Cincin Bulan Persahabatan
Selamat Tidur dari Aisyah
Hatiku berdendang
Penuh rindu
Allah, aku rindu bersamaMu...
Malam menyapa, bulan tampak indah bersinar. Ini hari pertama para santri menginap di pondok Darussalam. Siang yang melelahkan, aku jadi teringat ketika di desa. Tidak ada yang kami kerjakan sendiri jika bersama Bapak dan Ibu. Rindu itu menusuk-nusuk dalam kalbu.
Jumlah santri yang baru berjumlah 31, semua pendaftar diterima. Walau tempatnya masih kurang, namun terdengar kabar kalau pesantren akan dibangun lagi, padahal ditahun-tahun sebelumnya, paling banter Darussalam hanya menerima santri antara sepuluh hingga lima belas orang saja. Siang tadi aku teringat teman-teman yang aku tinggalkan di Asrama Mahasiswa, mereka juga membantuku mengemasi barang-barangku serta membantuku pindahan. Mereka memang sahabat-sahabat yang baik. Syarif yang pintar, Hamid dan Hanif yang lucu, Farhan yang mempunyai aktivitas berjubel, Anto sigondrong teknik dan tentu saja kak Nugroho, mereka semua mengucapkan Barakallah padaku karena aku diterima di pondok. Mereka semua mendoakanku, agar aku dapat menimba ilmu dengan baik, dan semoga Allah meridhai setiap perjalananku. Aku jadi teringat sesuatu, ya, tadi siang ada sms masuk tapi belum sempat aku buka.
Aku membuka Hp, dua sms dari..., Wanda dan nomor baru. Kubuka punya Wanda dahulu.
”Asw. Mantan preman sekarang sudah insyaf ïŠ, semoga Allah memudahkan jalanmu untuk memperbaiki diri, barakallah ya Akh,”
Dasar Wanda, masih suka bercanda. Kuketik beberapa huruf.
”Wass. Masih mending mantan preman daripada mantan Ustadz. Tapi, terima kasih atas doanya.”
Aku membuka sms yang satu lagi.
”Aslkm. Pertm kali kuucapkn trim’s kpd anda. Adik saya banyk berubah, dia smkin percy diri dan kesepianny berkurang. Sebnrnya sy ingin brtemu anda, ya mungkn suatu saat. Kudengar dari adikku, anda jg kulh di UI. Trims banyak. Aisyah kakak Fadli.”
Dari kakaknya Fadli ternyata. Fadli anak yang penurut walau dia agak pendiam, kurasa dia mempunyai masalah yang teramat mencekam sejak kecil. Selama ini dia belum menceritakan apapun kecuali cerita tentang kakaknya, Aisyah. Banyak hal yang kuketahui tentang kakaknya itu, walau aku belum bertemu dengannya. Aisyah, wanita yang membiayai kuliah serta sekolah adiknya sendiri. Wanita tegas yang sekaligus penuh kasih sayang. Tak pernah terlihat menangis, jika Fadli menangis maka Aisyah akan memarahinya, walau sesudah itu dia akan membuat adiknya tersenyum kembali, misalkan dengan membelikan sesuatu yang disukainya. Aku tahu mereka membayarku tidak tinggi, bahkan mungkin separuh dari satunya, tapi jika tidak dibayarpun aku akan tetap mengajari Fadli, karena aku pernah merasakan kepahitan mereka. Wanita itu, yang kata Fadli cantik bagaikan bidadari. Jika mengingat bidadari dunia..., aku pasti teringat ibuku. Dialah bidadari dunia bagiku.
Aku menghentikan lamunanku, kutatap bulan. Kuketik beberapa kata untuk membalas sms dari Aisyah. Dan aku menyimpan nomornya, ”Wass. Aku hanya menjlnkan tugsku. Aku akn berush agar adikmu sellu tersenyum menatap masa depannya. Jangan lupa berdoa untuknya.”
Saat mataku telah lelah, Syahid teman sekamar denganku mengajakku tidur. Kini sekamar kami harus bersabar sementara, sebelum gedung yang akan dibangun jadi. Kami sekamar lima orang, padahal ditahun sebelumnya mereka biasa sekamar dua orang saja. Saat hendak memejamkan mata Hp-ku menjerit pelan, karena volumenya hanya satu.
”Insyaallah, terima kasih. Mungkn hanya Allah yang bisa membalasnya. Met tidur.” dari Aisyah.
Aku menghidupkan alarm Hp, karena pengumuman tadi sore. Besok pagi pukul 03.15 menit, semua santri diharapkan untuk shalat tahajud berjama’ah yang Insyaallah akan diimami oleh Ustadz Wahid. Kututup mataku perlahan, untaian doa Kulantunkan dan aku tak tahu, kapan aku terbang ke dunia maya yaitu mimpi.