Cincin Bulan Persahabatan
Kisah dari Pak Bejan
Aku membuka perlahan dan mengunci pintunya. Zahra sedang menyisiri rambutnya yang terurai panjang di depan cermin. Mematut-matut dirinya. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang, kucium rambutnya. Ada aroma wewangian yang menyetrum anganku. Saat dia berbalik, dan saat bibirnya yang ranum mendekatiku, dering Hp-ku berbunyi.
Nomor baru, Zahra tersenyum dan mempersilakan dengan anggukannya, walau wajahnya sedikit kecewa.
Suara seorang lelaki.
”Iya saya sendiri,” namaku disebutnya. Ada sesuatu ”Ada apa Pak?”
”Baik Pak, saya segera kesana,” hubungan terputus.
Zahra menatapku, ”Ada apa Kak?” wajahnya juga panik, mungkin melihat wajahku.
”Temanku kuliah kecelakaan, lukanya parah,”
”Siapa dia?”
”Aisyah.”
”Siti Nur Aisyah?”
”Kau kenal dia Dik?”
”Sangat kenal,” akhirnya malam itu, kami meluncur menggunakan mobil mbak Fatimah, kebetulan dia menginap di rumah Syaikh Wahid juga. Aku mengemudi mobil, membelah aspal menghitam, jarak Rumah Sakit Umum tak begitu jauh dari terminal Depok, tepatnya di pusat kota.
”Kami sering berdiskusi dan menghadiri kajian bersama, termasuk ketika Kakak menggantikan Dr. Ramadhan Al Buthy,” di mobil Zahra bercerita.
Kami sampai. Aku dan Zahra langsung menuju Unit pelayanan, kecelakaannya terjadi tadi pagi. Tabrak lari. Aku bertanya pada perawat yang memakai kerudung.
”Pasien bernama Aisyah tadi pagi memang masuk UGD, tapi sekarang dia dipindah ke kamar melati Nomor 2,” aku dan Aisyah menuju lorong-lorong di antara kamar-kamar, kami berhenti di depan kamar berkodekan ”2 Melati” kulihat Fadli sedang duduk di kursi panjang, di depan kamar itu, dia terpekur.
”Assalamu’alaikum Fadli,” bocah itu langsung memelukku erat dan menangis.
Seseorang datang dari arah lorong utara, lelaki yang amat kukenal, ’Pak Bejan’ dia menatapku kuyu.
”Aku terlambat anakku, ini kesalahanku,” aku dan Aisyah mendengarkan pak Bejan. Fadli tertidur di kursi berbantalkan pahaku, ”Dia adalah keponakanku, dulu keluarganya kaya. Kehidupan Aisyah begitu dimanja, hingga ayahnya meninggal dunia. Ibunya yang sendirian ingin menikah lagi, walau Aisyah tidak setuju. Setelah ibunya menikah lagi itulah, beban berat mulai merongrong kebahagiaan Aisyah.
Ayah tirinya hanya bisa menghabiskan uang ibunya, usahanya yang bangkrut membuatnya hanya bisa marah-marah setiap pulang. Setelah itu, kerjaannya hanya mabuk-mabukkan dan berjudi. Lama-kelamaan kekayaan dan perabotan rumah dijualnya satu persatu, Aisyah harus bekerja untuk membiayai kuliahnya, sedangkan ibunya menjadi tukang jahit untuk memenuhi keperluan sekolah Fadli.
Puncaknya adalah ketika ayah tiri Aisyah, menemukan harta terakhir yang disimpan Ibu Aisyah, dia adalah kakak iparku. Ibunya berusaha sekuat tenaga mempertahankan harta terakhir itu, suaminya memaksa dan memukuli Ibu Zahra. Saat itu Ayah tiri Aisyah sedang mabuk, maka tanpa ampun isterinya dipukuli hingga berbuntut pada komanya adik iparku itu,” lelehan airmata membasah di wajah tua pak Bejan. Biasanya kulihat dia menyupir bikun dengan ceria, malam ini sangat berbeda.
”Kau tahu cerita selanjutnya Ali?”
Aku hanya menggeleng.
”Dialah yang membiayai sendiri sekolah adiknya, biaya kuliahnya dan biaya perawatan Ibunya di rumah sakit ini. Ibunya masih hidup hingga kini, tapi keadaannya bagaikan orang yang tertidur hingga tahunan. Aku tak bisa membantunya, karena anak-anakku tiga, semuanya harus sekolah dan pekerjaanku hanyalah supir bikun. Aku tak kuasa membantu banyak, hingga hari itu, dia ingin aku mengatakan sesuatu padamu bahwa dia mencintaimu. Tapi...,
Tapi..., dia tak mengharapkan kau mencintainya, dia hanya ingin kau tahu lewat perantaraanku. Tapi semuanya telah terlambat. Saat dia tahu kau menikah, dia hendak pergi ke Pesantren, saat hatinya labil itulah sebuah mobil sedan yang mengebut menabraknya. Alhamdulillah, sore tadi penjahat yang tidak bertanggung jawab itu tertangkap, dan dia siap membiayai biaya perawatan Aisyah. Hanyalah namamu yang disebutnya dalam lirihnya. Dan ini..., kutemukan di dalam tasnya, sebuah surat yang akan dia berikan padamu ketika hendak ke Pesantren,” aku menerima amplop warna polos itu.
Zahra mengangguk, menyilakanku untuk membacanya. Kubuka pelan.
Maret 2008
Untuk Ali, sahabatku..., kutulis kala hatiku serasa diiris-iris
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Kuberanikan diriku untuk menyusun kata untukmu dan menyerahkannya untukmu. Berita tentang pernikahanmu, membuatku semakin sadar. Bahwa, deritalah yang akan selalu hinggap dalam hidupku. Allah, kini..., aku hanya punya Allah. Dalam segala kesepian dan nestapa.
Semoga kau bahagia sahabatku...,
Terimakasih kau telah menyelamatkan kesucianku
Aku menutup mataku, kenapa harus berterima kasih untuk sebuah kewajiban Ais?
Ketika semesta mengagungkan nama Allah, ingin kuungkapkan perasaanku padamu, semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan dosa-dosamu. Aku mencintaimu Ali, sangat mencintaimu. Jika tak di dunia ini, kuharap kelak di akhirat. Jika sesuatu hal terjadi padaku, tolong jagalah adikku untukku.
Siti Nur Aisyah
Ada beberapa titik bekas air, yang membulat dan melebar di kertas itu. Aisyah menangis saat menulis ini. Saat aku menutup surat itu, sebuah berita dari seorang suster mengagetkan kami, Aisyah telah siuman.
Kami diperbolehkan masuk, tubuh yang dulu begitu sempurna, kini telah menampakkan perbannya di setiap bagian tubuhnya. Jilbabnya masih kokoh menutupi wajahnya, saat sang suster hendak melepasnya, Aisyah menolaknya keras. Dia ingin memakai mahkota itu.
”Ali...” bibirnya bergerak. Zahra ikut menangis.
”Semoga kalian bahagia sahabatku,” Aisyah menatap Zahra.
Bibirnya bergerak kembali, ”Bolehkan aku meminta padamu sesuatu Zahra?”
”Katakanlah saudariku,” Zahra menggenggam tangan kanan Aisyah.
”Sebelum Allah memanggilku, kumohon. Perkenankanlah Ali menjadikanku isteri keduanya. Izinkanlah, aku ingin menunggunya di sisiNya, aku ingin menghadapnya dalam keadaan sudah menikah. Kumohon Zahra..., pahamilah aku... uhuk..uhuk,” matanya tak henti melelehkan embun air.
Zahra menggelengkan kepalanya pelan, airmatanya tumpah, ”Aku tak bisa Aisyah..., aku tak bisa, jangan paksa aku,” aku hanya diam mendengarkan mereka.
”Kumohon, tidakkah kau lihat kebaikan untukku. Mungkin, hanya sejenak saja. Mengertilah Zahra...”
”Jangan paksa aku Ais,” mereka sama-sama menangis.
Percakapan itu berulang terus. Kepalaku seolah berat, bagaikan ada bisikan-bisikan, atau sama dengan jarum-jarum yang menusuk keras dan menghunjam. ’Jangan paksa aku’ ’Komohon’ ’Mengertilah’ ’Tolong mengertilah aku’ ’Pahami aku’ kepalaku berat, berkunang-kunang. Bumi tempatku berpijak bergetar dan semuanya gelap. sangat gelap.