Cincin Bulan Persahabatan
Lamaran itu Batal
Aku teringat, aku ada janji dengan syaikh Wahid sore ini, aku pamitan pada Syahid dan dia meneruskan tugasnya. Aku langsung menuju rumahnya yang tak jauh dari Pesantren, hanya dibatasi jalan membentang. Aku mengetuk pintu dan mengucap salam, sebuah suara dari dalam menjawab. Sepertinya Ustadz Wahid.
Ustadz Wahid terlihat telah rapi dengan gamis coklat mudanya. Sosok penuh kharisma, matanya yang jernih membuat orang yang hendak berbuat jahatpun, pasti akan luluh dari niatnya semula, yang terpancar dari wajahnya adalah cahaya yang mampu mempertebal iman. Sungguh, beginikah wajah-wajah orang yang shalih? Betapa inginnya menjadi orang yang dicintai Allah.
Beliau mempersilakan aku masuk. Aku meminta duduk di beranda rumah saja, karena rumah syaikh Wahid nampak begitu asri, penuh dengan bunga berwarna-warni dan juga bunga yang hanya berbentuk daunnya saja. Ada sejenis bunga-bunga desa, mungkin mereka sengaja menanamnya, untuk menciptakan suasana desa. Ustadz bertanya kabar, dan dari mana. Aku menjawabnya seperti biasa.
”Ustadz ingin menyampaikan sesuatu?”
”Iya Ali, sebelum kamu pulang kampung. Kita pernah bicara sesuatu tentang keponakanku yang memintaku mencarikan suami untuknya. Untuk itulah aku memanggilmu kini,” seorang wanita berjilbab keluar, dan memberikan nampan berisi dua gelas teh pada Ustadz. Wanita itu mempersilakanku minum, dia pasti isterinya Ustadz. Aku telah mempersiapkan kata-kata yang telah aku ucapkan pada Pak Hamdan, surat Bapak kembali membuka dalam memoriku. Bapak minta, kamu sementara jangan menikah dulu. Entah apa yang membuat Bapak berwasiat seperti itu. Aku harus adil.
”Begini Ali, saya meminta maaf padamu jika apa yang akan kusampaikan padamu membuatmu kecewa. Keponakanku itu..., tiba-tiba saja memundurkan kata-katanya kepadaku. Dia merasa ingin berbeda dengan kakak-kakaknya, dia ingin mencari calonnya bukan lewat saya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah dia lebih berhak memilih hidupnya daripada siapapun?
Itu sebabnya saya ingin mengucapkan maaf sedalam-dalamnya, karena bisa jadi berita ini membuatmu kecewa. Umur, rezeki, dan jodoh ada di tangan Allah, jika kita sabar Insyaallah Dia akan memberikan yang lebih baik,” aku menganggukkan kepala.
”Semua telah diatur Allah Tadz. Sebenarnya kedatanganku kesini untuk menyampaikan bahwa saya juga akan mundur dari tawaran Ustadz tempo hari. Bukan karena menolak, tetapi karena wasiat Bapak sebelum meninggal memintaku untuk menunda pernikahanku. Aku harus menjaga ibu dan adik-adikku dulu, walau mungkin sebenarnya menikah tak akan menghalangiku menjaga mereka, namun saya merasa pesan Bapak mempunyai makna yang hanya Allah saja yang tahu,” aku teringat kembali mimpi malam itu. Kata Ibu, Bapak telah bertemu denganku malam itu, juga ketika paginya waktu Bapak di dunia telah habis.
”Subhanallah, kenapa semuanya bisa searah. Berarti tidak ada yang dikecewakan dengan keputusan ini. Allah benar-benar mempermudah persoalan hamba-hambaNya.”
”Allah mempermudah jalanku juga Tadz,” aku lalu menceritakan tentang lamaran dari Wanda melalui ayahnya pak Hamdan. Lalu, bagaimana jawabanku dan ketika akan kesini harus adil dalam menentukan keputusan. Ustadz Wahid menyimak ceritaku, dan mendoakan kebaikan bagiku. Menjelang Maghrib, aku pamitan untuk pulang ke Pesantren. Aku langsung mandi dan memakai baju terbaik untuk mendatangi masjid.