CEO Muda Yang Tampan
Degup Jantung Bella Terdengar
"Wow, saya gak nyangka bisa pergi ke Singapura," ujar Bella pelan. Wajahnya tampak begitu cerah, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia luar.
Kevin yang berdiri di sampingnya ikut menoleh. Sudut bibir cowok itu terangkat tipis melihat ekspresi Bella yang begitu jujur memperlihatkan kebahagiaannya.
"Baru lihat Singapura saja segitunya?" tanya Kevin datar, meski nada suaranya terdengar sedikit lembut.
Bella menoleh cepat. "Ya iyalah, Tuan. Saya bukan orang yang tiap minggu bisa naik pesawat, apalagi naik helikopter pribadi," balasnya sembari mengerucutkan bibir.
Kevin terkekeh pelan. "Norak."
Bella langsung melotot. "Biarin! Daripada sombong."
Kevin tidak membalas. Ia justru berjalan lebih dulu ke arah mobil hitam mewah yang sudah menunggu di luar area bandara. Seorang pria asing berpakaian formal membukakan pintu dengan sangat hormat.
"Welcome, Mr. Kevin," sapa pria itu dengan bahasa Inggris fasih.
Kevin hanya mengangguk singkat. "Let's go."
Bella menatap sekeliling dengan takjub sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi, ia dibuat terdiam melihat interior mobil yang super mewah. Jok kulit yang empuk, aroma parfum mobil yang menenangkan, bahkan minuman kaleng tertata rapi di mini cooler kecil.
"Kalau begini, saya takut salah pegang apa-apa terus harus ganti rugi," gumam Bella pelan.
Kevin yang duduk di sampingnya mendengar jelas ucapan itu. "Kalau rusak, saya potong gajimu."
Bella langsung menoleh dengan wajah terkejut. "Tuan!"
Kevin tersenyum tipis, sengaja menggoda. "Bercanda."
Bella mendengus kesal, tapi diam-diam jantungnya kembali berdebar. Entah kenapa, belakangan Kevin sering memperlihatkan sisi usil yang tidak pernah Bella duga sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Bella sibuk menempelkan pandangannya ke jendela. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang rapi, pepohonan tertata, semuanya membuatnya terpukau.
"Saya pengen foto-foto banyak di sini," celetuk Bella.
"Nanti."
Bella menoleh. "Hah?"
"Nanti kalau urusan kerja selesai, saya ajak," ujar Kevin singkat.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat hati Bella berdesir hangat. Ia buru-buru membuang pandangannya ke luar jendela agar Kevin tidak melihat pipinya yang mulai memanas.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel bintang lima yang menjulang megah. Seorang bellboy segera datang membukakan pintu.
Bella mendongak ke atas, mulutnya sedikit terbuka. "Ya Allah... ini hotel atau istana?"
Kevin turun lebih dulu, lalu menatap Bella yang masih terpaku. "Kalau kamu terus bengong, kita bisa check-in besok pagi."
Bella buru-buru turun. "Iya, iya!"
Mereka masuk ke lobi hotel yang begitu megah. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit, lantai marmer mengkilap, dan para tamu berlalu-lalang dengan pakaian elegan. Bella sampai merasa salah kostum meski ia sudah memakai pakaian terbaik yang dibawanya.
Dengan langkah mantap, Kevin berjalan ke meja resepsionis. Bella berdiri sedikit di belakang, memandangi Kevin yang terlihat begitu berwibawa saat berbicara dalam bahasa Inggris dengan resepsionis.
Sungguh, pria ini benar-benar seperti tokoh utama drama Korea, batin Bella.
Setelah beberapa menit, Kevin menerima kartu akses kamar lalu berjalan menghampiri Bella.
"Sudah. Ayo."
Bella mengangguk patuh dan mengikuti Kevin menuju lift. Namun, entah kenapa, hatinya mulai merasa tidak tenang.
Saat lift tertutup dan hanya ada mereka berdua di dalamnya, Bella memberanikan diri bertanya, "Tuan... kamar saya di lantai berapa?"
Kevin yang sedang menatap layar ponselnya menjawab santai, "Sama."
Bella mengernyit. "Sama gimana maksudnya?"
Kevin menoleh, wajahnya datar seperti biasanya. "Satu kamar."
Deg.
Seakan ada petir yang menyambar tepat di atas kepala Bella.
"Apa?!" serunya spontan sampai suaranya memantul di dalam lift.
Beberapa orang yang baru masuk ke lift menoleh ke arah mereka. Bella buru-buru menutup mulutnya sendiri, wajahnya memerah padam.
Kevin menatapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Jangan teriak."
Bella mendekat sedikit, berbisik dengan nada panik. "Tuan, maksud Anda satu kamar itu... satu kamar? Satu ruangan? Satu tempat tidur?"
Kevin menghela napas pelan. "Kamu cerewet sekali."
"Ya jelas cerewet! Saya perempuan, Tuan!" balas Bella setengah berbisik, setengah mendesis.
Lift akhirnya berhenti di lantai atas. Kevin melangkah keluar seolah tidak terjadi apa-apa, sementara Bella mengikutinya dengan jantung yang terasa mau copot.
Sesampainya di depan pintu kamar, Kevin menempelkan kartu akses. Pintu terbuka.
Bella langsung menahan napas.
Kamar itu sangat luas. Ada ruang duduk kecil, meja kerja, balkon kaca besar dengan pemandangan kota Singapura, dan... satu ranjang king size yang besar sekali di tengah ruangan.
Satu.
Ranjang.
Bella menelan ludah.
"Tuan..." suaranya bergetar. "Ini... cuma ada satu kasur."
Kevin masuk sambil meletakkan jasnya di sofa. "Saya juga bisa lihat."
Bella menatapnya tidak percaya. "Lalu saya tidur di mana?"
Kevin membuka koper kecilnya dengan santai. "Di situ."
Bella mengikuti arah dagunya. Sofa.
Bella langsung mengembuskan napas lega. "Oh, syukurlah. Saya pikir—"
"Kamu di kasur. Saya di sofa."
Bella membeku. "Hah?!"
Kevin menutup koper, lalu menatap Bella yang terlihat seperti baru saja kehilangan sinyal otak.
"Kamu yang tidur di kasur."
Bella buru-buru menggeleng. "Enggak bisa! Mana mungkin saya tidur di kasur sedangkan Tuan tidur di sofa? Saya bawahan, Tuan!"
Kevin melangkah mendekat. "Dan kamu perempuan."
Bella mundur satu langkah.
"Saya gak mungkin biarin kamu tidur di sofa sendirian di negara orang."
Kalimat itu terdengar sangat salah di telinga Bella.
"Eh? Maksudnya... bukan gitu..." Kevin mengernyit, sadar ucapannya ambigu. "Maksud saya, saya gak mungkin biarin kamu tidur di sofa. Titik."
Bella memegangi dadanya sendiri. "Tuan hampir bikin saya serangan jantung."
Kevin justru tersenyum tipis. "Kamu terlalu banyak mikir."
Bella mendengus kesal. "Saya ini menjaga diri, Tuan."
Kevin mendekat lagi, kini jarak mereka terlalu dekat sampai Bella bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang khas. Cowok itu sedikit membungkuk, menatap wajah Bella yang mulai panik.
"Tenang saja, Bella," ujar Kevin pelan, suaranya rendah dan dalam. "Saya memang menyebalkan, tapi saya bukan laki-laki murahan yang akan menyentuh perempuan tanpa izin."
Mata Bella melebar. Entah kenapa, ucapan itu justru membuat jantungnya semakin tak karuan.
"A-aku juga gak bilang begitu..." gumam Bella terbata.
Kevin mengangkat satu alis. "Tapi kamu mikir begitu."
Bella buru-buru memalingkan wajah. "Saya capek. Mau mandi."
Kevin menahan tawa. "Silakan."
Bella langsung mengambil tas kecilnya lalu nyaris berlari ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, ia bersandar lemas di baliknya sambil memegangi dadanya sendiri.
"Ya Allah... ya Allah... ya Allah..." bisiknya panik. "Kenapa harus satu kamar? Kenapa harus satu kasur? Kenapa dia ngomongnya bikin deg-degan begitu sih?"
Di luar, Kevin yang duduk di sofa justru tertawa pelan seorang diri.
"Lucu banget," gumamnya sambil mengusap dagunya.
Beberapa menit kemudian, Bella keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai yang sederhana. Rambutnya masih setengah basah dan wajahnya tampak segar tanpa make up. Kevin yang sedang mengetik sesuatu di laptop sampai terdiam beberapa detik melihatnya.
Cantik, sangat cantik tanpa polesan apapun, Bella justru terlihat lebih mematikan. Kevin buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar laptop.