Cincin Bulan Persahabatan
Dasar Anak Desa
Ihsan duduk menekukkan kedua lututnya, di gubuk yang sudah reot itu. Sepedanya ikut berteduh, di tatapnya gadis kecil yang sedang asyik memandang panorama. Betah walau matahari sedang terik, tanpa berteduh. Gadis kecil itu membentangkan kedua tangannya, berlari di pematang antara pepadian yang menguning. Dasar anak aneh, teringat misinya belum berhasil. Inilah misi tersulitnya selama ini.
Dua orang yang sangat dikenalnya, Bimo dan Wahyu, sedang mendekati si gadis kecil. Di tangan mereka memegang burung yang direnteng, burung Sriti yang mereka dapat dengan menjeratnya melalui biting blarak , yang di buat melingkar di ujung dan diberi umpan jangkrik kecil atau belalang, lalu di taruh di sawah yang sedang digarap. Di saat Sriti sedang memangsa umpan itu, maka dia akan masuk ke lubang itu dan menjeratnya.
Ihsan segera berlari mendekati si gadis kecil, sebuah bahaya. Dua orang itu anak kelas III yang biasanya jahil, dan kadang meminta uang kepada anak-anak kelas I dan II. Mereka berdua benar-benar menggangu gadis kecil itu. Mereka meminta uang. Sebelum Ihsan sampai ke tempat mereka, si gadis ternyata melakukan hal yang sama kepada Wahyu. Tanpa pengantar, tinjunya mendarat di pipi Wahyu. Ihsan menepuk jidatnya sambil berlari sekencang-kencangnya, tinggal sebentar lagi.
Ketika Wahyu dan Bimo hendak membalas dan mengeroyok gadis kecil itu, Ihsan datang tepat waktu, “Hentikan!” mengatur napas, “Jika kalian mau membalasnya, balaslah aku. Beraninya sama anak perempuan, main keroyokan lagi!” keberanian yang tiba-tiba muncul, entah dari mana. Biasanya dia paling takut, apalagi dua preman sekolahnya ini.
Jadilah Ihsan bulan-bulanan kedua anak kelas III itu, jurusnya yang dikeluarkan tak akan mampu menghadapi mereka berdua, apalagi itu jurus yang asal-asalan.
Belum sembuh dua pukulan dari gadis kecil itu, di tambah seluruh tubuhnya remuk di pukul membabi buta. Mukanya kini tampak kebiru-biruan. Gadis kecil itu hanya diam saja. Setelah dua orang pengeroyok itu puas, mereka pergi meninggalkan Ihsan begitu saja dan melupakan si gadis kecil itu.
Ihsan meringis kesakitan sambil bergumam, “Kalian belum mengetahui jurusku, coba kalau tahu, kalian pasti sudah terbirit-birit, aduh…,” Ihsan mendudukkan dirinya, sambil membersihkan pakainnya dari debu-debu dan lumpur yang menempel. Bajunya kotor, pasti ibunya akan marah. Tapi, selama ini ibu kan belum pernah marah. Senyum kecilnya mengembang.
“Kenapa kamu malah tersenyum?” suara si gadis kecil itu keluar juga, mendekati Ihsan dan duduk di sebelahnya.
“Aku bahagia. Karena aku menolong orang, dan ibuku tidak akan marah padaku. Mbak Fatimah juga pasti bangga padaku. Semua orang mencintaiku. He…he…, eh! Kamu…, horee… akhirnya kamu bicara juga. horeeee….,” angin sepoi membelai mereka, memberikan kesejukan di tengah teriknya siang.
“Dasar anak desa!” mulut itu sewot, namun segera diambilnya tissu kecil dari saku bajunya. Lalu mengelap debu di pipi Ihsan. Sesekali Ihsan meringis ketika tissu itu menyentuh lukanya, mata Ihsan menatap sejenak mata gadis kecil itu.
“Anak desa! Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Matamu begitu indah. Mungkin seperti itulah cerita Ibu, yang menceritakan kepadaku tentang Bidadari yang mempunyai mata jeli.”
“Diam! Atau aku beri satu lagi,” tangan kanan itu mengepal menandakan siap beraksi, “Tapi…, terima kasih kamu tadi menolongku. Padahal itu membahayakan dirimu sendiri,” kepalan tangan itu turun dan mukanya menunduk perlahan.
“Dasar perempuan, sebentar-sebentar sedih. Cengeng! Dan ingat, jangan panggil namaku dengan anak desa. Namaku Ihsan tahu!”
Ihsan segera berlari menuju gubuk, karena dilihatnya muka gadis kecil itu berubah garang lagi. Lari sebelum terlambat.
Mereka pulang ketika matahari tepat berada di atas kepala, ketika ubun-ubun terasa dikecup oleh bara panas, bersama beberapa petani yang pulang untuk ngaso dan shalat dhuhur.