Cincin Bulan Persahabatan
Lihatlah Rembulan itu dari Tanganku
”Apakah aku menyakitimu suamiku?”
Aku tak menjawabnya. Aku mengecup ubun-ubunnya, ”Allahumma innii as aluka khoiri haa wa khoiri maa jabal tahaa ’alaihi,” kudengar desahan lirih lembut mengamini. Seolah Malaikat berkumpul di sekeliling kami dan mengamini doaku. Aku kembali meneteskan airmata.
”Isteriku,” wanita berwajah bersih itu mendongakkan kepalanya padaku, ”Apakah Kakakmu ada yang bernama Mbak Fatimah?”
”Iya, dia sekarang berada di Sudan menemani suaminya. Kau kenal dengan dia Suamiku?” wajahnya nampak teduh. Dia duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya di pundakku.
”Ayo kita shalat dulu,” aku menjentikkan telunjuk jariku tepat di hidungnya. Dia hanya mengangguk.
Kami khusyuk dalam sujud panjang itu. Aku membaca Ar-Rahman dan Al-layl, alangkah mesra dan hening. Allah menaungi kami dengan cahaya. Para malaikat bertasbih. Aku masih sesenggukan, kudengar Zahra juga sesenggukan. Saat sholat selesai, Zahra memelukku dari belakang. Kepalanya menyandar di punggungku. Dia belum tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Yang bergemuruh dalam dadaku.
”Adakah kau mempunyai seseorang lelaki dalam hatimu selain diriku Isteriku?”
”Ada.”
Aku kaget. ”Siapa dia?” aku berbalik dan menatapnya. Dia hanya tersenyum.
”Dia Ayahku,” aku mendesah napas lega. Hatiku kembali penasaran, apakah dia benar Mawar?
”Tiadakah lelaki lain yang ada di hatimu, yang dia bukan keluargamu?”
Wajahnya berkerut, seolah memikirkan sesuatu yang sulit, ”Baiklah, tapi Kakak tidak boleh marah sedikitpun apalagi cemburu pada Zahra. Kakak harus janji.”
”Baiklah, aku janji,” hatiku penasaran, akankah dia bercerita tentang persahabatan?
”Aku hanya bertemu dengannya beberapa hari,” dia tersenyum sendiri.
”Kenapa tersenyum?”
”Dia sangat lucu,” Zahra kembali tersenyum.
”Sangat lucu?”
”Kakak janji tak akan marah dan cemburu. Ingat itu?” aku hanya mengangguk.
”Aku bertemu dengannya saat aku masih kecil. Waktu itu aku menemani kakakku Fatimah di salah satu desa di Lampung. Saat itu aku masih sangat nakal, kenakalanku membuat Umi menyerah apalagi kakak-kakakku. Sahabat kecilku yang lucu itu bernama Ihsan,” saat itu dadaku bergetar hebat, mataku kembali gerimis. Dia benar-benar tidak tahu, siapa suaminya saat ini.
”Kau menangis suamiku? Apakah aku membuatmu cemburu?”
”Tidak Dik. Teruskanlah ceritamu aku ingin mendengarnya.”
”Dia yang merubah hidupku. Aku tak ingin menjadi anak nakal lagi. Dia yang mengubahku, aku berjanji akan selalu menjadi sahabatnya. Kami melewati waktu beberapa hari semasa kecil itu dengan keceriaan,” dia terus bercerita tentang Ihsan. Kadang tawa kami berdua bersamaan, betapa lucunya Ihsan kecil itu.
”Saat itu aku benar-benar marah padanya, dia ingin menjadi sahabatku hanya karena hadiah coklat dari mbak Fatimah. Tapi, kusadari dari keberaniannya menaiki sepedanya mengejarku ketika pulang hingga dia menyusuri tebing dan terjatuh di aspal. Airmataku saat itu menetes. Aku berjanji dalam hati, tak akan mengecewakan persahabatan itu,” kulihat airmatanya sembab.
”Isteriku..., apakah kau pernah bertemu dengan Ihsan itu setelah itu?”
”Belum pernah, tapi setidaknya aku selalu berdoa pada Allah untuk bertemu dengannya, dan meminta maaf karena aku meninggalkannya saat dia mengantarku,” aku memeluknya. Dialah yang selama ini kucari, tapi Engkau menentukan caranya ya Allah. Aku memeluknya erat, entah apa lagi yang akan kuingkari dari kuasaMu Allah. Aku merasa Kau begitu menyayangiku.
”Dik..., ayo kutunjukkan sesuatu padamu,” aku mendirikannya dan menarik pergelangan tangannya ke jendela. Kubuka perlahan, sinar bulan yang tak purnama tepat menyorot dengan indah di langit utara, dia telah condong.
Aku mengangkat kedua tanganku ke depan, menyatukan telunjuk kanan dan telunjuk kiri dan ibu jari dengan ibu jari ke luar jendela. Mirip bentuk lingkaran tak sempurna namun juga segitiga tak sempurna, aku me-ngeker rembulan tak penuh dan memasukkankanya dalam lubang jemariku, ”Lihatlah Dik, kau ingat? Lihatlah rembulan itu dari tanganku.”
Zahra menyandarkan kepalanya di pundakku, ”Sangat indah suamiku, menatap wajah bulan yang terus menyapa bumi dengan cahayanya. Kau sangat romantis suamiku.”
Hatiku sedikit jengkel, dia belum sadar juga, ”Aku punya sebuah puisi untukmu isteriku, maukah kau mendengarnya?”
”Aku sangat menyukai sastra, aku Penulis, pasti aku tahu mana syair yang bermutu dan tidak. Bacakanlah untukku suamiku.”
”Bulan menyapa saat siang telah lelah
Menyapa insan dalam kesenyapan
Menciptakan keteduhan dalam jemari yang menyatu
Tataplah bulan dari jemariku
Biarkan secara mesra
Allah menyinari kita dengan cahaya-Nya”
”Syairmu sangat lembut dan menyentuh suamiku, syair-syairku pun bisa kalah,” dia bermanja ria di pundakku. Hatiku semakin penasaran. Dia pura-pura tak tahu atau memang tidak tahu? Bukankah puisi itu darinya?