Cincin Bulan Persahabatan

Santri Tugas Dakwah

Kulipat kembali surat itu, aku tak bosan-bosan mengulanginya. Terima kasih ya Allah atas nikmat, yang Engkau berikan kepadaku. Tak kudustakan apapun yang kau berikan kepadaku. Aku melihat pengumuman di pondok, kata Samsul tadi ada informasi penting untuk tingkat tiga. Aku di tingkat dua pondok, kini telah mempunyai adik tingkat pondok. Mereka semua ramah-ramah. Kadang ada yang masuk di kamar meminta nasehat hingga tengah malam. Keakraban terjalin dengan dengan rasa saling membutuhkan, karena ikatan yang terjalin karena Allah ’Azza Wa Jalla akan abadi, hingga pertemuan terindah yang dijanjikanNya.

Pengumuman tentang jatah pengisian khutbah jum’at di sekitar Depok, bahkan beberapa santri yang telah lulus dari Pondok yang masih terpantau, dan tinggal di Depok selalu mendapat giliran untuk menjadi khatib di masjid-masjid kota Depok. Ini menjadi acuan bahwa pondok Darussalam, memang telah mempunyai nama yang baik di masyarakat Depok. Masuk tingkat ke-tiga, sudah ada warning bahwa, dimulainya SKN (Santri Kuliah Nyata) seperti kuliah saja. Namun ternyata informasi ini yang membuat Samsul mengatakan, kalau ada info penting untukku. Ternyata dua nama yang berada di tingkat dua juga telah kebagian jatah, yaitu namaku dan Farid. Rasanya sedikit canggung, tapi inilah proses belajar, apalagi pihak Pesantren telah percaya padaku. Aku harus menjaga kepercayaan itu dengan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Kurasa Farid pun, akan melakukan yang terbaik. Tugasku minggu ke dua, di masjid Ukhuwah Islamiyah. Aku harus mempersiapkannya.

Hari ini belum dapat materi kuliah, maklum baru pertama kali masuk. Biasanya Mahasiswa sibuk mengurusi registrasi. Setelah registrasi, biasanya kami saling tukar pengalaman liburan yang memang lama untuk semester genap, beberapa minggu. Ada yang pulang ke kota, ada yang pulang kampung ataupun rekreasi dan refreshing ke luar negeri. Bermacam-macam. Saat ramai, aku hanya menekuri satu buku yang tadi kubeli di toko buku. Buku-buku tentang tata cara khutbah jum’at. Aku membeli tiga buku, yang dua tentang materi-materinya. Kuedarkan pandanganku, riuh dan ricuh mirip pasar ikan. Tapi..., Aisyah tidak terlibat di dalamnya. Dia membaca sebuah buku, dan duduk di tempat duduknya seperti biasa. Jilbab hitamnya begitu anggun, benar-benar bidadari dunia. Astaghfirullah, hatiku berdesir. Aku menata hatiku, tak kubiarkan ada ruang celah untuk syetan memasuki hatiku.

Aku pulang pamitan dengan teman-teman sefakultas. Sempat selintas Aisyah melihatku, matanya benar-benar lentik. Kutahu dia adalah bidadari..., dan siapakah aku? Dapat bersahabat sudah merupakan rahmat dari Allah untukku. Aku meninggalkan segala syak wa dzon (keraguan dan prasangka). Waktu dhuha masih menyisa, tadi pagi aku belum sempat shalat. Aku naik bikun dan menuju masjid Ukhuwah Islamiyah. Kurendahkan diriku serendah-rendahnya, aku menghiba padaNya dengan ketulusan, betapa hati ini sangat lemah. Sangat lemah. Kalau bukan tanda dariNya, entah jadi apa manusia? Tanpa kedekatan denganNya, tak akan ada lagi cinta dan kasih sayang, tak akan ada lagi seekor ayam yang mengangkat kakinya agar anaknya tak terinjak. Allah, lindungilah hambaMu selalu dari dunia yang melenakan.

Seusai shalat, aku mempelajari buku-buku tentang khutbah yang baru kubeli. Masih banyak waktu hingga Dzuhur dan bekerja kembali di Pasar Minggu, bagiku semuanya indah. Tak perlu ada yang disesali atau dikeluhkan, selama Allah selalu melihat dan bersama kita. ”Alangkah indahnya keadaan hidup seorang yang beriman. Semua urusannya bernilai kebaikan dan yang demikian hanya akan diperoleh orang yang beriman. Apabila dia diterpa kesulitan (penderitaan) dia bersabar, dan yang demikian itu baik baginya. Dan apabila dia memperoleh kemudahan (kesenangan) dia bersyukur, dan yang demikian itu baik baginya .” oh..., betapa indahnya untaian kata-kata mutiara ini, dada terasa lapang, jiwa juga merasakan kebahagiaan, dan hati pun luluh karenanya. Kala orang beriman memperoleh nikmat dan karunia dari Allah, dia bersujud dan bersyukur dan dikala dia diterpa musibah dan kesulitan, dia bersabar penuh harap dan senantiasa berhubungan dengan Allah semata, semua keadaan membuatnya semakin dekat dengan Tuhannya.

Aku membuat beberapa catatan untuk persiapan khutbah jum’at. Pada dasarnya wasiat taqwa merupakan rukun khutbah, sebagai hal yang harus ada. Dapat membahas fenomena sebagai penerangan ummat, tapi semua menyambung pada ketaqwaan. Seorang khotib jangan memaksa jama’ah mengikuti pola pikir yang kian kemari, bertele-tele dan seolah-oleh khatib ingin membeberkan semua ilmunya saat itu juga, secara keseluruhan. Jama’ah jum’at tidak memerlukan paparan seperti itu, Wallahi. Makanya para jama’ah memilih tidur, apalagi khatib tidak bisa mengendalikan intonasi bicara karena kebanyakan bahan. Mungkin jama’ah berkata dalam hatinya, ”Ganggu kenyeyakan aja.” Naudzubillah.

Rasulullah saw menuntunkan materi khutbah sederhana, pokok ujungnya adalah taqwa, bukan sekedar ucapan yang mengundang ghibah. ”Rasulullah saw tidak tergesa menyambung pembicaraan dengan pembicaraan lain yang seperti ucapan kalian. Akan tetapi Beliau berbicara dengan perkataan yang jelas, mudah ditangkap dan diingat oleh orang yang duduk di hadapan beliau .” sehingga tak ada jama’ah yang sempat tertidur jika khotib meniru anjuran Rasulullah saw, karena tidak boleh ada satupun jama’ah jum’at – termasuk khotib – yang merasa aman dari adzab Allah ’Azza Wa Jalla. ”Adalah Nabi saw apabila berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Beliau bagaikan komandan pasukan perang yang sedang berkata, ”Musuh menyerang kalian pada pagi hari!” dan ”Musuh datang sore-sore! ”. Rasulullah saw juga bersabda, ”Termasuk tanda seseorang yang pemahamannya mendalam adalah khutbahnya singkat, shalatnya panjang.”

Adzan menggema. Aku mengemasi buku-buku yang berserakan, memasukkannya ke dalam tas. Panggilan Allah, sudah seharusnya membuat manusia yang beriman segera meninggalkan setiap pekerjaan, untuk bertemu dan berkomunikasi denganNya. Rencananya nanti malam, aku akan menggarap materi untuk khutbah giliranku. Semuanya harus dipersiapkan sematang mungkin, setelah berupaya barulah Allah yang menentukan hasilnya. Setelah menghadap Allah, rasanya aku mempunyai semangat baru untuk menyelesaikan semua persoalan hidupku. Segalanya...

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!