Cincin Bulan Persahabatan

Bulan dan Kunang-Kunang

Jumat sore, ketika anak-anak TPA hampir pulang. Ihsan mendekati Mawar yang sedang duduk di pelataran Mushola, ketika mbak Fatimah dan Ningsih sedang menilai tulisan para anak didiknya dalam buku masing-masing.

Nampak kawanan burung Kuntul terbang membentuk huruf V, dengan ujung runcing ke depan. Persis mata panah raksasa, terbang kearah selatan untuk pulang ke sarang mereka kembali, setelah paginya terbang kearah utara untuk mencari rezeki. Tiadakah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada menahannya selain dari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang beriman.

Dalam bukunya 7 habbits, Sean Covey mengemukakan bahwa para ilmuwan telah menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam cara terbang burung, yang terbang membentuk mata panah itu. Dengan terbang dalam formasi, seluruh burung mampu untuk terbang 71 persen lebih jauh, ketimbang kalau masing-masing burung terbang sendiri. Mengapa? Ketika seekor burung mengepak sayapnya, terciptalah arus angin bagi burung berikutnya, yaitu burung yang terbang berada di belakangnya, namun agak serong sedikit. Terjadilah efisiensi energi yang luar biasa akibat energi ini. Jika burung paling depan letih, ia akan mundur dan mengambil tempat di belakang, kemudian segera akan ada yang menggantikannya menjadi pemimpin perjalanan. Burung-burung yang terbang di belakang pun mengeluarkan suara yang keras, untuk menyemangati rekannya yang di depan. Setiap kali seekor burung keluar dari formasi, ia akan merasakan tekanan dan tolakan angin yang besar, sehingga buru-buru ia akan kembali ke formasi.

“War, nanti malam kita main yuk. Kata Bapak, kalau malam di dekat Balong sering ada kunang-kunang. Aku sendiri belum pernah melihatnya,” Ihsan menatap Mawar yang masih melihat jalanan yang sepi.

“Insyaallah San. Nanti aku izin dulu sama mbak Fatimah.”

“Baiklah, aku mau meneruskan ngaji dulu,” senyumnya merekah pelan.

Mawar menoleh kearah Ihsan yang telah menerima bukunya kembali, setelah dinilai oleh mbak Ningsih. Ditatapnya wajah polos yang telah menemaninya beberapa hari ini, San apakah kamu tahu, kamu adalah teman pertamaku yang menyenangkan. Apakah kamu tahu? Besok aku akan dijemput Umi kembali ke jakarta. Nanti malam aku akan menemanimu. Tunggulah aku…

* * *

Malam menyapa, jangkrik berpesta ria, katak berdendang, combre mengakak tawa, burung Guek menatap liar, luak merambat keluar dari rumpunnya, bintang bertebaran, bulan cerah menyapa jagat. Sungguh malam ini tidak seperti biasa di musim rendeng . Biasanya hujan, jika tidak, setidaknya gerimis kecil menyapa bumi. Malam ini bulan tersenyum indah, bulan tanggal 15.

Bocah Gedung Dalam Baru secara serempak tanpa komando keluar rumah, untuk merayakan masa kecilnya, di bawah sinar bulan, berdendang ria, bermain gobak sodor, petak umpet atau sekongan. Ah! Betapa indahnya masa anak-anak.

Rik…rik… suara gangsir telah menjadi incaran beberapa bocah yang telah mengendap-endap mendekatinya, dengan melangkahkan kakinya tanpa suara. Setelah dekat, tubrukan berupa rebutan yang dilakukan bersama itu ternyata bernilai gagal total, gangsir itu telah mengetahui gerak yang mengancam, melalui dua antena di atas kedua matanya.

“Kencingi bersama lubangnya, pasti gangsir sial itu akan keluar,” saran Wahyu yang merasa kesal karena lompatannya didahului Bimo.

Bimo, Wanto, Kubro menganggukkan kepalanya pelan tanpa suara, mengiyakan saran Wahyu, dan suurrr! Air telah menggenangi lubang gangsir itu, hingga lubang itu penuh dengan air, dan meresap meninggalkan basah, masuk ke dalam lubang. Beberapa detik, seekor gangsir besar keluar kepayahan, membuat mereka segera menubruknya, hingga binatang itu mati tertekan tangan-tangan serakah itu. Akhirnya, mereka tetap memakan bersama seberapa pun dapatnya, namun untuk mengetahui siapa yang paling hebat, mereka diajarkan alam untuk saling berebut mendahului.

Ihsan tersenyum melihat Mawar, yang berada diantara penonton yang sedang menyaksikan permainan gobak sodor, mawar membalas senyuman itu.

“Ayo kita ikut main?” tanpa menunggu jawaban, Ihsan segera menarik tangan Mawar, mereka suit untuk menentukan siapa yang harus masuk ke dalam kelompok yang sudah menang. Permainan dimulai, Mawar sering melakukan kesalahan karena dia belum pernah memainkannya, hingga sering kebobolan ketika menjaga.

“Aku keluar!” Mawar merasa bosan karena selalu melakukan kesalahan, Ihsan mengikutinya sambil berpamitan kepada teman-temannya. Sepeda mengayun kembali, mereka menuju balong, walau waktu menunjukkan pukul 21.00.

Sepeda kecil itu tergeletak begitu saja di tanggul ledeng. Ihsan mondar-mandir gelisah menunggu sesuatu, “Dimana mereka bersembunyi ya? Padahal kita sudah lama disini.”

Mawar menggoncang-goncangkan kakinya di atas permukaan balong, gelombang air yang timbul terlihat indah, karena membuyarkan bayangan rembulan penuh di permukaan balong.

“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kita harus sadar bahwa pertemuan yang kita rasakan indah, mengisyaratkan bahwa perpisahan merupakan awal yang indah, untuk menciptakan pertemuan kembali,” Mawar semakin menundukkan kepalanya, memandangi air, “Sebenarnya besok aku akan dijemput Umi untuk kembali ke jakarta. Aku ingin berkata jujur padamu San. Namaku sebenarnya bukan Mawar, namaku…,” kalimat itu terhenti sejenak, “Namaku…, San, San!” wajah putih itu mendongak, Astaghfirullah…, Ihsan berada sekitar 30 meter di pinggir balong, di kebun milik mbah Teno, berjalan mengendap-endap.

“Berarti…” wajah putih itu berubah merah, “San! Sedang apa kamu disana?”

Ihsan hanya meletakkan jari telunjuknya di antara bibirnya. Mawar semakin kesal, hingga Ihsan merangsek ke depan, telungkup di tanah, “Horee…dapat! Aku dapat gangsir besar,” Ihsan menggengam gangsir, itu dan membawanya kearah Mawar.

“Untung saja suaramu tidak membuatnya takut,” Ihsan tersenyum bangga.

“Jadi, kamu tadi tidak mendengarkan aku bicara?”

“Bicara apa? Baiklah, sekarang aku akan mendengarkannya. Memangnya Mawar mau ngomong apa sih?” wajah polos tanpa kabut itu, pias terpantul cahaya rembulan.

“Dasar anak desa!” Mawar kembali menekuri sujud pandangnya ke air.

Ihsan semakin bingung, “Kenapa kamu marah?” lalu ikut duduk di samping Mawar, “Aku dapat gangsir besar, rasanya enak banget. Kita bakar disini saja ya?” senyumnya, mencoba melerai kecemberutan Mawar yang kini bertopang dagu.

“Jangan!” Mawar tiba-tiba menoleh cepat kearah Ihsan.

“Kenapa? Kalau kamu gak suka, biar aku sendiri yang memakannya.”

“Jangan!”

“Kenapa?” Ihsan menatap Mawar penuh tanda tanya, anak ini memang aneh.

“Kasihan, dia juga makhluk Allah. Dia juga ingin hidup,” suara itu merendah.

Ihsan tersenyum untuk kesekian kalinya, “Baiklah sahabatku, kamu tidak usah menangis. Untukmu, aku akan melepaskannya.”

Mawar tersenyum manis, meminta binatang itu dari tangan Ihsan, lalu melepaskannya di semak-semak tanggul. Semburat kelegaan tampak dari wajahnya yang memantulkan sinar rembulan, yang telah berada tepat di atas kepala.

Malam semakin senyap, tinggal suara-suara angin yang masih mendesau. Suara katak masih menyisa, tepatnya tengah malam.

“San, apakah kamu mau menjadi sahabatku selamanya. Hingga… kita tua nanti,” kesenyapan yang tercipta lama, membuat Mawar harus memulai, Ihsan dari tadi merebahkan dirinya di rumput tanggul, “Aku memang belum bisa menjadi teman yang baik, tapi aku akan berusaha San. Aku selama ini kesepian, ketiga Kakakku jarang mau menemaniku, Ayahku jarang pulang, dan ibuku lebih menyayangi Kakakku dan sering mengabaikanku, aku ingin menjadi temanmu San,” isak pelan itu mengalun pelan, agak lama menambah kesenyapan malam, “San…, kumohon jadilah temanku? San…, San, San!” wajah sendu itu menoleh, menatap Ihsan yang tersenyum. Tidur pulas.

Mawar tidak menyiratkan kemarahan kini, dia merebahkan dirinya di samping Ihsan. Bulan yang indah, alangkah indahnya jika dia hidup di desa selamanya, tanpa ada kebisingan jalan. Matanya mulai menutup perlahan, malam terakhir ini, akan dimulainya dengan merubah sikapnya yang selalu berbuat kasar.

Ihsan membuka matanya, silau cahaya membuatnya terbangun. Diedarkan pandangannya berkeliling, rembulan mulai turun melewati tengah malam. Di sebelahnya, Mawar telah terlelap. Matanya menatap gadis kecil yang baru beberapa hari ini bersamanya, bukan itu yang dilihatnya kini. Tapi, beberapa kunang-kunang yang baru dilihatnya pertama kali ini, sedang berputar-putar di atas wajah pias Mawar. Wajah itu begitu bersinar, andai saja dia mau sejenak menjadi sahabatku, walau pergi lagi.

“War, bangun War. Lihatlah, banyak kunang-kunang,” Ihsan menggoncang-goncangkan tubuh Mawar pelan. Gadis kecil itu membuka matanya, senyumnya merekah, bagaikan mimpi, dia dikelilingi cahaya. Mereka saling tersenyum.

“Indah bukan?” Ihsan mengangkat kedua tangannya ke atas, menyatukan teluntuk kanan dengan telunjuk kiri, dan ibu jari dengan ibu jari. Mirip bentuk lingkaran tak sempurna namun juga segitiga tak sempurna, me-ngeker rembulan penuh, dan memasukkannya dalam lubang jemari yang dibentuknya, “Lihatlah rembulan dari tanganku.”

Mawar mendekatkan kepalanya menyentuh kepala Ihsan. Bulan itu benar-benar berada dalam lingkaran tangan Ihsan, begitu mempesona membuat mereka merenda imajinasi masing-masing, ditambah kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang menyemarakkan panorama. Bagaikan melihat bulan dari teropong. Lama mereka menatap wajah bulan, yang terus menyapa bumi dengan cahayanya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!