CEO Muda Yang Tampan
Kevin Pulang ke Rumah
Sesampai di kamar Kevin memukul meja belajarnya, emosi tentu saja berani sekali kakak tirinya melakukan hubungan intim di rumah ini, semenjak kepergiannya dari rumah ini semuanya tampak berbeda rumah ini dikuasai sepenuhnya oleh Rendy kakak tirinya dan Melly Ibu tirinya. Dia harus bicara dengan Ayahnya si tua bangka itu pasti belum tidur, pikir Kevin.
Kevin pergi menuju ruangan yang berada di pojok sana tepatnya di lantai dua tidak jauh dari kamarnya, diketuknya pintu besar itu olehnya.
"Masuk!" Terdengar telah diizinkan oleh Ayahnya Kevin langsung masuk.
"Ayah, tidakkah kau membuat peraturan yang bijak di dalam rumah ini, bukankah Ayah sudah berjanji kepada Kevin untuk merawat rumah ini dengan baik tapi apa? Kevin tadi mendengar kalau Rendy telah melakukan perbuatan keji di rumah ini, apalagi dia belum menikah. Aku yakin jika itu wanita simpanan Rendy, Ayah tahu bukan? Tapi kenapa Ayah tidak melarangnya?"
Haris mengangkat kepalanya begitu tahu yang datang adalah putranya, dia menarik napas dalam-dalam mendengar ocehan putranya kini.
"Bukankah kamu juga 11 12 seperti kakakmu itu?" celetuk sang Ayah, mengingat kalau Kevin juga suka gonta-ganti pasangan.
"Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti Rendy!" sergah Kevin masih dengan emosi yang tertahan.
"Kalau begitu, lakukan jika kamu mau! Toh ini rumah sudah tidak ada artinya lagi bagi kamu kan? Kamu lebih memilih membeli rumah di luar kota dan tinggal di apartemen."
"Sialan!" umpat Kevin sembari memukul meja. Dia tidak percaya Ibu tirinya telah berhasil merubah pola pikiran sang Ayahnya, dulu rumah ini sempat mau dijual tapi dia tidak izinkan karena rumah ini memiliki banyak kenangan untuk dirinya sampai akhirnya dia lulus dan memimpin perusahaan semuanya berubah, dia sangat benci dengan Ayahnya yang menikahi perempuan lagi maka dari itu dia pergi dari rumah.
"Ada apa kamu kembali? Apa ada masalah di kantor?" Ya kembalinya Kevin di rumah ini, pasti cowok itu punya hal penting yang harus disampaikan.
Seketika Kevin mengeluarkan kertas yang berada di kantongnya. "Tanda tangani surat ini! Besok aku harus pergi rapat ke Singapura."
"Kamu mau pergi ke Singapura? Untuk berapa hari?" Harus terkejut mendengar kabar yang mendadak ini.
"Kurang lebih satu mingguan." Kevin ingin istirahat dari urusan pekerjaannya jadi dia butuh waktu 7 hari untuk berada jauh dari semuanya.
"Apa Tasya tahu kalau kamu mau pergi selama itu?" Haris menatap Kevin yang sepertinya anaknya itu akan lari dari Tasya.
"Aku memang tidak memberitahunya," sahut Kevin dengan jujur.
"Beritahu dia jika tidak dia pasti akan ngambek karena kamu pergi begitu saja!"
"Iya nanti aku akan memberitahunya, malam ini aku akan tidur di kamar." Kevin berlalu pergi setelah kertas itu ditandatangani oleh Ayahnya.
Haris tersenyum tipis senang melihat putranya yang mau datang ke rumah ini lagi.
Esok paginya Arabella terbangun dari tidurnya, dia terkejut masih memakai gaun semalam.
"Kenapa aku bisa tertidur dengan pakaian ini, ah mungkin aku kelelahan jadi tidak sempat mengganti pakaian," ujarnya sambil mencoba mengingat kejadian semalam.
"Bella, kamu sudah bangun?" sapa Sindy yang datang dari balik pintu. "Baru saja ingin kubangunkan syukurlah kalau sudah bangun duluan."
"Iya kak aku baru saja bangun," jawab Arabella dengan suaranya yang terdengar serak.
"Ya udah sana mandi akan kubiarkan sarapan untukmu!"
Arabella langsung bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi, pikirannya tidak lepas dari sosok Kevin dan perkataan cowok itu saat mengatakan cintanya sampai membuat dirinya senyum-senyum sendiri.
Usai mandi Arabella harus bersiap-siap pergi ke kantor dia harus bekerja di sana jika telat pasti Kevin akan mengomel.
"Bella, kamu habis pergi ke mana sama Kevin kemarin kok sampai pulangnya malam?" Sindy masih penasaran dengan kejadian kemarin.
Arabella yang baru saja duduk langsung tersenyum ditanya seperti itu oleh saudarinya, "Aku pergi ke butik dan makan kak, memangnya ada apa?"
"Kamu tahu semalam kamu ketiduran di mobil sampai di gendong sama Kevin sampai kamar?"
Khuk … khuk
Arabella terbatuk-batuk mendengar perkataan Sindy.
"Minum dulu nih!" Sindy mengulurkan gelas kepada Bella.
"Ya ampun kakak serius? Kenapa gak dibangunkan ajah kalau aku ketiduran?" ujar Bella sambil membetulkan kancing pada pakaiannya.
"Sudah dibangunkan tapi tetap gak bangun, lain kali hati-hati yah Dek, Kevin itu playboy kakak takut kamu dicampakan olehnya, kamu harus jaga diri kamu baik-baik," titah Sindy memberikan sedikit nasehat kepada Bella yang baru mengenal sosok Kevin.
"Iyah kak makasih, tapi aku malu banget kak," rengek Arabella mau ditaruh dimana mukanya jika bertemu dengan Kevin nanti.
Tin … tin …
Bunyi klakson mobil terdengar kencang membuat dua orang perempuan itu menoleh ke arah luar.
"Siapa kak?" tanya Arabella dengan alis yang mengkerut.
"Entah, biar kakak tengok yah." Sindy bangun dari duduknya berjalan keluar pintu.
"Tuan Kevin? Tumben pagi-pagi ke sini," pekik Sindy terkejut melihat bosnya.
"Bisa tolong panggilkan Bella, aku datang untuk menjemputnya." Kevin nampaknya dengan untuk turun dari mobilnya.
"Baik Tuan." Sindy langsung menoleh ke dalam rumahnya. "Bella! Bella!" teriaknya.
"Iyah kak, ada siapa emangnya?" Arabella berjalan menghampiri kakaknya dan terkejut melihat ada Kevin.
"Buruan naik kita harus pergi ke bandara sekarang!" ujar Kevin membuat Arabella melongo tidak mengerti.
"Ngapain ke bandara?" tanya Arabella dengan polosnya.
"Udah ikut aja sana, nanti telat loh." Sindy mengerti jika Kevin memang tidak memberitahu Bella dalam rencana kepergiannya pagi ini ke Singapura.
"Baiklah aku pamit yah kak salam untuk Ibu," tukas Arabella sambil bersalaman dan masuk ke dalam mobil Kevin.
Pagi ini Kevin ke bandara ditemani oleh supir pribadinya Pak Ujang, dia menatap Arabella yang tampak cantik.
Tatapan Kevin membuat jantung Arabella berdetak sangat cepat, dia canggung ditatap seperti itu.
"Bisa gak sih matanya gak usah lihatin saya kaya gitu seram tahu kaya mau nerkam mangsanya," omel Arabella bersikap berani menegur bosnya.
"Emangnya gak boleh, saya punya hak dong mau melihat siapa," sahut Kevin tidak mau kalah.
"Tapi saya terganggu," terang Arabella pelan dia memilih memalingkan mukanya ke samping, berdebat dengan Kevin tentu akan menguras emosinya.
Dalam hati Kevin tertawa, sikap Arabella selalu bisa membuat dirinya bahagia.