Cincin Bulan Persahabatan

Nyanyian Cinta Ilalang

Rumah Sakit Islam Metro masih lengang kala malam, hanya sesekali obrolan para penunggu pasien, bercanda ria atau berbincang tentang apa saja. Dalam mengobati musibah yang menimpa, mereka mencoba menghibur diri agar lebih nyaman, dan menyemangati pasien dengan gurauan agar mereka tidak suntuk. Seorang yang sakit, jika berpikir senang akan lebih cepat sembuh, ketimbang orang yang sakit tapi tak ada yang menghibur dan mencandainya.

Sedari sampai tadi, Ibu setia menunggui Fajar di dekatnya, tangannya yang dulu begitu jeli menggoreng tahu bunting kesukaanku, kini bergetar ketika mengelus rambut Fajar yang dibalut perban. Kulitnya telah menampakkan keriput liukan, begitu fananya jasad manusia. Yasmin akan kujemput besok pagi, karena ini sudah mendekati pagi. Pukul 03.00.

Aku meninggalkan Ibu, yang dalam tidurnya pun tangannya masih bergerak mengelus rambut Fajar, alangkah besar rasa cinta seorang Ibu. Apapun yang terjadi pada anak-anaknya. Matanya yang terpejam pun, mengalirkan airmata bening, bagaikan burung phoenix yang dalam dongeng dikatakan sebagai burung kasih sayang, sehingga airmatanya dapat menyembuhkan luka dalam sekejap, tetapi bukan sembarang orang yang diberikannya airmata, melainkan orang-orang yang bersih hatinya atau orang yang memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Aku berjalan melewati koridor-koridor, tujuanku adalah mushola di sudut timur, bersebelahan dengan ruangan saraf. Sambil melangkah aku teringat sebuah sajak yang kubuat kala kurindu pada pelukan ibu

Ibu

Cintamu bagaikan ilalang yang bergoyang

Walau angin menerpamu kian kemari

Tak goyah akarmu

Tak goyah keyakinanmu

Untuk mencintaiku sampai akarmu tercerabut

Sampai nyawamu menemui Penciptamu

Ibu…

Dengarlah nyanyian cinta ilalang

Yang bergoyang seirama dengan doa-doamu

Untuk menutupkan malam

Bisikmu teduh pada Tuhan, ‘Kasihku untuk anakku, dan tak usah Kau balas’

Karena kau mencintai tanpa alasan, tanpa pamrih, tanpa batas

Kuambil air wudhu. Dingin tapi meneduhkan seluruh dahaga, yang terasa menimpaku bertubi-tubi, seolah sirna tanpa bekas. Ya Allah, Engkau yang menghendaki segala sesuatu terjadi. Tak ada yang luput dari genggamanMu. Kucoba hatiku menyatu denganMu dalam keimanan, sehingga aku selalu yakin bahwa segalanya dariMu, dan akan kembali kepadaMu. Keserahkan segenap urusan padaMu, keserahkan segala pilihanku dariMu. Biarlah hamba menyatu dalam cahayaMu, kala setiap langkah, maka sebenarnya Engkaulah yang melangkah. Kala mataku memandang, maka jadikanlah Engkau yang memandang, kala ku mendengar jadikanlah bahwa Kaulah yang mendengar. Aku bertasbih, mencium sajadah, terlelap dalam buaian cinta Allah. Kini, aku semakin mengerti artinya Engkau menciptakan kami, sebagai manusia yang sebenarnya sangat lemah. KepadaMulah tempat kembali kami.

Ibu menyusulku shalat di belakangku. Kini, semua jelas. Aku harus menjadi imam bagi keluargaku, setelah Bapak meninggalkan kami lebih dulu. Aku membaca surat Ar-Rahman di rekaat pertama, kala ayat penekanan itu kulantunkan suaraku tercekat, Fabiay Yi Aa Laa Irobbikumaa Tukadz Dzibaan airmataku berderai, kudengar isak lirih suara ibu. Beliau menangis. Allah, cintailah kami. Allah, ridhailah kami. Selesai shalat Ibu memberikan sebuah kertas, katanya wasiat dari Bapak setelah mengatakan, “Insyaallah Bapak sudah bertemu Ihsan. Dia nanti pasti menjaga Ibu, dan kedua adiknya,” sebuah surat wasiat. Aku membukanya, di pojok kiri atas tertulis, “Untuk Ali Putraku, harapanku.” Sebelum membacanya, Ibu tiba-tiba bicara pelan.

“Le, bacaan Quranmu kini bagus. Ibu gak nyangka begitu lembut dan mendalam, ngluwehi Bapakmu. Berarti kamu disana, selain kuliah sambil kerja kamu juga belajar membaca Al-Quran ya?” Ibu bertanya penasaran.

“Iya Bu, Ihsan tidak ingin hanya bisa dalam pelajaran umum dan kerja. Tapi, akhirat adalah yang utama. Bukankah jika kita mengejar akhirat, maka dunia akan mengikutinya? Itu yang Ibu dulu sering pesankan, sewaktu Ihsan dagang gorengan.”

Ibu tersenyum dan pamitan untuk menjaga Fajar kembali. Aku membuka surat itu dan membacanya dengan mengucap Bismillah.

Untuk Ali. Putraku, harapanku

Bapak amat rindu padamu San. Sampai-sampai Bapak dikatakan cengeng sama Ibumu. Sudah tua masih sering kangen-kangenan sama anak, dan katanya lagi seharusnya yang rindu itu pasti Ihsan, dia tak punya siapa-siapa di sana, sedangkan kita punya Yasmin dan Fajar. Semoga surat ini dapat mengobati rindu Bapak dan rindumu yo, Le.

Biasanya kalau kamu nulis surat, yang balas surat beramai-ramai. Setiap orang berebut untuk dituliskan sama si Yasmin adikmu itu. Eh iya, dia kini jadi wanita yang lembut seperti Mbak Fatimah. Dia sering mengaji sampai di kota, di tempat Ustadz Azzam yang lulusan Universitas Sudan bareng Bapak. Biasanya Bapak gak pernah nulis surat, tapi rasa rindu Bapak padamu membuat bapak memaksakan diri menulis surat ini, walau tulisan Bapak sepert cacing kepanasan, wong SD saja tidak lulus.

Airmataku kembali tergenang dalam teduhnya malam. Suasana Rumah Sakit Islam tenang. Beberapa orang shalat malam, di antaranya Dokter berkacamata juga shalat malam disana. Aku keluar di pojok Mushola, di pinggir taman-taman penuh bunga, lampu bulat di atas tiang yang menyangganya menerangkan tulisan Bapak. Aku meneruskan membacanya.

Kamu ingat Le, waktu kamu kecil. Alangkah rindunya Bapak padamu San. Kau tahu, jika ingat Bapak ingin minta maaf padamu. Sebenarnya sewaktu malam kamu pulang malam-malam itu, saat itu Bapak sedang shalat malam. Bapak mendengar suara gemerisik kayu disisik, selesai shalat Bapak melihatmu tertidur dan pisau masih di tangan kananmu. Lalu, Bapak membuka tangan kirimu, disana Bapak menemukan ukiran yang acak-acakan seperti cincin dengan maniknya bulan tapi masih legok-legok . Bapak meneruskannya, lalu Bapak memasukkan lagi cincin itu ke tanganmu hingga subuh datang. Maafkan Bapak ya San, sehingga kamu mengira ada Malaikat yang membantumu membuat cincin itu.

Kamu juga ingat Le sewaktu Bapak mengajarimu silat, sebenarnya Bapak saja tidak lulus tingkat satu. Bapak asal saja mengajarimu, tapi kudengar kau mengalahkan dua preman sekolahmu kan? Berarti bapak telah berhasil mengajarimu bela diri. Yah, di antara ilalang yang bernyanyi di tempat kerja Bapak menjadi buruh, karena setiap hari bapak selalu menjumpai ilalang-ilalang itu. Bapak jadi tahu perjuanganmu disana, laksana ilalang yang bergoyang kesana-kemari, tapi tak pernah pergi dari tempatnya, dia teguh menjalankan tugasnya. Ilalang itu, selalu bernyanyi menemani Bapak bekerja, seperti itulah Bapak rindu engkau bernyanyi bagaikan nyanyian ilalang itu. Cinta itu selalu menyanyi dalam jiwa Bapak, rindu itu menyanyi setiap saat. Kuyakin engkau pun bernyanyi layaknya ilalang-ilalang itu, kau melakukannya untuk kami. Nyayian itu selalu kudengar dalam setiap gerak Bapak.

Le…, Bapak curiga dengan si Fajar. Akhir-akhir ini dia sering tertutup sama Bapak. Uang yang kau kirimkan tidak diambil sama sekali, katanya untuk di tabung saja, karena uang untuk sekolah masih cukup. Bapak curiga, dan akhirnya Bapak menyelidiki adikmu pergi ke tempat pesta narkoba. Bapak marah dan pukuli dia. Tapi setelah pulang, Bapak sadar bahwa Bapak harus menyadarkan dia. Jika aku tak bertemu dengannya lagi, salam maafku untuknya ya San.

Satu hal lagi San. Bapak minta kamu sementara jangan menikah dulu, tolong jagalah adik-adikmu dan ibumu. Bapak menyembunyikan penyakit Bapak pada ibumu dan adik-adikmu. Bapak sakit Nak, tidak boleh bekerja keras oleh Bidan, tapi jika tak bekerja Bapak tidak bisa menyekolahkan si Yasmin. Bapak rasa tubuh Bapak sudah ringkih. Terasa sakit terus, tapi Bapak sembunyikan dari ibu dan adik-adikmu, seperti kamu menyembunyikan kesedihan dan perasaanmu di Depok. Aku tahu kamu Le…, karena kita satu aliran darah. Tolong jaga adikmu sampai benar-benar dapat dilepas. Salam dari Bapak yang mencintaimu karena Allah

Ali Rahman yang selalu merindukanmu.

Airmataku tak kuat lagi kubendung. Menetes menyatu jatuh dengan embun pagi, yang menandakan waktu terus berjalan. Tidak boleh berdiam diri menuggu hari, harus dijemput. Begitu pesan Bapak dulu yang selalu terngiang di telingaku.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!