Cincin Bulan Persahabatan

Kemampuan yang Tersembunyi

Pulang sekolah tidak seperti biasanya, Ihsan tidak langsung pulang untuk menjaga adik-adiknya, tapi berlari ke rumah Pak Bayan Yadi, tempat mbak Fatimah dan Ningsih praktek penyuluhan. Burung Darsih bernyanyi riang mengiringi setiap langkah Ihsan, menambah kobaran semangat untuk semakin melaju dengan ayunan angin. Erat tangannya masih memegang baskom plastiknya.

Setelah mengucapkan salam, terlihat ada seorang ibu yang sedang memeriksakan diri pada mbak Fatimah, Fatimah membalas salam dan tersenyum kepada Ihsan yang terlihat ngos-ngosan, pucat. Ihsan langsung bertanya keberadaan mbak Ningsih, ketika Fatimah menjawab di kamar sedang mengambil stetoskop, Ali menghambur ke kamar dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.

Ali menunggu di luar kamar, hingga Ningsih keluar dari kamar sambil memegang stetoskop, “Mbak, tolong jelaskan pada Ihsan, bagaimanakah terjadinya hujan dan salju?”

Ningsih merasa kaget, namun senyumnya segera mengembang, “Baiklah, tapi ayo duduk dulu, lihat kamu masih ngos-ngosan gitu.”

Ihsan duduk di kursi kayu ruang tengah itu, menyusul kemudian Ningsih ikut duduk. Senyum ningsih mengembang pelan. Pikirannya agak ragu. Tapi tidak apalah, dia takut Ihsan kecewa. Kata-katanya meluncur dengan pelan, menjelaskan sedetailnya agar mudah dipahami anak berusia 6 tahun itu.

“Bagaimana? Ya udah kalau Ihsan bingung, nanti atau kapan-kapan Mbak jelaskan lagi,” Ningsih menatap Ihsan yang terdiam, semua indera seperti menyatu, atau malah terlihat bingung total.

“Sudah ya Mbak, cuma seperti itu. Kenapa terlalu mudah.”

Ningsih tak pelak, melongo hingga menyipitkan kedua matanya, keriput dikeningnya menciptakan guratan, “Jangan sok paham, coba jelaskan apa yang mbak jelaskan tadi!”

“Sewaktu udara naik lebih tinggi ke Atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian yang suhunya sekitar 400 C di bawah titik beku, awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar, dan menjadi butir-butir salju. Bila melalui udaranya hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair,” Ihsan menatap mata Ningsih, yang menatapnya aneh, “Apakah ada yang salah Mbak?”

Tidak ada yang diperbuat Ningsih kecuali mengedipkan mata, dan tarikan nafasnya yang teratur, penjelasannya dapat disimpulkan dengan baik tanpa ada kekurangan. Anak berusia 6 tahun ini…, “Enggak… enggak pa-pa sudah benar kok San. Sebenarnya kenapa kamu bertanya tentang sebab hujan?”

“Karena ada hadiahnya dari bu Lastri, dan hadiahnya boleh memilih.”

“Demi hadiah?” Ningsih menggaruk jilbabnya pelan, “Baiklah apakah kamu mau menerima tawaran dari Mbak? Ada hadiahnya, dan kamu juga boleh memilih.”

“Hadiah lagi? tentu saja mbak, apa yang harus Ihsan lakukan?” kenapa hari ini penuh dengan gemerlap bintang hadiah, angin dari mana?

“Kamu harus menghafalkan surat An Naas,” Ningsih tersenyum. Mungkin terlalu berat, apalagi Ihsan masih Iqra 1.

“Ok, besok pagi sebelum ke sekolah, aku akan kesini. Mbak siap-siap saja membelikan hadiah yang Ihsan inginkan,” dan mata Ningsih yang membesar membuat Ihsan semakin bersemangat.

Fatimah ikut bergabung bersama mereka, setelah pasien yang diperiksanya pamitan pulang. Mereka berbincang apa saja, hingga Ihsan harus pamitan untuk menemani Ibunya mengawasi kedua adiknya, sudah beberapa hari ini ibunya libur dagang keliling, karena Yasmin masih terlalu kecil untuk ditinggal. Hari mendekati waktu Ashar, lalu mentari akan mencapai tempat peraduannya. Malam yang gelap akan menyapa kehidupan lagi. Musim rendeng ketika malam, pasti jika tidak hujan maka gerimis pasti menggantikannya. Malam tidaklah sehina pandangan manusia, karena Allah menciptakan gelap, untuk menciptakan cahaya.

Malam senyap. Sedikit suara yang menyisa, suara-suara binatang malam, terutama gangsir yang menyanyikan bunyi riik riik panjangnya melalui kedua sayapnya yang mengembung, melebar dan bergetar ketika berada di luar lubangnya. Walau malam gerimis tak membuatnya bergeming, kadang kilatan menimbulkan garis patah-patah.

Lampu ublik dan petromak terlihat berkelap-kelip di setiap rumah, menandakan masih adanya kehidupan di Gedung Dalam Baru yang letaknya terpencil. Di sebuah rumah geribik yang letaknya di dekat ledeng, seorang lelaki berumur sekitar 30-an sedang berhadapan dengan lampu ublik yang remang, sambil memegang Al-Quran yang masih terlihat bersih, walaupun umur Al-Quran itu telah melampaui sepuluh tahun.

Firman-firman Allah meluncur dari mulutnya, kadang matanya ikut terpejam terbawa alunan suasana, kadang buliran bening mengalir, namun segera di usapnya, karena anaknya kini berada di depannya, sedang mendengarkan dengan seksama surat An-Naas yang sedang dibacanya.

Alunannya berhenti. Sudah tiga kali dia membaca surat An-Naas. Ditatapnya wajah polos anaknya, “Enten nopo ingin menghafal surat An-Naas, apakah hafalannya adalah tugas dari Sekolah? Atau dari mbak Fatimah?”

Ihsan menggeleng pelan, “Sudah ya Pak? Tak kiroin akeh , ternyata Cuma sedikit saja,” senyumnya mengembang. Kembara lamunannya terbang mengangkasa.

“Kalau kamu masih belum hafal, Bapak siap membacakannya lagi, sampai pahlawan dan permata hati Bapak tidak mengalami kesulitan lagi dalam membacanya. Bahkan sampai napas Bapak terhenti,” ditatapnya Ihsan penuh cinta dan kesyukuran, yang ditatapnya hanya cengar-cengir.

“Ura usah Pak, ketika Bapak membaca yang kedua kali, Ihsan sudah hafal kok. Memang bacaan Al-Quran agak susah untuk diingat. He… he…, maafkan Ihsan harus membuat Bapak membacanya berulang-ulang.”

Kini giliran Ali yang melongo terdiam, tapi senyumnya kembali bersinar merekah perlahan, dasar anak kecil, senangnya bercanda, “Baiklah coba kamu baca, nanti bapak pasti tahu, di bagian mana yang belum hafal.”

Ihsan mengambil napas pelan. Matanya terpejam sejenak, membiarkan hembusan dingin malam, menyentuh, dan merambati setiap pori kulitnya yang tidak tertutup kain. Mulutnya mulai terbuka pelan, “Bismillaa Hirrahmaa Nirrahiim,” Hembusan angin di sekitar mereka merekah, hembusannya begitu teduh. Semesta terdiam, tunduk mendengarkan Firman Allah, yang mengalun dari bibir si kecil.

“Qul A’uu Dzu Birabbin Naas ,” si cicak yang merambat di bambu dinding geribik itu terbungkam, sorot matanya teralih dari kupu-kupu tersesat yang sedang di bidiknya dari tadi. Ekornya yang melenggak-lenggok diam lurus. Sesekali hanya kedipan mata dan gerakan napasnya yang terlihat, dzikirnya mengikuti alunan suara kecil itu.

“Malikin Naas ,” Kolomonggo yang sedang mengikat serangga yang terperangkap dalam sangkarnya, di pojok siku geribik atap menghentikan serabut yang keluar dari bawah kakinya. Matanya menatap pendar cahaya di ruangan itu, gigi-giginya bergerak-gerak, mengikuti irama merdu kecil yang membuatnya terpesona.

“Ilaa Hin Naas ,” Nur, sang Ibu terbangun, karena suara mungil nan merdu itu. Ditinggalkannya Yasmin yang terlelap, yang baru berumur beberapa bulan itu, untuk ikut bersenandung melantunkan ayat-ayat cinta. Dilihatnya dari pintu kamar dengan membuka daun pintu pelan, dua orang yang sedang duduk di atas tikar di ruang tamu. Dilihatnya mata sang Bapak bening bercahaya, semburat cinta dan keharuan nampak disana. Basah.

“Min Syarril Waswaa Sil Khan Naas ,” lengang sunyi terliputi pendar cahaya, kegelapan hati yang ternoda telah tercuci, dengan kucuran lelehan embun di mata pendengaran. Hilang sudah kegelapan yang nampak. Seekor burung ’gereja’ betina yang menyelimuti ketiga anaknya di sarang, yang dibuat di atap genting itu mengajak anaknya, untuk bersama memohon perlindungan dan memuji kebesaran Rabb Semesta Alam. alunan membahana, susul menyusul. Entah sudah berapa Malaikat datang, menyelimuti rumah itu dengan cahaya dan pendar ketenangan.

“Alladzii Yuwaswisu Fii Suduu Rin Naas, Minal Jinnati Wan Naas ,” semesta menggema, memantulkan alunan untuk diangkat ke Arsy, kilatan cahaya dari atap langit nampak membelah kegelapan malam, mengusir kegelapan, tak sedikitpun membiarkan golongan pembisik untuk mencuri-curi dengar.

Tiba-tiba terang benderang terasai di hati setiap makhluk, hati yang laksana cermin. Bukan hanya benderang di pandangan mata.

Ali mengusap air matanya pelan, dengan tangannya yang kasar dan ngapal karena keletihan bekerja, namun semua sirna dengan senyuman yang membahana, menyejukkan pandangan. Nur yang sedari tadi berdiri, menyandar di pintu mendekati suami dan anak tertuanya, matanya telah basah dan bercahaya, terpantulkan cahaya redup ublik. Tanganya menggapai rambut Ihsan, mengelusnya pelan nan lembut.

Ihsan menatap bergantian kedua orangtuanya. Inilah saatnya, “Ibu,” pandangannya kini bertumpu pada wanita yang duduk di sampingnya, “Apakah Ibu tahu, Ihsan… Ihsan mencintai Ibu karena Allah,” tangan kecil itu mengusap air mata yang mengalir jernih di pipi Ibunya. Pandangannya beralih kepada lelaki yang masih memegang Mushaf kesayangannya, “Dan Ihsan juga mencintai Bapak karena Allah, Ihsan mencintai kalian semua karena Allah,” suasana menciptakan hening, Nur memeluk erat Ihsan mesra, tak ketinggalan sang Bapak yang biasa bekerja keras tanpa mengenal lelah, memeluk lebar kedua orang di hadapannya. Aliran air mata terus mengalir, air mata penuh kesyukuran.

Fajar terbangun, dan segera menghambur tanpa banyak berpikir, ikut memeluk tiga orang di ruang tamu itu. Tapi sayang, tangannya terlalu kecil menjangkau, hingga sang Ibu menggendongnya. Ihsan mengecup kening Fajar pelan, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Kehidupan terasa indah jika semua hidup untuk saling mencintai karena Allah, tak ada dendam dan permusuhan, yang ada hanyalah saling mempercayai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!