra. menangis untuknya.
Setelah perang Yarmuk itulah, Khalid tidak pernah ikut dalam peperangan lagi. Tubuhnya telah banyak luka perang, dia sakit. Saat itulah, Beliau melewati hari-hari terberat dalam kehidupannya. Peperangan sangat dirindukannya hingga dulu dia berprinsip dan berkata, “Malam mencekam dalam kondisi perang membela agama Allah, lebih aku cintai dari pada bersama dengan seorang gadis pada malam pernikahanku,” kini dia harus kuat menahan kerinduannya itu.
Dia tidak ingin kaum muslimin mengelu-ngelukannya. Sehingga dari kaum muslimin ada yang mengatakan, “Setiap pertempuran akan selalu menang jika ada Khalid bin Walid,” Walid menangis kepada Rabbnya, bukankah kemenangan hanyalah milik Allah? Dia terus mengintrospeksi dirinya dan membenarkan tindakan khalifah.
Khalid kemudian menghadap Allah dengan senyum keikhlasan, senyumnya teduh seteduh telaga kautsar, senyumnya tanda kerinduan membuncah kepada Tuhannya. Matanya yang tertutup begitu lembut, bagaikan kapas yang tenang kala meninggalkan sangkarnya, terbang kemanapun ia suka, terbang bebas untuk mengabarkan kebahagiaan. Beliau meninggal di atas kasurnya dan bukan di medan peperangan, walaupun dia membawa lebih dari 70 luka tusukan dalam tubuhnya.
Begitulah benarnya Sabda Rasulullah, bahwa di antara ummatnya ada yang syahidnya di atas ranjangnya. Subhanallah. Itulah pemenang! Itulah pemenang! Mereka bukan orang-orang cengeng yang mengejar popularitas dan dunia, mereka hanya mengharap ridha Allah semata. Air mataku berderai-derai, aku harus belajar banyak hal. Aku harus mengikuti Khalid bin Walid ra., seorang Pahlawan tanpa tanda jasa, kecuali tanda kesyahidan dalam harum namanya.