Cincin Bulan Persahabatan

Rasa itu Masih Tertinggal

Siang ini sepulang kuliah, aku masuk ke Rektorat. Ada yang harus kuurus. Saat itulah sewaktu aku keluar melewati danau Kenaga, kulihat Mawar sedang naik Bikun. Kucoba menahan segala asa dan gejolak, tapi aku tak bisa. Persahabatan itu telah merubah seluruh hidupku, atau itukah tujuan hidupku. Aku berlari mengejarnya, aku seperti orang gila. Tak kuhiraukan Mahasiswa yang melihatku keheranan, mereka pun mungkin tak mau tahu urusanku. Bikun berhenti di Fakultas MIPA, beberapa mahasiswa turun dan ada yang naik. Aku berjalan biasa walau keringatku bercucuran. Langkahku pelan di belakang bikun, Mawar belum turun. Bikun kembali melaju, akupun melaju dengan kencang. Aku berlari walau bajuku telah lengket dan tas punggungku seolah berat menimpa tubuhku.

Aku terus berlari, sambil hatiku terus bergejolak menyebut nama Mawar berulang kali dalam hati. Aku mengepalkan kepalan tanganku, airmataku memburai. Aku tak kuasa menahan rasa ini, betapa ingin kumenyapanya tapi ada rasa yang menahanku. Ada kerinduan yang menghangat, namun ada kebekuan yang menggumpal. Aku bingung. Akalku pun buntu, aku hanya mengikuti ritme alam yang bergerak.

Bikun malaju melewati Kukusan dan Lapangan Olahraga, di Fakultas Tekhnik Bikun berhenti. Aku pun berjalan biasa sempoyongan, pelan kembali sambil mengatur napas yang senggal. Dia tidak turun, bikun kembali melaju. Akupun berlari kembali, aku hanya ingin tahu dimana dia akan berhenti, itu saja cukup bagiku. Aku melewati Wisma Makara, hingga bikun sampai di Asrama Mahasiswa. Aku sudah kehabisan napas, ngos-ngosan. Aku terduduk lemas, kulihat Mawar turun dari Bikun, senyumnya terukir sambil mengucapkan terima kasih kepada supir bikun. Melihat senyumnya saja sudah cukup bagiku, jalannya yang menunduk menambah keanggunannya. Allah, alangkah hebatnya Engkau, yang menciptakan bidadari seperti dia, aku pun merasa tak pantas untuknya. Cukuplah bagiku melihatnya bahagia. Mungkin itulah yang tertulis dalam persahabatan ini.

Saat itu, kebetulan Farhan juga kulihat turun dari bikun yang baru datang. Aku menghampirinya, berbarengan memasuki Asrama. Saat itu adzan menggema. Aku hari ini izin tidak ke Pasar, dirasa-rasa aku belum pernah absen. Siang itu ba’da dzuhur, aku menyertai Farhan untuk mempertemukanku dengan kedua orang tua anak yang akan kuajari privat. Rumahnya tidak terlalu jauh dari terminal UI maupun Pasar Minggu, mungkin sekitar dua kilometer. Jika terus maka akan menuju terminal Kampung Rambutan.

Rumah pertama yang harus kuprivat ternyata lumayan mewah, hanya saja seperti rumah yang jarang ditempati. Terawat tapi tidak optimal. Yang kami temui hanya Fadli anak SD kelas V yang akan kuprivat nantinya. Bapaknya katanya pergi kerja, kakaknya sedang bekerja, karena selain kuliah di UI dia langsung nyambi kerja, entah diapun tidak tahu apa pekerjaannya. Sepanjang hari, Fadli sering ditinggal sendirian di rumah, alangkah malangnya. Anaknya sedikit tertutup.

Aku dan Farhan sedikit heran, karena Fadli sama sekali tidak menyinggung sedikitpun tentang Ibunya. Ketika aku beranikan untuk menanyakannya, dia menggelengkan kepalanya sejenak, lalu sempat kulihat ada sebening embun, yang seolah membuat lensa kaca membasah tersiram embun. Lalu buru-buru dia mengusapnya, dan tak berkata apa-apa, dia agak tertutup. Walau dia hidup di kota, tapi kurasa nasibnya tidaklah lebih baik dariku ketika aku kecil, yang penuh dengan keceriaan. Tanpa sadar aku telah banyak belajar dari kehidupan.

Fadli juga memberikan sebuah surat, katanya dari kakaknya. Ketika kurasa agak lama, akhirnya kami sepakat untuk pamitan pada Fadli, dan belum memastikan untuk kapan memulai privatnya. Tapi jadwal kami harus mendatangi rumah kedua.

Di rumah kedua, ternyata rumahnya pun terlihat mewah. Kami berbincang akrab dengan Ayah dan Ibu Hasan, anak yang kedua untuk diberi bimbingan. Begitu cerianya Hasan, karena orangtuanya pulang menyempatkan diri untuk bersamanya menunggu kami. Harapan besar orangtua Hasan, menginginkan kami untuk mendidiknya, agar menjadi anak sholih karena mereka kurang bisa mengajari masalah agama, karena mereka kini juga masih belajar.

Kami pulang ketika adzan Ashar menggema. Kami shalat di sebuah mushola di pinggir jalan, Alhamdulillah, di Mushola ini juga ramai. Sempat kuberpikir ternyata didikan orangtua berpengaruh besar terhadap perilaku anak, dari yang diperhatikan dan dibiarkan saja. Perbedaan itu sangat mencolok ketika melihat Hasan dan Fadli, Fadli yang rendah diri dan tertutup, mungkin karena kurang perhatian. Kasihan dia. Aku sangat bersyukur karena kedua orangtuaku, begitu sayang kepadaku walau dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Namun bagiku, itu lebih dari cukup untuk bekalku, mengarungi kehidupan yang penuh dengan jalanan terjal.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!