Cincin Bulan Persahabatan

Memilih Bagian Pengawasan

Sepulang kuliah hari ini, aku punya rutinitas baru. Setelah shalat Dzuhur berjamaah aku berangkat ke Jakarta Timur, kebetulan ada sepeda di Pesantren dan Ustadz Umair mempersilakan aku memakainya. Kukayuh sepeda, sambil menikmati semilir angin sejuk kota Depok. Pori-poriku sejuk, terpaan angin kadang menampar mataku hingga harus berkedip-kedip, menghilangkan debu yang nyasar masuk hingga membuatku mengucek-nguceknya. aku terus mengayuh.

Aku jadi teringat masa kecilku, kenangan itu amat kuat terbayang bagai layar monitor yang terbentang di depanku. Kenangan itu semakin kuat, ketika aku mengejar Mawar. Aku melewati bukit terjal, mengebut dan, ‘brakk!’ aku terjatuh akibat penghalang kayu yang jatuh dan menghalangi jalan. Aku mengaduh, lutut kakiku berdarah-darah. Tapi keyakinanku begitu kuat, hingga rasa sakit itu seolah hilang sama sekali. Aku kembali mengangkat sepeda itu dan melewati kayu lalu kukayuh kembali.

Aku melihat mobil itu, dimana Mawar kecil berada di dalamnya. Aku nekad menuruni lereng dan begitu cepat saat mendarat di aspal mobil itu telah mendahuluiku. Kulihat Mawar melambaikan tangan, mataku terpaku sejenak menatapnya. Tak kusadari sepeda melaju tanpa kutahan dan aku terjungkal.

Aku membuyarkan semua lamunanku. Kenangan itu perlahan menghilang. Kalau saja waktu itu, aku kuat menjalani segala sesuatu karena keyakinan yang kuat. Kini, keyakinanku melambung demi sebuah keyakinan yang lebih suci, keyakinan yang lebih abadi, keyakinan yang terindah. Keyakinan untuk menetapi Allah, Ibu dan adik-adikku. Aku pasti bisa. Bismillaa hirrahmaan nirrahiim.

Aku memarkir sepeda di tempat parkir, ada beberapa sepeda juga disana. Areal parkir dibagi tiga ruang, yang pertama di sebelah kanan untuk mobil, ruangan kedua yaitu di sebelahnya untuk kendaraan bermotor, dan di sebelah kiri adalah untuk sepeda. Mataku kembali menatap papan nama yang dicetak besar, di gedung menjulang di depanku itu. Zahra Corporation. Nama siapa yang digunakan pak Salim untuk dijadikan perusahaannya. Aku tersenyum, alangkah cintanya seorang suami kepada isterinya, sehingga menjadikannya namanya untuk nama usahanya. Pikiranku melayang akan keinginanku menikah tempo waktu, tetapi kuyakin dengan bersabar Allah akan memberikan yang terbaik. Aku yakin padaMu ya Allah. Aku melangkah masuk.

Aku sempatkan mengobrol sebentar dengan satpam yang ramah itu, namanya Sugiarto. Dia disini atas saran Ibunya, yang ternyata dulu pernah bekerja di rumah Pak Salim. Setelah Ibunya sudah tak sanggup lagi bekerja karena telah senja, maka dia meminta anaknya dari desa untuk menggantikannya, mengabdi kepada keluarga Pak Salim. Sebenarnya Sugiarto diminta membantu di Solo, untuk toko buku tapi dia memilih menjadi Satpam, karena dia mengganggap pekerjaan ini yang ia bisa. Umurnya sekitar 35 tahun, beliau dari Sragen. Dia menikah dengan orang Depok, sekarang sudah dikarunia tiga anak. Begitu ceritanya dengan bangga. Aku pamit untuk masuk.

“Mas, besok-besok kita ngobrol lagi ya?”

“Memangnya ngobrol dengan saya enak?” aku berbalik menatapnya.

“Mas Ali adalah satu-satunya karyawan yang masih berstatus Mahasiswa, pikirannya pasti masih cling! Aku yakin Pak Salim tidak akan asal memilih. Aku yakin Mas Ali punya kemampuan atau potensi yang bagus.”

“Ah! Mungkin kebetulan saja Pak. Ya sudah, Assalamu’alaikum,” aku meninggalkannya. Kata-kata Satpam itu terus terngiang sambil kumelangkah. Aku tidak boleh mengecewakan Ustadz Umair yang memercayakanku pada pak Salim, aku harus dapat menguasai setiap kesulitan karena dengan itu aku dapat meraih kesempatan. Pak Salim ternyata duduk di ruangan itu. Beliau tersenyum dan menyambutku. Saat kutanya kenapa sampai menunggu karyawan baru sepertiku, dan jawabanku semakin memperjelas uraian Sugiarto. Katanya, “Aku akan membimbingmu, aku tahu kau punya potensi yang besar Ali. Sebagaimana orang itu memercayakanmu,” aku berpikir sejenak, ‘Orang itu’ pasti Ustadz Umair.

Pak Salim memperkenalkan dengan beberapa staff dan jajaran manajer. Pak Salim meminta rapat hari ini juga.

Hari itu setelah musyawarah sejenak di ruangan, untuk menentukan aku di bagian mana, mereka tampak sedikit berdiskusi. Pak Salim memberikan kelonggaran kepadaku untuk memilih di bagian manapun. Surya di bagian Administrasi memintaku untuk membantunya. Hasan, Manajer Personalia juga memintaku membantunya di bagian pengelolaan pegawai, Mbak Husna juga menawarkanku untuk bidang promosi, suasana musyawarah nampak cair sehingga membuatku seolah telah akrab.

“Jika diperkenankan aku memilih untuk membantu Pak Arifin di bidang pengawasan,” nampak mereka diam sejenak. Karena aku tahu bagian itu memang harus benar-benar menguasai seluruh bidang usaha, dan aku belum tahu seberapa besar usaha yang sesungguhnya milik ‘Zahra Corporation’ tapi bukankah pemenang harus menguasai kesulitan, jika ingin mendapatkan kesempatan? Aku yakin dengan langkahku.

Hanya satu orang yang tersenyum. Dia pak Salim, “Aku sangat yakin dia bisa, aku yakin dengan kemampuannya. Engkau akan membantu kerja Pak Arifin dan gajimu akan kusesuaikan dengan pekerjaanmu.”

Semua orang dalam musyawarah itu mengucapkan selamat bergabung, dan mereka menyatakan siap membantuku apa saja jika membutuhkan bantuan. Hari ini, aku mulai bersama Pak Arifin. Mempelajari semua struktural usaha, kantor Zahra Corporation ternyata membawahi 21 usaha di banyak tempat, dan dengan usaha yang berbeda. Aku semakin terhenyak, setiap usaha ternyata telah memiliki cabangnya, hanya tiga usaha yang kategorinya menengah, dan yang masih belum ada cabangnya karena itu masih usaha baru.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!