Cincin Bulan Persahabatan
Berdoa Untukku?
Kota Depok yang ramai dikala pagi. Syahid memelukku dan meminta maaf, teman-teman santri yang lain juga. Ustadz Wahid menentramkan hatiku dengan taujihnya sebelum aku berangkat kuliah. Dia ingin bicara padaku nanti sore, membahas tawarannya yang dulu. Aku baru ingat, keputusan apa yang akan kujawab jika beliau menagih keputusanku? Yang jelas aku harus adil, aku harus menjawab sesuai dengan jawaban yang kuberikan pada Pak Hamdan.
Sepulang kuliah aku bekerja biasa di Pasar Minggu, uangku tidak seberapa. Aku harus bekerja lebih keras dan cerdas kini. Teman-temanku di Pasar menyambutku dengan ceria, mereka juga ikut mendoakan Bapak. Sambil memikul barang, aku memikirkan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan lebih banyak, Enterpreneur? Memulai suatu usaha, tapi aku tak punya modal sama sekali. Aku berpikir keras, sampai adzan ashar menggema.
Aku ruku’ bersama-sama orang yang rukuk, ”Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan sel-selku telah khusyu’ pada-Mu.” doa itu hanya pantas diucapkan Nabi saw, tapi aku ingin berusaha mengikutinya. Nabi saw, menyadari bahwa otaknya, tulang-tulangnya dan seluruh sel-selnya hanyalah untuk Allah. Para sahabat pernah mengatakan, ”Kami mendengar Nabi saw ketika melakukan shalat beliau di dada beliau gemuruh, seperti gemuruhnya periuk air yang memanas, akibat beliau menangis.” lalu, dimanakan posisi kita? Aku menangis padaNya karena begitu banyak yang membayang dalam pikiranku. Dimanakah kesyukuranku?
”Allahumma inni as aluka ladz dzatan nadzr ilaa wajhika al-kariim wa as aluka asy-syauq ilaa liqaa ika, ya Allah, aku minta pada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia, dan aku minta kerinduan bertemu dengan-Mu.”
Aku menyudahi shalatku, beberapa teman semuanya juga shalat di Masjid. Beberapa orangtua yang dulu kuajak masih sering menolak, kini terlihat telah menyiapkan sarung dan peci dalam tasnya, lalu ketika shalat mereka memakainya. Subhanallah, Allah menghendaki siapa saja yang akan diberi petunjuk dan siapa yang tidak diberi petunjuk. Aku sempat berpikir untuk berhenti mondok, walaupun aku gratis karena prestasi di Pondok, tapi aku harus bekerja untuk menutupi biaya kuliah dan keluargaku di kampung. Allah, tunjukkanlah jalan bagiku.
Pukul 16.30 aku pulang duluan. Di Pesantren aku melihat Syahid yang sedang menyapu halaman Masjid, hari ini dia dapat giliran piket bersama teman-teman yang juga jatahnya hari ini. Aku mendekatinya dan mengucapkan salam, senyumnya merekah. Bukankah senyuman itu juga shadaqoh?
”Akh, kumohon kamu jujur,”
”Masalah apa?” Syahid kelihatan bingung.
”Siapa orang yang mengirimkan uang enam juta ke rekeningku? Apakah itu uang Santri? Atau tabungan kas Pesantren? kenapa kau bilang bahwa orangnya mengatakan tidak usah dibayar? Kau bilang dia menganggapku anaknya,” aku memberondongnya.
Syahid memegang tangan kiriku, dan menarikku ke taman kecil di samping Masjid. Dia menatapku sejenak dan lirih berucap, ”Kau benar-benar ingin tahu? Tapi, janji jangan beritahu kalau aku yang mengabarkannya padamu,” aku mengangguk. Syahid mendekatkan bibirnya ke telingaku, ”Kurasa..., dia adalah Ustadz Umair, setelah tahu ayahmu meninggal dan kabar bahwa adikmu kecelakaan. Dia mengirimkan uang itu padamu karena beliau bertanya pada Farid nomor rekeningmu.”
”Kukira? Jadi belum pasti, lalu kenapa kau bilang bahwa dia menganggapku anaknya, dan tidak ingin uangnya kukembalikan?”
”Waktu itu, ketika aku hendak shalat malam di Masjid. Kulihat Ustadz Umair disana, kebetulan aku shalat di belakangnya dan di belakang tabir tempat shalat wanita. Saat itu kudengar isaknya dan menangis untukmu,” Syahid berhenti sejenak.
”Dia berdoa untukku?” bibirku bergetar, ”Berdoa untukku? Dia menangis?”
Syahid melihat keherananku. Dia melanjutkan ucapannya, ”Aku tak sengaja mendengarnya. Ustadz mengadu pada Allah untuk kesembuhan adikmu dan mendoakanmu agar tabah. Bahkan, dia berkata kalau dia merelakan hidupnya untukmu. Yang aku ingat dengan kuat adalah doanya, ’Aku tidak mau kesalahanku terulang pada Ali, mohon jagalah dia ya Allah,’ aku tak tahu maksudnya. Dia terus mendoakanmu, dan tak menyadari jika aku shalat di pojok belakang. Aku ikut menangis, karena suara tangisnya bisa terdengar sampai seluruh ruangan Masjid.”
”Ustadz Umair, beliau....,” hati dan bibirku kembali mengucap hamdalah beriringan, betapa Allah teramat mencintaiku.
”Aku akan menemuinya, yang jelas jika dia yang mengirimkan uang itu, maka kewajibanku membayarnya. Aku tak ingin dikasihani orang lain, aku akan berusaha membayar uang itu. Aku harus menjaga izzah harga diriku, Bapakku selalu mengajarkan itu padaku,” aku menatap Syahid, meyakinkan.
”Kau memang sahabatku. Itu baru yang namanya Ali,” dia tersenyum kepadaku. Kami berangkulan. Persahabatan memang selalu ada, bukan untuk membantu melainkan memberikan yang terbaik untuk persahabatan. Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran dan bersama menetapi jalan Allah ’Azza wa Jalla.