Cincin Bulan Persahabatan
Maafkan Aku Mawar
Hujan turun begitu lebat, aku berlari meninggalkan tumpukan jerami yang siap di gebuk-kan. Kujatuhkan begitu saja di atas terpal. Padang pepadian yang siap panen, menjentikkan deburan air yang tercurah dari langit Allah. Aku berteduh di gubuk. Membuka caping, dan duduk nangkring di anyaman bambu yang biasanya digunakan Bapakku dulu ketika kelelahan untuk tidur sejenak.
Mendung semakin gelap dan menggumpal-gumpal. Tidak seperti biasanya. Deburan angin menyebabkan buliran air hujan menampar wajahku keras, walaupun aku sudah mundur beberapa langkah ke belakang, hingga merapat di gedek belakang. Aku kedinginan. Awan semakin pekat menggulung, pohon-pohon di sekitar sawah seolah bagaikan nyiur yang terpelanting kesana dan kemari.
Mataku menangkap satu titik. Sosok berjilbab yang berdiri berjalan riang melebarkan dua tangannya seperti sayap burung perkutut, dia menatap kearahku. Di antara hujan yang deras. Aku manajamkan pandanganku. Hujan semakin mengguntur, awan tak karuan menggulung-gulung, petir terlihat bagaikan akar yang mengerikan penuh dengan api. Suasana kacau.
”Mawar!” tak kuhiraukan hujan lebat. Aku berlari hendak menyelematkannya, karena angin semakin membadai, padi beterbangan, pohon tumbang. Mataku berat menatap ke depan, mencoba melihat tapi butiran air menggelapkan pandangan.
”Mawar!” mataku membuka perlahan. Sangat perlahan.
Wajahku basah. Gerai rambut mengelilingi wajahku. Zahra menelangkupkan tubuhnya menyelimutiku. Bibirnya menyatu erat dengan bibirku. Isaknya yang lirih seperti rintihan. Airmatanya menetes berjatuhan di pipiku, tangannya erat menyatu dengan jeramiku. Allah... kenapa dengan isteriku?
Wajahku basah terkena aliran tangisnya. Aku melihat wajahnya yang begitu dekat. Tak kuasa, air mataku luluh. Aku mengusap airmatanya pelan dan dia tidak mau mengalihkan bibirnya sama sekali dari bibirku, hingga aku merangkulnya erat, “Kenapa dinda melakukan ini?” kubersihkan sisa airmatanya yang masih membanjir.
Zahra terisak, “Aku tidak tahu sampai kapan Allah akan memberi umur kepadaku, dan seorang isteri akan masuk surga jika suaminya ridha padanya. Tadi Kakak sebenarnya tidak ridha pada masakan Zahra, dan Zahra takut jika Kakak akan kepanasan karena pedas, maka dinda memilih terjaga untuk menawarkan panas itu dengan bibir, yang mungkin bisa memadamkan panas yang Kakak rasakan.”
Aku semakin terisak, “Maafkan Kakak, sebenarnya aku hanya bercanda tadi. Ingin kukatakan ba’da shalat malam, tapi mataku begitu lelah hingga terlupa untuk memberitahukan kebohonganku. Maafkan Kakak membuatmu harus terjaga.” aku mengangkat tubuhku dan duduk di hadapannya.
”Sungguh demi Allah, masakanmu sangat nikmat dan tidak kurang suatu apapun. Aku berbohong padamu Dik, untuk mencandaimu. Maafkan aku membuatmu melakukan ini semua. Sekarang tersenyumlah sahabatku,” kedua sudut bibirnya bergerak, walau sedikit dipaksakan. Aku berazam pada diriku untuk tidak terlalu lagi dalam mencandainya.
Senyumnya seindah pelangi yang melengkung di atas telaga Kautsar, ”Kakak tadi bicara sungguh-sungguh?” matanya kembali jernih dan bening.
Aku tak menjawabnya. Aku memeluknya dan berbisik, “Jujur sahabatku, aku bahagia menjadi suamimu. Jujur, aku bahagia. Bila kupandangi Dinda, hilang sudah segala kelelahan dan beban yang menghimpit hidupku,” sungguh benar semuanya yang disabdakan Rasulullah saw, aku telah mendapatkan kesemuanya, lengkaplah kebahagiaanku.
Aku melelehkan airmata untuk kesekian kalinya, membersamai dunia yang walau fana terasa nikmat. Jika aku menghadapi permasalahan dunia, maka akan kuingat indahnya malam zafaf ini, maka ringanlah rasanya ujian demi ujian dalam hidup ini.
Adzan subuh mengema, menantang siapa saja yang merasa mempunyai iman di hatinya. Aku melepaskan rengkuhan Zahra. Senyumnya tersungging dan menyodorkan wajahnya sambil mengedipkan matanya.
”Setelah kucium, kau tak akan memukulku seperti waktu kita kecil dulu kan?”
Senyumnya terukir lembut, aku pun mengecup pipinya. Aku ber-azzam dalam hati akan selalu menjaga keharmonisan, kemesraan hingga ajal menjemput. Menjemput surga bersama, senyum bersama, merasai bersama, hingga bersin pun setiap goncangannya akan terasakan bersama.
”Kak, selesai shalat langsung pulang ya?” wajahnya merona. Kupenuhi panggilanMu ya Allah. padaMu-lah tempat kembali segala sesuatu.