Cincin Bulan Persahabatan

Tes Masuk Pondok Darussalam

Subhanallah! aku menutup kembali buku karangan Amru Khalid itu. Kini giliran nomor peserta 23, sebentar lagi giliranku. Tanpa sengaja telingaku menangkap percakapan peserta nomor 22 yang baru saja keluar.

”Sepertinya, aku tidak diterima,” wajahnya begitu sayu tak percaya diri.

”Memangnya kenapa?” tanya temannya yang memakai baju batik.

”Insyaallah waktu tahsin aku lulus tapi ketika tahfidz banyak yang terlupa, hingga dua orang pengawasnya menggeleng-gelengkan kepalanya,” lelaki itu tertunduk lesu di kursi memanjang dan duduk di sebelah temannya.

”Bersabarlah, jika memang tidak lulus. Allah akan memberikan kepada kita tempat yang baik pula. Kita harus yakin itu, yang terpenting kita telah berusaha sekuat tenaga.”

Aku tertegun sejenak, begitukah yang disebut persahabatan? Alangkah indahnya, benar juga kata lelaki tua di masjid tadi. Hatiku mencoba menguak kembali pelajaran berharga yang baru saja kudapatkan. Eh..., siapa nama lelaki tua yang kutemui di Masjid tadi. Kenapa aku tadi tidak menanyakannya. Alangkah ruginya aku, bagaimana menemukannya kembali? Padahal pelajarannya sungguh bermakna.

”Silakan Mas, anda ditunggu,” senyum pemuda itu merekah, kelihatannya dia nomor urut yang ke-24. aku tersenyum membalasnya, ”Iya, terima kasih. Doakan aku masuk, semoga kita dapat belajar bersama disini.”

Pemuda berbaju koko itu menyalamiku sambil memperkenalkan dirinya, namanya Syahid. Aku mengenalkan diriku, Ali. Kami bertukar nomor Hp, lalu aku meninggalkannya dan memasuki ruang tes. Aku mengetuk daun pintunya yang masih terbuka sedikit, ”Assalamu’alaikum,” beberapa suara terdengar samar menjawab salam. Lalu terdengar suara selanjutnya, ”Silakan masuk,” aku memasuki ruang itu. Tiga orang duduk, di belakang sebuah meja kayu panjang. Ruang yang bersih, tanpa ada gambar, sehingga terlihat longgar dan luas. Mereka memintaku menutup pintu dan mempersilakan aku duduk di kursi, tepat ada satu kursi di depan meja. Mungkin berjarak satu meteran dengan meja. Tapi...

Serius! Aku kaget bahkan seolah jantungku hendak meloncat keluar. Kaki yang hendak menyentak buru-buru kukendalikan. Bagaimana tidak, lelaki yang duduk di tengah, yang kini tersenyum tipis kearahku..., ternyata Bapak yang aku temui di Masjid ketika shalat Dhuha tadi. Subhanallah, alangkah sempitnya dunia ini. Baru saja aku memikirkannya, ternyata aku langsung bertemu kembali, bahkan dia termasuk salah satu team penilai penerimaan santri baru di pondok Darussalam. Aku jadi grogi setengah mati, apalagi dia tahu masalahku. Kini aku hanya bisa pasrah, menyerahkan segalanya pada Allah semata.

Mereka memintaku mengambil Al-Quran yang tergeletak di meja, lalu aku membacanya. Mereka bertiga menyimak tenang. Aku agak gemetar membacanya.

”Alif laammiim, Dzaa likalkitaa bulaa roibafiih hudal lilmuttaqiin, Alladzii nayu’ minuu nabilghoibi wayuqii muu nasholaa ta wamimmaa rozaqnaa hum yunfiquun. Baru beberapa ayat, aku berhenti sejenak. Kulihat dua orang yang duduk di pinggir kiri dan kanan Bapak itu, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bapak yang di tengah itu hanya tersenyum sambil menatapku. Aku kembali meneruskan bacaanku, bukankah beberapa hari ini aku telah belajar dengan Nugroho. Mudah-mudahan semuanya lancar karena kupikir bacaanku sudah lumayan baik. He...he...he..., gurauan hatiku sedikit menghibur.

Ketika membaca, ”Wabasy syirilladzii na aa manuu wa’a milashoo lihhaati anna lahum jannaa tin tajrii min tahtihal anhaar..., ” mereka memintaku berhenti. Seorang lelaki setengah baya yang duduk di pinggir kiri dan memakai kopiah putih itu menatapku tenang, seolah hendak berkata-kata yang amat berat.

”Anakku, maafkan kami. Sekarang kamu boleh meninggalkan ruang tes.”

”Tunggu dulu! Aku ingin mengetes tahfidz-nya. Apakah kamu sudah siap anakku?” Lelaki yang kutemui di masjid itu menatapku teduh.

”Insyaallah siap Pak,” jawabku mantap, tanpa grogi sedikitpun.

Lelaki itu menggerak-gerakkan pena-nya, sejenak. Lalu berhenti, matanya menatapku kembali, ”Juz berapa yang kamu hafal?”

”Juz satu.”

”Perhatikan baik-baik. Aku akan mengetesmu,” suasana hening. Ada sedikit kerut di dahinya, mulutnya mulai bergerak kembali, ”Walaa talbisul hhaqqo bil baa tili wataktumul hhaqqo wa antum ta’lamuun, ” matanya berbinar menatapku, seolah menunggu sesuatu dariku. Suaranya sungguh lembut, tapi..., kenapa dia hanya membaca sedikit? Kenapa mereka bertiga menatapku? Heran atau bingung. Aku sendiri hanya menelan ludah.

”Aku..., aku harus melakukan apa? Kenapa kalian semua menatapku aneh?”

”Baiklah, mungkin kamu belum hafal. Akan aku bacakan ayat yang lainnya,” lelaki bermata teduh itu seolah memikirkan sesuatu, ”Kaifa takfuruu nabillaahi wakuntum amwaatan fa ahhyaakum, tsumma yumii tukum tsumma yuhhyiikum tsumma ilayhi turja’uun, ” sekarang teruskanlah ayat sesudahnya.”

Suasana hening. Aku tidak berkata apa-apa, aku tidak bisa meneruskan ayat itu, entah ayat keberapakah yang dibacanya dari juz satu. Akhirnya setelah lima menit menunggu, dua orang yang berada di samping kanan dan kiri lelaki itu, memberikan ultimatumnya. Mereka langsung menilaiku saat itu juga, padahal aku tahu pengumuman tes ini akan diumukan besok. Pertama mereka menyemangatiku, mereka memintaku banyak belajar lagi, karena selain makhrojul huruf yang belepotan juga tajwidnya banyak yang belum pas, terutama bagian mad thobii’ii , idhar, ikhfa’, idghom, dan iqlab. Aku sendiri memang beberapa kali dalam seminggu ini diajari Nugroho, hanya saja aku belum paham benar. Mereka memintaku untuk mendaftar tahun depan, jika aku masih bersedia.

Seolah cobaan yang biasa kudapatkan, walau biasa, namun perasaanku agak terpukul juga. Mereka berdua memintaku keluar dan meminta tolong untuk memanggil peserta selanjutnya. Saat kakinya mulai melangkah selangkah itulah, datang keajaiban Allah untukku melalui lelaki itu.

”Tunggu sebentar Anakku,” aku menghentikan langkahku dan kembali menengok. Kubuat gaya biasa, walau sebenarnya kekecewaanku membuncah, ”Bukankah tadi engkau bilang sudah hafal Juz satu, tapi kenapa dari ayat yang kubaca seolah tidak ada respon sama sekali darimu. Seandainya engkau sudah hafal, bukankah engkau bisa meneruskannya walaupun banyak kesalahan? Bolehkah aku mengetahuinya anakku? Dari raut wajahmu, seolah engkau merasa selalu pasrah pada keadaan.”

Tepat, seolah dia tahu isi hatiku. Aku menatapnya kembali, ”Sebenarnya, seminggu yang lalu aku membeli kaset murottal Al Mathrud, karena aku ingin sekali masuk pondok ini untuk memperbaiki diri, maka aku menyetelnya setiap saat. Setiap aku belajar, setiap aku makan di kamar, setiap aku tiduran, setiap menyetrika. Semua yang kulakukan seolah tak lepas dari mendengarkannya, karena salah satu persyaratan masuk ke pondok ini adalah hafal satu juz. Dan aku menghafalkannya dari kaset, aku tidak bisa meneruskan bacaan yang dibaca terpisah-pisah. Jika diperbolehkan membaca dari awal hingga akhir, aku pasti bisa membacanya. Andai saja..., tapi seolah hanya memimpikan sesuatu yang tidak mungkin saja,” aku menatap mereka sejenak, ”Terima kasih atas kesediaannya mendengarkan penjelasanku. Assalamu’alaikum,” aku membalikkan tubuhku.

”Tunggu dulu!” aku menghentikan langkahku kembali, ”Maukah engkau membacakan hafalanmu yang kau dengar dari kaset itu. Kebetulan aku menyukai bacaan syekh Mathrud, yang merupakan imam masjid riyadh itu. Bacakanlah untukku, aku ingin melihat kejujuranmu, karena engkau di awal bilang bahwa kau telah hafal juz satu. Bacakanlah, siapa tahu kami berubah pikiran,” kulihat ada keterkejutan dari kedua wajah di samping-sampingnya.

Aku tersenyum menatapnya, belum pernah ada orang yang memperhatikanku sedemikian rupa. Aku dengan senang hati ingin membacakannya, apalagi untuknya. Aku duduk kembali, walau terasa canggung aku membacanya. Kuatur suaraku sesuai dengan kaset yang seminggu ini kudengar, ”A’uu dzubillaa himinasy syaithonirrajiim, bismillahirrahmaanirrahiim, alhhamdulillaa hirabbil ’aalamiin. Arrahh maa nirrahiim. Maa likiyau middiin. Iyyaa kana’ buduwa iyyaa kanasta’iin. Ihdinaah shiraathol mustaqiim. Siraa tholladzii na an’amta ’alayhim ghoiril maghdhuu bi’alayhim walaadhoolliin .” ruangan seolah dipenuhi dengan kesejukan, hatiku bergetar, mataku terpejam. Ya Rabbi, dosaku menggunung, ijinkanlah aku bertobat dan memperbaiki dalam mimbar-mimbar cahayaMu. Seolah aku tiada lagi di pijakan bumi, aku seolah tiada bersama manusia-manusia. Seolah di kelilingi para malaikat bermata jernih lagi bersih. Mulutku mencium aroma yang terindah, seolah memancingku untuk tidak mau berhenti, airmataku tiada terasa berjejalan ingin keluar.

”Alif Laam Miim. Dzaa likal khitaa bulaa raybafih, hudallil muttaqiin. Alladzii nayu’minuu nabil ghoibi wayuqii muu nasholaa ta wamim maa razaqnaa hum yunfiquun. Walladzii nayu’minuu nabimaa unzila ilayka wamaa unzilamin qablikh, wabil Aa khiratihum yuu qinuun. Ulaa ikha ’alaa hudam mirrabbihim waulaa ikha humul muflihhuun ...,”

(Alif Laam Miim. Kitab(Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturukan kepadamu dan kitab-kitab yang te4lah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung)

sesudah membaca ayat, ”Wabasy syiril ladzii na aa manuu wa ’alimush shaa lihhaa ti annalahum jannaa tin tajrii mintahh tihal anhar. Kulamaa ruziquu minhaa min tsamaratir rizqan qaaluu haa dzal ladzii ruziqnaa min qablu wa u tuu bihii mutasyaa bihaa. Walahum fiihaa azwaa jum muthah haratuw wahum fii haa khooliduun , lelaki itu memintaku menghentikan bacaanku. Aku membuka mata, betapa kaget. Kulihat mereka bertiga meneteskan airmata. Aku tidak tahu karena sedari tadi aku terpejam. Seolah baru tersadar, kami mengusap airmata masing-masing. Aku mengambil sapu tangan dari celanaku, mereka bertiga mengusap airmatanya dengan tissue yang tersedia di meja. Betapa malu rasanya aku, menangis di depan mereka. Aku merasa bersalah karena membuat mereka meneteskan airmata, aku hanya diam menunggu suara dari mereka.

”Bacaanmu bagus anakku. Sangat mirip dengan Al-Mathrud, tetapi anehnya engkau ketika membaca Al-Qur’an tajwidmu masih sangat kurang, apalagi makhrojnya. Tetapi hafalanmu, sangat bagus, engkau diterima di pondok ini!”

Aku mengangkat kepalaku kaget. Bukan hanya aku, tapi kedua orang di sampingnya sama kagetnya dengan aku. Bibirku bergetar, aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku masih bingung. Kedua orang di sebelah kiri dan kanannya saling berpandangan.

”Tapi Pak, dia...,” di sebelah kiri, lelaki itu seolah mewakili temannya.

”Sudahlah, tidak apa-apa. Insyaallah dia nanti bisa dilatih,” lelaki itu tersenyum padaku.

”Tapi Pak, nanti terjadi ketidakadilan dalam tes ini,” lelaki yang di sebelah kanan angkat bicara.

”Tidak apa-apa, aku sudah memikirkannya. Insyaallah keadilan dan kejujuran akan tetap ditegakkan di Darussalam ini. Percayalah padaku,” lelaki itu sekali lagi tersenyum kearahku. Kali ini aku membalas senyumannya.

Aku keluar dengan tenang. Aku memanggil nomor tes ke-26, dia bertanya kenapa aku di dalam lama sekali. Kubilang padanya ada sedikit masalah, kulihat raut wajahnya semakin pias. Mungkin grogi. Hari itu aku pulang dalam keadaan masih bingung sekaligus bersyukur, entah apa yang terjadi esok saat pengumuman. Kucoba menyerahkan semua persoalan kepada Allah, aku bertawakkal kepadaNya.

* * *

Pengumuman di tempel di depan pondok Darussalam, di dekat lapangan sepak bola footsal. Kurasa aku datang terlambat, karena kulihat mereka telah berlalu meninggalkan tempat pengumuman itu. Kulihat banyak wajah yang ceria berseri, mungkin mereka diterima. Dan..., seolah tidak ada wajah kecewa atau murung. Kulihat semuanya ceria. Aku semakin tak sabar untuk mempercepat langkahku mendekati papan pengumuman itu. Akhirnya sampai juga, dan...

Aneh! Mana daftar calon santri yang diterima? Hanya ada tulisan, atau lebihnya sebuah kalimat, ”31 Pendaftar, kesemuanya diterima.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!