Cincin Bulan Persahabatan

Pemilik Cincin Bulan

Meskipun terlambat, aku harus datang. Acara kajian di masjid Ukhuwah Islamiyah. Aku mendapat undangan berupa sms dari kak Nugroho, masih lebih baik telat daripada tidak datang. Acara kajian itu diisi oleh AA Gym dari Bandung, acara tentang menjaga hati dari kotoran-kotoran yang membuat hati berkarat.

Begitu turun dari bikun, aku menginjakkan kakiku memasuki pelataran Masjid. Pukul 10 pagi. Sebenarnya aku hendak berangkat dari pagi, tapi ada tugas kuliah yang harus aku kumpulkan besok, sementara naskah belum aku tulis sama sekali. Minggu yang seharusnya digunakan untuk waktu lain selain kuliah, ternyata aku masih menggunakannya untuk mengerjakan tugas laporan. Yah! Terpaksa, karena waktu senggangku pada hari minggu.

Sebentar lagi semester dua berakhir, tanpa terasa sudah hampir setahun aku menimba ilmu di negeri kota seberang ini. Kadang aku senang, namun sejenak kemudian aku sangat takut. Takut karena belum ada ilmu yang tercerap dalam memoriku, aku takut jika aku mengecewakan orang tua apalagi Allah yang telah mengutus Rasulullah sebagai nabiNya. Tiada terasa aku telah lama tak mengingat sebuah nama yang dulu menguatkanku di kala lemah, memberi motivasi sehingga menjadikan siswa terbaik. Mawar, salahkah jika kini namamu tak lagi mekar dalam hatiku..., pencarian jati diri ini memang terlampau sulit kuatasi.

Hatiku berdebar cepat, seorang wanita yang kuusahakan melupakannya demi kebaikanku dan kebaikannya. Wanita itu kini berjalan bersama seorang anak kecil, kuperhatikan lebih seksama. Bukankah itu Nurul, anaknya Ustadz Wahid. Aku pasti tidak salah. Aku berdiri terpaku di paping, berbentuk persegi enam kecil-kecil itu. Demi melihatnya, matahari seolah kehilangan pesonanya, angin seolah berhenti bertiup, ragaku bagai terbang tak mengenal jiwanya kembali. Beberapa lama dapat melupakannya, telah sirna kembali begitu melihat wajahnya. Sahabatku yang hilang, dan kulihat di jemarinya melekat indah sebuah cincin, yang pernah kuukir dengan segenap perasaan kehilangan persahabatan. Mawar...

Aku mendekati mereka pelan, langkahku seolah terbang. Lelahku telah hilang. Perasaanku campur aduk, Aku benar-benar takut kehilangan Mawar untuk kedua kalinya. Tapi..., aku merasa telah dipermainkan oleh keadaan, sehingga aku merasa tak punya harga diri lagi. Harga diri?

Semuanya akan kugadaikan, demi persahabatan yang selama ini menjadi semangat hidupku. Jiwaku resah, pikiranku kacau. Entah kekuatan apa yang membuatku mendekati mereka.

”Nurul! Sedang apa disini?” kulihat Mawar dan Nurul menoleh.

” ’Ami!” Nurul menubrukku, dia penurut. Apalagi sewaktu acara khitanan Muslim di pondok Darussalam, aku seharian mengajaknya main. Aku merasa mempunyai alasan tak bergetar karena ada Nurul, umurnya masih tujuh tahun. Aku membenahi jilbab kecilnya, ada rambut yang kelihatan. Matahari diam tak berbahasa, panasnya menyaksikan kami. Aku duduk di depan Nurul, dan Mawar di depanku berjarak 7 meteran menunduk.

”Nurul kesini sama siapa?” aku menanyakan asal.

”Sama ’Ammah Wardah, terus Nurul kepingin pulang karena siang ini Umi mau ngajakin Nurul ke Pasar untuk beli kerudung baru,” Nurul menggoncangkan badannya kekiri dan kekanan. Hingga jilbabnya bergoyang bagai terombang-ambing di lautan luas.

Wardah? Sejak kapan Wardah memakai cincin bulan milik Mawar. Apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana aku mengetahuinya? Semua pertanyaan menguasai pikiranku, hingga aku tak dapat berpikir apa-apa lagi kecuali setiap celah hanya terisi Mawar dan Mawar. Agak lama aku menatap wajah mungil Nurul, walaupun aku agak membayang memandang wajah putih di belakangnya. Hingga tiada terasa, bibirku kelu dan agak lama kami bertiga terdiam, kecuali Nurul yang sedari tadi mempermainkan jari-jarinya.

”Nurul, ayo kita pulang? Nanti Umi menunggunya terlalu lama,” suara lembut itu benar-benar membuatku seolah entah berada dimana, atau di awang-awang, mengapung dan kehilangan segala rasa.

Terkumpul serpihan manis dalam satu harapan

Tak tergores dan tak berubah rasa

Memberikan manisnya, menghilangkan kepahitan

Atau jika ingin mencicipi manis

Maka dialah tujuannya

Menghimpun semua senyum dalam rasa

Mengulumnya membuat lidah bergoyang puas

Namun apakah kebanyakan rasa manis tidak membuat lidah kelu juga

Gula...

Pelan. Nurul melangkah sambil meninggalkanku, senyum yang manis. Aku menggerakkan tanganku, melambai. Aku tak kuasa lagi mencegah persahabatanku untuk menemaniku. Aku tak berdaya ketika jemari yang terpasang cincin bulan itu, menyentuh sejuk jemari mungil Nurul, dan menggandengnya sambil berujar lembut salam, yang membuatku benar-benar kehilangan tempat berpijak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!