Cincin Bulan Persahabatan
Menunda Pernikahan
Siang itu, kala aku shalat Dhuha di Mushola memohon agar Fajar sembuh. Setelah Bapak, cukuplah dulu jangan dua-duanya Kau ambil ya Allah. Saat itu, Yasmin masuk dengan wajah cerah, “Kak Fajar sadar, tangannya tadi bergerak,” aku langsung mencuci wajahku lagi yang terlihat kusut. Kubersihkan lelehan airmataku. Allah langsung mendengarkan doaku.
Fajar membuka matanya perlahan. Matanya menatap kami satu-persatu, “Kak Ihsan,” lirihnya pelan. Airmatanya mengalir kembali, “Maafkan Fajar Kak…, Fajar…”
Aku menyentuhkan telunjuk tanganku ke bibirnya. Kudekatkan diriku di dekatnya lalu kekecup keningnya, “Aku mencintaimu karena Allah, tidak usah merasa diri bersalah. Allah telah mengaturnya, yang penting kita melangkah untuk menjadi lebih baik,” aku mengelus kepalanya, seperti waktu kecilnya dulu kala Fajar hendak tidur.
“Fajar…, Fajar janji Kak. Fajar akan menjadi yang diinginkan Bapak,” matanya masih berkaca. Hari ini, dia telah melewati masa kritisnya. Begitu Dokter berjilbab yang tadi menjelaskan kepada kami, tapi beberapa tulangnya retak dan harus segera dioperasi. Semakin cepat dioperasi semakin baik.
Alhamdulillah. Segala puji hanyalah milikMu ya Allah.
”Dok, kira-kira operasinya menghabiskan dana berapa ya?”
Dokter muda itu membetulkan kacamatanya, ”Biasanya berkisar empat atau lima juta Mas. Silakan ke administrasi jika sudah siap operasi.”
”Terimakasih Dok.”
Setelah pamitan sebentar pada Fajar dan Ibu, aku keluar ruangan dan memencet beberapa nomor telepon. Pesantren. Syahid di ujung sana menjawab salam.
”Akh, aku butuh uang sekitar lima juta, untuk operasi adikku. Bisa pinjamkan dulu?”
”Innalillah, Insyaallah saya usahakan Akh.”
”Uangnya kirimkan saja melalui rekening Muamalatku ya, nanti aku sms nomor rekeningnya. Mungkin aku juga akan sedikit lama disini, keluargaku sangat membutuhkanku kini. Tolong izinkan dengan para Ustadz dan di Kampus.”
”Insyaallah, semoga Allah menyertaimu.”
”Jazakallah khoiron jaza’, mohon doanya dari teman-teman semua,” sambungan terputus. Aku harus menemani Fajar, hingga benar-benar bisa ditinggal. Bapak memercayakan segalanya padaku, Bapak percaya padaku maka aku harus percaya pada diriku.
Hari kelima di Rumah Sakit, keadaan Fajar setelah operasi semakin baik. Tiga titik tulang yang patah sudah dioperasi. Kata Dokter, untuk sampai pada taraf dapat berjalan seperti semula, mungkin membutuhkan waktu setahun atau bahkan lebih. Aku selalu menemani Fajar, sedangkan Yasmin karena sekolahnya tidak bisa ditinggal, maka dia bergantian dengan ibu untuk memasak makanan dan mengantarnya ke Rumah Sakit. Dengan musibah ini, rasa cinta kami semakin terasa kuat. Bapak pasti melihatnya dan tersenyum dari sana. Akupun tersenyum pada Allah yang begitu dekat terasa.
Hari ke-enam, kami sekeluarga berpamitan pada dokter muda yang menangani adikku. Namanya Ani, tepatnya Ani Rufaida. Artinya pun dokter. Sungguh anggun dalam balutan jilbabnya yang panjang. Seolah Ani ingin membuktikan pada dunia, bahwa apa yang dikatakan orang yang tak bertanggungjawab itu tidak benar. Mereka mengatakan bahwa wanita berjilbab itu tidak gesit, dan menyusahkan keefektifan kerja. Sama sekali tidak benar! Wanita berjilbab adalah bidadari di dunia, itu bagi orang yang mencintai Allah dan Islam yang menjadi tujuan hidupnya.
Hari itu juga, kami pulang dan menyewa mobil kang Joko yang bekerja sebagai supir sateran , tapi aku hanya menyewa mobilnya, karena aku sudah bisa menyetir. Aku bersyukur karena semuanya begitu dimudahkan oleh Allah, tepat beberapa jam setelah menelepon Syahid, rekeningku telah terisi uang, bahkan enam juta jumlahnya. Kata Syahid, tidak usah dibayar, karena ada seseorang yang menganggapnya sebagai anak, dan dia mengikhlaskan uangnya untuk pengobatan adikku.
Hari ini kami menghibur Fajar dengan keliling-keliling dari metro, kemudian kearah Kalianda. Kami menikmati pemandangan sambil mentadaburi ayat-ayat kauniyahNya. Fajar tampak begitu senang dan bahagia, duka yang kemarin menyelimutinya seolah hilang dan wajahnya kembali ceria. Dia berjanji tidak akan menyentuh sedikitpun barang-barang haram itu lagi. Dia memang dijebak teman-temannya, maka aku segera mengontak polisi untuk menguak peredaran narkoba di kota metro, apalagi di daerah kampus, yang banyak terdiri dari mahasiswa dan para pelajar pendatang dari berbagai penjuru itu.
Malam itu, nyanyian cinta kembali didengungkan. Ibu sedang asik membuat gorengan di belakang bersama Yasmin, mereka membuat tahu bunting, tempe goreng yang dibumbuhi tepung, dan tempenya diiris tipis-tipis, lalu ada bakwan. Sebelum dihidangkan saja, baunya sudah membuat air liurku dan Fajar meleleh rasanya. Saat Ibu keluar bersama Yasmin membawa hidangannya, tangan Fajar hampir menyomot duluan, keburu ditegur Ibu.
”Sekarang Kakakmulah yang jadi kepala di rumah ini, biarkan dia memimpin doa untuk kita semua.”
Ibu melihatku, seolah ingin mengetes bacaan Quranku, seperti sewaktu di Rumah Sakit tempo hari. Aku membaca Doa dzikir pagi petang yang diajarkan Rasulullah saw, kemudian keteruskan dengan doa yang sering kupelajari di pondok. Setelah itu doa mau makan, dan terakhir meminta keberkahan dalam keluarga. Mereka mengamini dengan khusyuk, sampai-sampai Yasmin melelehkan airmatanya, ”Kakakku kini tidak kalah dengan Ustadz Azzam yang ganteng itu, yang lulusan Sudan University itu,” akhirnya semua tertawa, dan memulai memakan santapan nikmat malam ini, sungguh nikmat, dan kutahu Ibu membuatnya dengan penuh cinta kepada anak-anaknya.
Handphone bututku menjerit. Sebuah nomor baru, aku angkat.
”Assalamu’alaikum Nak,” sebuah suara yang seolah sudah agak tua.
”Wa’alaikumsalam warahmatullah, maaf ini dengan siapa?”
”Ini pak Hamdan, Ayahnya Wanda.”
”Astaghfirullahal’adzim, Masyaallah!” wajah ibu dan kedua adikku tiba-tiba melotot kearahku. Mereka memelankan suara makan dan obrolannya.
”Maafkan saya Pak, saya benar-benar lupa untuk menjawab tawaran Bapak. Karena saya sedang mendapat musibah.”
”Saya turut berduka cita dan mendoakan untuk Bapakmu, terus sekarang apakah kamu sudah menentukan jawabanmu? Kesepakatanku dengan Wanda tinggal hari ini, jika tidak, akan kunikahkan dia dengan pilihanku. Dan Wanda sepenuhnya percaya dengan keputusanmu, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Sekarang juga Bapak membutuhkan jawabanmu,” kurasa dari seberang sana. Ustadz Hamdan menunggu kata-katanya. Orang Sumatera memang paling suka main tembak ke pokok masalah.
Aku lirih membaca basmalah, ”Pak, saya sudah menentukan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada Bapak dan Wanda, demi kebaikan bersama. Mungkin saya harus jujur, saya menunda waktu pernikahan saya. Saya diminta Bapak untuk menunda pernikahanku, dan itu wasiat beliau sebelum beliau wafat. Kini adikku baru saja kecelakaan. Bagiku, Ibuku...,” aku menatap Ibu tenang, Ibu pun melihat kearahku. bakwannya ditaruh kembali pelan di piring, ”Bagiku dialah yang terpenting dalam hidupku setelah musibah ini, dan adik-adikku belum bisa kutinggalkan ketika harus menikah sekarang. Mereka membutuhkan aku dalam keadaan ini. Bagiku, mereka lebih berharga dari apapun di dunia ini. Termasuk diriku sendiri. Maafkan saya Pak,” dadaku berdebar kencang, menunggu jawaban dari seberang.
”Bapak mengerti keadaanmu Nak. Sebenarnya, yang ingin Wanda cepat menikah adalah isteriku, karena dia ingin segera menimang cucu, dan kebetulan temanku melamarkan anaknya, yang yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Malaysia. Aku akan merundingkannya kembali bersama keluarga. Kau tunggu saja musyawarah kami, semoga semuanya lancar, dan tidak akan ada yang dirugikan. Perlu kau tahu, Wanda sangat mencintaimu, aku tahu itu karena aku adalah ayahnya,” Ustadz Hamdan menutup dengan salam, aku menaruh Hpku kembali ke saku celana.
Aku meneruskan makanku tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Kubuat senyumku setegar gunung. Suasana menjadi hening, tidak ada yang makan kecuali diriku yang menahan rasa berat dihatiku, walau sebenarnya tak kuasa menahan airmata, namun kutahan sekuat tenaga. Adikku Yasmin angkat bicara, airmatanya jatuh. Wajahnya bersinar
”Kak..., maafkan Yasmin. Maafkan Yasmin Kak..., kau merelakan kebahagiaanmu padaku. Yasmin akan menjadi yang terbaik, agar Kakak tidak menyesal telah melakukan segalanya untuk Yasmin. Yasmin malu pada Allah jika membuat Kakak kecewa, tak kutemukan seorang pun yang lebih mencintaiku ketimbang Kakak,” airmatanya menetes, makan kami yang semula ramai berganti kesenyapan.
”Akulah yang sebenarnya merasa tidak pantas menjadi adik Kak Ihsan. Aku menghabiskan kiriman uang Kakak untuk membeli barang haram, aku bahkan tak mau tahu, jika Kakak disana membanting tulang dan mengorbankan segala senyumnya untukku,” tangannya yang masih diperban mengusap airmata, ”Jika Kakak mengatakan bahwa kami lebih berharga daripada dirinya sendiri, kenapa aku tega memperalatnya. Apakah Allah sudi memaafkan dosa-dosaku, masih bisakah aku memperbaiki semua ini? Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya,” Fajar menggeleng sesenggukan.
Aku mendekati Fajar dan memeluk kepalanya, ”Tidak ada yang terlambat, selama Allah masih memberi kesempatan. Sebelum kita dipanggilNya. Kau harus bangkit adikku, kau harus menjadi karang yang kuat, menjadi ilalang yang bertahan walau amukan angin menerjang setiap saat. Kau harus memperbaiki dirimu, Kakak akan selalu melindungi dan mendoakanmu hingga waktu memanggil Kakak, hingga napasku tak berhembus lagi. Kau tahu, aku mencintaimu karena Allah karena Dialah yang mentakdirkan aku sebagai kakakmu. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu Adikku,” aku mencium kepalanya, tangis Fajar semakin pecah. Yasmin berdiri dan memeluk Fajar dari sebelah kanan. Kami berpelukan, tepat di depan Ibu yang meneteskan airmatanya, tapi bibirnya tersenyum bertasbih.
Ketika hari ketiga Fajar di Rumah Sakit, surat tentang tawaran menikah itu telah dibaca Ibu. Airmatanya kali ini, menandakan bahwa aku telah merelakan kebahagiaanku demi keluarga. Lihatlah, aku paling tidak kuat jika melihat air matanya yang jernih turun, membanjiri pipinya yang telah keriput. Ibu...