Cincin Bulan Persahabatan

Teman-teman Baru

Tengah hari ini, kota Depok sejuk di antara pepohonan dan bunga-bunga, yang walaupun liar namun ditata dengan indah. Universitas Indonesia, aku datang kini. Membawa harapan dan semangat. Kutahu informasi ketika aku masih SMK, Universitas Indonesia secara resmi berdiri sejak tanggal 2 Februari 1950, mempunyai latar belakang sejarah yang unik. Awalnya dikenal dengan Universiteit Van Indonesie, yang didirikan oleh pemerintah Belanda tahun 1946. karena Indonesia mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945, maka pemerintah Belanda menyerahkan Universitas tersebut kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1950, dan sejak itu dinamakan Universitas Indonesia. Pada tahun 1951, UI hanya terdiri dari 10 fakultas yang tersebar di lima kota besar, Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Kemudian, cabang-cabang di luar Jakarta tersebut, menjadi universitas-universitas atau institut-institut yang berdiri sendiri.

Sejak didirikan, UI telah mengambil peranan penting di negara ini, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga di banyak bidang lain. Ketika Orde Baru dimulai pada tahun 1966, Pemerintah telah menunjuk beberapa guru besar UI, untuk menduduki jabatan Menteri, dengan tujuan untuk memulihkan kembali situasi Ekonomi nasional. Sejak saat itu, UI secara konstan telah memberikan kontribusi nyata pada usaha-usaha Pemerintah, untuk meraih kemakmuran nasional.

Pada tanggal 26 Desember 2000, melalui Peraturan Pemerintah RI Nomor 152 tahun 2000, Universitas Indonesia ditetapkan sebagai perguruan tinggi negeri mandiri berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Dalam status tersebut, UI wajib lebih mengedepankan kinerja pengelolaan sebuah universitas publik, dengan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan transparansi.

Aku berjalan menyusuri jalan yang berada di sebelah kiri danau, yang baru kutahu namanya dari Wanda, ya, danau Kenanga. Terletak di dekat masjid Ukhuwah Islamiyah, pusat masjid UI. Wanda berjalan di belakangku sekitar 5 meteran. Sesekali dia mengajak berbicara. Rektorat UI terlihat begitu tinggi dan megah, bentuknya seperti pagoda, yang sekilas mempunyai lima ujung lancip, dan di tengah yang paling tinggi, sedangkan ujung yang empat mengelilingi lancipan yang utama. Besar sekali, mungkin bisa untuk menampung semua orang di Kampungku.

Danau Kenanga terhampar sejuk, menjadikan airnya berkilauan terpantul kehijauan, dan pernak-pernik bunga yang mengelilinginya. Maka, ia tampak tersenyum saat ditimpa sinaran mentari. Beberapa pemancing saling bercakap sambil menunggu penuh harap, dan beburung menata sarangnya di atas pepohonan di tepiannya. Seakan, tiap jenis kehidupan menjadi lebih bahagia berada di danau ini.

“Sepertinya celanamu tidak sesuai dengan dirimu Ali?” sebuah suara lembut dari arah belakang, kembali menyapaku.

“Sebenarnya aku juga tidak mau lagi memakai celana ini. Aku salah sangka. Kukira di Jawa orangnya keras, seperti persaingan bisnis di televisi dan koran yang selalu memanas, juga di koran-koran yang beberapa kali terjadi banyak kejahatan dan kekejian di daerah Jawa. Makanya aku iseng memakai celana ini, agar aku tidak diganggu disini. Setelah ini, aku tidak akan memakainya, aku selalu malu jika mengingatinya. O..ya, kenapa kamu bertanya seperti itu Wanda?”

“Tidak, hanya saja aku sempat heran kemarin. Masa’ ada preman baca Al-Quran di dalam bus. Wah bisa buruan kiamat nanti, karena semua serba kacau dan gonjang-ganjing,” Sempat kumenoleh sejenak, tawa kecilnya begitu ceria. Jilbabnya berkibar terkena sepoi angin, bersinar terpantul sinar matahari. Aku meneruskan langkahku.

Tak lepas mataku dari keindahan. Beberapa bunga kertas berjejer, ditata dengan indah, bunganya pun tersenyum sambil tergerak keatas, menatap sang surya. Beberapa orang terlihat memancing dengan takzim dan mesra, menunggu penanda tergerak ke dalam, dan senar terasa tertarik. Wajah ceria tampak, ketika seekor ikan berwarna hitam yang di kampungku belum pernah kulihat terangkat keatas, dan mereka masukkan ke dalam wadah yang telah mereka sediakan. Beberapa pasangan lelaki dan perempuan, kulihat sedang duduk-duduk memandangi danau dan burung yang riang hinggap dan terbang. Semuanya bagaikan surga dunia, hingga kami sampai di gedung tinggi menjulang itu, masuk dari arah belakang, karena di samping kiri sedang ada perbaikan.

Hari ini aku benar-benar mengikuti semua yang dilakukan oleh Wanda, semuanya! karena aku memang tidak tahu sama sekali, proses daftar ulang dan mengurus semua persiapan kuliah disini bagi Mahasiswa baru yang menerima PPKB sebagai program UI, yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa baru yang berprestasi dari daerah. Naik lift pun aku belum pernah, makanya aku mengikutinya ketika naik lift di Rektorat, sungguh malu rasanya, namun apa boleh buat. Wanda sedari tadi sepertinya selalu tersenyum kecil, sambil mengajariku segala sesuatu yang berhubungan dengan cara kuliah, entah darimana dia tahu banyak seperti itu.

Setelah melakukan registrasi dan pendaftaran mahasiswa PPKB, aku mengikuti Wanda lagi naik bus menuju Asrama UI, karena aku juga belum tahu tempatnya. Bus kembali membawaku, kulihat sang supir bukan yang pertama kali kunaiki sewaktu datang ke UI. Kulihat jendela, aku melewati Fakultas MIPA. Bus berhenti, seperti yang kuduga, beberapa orang naik dan turun. Bus kembali mengepakkan sayap-sayapnya, mengibaskan debu-debu jalan. Pemandangan begitu indah kupandangi, hutan karet yang asri, dan beberapa danau yang menyejukkan ditambah lagi, aku teringat persahabatan yang selama ini aku perjuangkan dengan seluruh jiwaku.

Bus melewati Wisma Makara, entah untuk apa bangunan itu, aku hanya melihat plang di depannya saja. Mobil terus melaju, dan berhenti di salah satu halte dan beberapa mobil juga sedang berhenti disana. Mungkin ini pangkalan busnya, pikirku. Mungkin bus akan melaju kembali, tapi ternyata semua penumpang turun tanpa tersisa sama sekali, Wanda kembali mengingatkanku untuk turun. Aku turun dari Bus, ada plang tertulis di depan, “Asrama Mahasiswa.”

“Ali, kita harus berpisah. Mendaftarlah di bagian asrama putra karena asrama putra dan putri terpisah,” tangannya menunjuk kearah bagian bangunan bertingkat di depan kami.

“Baiklah. Terima kasih atas semua bantuannya,” aku beranjak meninggalkannya.

“Ali,” Wanda menghentikan langkahku kembali.

Aku menoleh, “Ada apa?”

“Senang berkenalan denganmu. O ya, kamu punya nomor Hp?”

Aku tersenyum padanya, “Sama-sama, terima kasih banyak atas bantuannya dan maaf, aku tidak punya handphone,” aku mulai melangkahkan langkahku lagi tapi aku teringat sesuatu, “Wanda! Assalamu’alaikum,” agak kaku.

“Wa’alaikumsalam Warohmatullah, maaf Ali, ada satu hal lagi pesanku.”

“Apa itu?”

“Jangan pakai lagi celanamu itu ya!” wajahnya bagai pualam yang kemerahan, ditimpa cahaya matahari.

Aku tersenyum, ada-ada saja. Aku berlalu menaiki tangga, kantin mahasiswa terlewati. Matahari tersenyum, panas menyapa. Tasku telah berat terasa. Dzuhur tiba.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!