Cincin Bulan Persahabatan
Teringat Aisyah
Astaghfirullah! Tubuhku tersentak. Mataku pelan terbuka, kutatap samar ruangan serba putih. Kamar asrama pondokku. Aku mengingat kembali mimpi yang sempat terjadi barusan. Mimpi yang terngiang. Bibirku kembali beristighfar, aku duduk. Kupejamkan mataku sejenak. Mimpi yang seolah nyata, aku berada di sebuah taman indah penuh bunga, aku sedang main ayunan bersama dua orang. Fadli dan Aisyah, kami tertawa renyah bersama, sambil melihat hamparan sungai yang airnya jernih di bentangkan di dekat bunga-bunga. Allah! Tiada kulupa berdoa sebelum tidur tadi. Aku mencoba melupakan mimpi itu, harus bisa.
Aku melihat jam dinding di atas pintu. pukul 03.00, kuucapkan tahmid lalu mengambil air wudhu. Teman-teman sekamar, ada Syahid dan Samsul yang masih terlelap. Kubangunkan mereka dan memercikkan air. Syahid bangun agak kesal, tapi Samsul meneruskan tidurnya, katanya setengah jam lagi. Mencoba bersepakat dengan syetan ya? Kuambil air lebih banyak. Dan akhirnya dia bangun sambil bersungut-sungut. Biasa, tapi nanti ketika subuh biasanya kami berangkulan, dan membersamai persahabatan karena Allah ini. Jadi tidak masalah, kami harus saling memahami disini.
Kami lalu menuju masjid, disana ada seorang yang berada tepat satu shaf di belakang mihrab imam. Dari baju koko putih itu, kupastikan dia Ustadz Wahid.
Samsul mengambil posisi di belakang. Di pojok sebelah kiri mirip pemain sepak bola pemain sayap kiri, hanya saja dia inginnya selalu di belakang. Bagaimana jika pemain sayap kiri maunya di belakang terus. Gol tidak akan tercipta. Syahid mengambil shaf sejajar dengan Ustadz Wahid, namun di pojok depan sebelah kiri. Aku mengambil posisi di pojok depan sebelah kanan. Kami bermunajat kepada Allah, menyerahkan hati hanya kepadaNya. Saat itulah, mimpi itu seperti slide yang berputar-putar di benakku. Aku mamaki diriku sendiri, tangisku kali ini pecah karena berkurangnya khusukku tidak seperti biasanya. Aku gelisah, Allah ambillah kembali ingatan yang merusak ibadahku.
Jujur kuakui wanita itu memang cantik. Alangkah sempurnanya Engkau sebagai pencipta yang menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Allah, aku tidak meragukan kekuasaanMu. Engkau bisa menggulung daratan kapan saja bagaikan tikar yang digulung untuk dibersihkan, Engkau bisa menabrakkan semua galaksi dan meremukkan bumi semauMu, Engkau bisa mencairkan es di kutub utara dan selatan dan bumi akan menjadi lautan. Engkau meledakkan semua gunung secara bersamaan, dan jadilah bumi serpihan debu. Engkau berhak melakukannya Ya Allah! Demi kekuasaanMu, hilangkanlah rasa yang membuatku melupakanMu, yang menjauhkanku dariMu.
Hilangkanlah..., hilangkanlah ya Allah. Hanya kepadaMu aku menyerahkan segala urusan dunia dan akhiratku. Aku belum bisa menjaga amanah yang Engkau berikan. Ampuni akan kekufuranku Ya Allah. Berilah yang terbaik untukku, walau dengan itu aku harus berpayah-payah. Jadikanlah hatiku tunggal kepadaMu, tak goyah imanku kala badai menjelang, tetapkanlah aku dalam karuniaMu. Karena semuanya adalah dariMu, cukuplah Engkau bagiku. Cukuplah Engkau bagiku ya Allah! Biarkanlah hatiku hanya menjadi milikMu Allah...
Hatiku perih menyayat. Airmataku tumpah, airmata yang tidak seperti biasanya karena biasanya aku menangis karena merasa begitu dekat denganMu ya Allah. Kini aku menangis, karena aku tidak bisa menghadirkanMu utuh dalam sujud cintaku, dalam hamparan sajadah, namun hatiku keras, aku tak merasa menemukanMu. Ampuni aku ya Allah! Ampuni aku ya Allah! Ampuni aku ya Allah...”
* * *
Aisyah berlaku seperti biasa sesudah malam ulang tahun Fadli. Dia memang jarang berbicara dan cenderung pendiam. Hanya dia kini di kelasku yang memakai jilbab teruntai sampai melewati dada, ketika tak sengaja mataku melihatnya. Aku baru sadar, bahwa jilbab yang kubelikan untuk Fadli ternyata untuk Aisyah. Apakah dia tahu itu? Aku tak berani menebak. Aisyah tetap seperti biasa, kadang lelap dengan dunia bukunya. Kulihat dia sedang membaca buku, ’Saksikanlah bahwa Aku Seorang Muslim’ matanya yang lentik betah membaca, ketika Dosen terlambat hadir atau pada saat istirahat.
Wanita itu cerdas, suatu kali sewaktu satu kelompok kemarin, dia banyak menyumbangkan ide. Lingkungan kerjanya mungkin menambah kontribusi atas metode-metode keuangan yang kami kerjakan. Astaghfirullah! Kenapa aku jadi memikirkannya. Ditambah lagi Hanif sering cerita tentang Aisyah, aku kadang memintanya untuk berhenti membicarakan wanita serba sempurna itu. Walaupun begitu, Hanif masih betah bercerita. Apalagi katanya sejak memakai jilbab wanita itu, terlihat semakin anggun dan lembut, walau sikap pendiamnya masih terjadi. ’Benar-benar seorang wanita idaman, karena dia terlihat sudah matang dan mandiri’ begitu biasanya celotehnya, mengganggu pikiranku tanpa dia sadari.
Allah..., hilangkanlah hal-hal yang akan menjauhkanku dariMu. Hasbunallah, cukuplah Engkau bagiku.